Month: August 2017

Renungan Katolik Senin 28 Agustus 2017

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1:2b-5.8b-10) 

 

“Kalian telah berbalik dari berhala-berhala kepada Allah, untuk menantikan kedatangan Anak-Nya yang telah dibangkitkan.”

Saudara-saudara, kami selalu mengenangkan kalian dalam doa-doa kami. Sebab kami selalu teringat akan amal imanmu, akan usaha kasihmu dan ketekunan harapanmu di hadapan Allah dan Bapa kita. Saudara-saudara yang dikasihi Allah, kami tahu bahwa Allah telah memilih kalian. Sebab Injil yang kami wartakan disampaikan kepada kalian bukan dengan kata-kata saja, melainkan juga dalam kekuatan, dalam Roh Kudus dan kepastian yang kokoh. Kalian sendiri tahu, bagaimana kami telah bekerja di antara kalian, demi kepentingan kalian. Di mana-mana telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tak usah berbicara lagi tentang hal itu. Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kalian menyambut kami, dan bagaimana kalian berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah yang hidup dan benar, serta untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan akan umat-Nya.
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)

  1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
  2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
  3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

 

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 10:17)
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan, Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku. 

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:13-22)

  

“Celakalah kalian, hai pemimpin-pemimpin buta!”

Pada suatu hari Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, karena kalian menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kalian sendiri tidak masuk dan kalian merintangi mereka yang berusaha masuk. Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab kalian menelan rumah janda-janda sementara mengelabui indra orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kalian pasti akan menerima hukuman yang lebih berat. Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab kalian mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kalian menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kalian sendiri. Celakalah kalian, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata, ‘Bila bersumpah demi bait suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas bait suci, sumpah itu mengikat.’ Hai kalian orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau bait suci yang menguduskan emas itu? Dan kalian berkata, ‘Bila bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.’ Hai kalian orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi bait suci, ia bersumpah demi bait suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.”

 

Renungan:

KASIH DIATAS SEGALANYA

1 Tes. 1:2b-5,8b-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Mat. 23:13-22.

Kritik Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sungguh tajam. Yesus menyebut mereka sebagai orang munafik, penipu, buta bahkan bodoh. Hal ini disebabkan karena mereka menempatkan hukum di atas “Kasih Allah”. Bahkan mereka mempermainkan agama dan Hukum Taurat untuk memperdaya umat demi keuntungan diri.
Saudaraku terkasih, kerap dijumpai orang Kristiani yang merasa mejadi hakim atas sesamanya. Mereka mengajarkan mana ritual yang tepat dan tidak tepat namun dengan keberangan. Mereka mewartakan murka Allah melebihi kerahiman Allah. Yesus mengkritik mereka sebagai orang “yang tidak memiliki hati” yang menaruh segala beban aturan ibadah dan agama diatas pundak umat beriman lainnya. Mereka mewartakan “hukum agama” diatas “hukum kasih”.
Hari ini sabda Allah mengajarkan kepada kita apa artinya bermisi yang sejati yakni mewartakan bahwa Allah berkenan akan umat-Nya ( Mzm. 149:4) dan Ia mengasihi kita (1 Yoh. 4:16). Hukum dan aturan yang diterapkan dalam gereja harus mengalir dari prinsip utama bahwa Allah mencintai umat-Nya. Hukum yang keluar dari prinsip itu adalah beban dan melawan kasih Allah. Karena itu dalam kekristenan hukum yang tertinggi adalah kasih dan keselamatan jiwa-
jiwa.
Saudaraku terkasih, agustinus dari Hippo (Afrika) pada masa mudanya adalah pribadi yang bengal dan nakal. Namun ketika di mendengar Uskup Milan (Italia) bernama Ambrosius berkotbah tentang kasih Allah maka ia bertobat. Agustinus tidak bertobat karena mendengar warta tentang murka Allah yang menyala-nyala dalam api neraka. Ia bertobat justru karena ia mendengar bahwa kasih Allah melampaui segala hukum dan keadilan manusiawi. Agustinus kemudian menjadi Kristen bahkan menjadi seorang Uskup ditempat asalnya. Disana ia mengajarkan kasih Allah dan betapa perlunya kita untuk tinggal dalam kasih Allah itu. Agustinus berkata bahwa dia tidak akan tenang sebelum beristirahat dalam kasih Allah. Kitapun perlu untuk berpikir demikian. (DA/Percikan Hati Agustus 2017)
28.JPG

Bacaan dan Renungan Minggu 27 Agustus 2017; Minggu Biasa XXI

Bacaan Liturgi Minggu, 27 Agustus 2017

Bacaan I : Yes. 22:19-23

Aku akan menaruh kunci rumah Daud di atas bahunya.

19 Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. 20 Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: 21 Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. 22 Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 23 Aku akan memberikan dia kedudukan yang teguh seperti gantungan yang dipasang kuat-kuat pada tembok yang kokoh; maka ia akan menjadi kursi kemuliaan bagi kaum keluarganya.

Mzm 138:1-2,a,2bc-3,6,8bc

Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, janganlah kau tinggalkan buatan tanganm-Mu

  1. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hati, sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulut-Ku, di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak bersujud ke arah bait-Mu yang kudus.
  2. Aku hendak memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu, sebab Kau buat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  3. Tuhan itu tinggi, namun Ia memperhatikan orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh. Ya Tuhan, kasih setia-Mu kekal abadi, janganlah Kau tinggalkan buatan tangan-MU

Bacaan II : Rm. 11:33-36

Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah, dan menuju kepada Allah

11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Bait Pengantar Injil Mat 16:18

Di atas batu karang ini Kudirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya

Bacaan Injil : Mat 16:13-20

Engkaulah Petrus, kepadamu akan Kuberikan Kunci Kerajaan Surga.

16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

Renungan:

Dosa umat Tuhan pun dibongkar!

Setelah bernubuat tentang bangsa-bangsa (Yes. 20-21), kini nubuat Nabi Yesaya dialamatkan kepada Yehuda dan Yerusalem. Ternyata mereka juga berdosa. Dalam Perjanjian Lama, keberadaan umat Israel istimewa karena mereka adalah keturunan Abraham. Mereka bermegah akibat status quo (status keturunan) yang dimiliki. Dalam konteks ini, umat Israel menganggap dapat melakukan apa saja tanpa ditegur karena mereka umat pilihan. Namun, anggapan itu salah besar. Jika kita membaca sejarah umat Israel, kita akan mendapati bahwa umat Israel berkali-kali ditegur Tuhan karena kesalahan dan pelanggaran mereka.

Dari “Lembah penglihatan” (ay. 1-13) Yerusalem digambarkan sebagai kota yang akan diserang dan dihancurkan apabila penduduknya tidak kembali kepada Tuhan. Kekeliruan yang dilakukan oleh mereka ialah mengandalkan kekuatan diri sendiri dan berlindung pada bantuan negara-negara yang kuat pada zaman itu. Dan kesalahan utama mereka ialah mereka melupakan Tuhan yang terbukti mampu menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Mereka tidak memercayai janji dan penyertaan Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan akan menghakimi mereka, dan penghakiman ini akan mematikan mereka (ayat 15-19). Meski demikian, Tuhan tetap menjanjikan pengharapan melalui Elyakim anak Hilkia (ayat 20). Elyakim akan menjadi pemimpin umat yang menyelamatkan Yerusalem. Dia digambarkan menjadi “gantungan” bagi umat Israel. Tetapi ini pun tidak akan berlangsung lama, karena pada akhirnya Elyakim pun akan jatuh (ayat 25).

Keberadaan umat Tuhan harus dilihat dari hubungan yang benar antara mereka dan Tuhan. Seorang Kristen sejati disebut orang percaya bukan karena ia memiliki status yang didapatkan karena keturunan, baptisan, kewargaan gereja, tetapi karena ia memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan. Inilah dasar iman Abraham (Ibr. 11:8). Hal yang sama dituntut dari kita yaitu kita dipanggil untuk memiliki hubungan yang benar dengan-Nya.

Bacaan II, Takjub akan hikmat Allah

Kapan terakhir kali Anda memuji Allah dari hati yang takjub terhadap-Nya? Sesering apa Anda memuji Tuhan karena ketakjuban? Bagaimana biasanya Anda berespons terhadap masalah-masalah teologis yang sulit?

Perikop ini akhir bagian pertama surat Roma (ps. 1-11) yang membahas tentang tindakan penyelamatan Allah terhadap manusia yang binasa. Bagian ini menyelesaikan masalah pelik tentang pemilihan dan anugerah (ps. 9-11); juga tentang penyelamatan Israel yang sudah menolak Kristus. Injil adalah rahasia Allah. Keselamatan yang Allah singkapkan itu memang di luar jangkauan pengertian manusia (25). Di hadapan pemaparan rahasia Allah itu, kita akan dibuat takjub bahwa Allah sanggup menaklukkan kekerasan dan kegelapan hati untuk akhirnya justru menjadi bagian dari penggenapan rencana keselamatan-Nya. Ini tampak di dalam tiga unsur kebenaran rahasia Injil sehubungan dengan masalah pelik dalam pasal 9-11 ini.

Pertama, kekerasan hati Israel menyebabkan bangsa-bangsa yang tadinya tidak termasuk umat Allah boleh mengalami pilihan dan anugerah Allah juga (25). Kedua, meski Israel menyeterui Kristus, Allah setia dan tetap memperhitungkan mereka sebagai kekasih-Nya (28). Ketiga, atas dasar kesetiaan Allah, Ia memelihara mereka dan menyiapkan mereka agar sesudah waktu untuk bangsa-bangsa asal kafir mengenal Kristus genap (25b), mereka akhirnya diselamatkan juga (26). Ketidaktaatan Israel menjadi batu loncatan bagi Allah menunjukkan kemurahan-Nya bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kemurahan-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi menaklukkan kekerasan hati Israel sehingga bangsa itu kelak akhirnya diselamatkan karena mengakui Mesias yang sama, yaitu Yesus Kristus.

Keselamatan yang kita terima itu lahir dari hikmat, pengetahuan, keputusan, pikiran, kemurahan Allah yang tak terselami. Ia sungguh Pencipta, Pemelihara, Penyelamat yang ajaib dan patut kita puji selama-lamanya.

Injil hari ini, Arti sebuah pengakuan.

Seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia tujuh tahun: “Kata orang, siapakah ayah?” Setelah berpikir sejenak, anak ini menjawab: “Ada yang mengatakan polisi, ada yang mengatakan Pak RT, ada juga yang memanggil Pak Broto!” Kemudian ayahnya bertanya lagi: “Menurut kamu, siapakah ayah?” Dengan wajah ceria, anak ini menjawab: “Ayahku!” Anak ini mengenal ayahnya dengan pengenalan yang bersifat pribadi dan lebih dalam dibandingkan orang lain.

Suatu kali ketika Yesus sedang berada di Kaisarea Filipi, tiba-tiba ia memunculkan pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh murid-murid-Nya. Ia menanyakan bagaimana pendapat orang tentang siapakah Anak Manusia. Yesus bertanya terlebih dahulu tentang pendapat orang lain dan bukan pendapat mereka. Maka dengan spontan mereka menjawab bahwa orang mengenal-Nya sebagai Yohanes Pembaptis, seperti pendapat raja Herodes; ada yang mengatakan Elia karena Elia pernah dikatakan akan menampakkan diri lagi (Mal. 4:5); ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tokoh-tokoh yang disetarakan dengan Yesus adalah tokoh besar, baik di PL maupun PB; namun mereka hanya memiliki jabatan kemanusiaan. Jadi di antara orang banyak, belum ada yang mengenal Yesus dalam jabatan Keillahian-Nya. Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada murid-murid- Nya. Simon Petrus, murid yang paling cepat berespons mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Inilah jabatan Keillahian Yesus. Yesus menegaskan bahwa Allah Bapa yang memungkinkan Petrus dapat mengenal Yesus sebagai Mesias.

Pengenalan kita akan Yesus adalah pengenalan yang bersifat pribadi, bukan sekadar kata orang atau menyaksikan perbuatan-Nya bagi orang lain, tetapi karena kita mengalami sendiri hidup bersama-Nya. Ia menginginkan pengakuan yang bukan hanya berdasarkan pengetahuan, tetapi pengakuan yang lahir karena hubungan pribadi dengan Dia. Kita mudah mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi sungguhkah kita menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya yang Maha Kuasa atau kita sendiri yang masih mengendalikan hidup kita?

Renungkan: Pikirkan arti sebuah pengakuan Anda, siapakah Yesus bagi Anda?

(Sumber: margonolucas.wordpress.com)

27

 

Bacaan dan Renungan Sabtu 26 Agustus 2017

Bacaan Liturgi, Sabtu 26 Agustus 2017

Bacaan I : Rut 2:1-3,8-11;4:13-17

Tuhan telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

2:1 Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2:2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” Dan sahut Naomi kepadanya: “Pergilah, anakku.” 2:3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.
Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. 2:9 Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu.” 2:10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: “Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?” 2:11 Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 4:13 Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. 4:14 Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel. 4:15 Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” 4:16 Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya. 4:17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki”; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

Mazmur 128:1-2,3,4,5

Refren: Orang yang takwa hidupnya akan diberkati.

Mazmur:

  1. Berbahagialah orang yang takwa pada TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
  2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
  3. Sungguh demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya.
  4. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.

Bait Pengantar Injil

Mat 23:9a.10b: Bapamu hanya satu, ialah yang ada di Surga. Pemimpinmu hanya satu, yaitu Kristus.

Bacaan Injil : Mat 23:1-12

Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukan.

23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:

Pemeliharaan-Nya ajaib

Tuhan berdaulat dalam menyatakan dan mewujudkan rencana-Nya lewat berbagai aspek kehidupan. Dari kitab Hakim-hakim kita belajar bahwa Dia bisa memakai bangsa asing, untuk menghukum umat-Nya, demi pertobatan mereka. Dia juga bisa memakai para hakim untuk membebaskan umat-Nya dari penjajahan bangsa musuh, demi kesetiaan-Nya pada Perjanjian Sinai.
Cerita ini terjalin sangat indah. Sengaja penulis Rut menyebutkan adanya relasi keluarga antara Elimelekh dengan Boas (ayat 1) untuk menunjukkan bagaimana Tuhan berkarya lewat sanak keluarga untuk memelihara dua janda miskin. Penulis kemudian memakai istilah “kebetulan”, untuk membangun nuansa di hati pembaca melihat bagaimana Rut “tanpa sengaja” masuk ke ladang Boas. Saat kisah ini berlangsung, para pelakunya, Rut dan Boas, tidak menyadari tangan kedaulatan Tuhanlah yang merajut pertemuan itu.

Kedaulatan Tuhan tidak mengurangi tanggung jawab manusia. Respons iman Rut, yang berwujud kepedulian pada Naomi, membawanya ke ladang Boas (ayat 2-3). Demikian juga, walau kaya raya, respons iman Boas yang ramah kepada karyawan-karyawannya, serta menjalankan kewajiban terhadap orang miskin itulah yang mempertemukannya dengan Rut (ayat 4-5). Sikap Boas kepada Rut kemudian sangat sesuai dengan kebesaran hatinya (ayat 11-12) yang melampaui prasangka rasial (di ayat 13, Rut mengaku perempuan asing).

Dua hal yang bisa kita pelajari lewat perikop ini. Pertama, Tuhan berkarya lewat tanggapan iman anak-anak-Nya. Tangan kuasa dan pengasihan-Nya sampai sekarang aktif bekerja. Apakah kita proaktif dengan karya-Nya? Kedua, Tuhan bekerja lewat sarana konvensional, seperti keluarga dan komunitas yang tidak dibatasi prasangka manusia. Tuhan memakai bangunan kasih persaudaraan untuk menolong orang yang membutuhkannya. Seberapa jauh kita menyatakan kepedulian kita kepada orang-orang di sekeliling kita tanpa membeda-bedakan?

Meneruskan nama

Pertolongan Tuhan tak pernah tanggung-tanggung. Dia tidak hanya menyelamatkan dari kehancuran, Dia memulihkan dan mengurapi hamba-Nya untuk ambil bagian dalam rencana kudus-Nya. Lewat Boas, yang tindakan imannya sangat bertanggung jawab, Tuhan menggenapkan karya agung-Nya. Di akhir kisah ini kita mengerti bahwa dari keluarga Elimelekhlah Daud lahir. Daud adalah raja Israel yang Tuhan pakai untuk memimpin Israel dan melahirkan pemimpin agung bukan hanya untuk Israel tetapi untuk bangsa-bangsa lainnya. Semua ini diteguhkan lewat ikatan perjanjian Tuhan dengan Daud (lih. 2Sam. 7).

Seperti Tuhan berkarya maksimal, Boas pun tak separuh-separuh. Dia tahu masih ada kerabat yang lebih dekat dengan keluarga Elimelekh dibandingkan dirinya. Karena itu, dengan strategi jitu ia berhasil mendapatkan hak menanggung kewajiban menolong keluarga Elimelekh. Bagi kerabat itu, menebus ladang Elimelekh bisa jadi menguntungkan. Ia akan beroleh hak untuk mengelola tanah, dan itu akan menguntungkan meski harus menanggung biaya hidup Rut dan Naomi. Lain masalah bila ia harus mengawini Rut. Segalanya akan kacau. Ini berkaitan dengan hukum levirat yang diatur dalam Taurat (Ul. 25:5-10). Hukum ini mewajibkan sanak terdekat dari keluarga yang ditinggal mati kepala keluarganya, untuk mengawini janda kepala keluarga itu demi meneruskan namanya. Kalau si kerabat menikahi Rut, ia akan mengacaukan harta pusakanya sendiri. Bila kemudian lahir anak dari pernikahan dia dengan Rut, maka harta si kerabat bisa beratasnamakan Elimelekh. Sebab pernikahan mereka adalah untuk menegakkan nama Elimelekh. Si kerabat memperhitungkan bahwa hal itu akan merugikan dia.

Dalam hal ini, Boas tidak hitung-hitungan seperti si kerabat. Inilah respons Boas yang dipakai Tuhan untuk menyatakan anugerah dan belas kasih-Nya pada umat manusia. Betapa berkuasanya Allah yang mengatur segala sesuatu bagi penggenapan rencana-Nya.

Mazmur, Kesalehan dan kebahagiaan

Mazmur 128 ini dekat dengan mazmur sebelumnya karena membicarakan berkat Tuhan atas keluarga dan kerja keras (lih. 127:2). Mazmur 128 menekankan sikap “takut akan Tuhan” (1, 4) sebagai dasar berkat dalam keluarga. Sama seperti mazmur sebelumnya, mazmur ziarah ini bisa dikategorikan mazmur hikmat (band. Ams. 1:7). Ada banyak penafsir yang percaya bahwa mazmur ini juga dipakai sebagai doa bagi pasangan baru dalam acara pernikahan tradisi Israel.

Bagian pertama dari mazmur ini (ay. 1-4) berbicara mengenai akibat hidup takut akan Tuhan. Mereka yang takut akan Tuhan dan bekerja keras akan diberkati (1-2). Iman seseorang kepada pemeliharaan Allah, dan ketekunannya dalam berusaha mendatangkan berkat yang berkecukupan. Keluarga pun ikut diberkati (3) dengan kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan sendiri (5a; dari Sion, tempat kediaman Allah). Bagian kedua dari mazmur ini (ay. 5-6) memberikan nuansa yang meluas karena berkat bagi mereka yang takut akan Tuhan bukan hanya dirasakan dalam lingkup rumah tangga, tetapi juga dalam masyarakat dan bangsa. Keluarga yang takut akan Tuhan merupakan pilar-pilar pembentuk bangsa yang kokoh (5) dan membawa kesejahteraan bagi generasi yang akan datang (6).

Di tengah keterpurukan moral bangsa kita, kita harus ingat betapa eratnya hubungan antara iman dan keadaan bangsa ini. Iman yang didasarkan pada takut akan Tuhan akan menghasilkan bangsa yang kuat dan sejahtera. Setiap orang Kristen dipanggil menjadi agen perubahan di tengah-tengah bangsa yang korup ini. Tuhan Yesus Kristus akan mencurahkan berkat-Nya yang melimpah kepada setiap kita yang takut kepada-Nya (Ef. 1:3).
Keluarga-keluarga Kristen agar menjalankan prinsip firman Tuhan: “takut akan Tuhan” sehingga menjadi kesaksian bagi masyarakat luas dan ikut serta mereformasi kehidupan bangsa agar lebih bermoral dan berintegritas.

Injil hari ini, Pemain sandiwara.

Banyak kelebihan orang Farisi dan ahli Taurat. Tuhan Yesus tak segan mengakui bahwa ajaran mereka tentang Taurat harus didengar oleh para pengikut-Nya. Ketekunan dan kesetiaan mereka mengajarkan hukum-hukum Tuhan itu sedemikian cermat sampai dijuluki menduduki kursi Musa. Sayangnya mereka sendiri tidak melakukan yang mereka ajarkan. Mereka tepat disebut sebagai aktor rohani (ayat 5-10). Mereka tidak patut disebut rabbi sebab tidak memberlakukan kebenaran yang mereka ketahui dan ajarkan kepada orang lain lebih dulu pada diri sendiri.

Belajar pada Allah. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang lebih dulu dipimpin Allah baru kemudian memimpin orang lain. Guru rohani yang benar pun demikian. Lebih dari sekadar tahu kebenaran sebagai pengetahuan, guru rohani harus lebih dulu tahu kebenaran sebagai pengalaman dan penghayatan nyata. Pemimpin dan guru yang demikian akan bersikap rendah hati dan tunduk kepada Allah; dan memandu umat Tuhan untuk mengasihi dan menaati Allah saja.

Renungkan: Imani dan ikuti Yesus Kristus, Pemimpin dan Guru sejati yang memungkinkan kita menaati hukum Allah.

(Sumber: margonolucas.wordpress.com)

26

Bacaan dan Renungan Jumat 25 Agustus 2017

Bacaan Jumat, 25 Agustus 2017;Hari biasa, Pekan biasa  XX

Bacaan dari Kitab Rut 1:1.3-6.14b-16.22

“Naomi pulang bersama-sama Rut dan tiba di Betlehem.”

Pada zaman para hakim pernah terjadi kelaparan di tanah Israel. Maka pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda, Elimelekh namanya, beserta isterinya dan kedua orang anaknya, ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Kemudian meninggallah Elimelekh, suami Naomi, sehingga Naomi tertinggal dengan kedua anaknya. Kedua anaknya itu lalu mengambil wanita Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut. Dan mereka tinggal di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah pula kedua anaknya, sehingga Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya. Kemudian berkemas-kemaslah ia dengan kedua menantunya, mau pulang meninggalkan daerah Moab. Sebab di daerah Moab itu Naomi telah mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. Orpa lalu mencium mertuanya, minta diri pulang ke rumahnya. Tetapi Rut tetap berpaut pada mertuanya. Berkatalah Naomi, “Iparmu telah pulang kepada bangsanya dan kepada para dewanya. Pulanglah juga menyusul dia!” Tetapi Rut menjawab, “Janganlah mendesak aku meninggalkan dikau dan tidak mengikuti engkau. Sebab ke mana pun engkau pergi, ke situ pula aku pergi. Di mana pun engkau bermalam, di situ pula aku bermalam. Bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.” Demikianlah Naomi pulang bersama-sama Rut, menantunya, yang berbangsa Moab dan turut pulang. Dan mereka tiba di Betlehem pada permulaan musim panen jelai.

Mazmur Tanggapan

Ref. Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Ayat. (Mzm 146:5-6.7.8-9a.9bc-10; Ul: 2a)

  1. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya: Dialah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya.
  2. Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
  3. Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.
  4. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun temurun!

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya
Ayat. (Mzm 25:5c,5a)
Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.

Bacaan Injil:Matius 22:34-40

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus hendak mencobai Dia, “Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Renungan Jumat, 26 Agustus 2017

Hukum Kasih

Hukum kasih sangat melekat dengan identitas pengikut Yesus. Bahkan jika kita ditanyai apa inti ajaran Kristen maka kita menyebut kata “kasih” untuk merangkum seluruh kisah keselamatan yang ada didalam Alkitab. Ada seorang teolog yang mengatakan bahwa Alkitab adalah “ Kasih dalam kisah; kisah dalam kasih”
Saudaraku terkasih dalam Tuhan, sama halnya dengan semua manusia diseluruh dunia , orang Yahudi juga melihat hukum itu sebagai sesuatu yang sangat penting. Dasar dan acuan dari semua hukum orang Yahudi adalah hukum Tuhan yang tercatat dalam 5 kitab Musa atau Kitab Taurat.
Dalam kalangan bangsa Yahudi, orang farisilah yang dikenal sebagai kelompok yang taat hukum. Mereka bahkan mengklaim diri mereka sebagai ahli hukum. Yang menarik dari Injil hari ini adalah ketika orang Farisi mencobai Yesus dengan menanyakan hukum mana yang paling utama dalam Hukum Taurat. Jawaban Yesus sangat tepat, “ Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Di sini Yesus mau menegaskan bahwa acuan dari semua hukum Taurat terletak pada hukum cinta kasih yaitu mengasihi Allah dan sesama.

Hukum cinta kasih adalah hukum tanpa batas , berlaku bagi semua orang, kapanpun dan dimanapun. Hukum cinta kasih adalah hukum yang menghubungkan tiga pribadi sekaligus, yaitu Allah, saya dan orang lain. Dengan kata lain, hukum cinta kasih adalah relasi cinta antara Allah, diri sendiri dan orang lain. Kita dapat mencintai sesama hanya jika dapat mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Bentuk nyata dari cinta kita kepada Allah adalah mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri. Mari jadikan hidup sebagai aliran kasih allah kepada sesama. Dengan demikian, identitas kita sungguh-sungguh menyata yakni seorang pengikut Kristus. (NJ/Percikan Hati Agustus 2017)

25