Month: March 2018

Bacaan dan Renungan Minggu 01 April 2018|Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan

Bacaan Liturgi 01 April 2018,Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43
Kami telah makan dan minum bersama dengan Yesus setelah Ia bangkit dari antara orang mati.
Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Sekali peristiwa Allah menyuruh Petrus pergi ke rumah perwira Kornelius.
Di sana Petrus berkata,”Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah pembaptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Yesus itulah yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat Yesus di tanah Yudea maupun di Yerusalem!Dia telah dibunuh dan digantung pada kayu salib.Tetapi Allah telah membangkitkan Dia pada hari yang ketiga.Dan Allah berkenan bahwa Ia menampakkan diri,bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.

Dan Yesus telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi
bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”

Mazmur 118:1-2.16ab-17.22-23

Ref: Inilah hari yang dijadikan Tuhan,marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya!
  • Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya.
    Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”
  • Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan!Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan!
  • Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.
    Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Bacaan Kedua: Kol 3:1-4

Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus berada.

Saudara-saudara, kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus.Maka carilah perkara yang di atas, di mana Kristus berada, duduk di sebelah kanan Allah.Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.Sebab kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.Kristuslah hidup kita!Apabila Ia menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

ATAU BACAAN LAIN:1Kor 5:6b-8

“Buanglah ragi yang lama, supaya kamu menjadi adonan yang baru.”

Saudara-saudara, kamu tahu bahwa ragi yang sedikit saja dapat mengkhamirkan seluruh adonan.Maka buanglah ragi yang lama, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi.Sebab Kristus, anak domba Paskah kita, sudah disembelih.Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan roti yang lama,
bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

MADAH PASKAH

Marilah kita lagukan
pujian kejayaan!

Kristus sudah berjuang melawan kematian;
meskipun ditelan namun menang.

Dosa kita dilebur, kuasa maut gugur,
didamaikan kita dengan Bapa.

Katakan Maria,
engkau melihat apa?

Wajah Yesusku yang hidup
sungguh mulia hingga aku takjub.

Kudengar malaikat
menyampaikan amanat.

Yesus Kristus sudah bangkit,
kabarkanlah pada para murid.

Sungguh bangkit Yesus Tuhan
sebagai pemenang.
Hiduplah berjaya selamanya.

Amin. Alleluya.

Bait Pengantar Injil: 1Kor 5:7b-8a

Anak Domba Paskah kita, yaitu Kristus, telah disembelih, Karena itu marilah kita berpesta dalam Tuhan.

Bacaan Injil: Yoh 20:1-9

Yesus harus bangkit dari antara orang mati.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur Yesus, dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.Maka ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus. Ia berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya, dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus,
sehingga lebih dahulu sampai di kubur.Ia menjenguk ke dalam,dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.Maka tibalah juga Simon Petrus menyusul dia, dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping, di tempat yang lain,
dan sudah tergulung.Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu; ia melihatnya dan percaya.Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan :

Allah mengasihi semua orang

Sikap rasialis adalah masalah manusia dari dulu. Sikap ini menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa Perjanjian Baru pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa-bangsa lain tak lebih daripada binatang yang tak layak mendapat anugerah Allah.

Sikap rasis umat Yahudi disebabkan kekeliruan mereka memahami konsep umat pilihan. Bagi mereka, umat pilihan adalah semata-mata hak istimewa. Mereka lupa panggilan istimewa adalah untuk tugas/kewajiban mulia, membawa bangsa-bangsa lain kepada Allah. Khotbah Petrus kepada Kornelius dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yang datang dengan tulus mencari-Nya termasuk Kornelius yang adalah seorang kafir. Rahasia perkenan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus Kristus (ayat 36-38). Yesus yang datang ke dunia ini mengerjakan karya keselamatan untuk membuat orang berkenan kepada Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang, semua bangsa.

Petrus, sebagai seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sebagai sesama manusia yang dikasihi Allah (ayat 34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (ayat 42). Merenungkan ini apa respons kita, yang pada dasarnya bukan orang Yahudi melainkan sama seperti Kornelius yang termasuk dalam bilangan bangsa kafir? Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial.

Mazmur, Dua “andalan” orang Kristen untuk dunia yang keras.

Setiap orang dapat dipastikan merasakan kerasnya hidup. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan diusahakan. Kristen tidak terluput dari itu. Pemazmur merasakan pula hal demikian. Musuhnya mengkonsentrasikan seluruh kemampuannya untuk mendorongnya hingga jatuh. Namun dia tidak mengalami suatu hal yang fatal misalnya kematian (17). Mengapa? Karena dia memiliki dua “andalan” yaitu Tuhan dan cara pandang yang Ilahi. Tuhan bukan sekadar sumber kekuatan, pujian, dan keselamatan, namun Ia sendirilah kekuatan, pujian, dan keselamatan. Ini merupakan ungkapan terlengkap yang menyatakan bahwa mulai dari awal hingga akhir, ada pada-Nya.

“Andalan” yang harus diwujudkan. Untuk dapat bertahan hidup di dunia yang keras ini, tidak ada jalan lain selain menyertakan Allah selalu dalam setiap langkah dan bidang kehidupan kita. Keyakinan kita bahwa Tuhan bukan sekadar sumber kekuatan, pujian, dan keselamatan itu sendiri semakin memperteguh iman dan pengharapan kita. Terlebih lagi ketika kita berhadapan dengan kekerasan. Orang Kristen harus memandang dan meyakini kekerasan ini sebagai didikan Tuhan. Dengan demikian kita akan tahu bahwa kesudahan dari segala bentuk kekerasan ini bukanlah bencana bagi kita.

Bacaan kedua, Memikirkan perkara “yang di atas”.

Perkara di atas (rohani) adalah perkara-perkara yang mendasar bagi kehidupan di dunia ini. Misal, kalau kita menyadari bahwa roh kita kekal dan satu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan kehidup-an kita kepada Tuhan, maka kesadaran itu akan mempengaruhi cara hidup, gaya hidup, tingkah laku, perkataan, dan pikiran kita.

Paulus berkata, karena kita sudah dibangkitkan bersama Kristus, kita harus memikirkan perkara-perkara di atas (ayat 1-2). Kita sudah disatukan dengan Kristus bersama kematian-Nya (ayat 3), maka pikiran dan hati kita harus disesuaikan dengan pikiran dan hati Kristus. Di sini ada proses identifikasi diri dengan Kristus. Hidup kita hanya untuk menyenangkan hati Allah, dan melakukan kehendak Allah, yaitu hal-hal yang mulia dan bernilai kekal.

Identifikasi diri dengan Kristus harus mewujud dalam transformasi hidup. Yaitu, perubahan hidup dari hidup duniawi — semua perbuatan hawa nafsu yang mendatangkan murka Allah (ayat 5-7), dan semua karakter berdosa yang tidak pantas dilakukan oleh orang kudus (ayat 8-9) — menjadi hidup baru, yang rohani, yang terus menerus diperbaharui semakin menyerupai gambar Allah (ayat 10). Dunia modern semakin menawarkan kegemerlapan dunia malam (dugem) yang penuh dengan pelampiasan hawa nafsu yang menjijikkan. Anda di Jakarta tentu sudah tahu buku yang menghebohkan Jakarta Undercover. Itulah dunia masa kini yang harus kita jauhi.

Anak Tuhan harus melakukan proses identifikasi diri dengan Kristus terus menerus dengan cara berdoa dan membaca firman. Hidup kita juga harus ditransformasi terus menerus, dengan menolak melakukan berbagai perbuatan jahat dan digantikan terus menerus dengan perbuatan baik.

Bacaan II, 1Kor 5:6b-8 (alternative)

Berdukacitalah!

Kondisi jemaat di Korintus sangat memprihatinkan! Ada di antara warga jemaat itu yang melakukan dosa memalukan yang bahkan orang kafir pun tidak melakukannya. Dosa yang dilakukan ialah zinah dengan ibu tiri sendiri. Para pelakunya memang menyebut diri orang Kristen dan anggota jemaat, tetapi pasti mereka tidak mengasihi Tuhan dan jemaat-Nya. Perbuatan yang merusak kesaksian dan melemahkan iman jemaat itu tentu tidak dilakukan orang yang sungguh mengasihi Tuhan. Paulus sangat terpukul oleh kebobrokan tersebut, namun jemaat Korintus sendiri malah berbangga (ayat 2). Mereka bangga karena menganggap bahwa sikap menerima orang-orang yang melakukan percabulan dalam persekutuan sebagai suatu kemajuan. Bangga akan dosa adalah suatu kemunduran. Seharusnya jemaat berdukacita dan bertindak!

Basmi Dosa! Bila dibiarkan, dosa akan seperti ragi yang berpengaruh cepat ke seluruh jemaat. Dosa bukan hanya membinasakan pelakunya tetapi seluruh jemaat juga akan tercemar. Mereka akan terbiasa dengan dosa sehingga akhirnya tidak takut lagi berbuat dosa. Karena itu dosa harus dibenci, orang yang berdosa harus didisiplin. Disiplin yang dijatuhkan kepada orang berdosa itu adalah bukti bahwa jemaat mengasihinya. Disiplin gerejawi dijalankan demi menjaga kekudusan warga jemaat secara pribadi dan seluruh jemaat. Tidak mudah memang menjalankan disiplin, terlebih masa kini, tetapi tindakan itu harus karena penting. Tuhan menghukum bukan untuk menghancurkan tetapi untuk memulihkan dan memurnikan orang yang dikasihi-Nya.

Renungkan: Hanya hidup yang tanpa ragi dosa yang bisa mengalami suasana pesta rohani dalam hadirat Allah yang kudus, murni, tanpa cela.

Doa: Tuhanku, tolong kami untuk saling memperhatikan dan mengasihi sedemikian rupa hingga kami berani menolak dosa sahabat kami dan membawa mereka balik kepadaMu.

Injil hari ini

Tuhan yang diambil orang.

Tuhan yang tidak bangkit atau tuhan yang mati adalah tuhan yang diambil orang. Itulah tuhannya Maria Magdalena. Suatu kesimpulan yang sangat mustahil sebenarnya, sebab kubur itu disegel dan dijaga tentara elit Romawi, dan tidak mungkin orang mencuri mayat Yesus sedangkan kain pembungkus tubuh dan kepala jenazah Tuhan Yesus ditinggalkan dalam keadaan tetap utuh seperti semula. Bila Maris Magdalena berkesimpulan seperti itu, adalah wajar sebab ia sangat mencintai Yesus karena ia mendapat terlalu banyak dari Yesus. Tetapi ternyata kasih yang dalam kepada Yesus, tanpa kebangkitan Yesus tidak cukup, atau kasih yang sia-sia. Kasih tanpa kebangkitan adalah kasih yang menuntun orang kepada kecemasan, kegelisahan, dan kepanikan. Kasih yang bisa sampai pada kesimpulan “Tuhan kami diambil orang”. Sebaliknya, kasih yang disertai kebangkitan Kristus adalah kasih yang menghadirkan rasa tenang, aman, sebab panjar sudah diberikan, atau asuransi sudah digenggam dalam tangan. Apakah Tuhan kita adalah Tuhan yang bangkit, ataukah Tuhan kita adalah Tuhan yang diambil orang?

Kubur yang kosong. Kekuatan terdahsyat yang tak dapat dipungkiri maupun dielakkan adalah ketika kematian ditaklukkan-Nya. Kubur yang kosong membuktikan bahwa Sang Hidup tak dapat dikalahkan maut, sebaliknya maut dipecundangi-Nya. Kebangkitan Kristus membuktikan kebenaran ucapan-ucapan-Nya tentang diri-Nya dan tentang maksud kematian-Nya yaitu memberikan nyawa-Nya untuk tebusan nyawa kita dari kuasa dosa dan kuasa maut. Fakta kubur kosong, kebangkitan Kristus mampu mengangkat seluruh keberadaan kita hingga hidup yang berat dan serba tak menentu sekarang ini dapat kita jalani dan isi dengan pertolongan kuasa kebangkitan-Nya.

Renungkan: Tak dapat dipungkiri bahwa kita kerap menjadi seperti Maria Magdalena dan Petrus yang merasa hidup seolah hampa, semangat luruh menjadi letih lesu. Tetapi kemenangan Kristus merupakan dasar untuk keselamatan kekal kita.

DOA: Tuhan Yesus yang bangkit, aku memuji-muji Engkau! Putera Allah yang sempurna, Manusia yang sempurna, Engkau sepenuhnya menyenangkan hati Bapa-Mu di surga. Engkau pantas menerima segala pujian untuk hidup-Mu yang dipenuhi kebenaran, untuk kematian-Mu yang suci, dan untuk kebangkitan-Mu yang mulia dan penuh kuat-kuasa. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk ikut ambil bagian dalam hidup-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Yoh 20:1-9 Yesus harus bangkit dari antara orang mati
Yoh 20:1-9
Yesus harus bangkit dari antara orang mati
(Sumber: sesawi.net)

 

Bacaan dan Renungan 31 Maret 2018|Sabtu Suci (pagi)-Vigili Paskah (Malam)

Bacaan Liturgi 31 Maret 2018|Hari Sabtu Suci (Pagi) – Vigili Paskah (Malam)

Bacaan Pertama: Kej 1:1-2:2
Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik.
Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Pada awal mula Allah menciptakan langit dan bumi.Bumi belum berbentuk dan kosong.Gelap gulita meliputi samudera raya. Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.Allah berfirman, “Jadilah terang!” Maka jadilah terang.
Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nya terang itu dari gelap.
Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Maka jadilah petang dan pagi: hari pertama.

Lalu Allah berfirman, “Jadilah cakrawala di tengah segala air, untuk memisahkan air dari air.”Maka Allah menjadikan cakrawala, dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
Allah menamai cakrawala itu langit. Maka jadilah petang dan pagi: hari kedua.

Lalu Allah berfirman, “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.
Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu laut. Allah melihat bahwa semua itu baik.

Lalu Allah berfirman, “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.
Tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji
dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.Maka jadilah petang dan pagi: hari ketiga.

Lalu Allah berfirman, “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda
yang menunjukkan masa-masa yang tetap, menunjukkan hari dan tahun;dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.Maka Allah menjadikan kedua benda penerangan yang besar,yakni yang lebih besar untuk menguasai siang, dan yang lebih kecil untuk menguasai malam,
dan menjadikan juga bintang-bintang.Semuanya itu ditaruh Allah di cakrawala untuk menerangi bumi,dan untuk menguasai siang serta malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.Maka jadilah petang dan pagi: hari keempat.

Lalu Allah berfirman, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.”Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya, “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”Maka jadilah petang dan pagi: hari kelima.

Lalu Allah berfirman, “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.Allah menjadikan segala jenis binatang liar, segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.Lalu Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan atas seluruh bumi, serta atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Beranak-cucu dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah,berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Allah berfirman, “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji. Itulah akan menjadi makananmu.Tetapi kepada segala binatang di bumi dan kepada burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.
Maka jadilah petang dan pagi: itulah hari keenam.Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Maka berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN SINGKAT: Kej 1:1.26-31a

“Allah melihat segala yang dijadikan-Nya,sungguh amak baik.”

Pembacaan dari Kitab Kejadian: Pada awal mula Allah menciptakan langit dan bumi.
Setelah menyelesaikan penciptaan langit dan bumi dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang di dalamnya, Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan atas seluruh bumi, serta atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.Allah memberkati mereka, lalu berfirman kepada mereka,
“Beranak-cucu dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah,
berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Allah berfirman, “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji.
Itulah akan menjadi makananmu.Tetapi kepada segala binatang di bumi dan kepada burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur 104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c

Ref: Utuslah Roh-Mu, dan jadi baru seluruh muka bumi.
  • Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau berpakaian keagungan dan semarak,berselimutkan terang ibarat mantol.
  • Engkau telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk selama-lamanya.Dengan samudera raya bumi itu Kauselubungi;air telah naik melampaui gunung-gunung.
  • Di lembah-lembah Engkau membualkan mata air yang mengalir di antara gunung-gunung;burung-burung di udara bersarang di dekatnya, bersiul dari antara daun-daunan.
  • Dari bangsal-Mu Engkau menyirami gunung-gunung,bumi penuh dengan segala yang Kauturunkan dari langit.Engkau menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia; Engkau mengeluarkan makanan dari dalam tanah.
  • Betapa banyak karya-Mu, ya Tuhan, semuanya Kaubuat dengan kebijaksanaan,
    bumi penuh dengan ciptaan-Mu.Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

ATAU MAZMUR TANGGAPAN LAIN: Mzm 33:4-5.6-7.12-13.20.22 (R:5b).

Refren:Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya Tuhan.
  • Firman Tuah itu benar, segala sesuatu dikerjakannya dengan kesetiaan.
    Ia senang pada keadilan dan hukum,bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
  • Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentaranya.Ia mengumpulkan air laut seperti dalam kantung, samudera raya ditaruhnya dalam bejana.
  • Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suka bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia.
  • Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita.Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan Kedua: Kej 22:1-18

Kurban Abraham leluhur kita.

Setelah Abraham mendapat anak, Ishak, maka Allah mencobai Abraham.
Ia berfirman kepadanya, “Abraham,” Abraham menyahut, “Ya, Tuhan.”
Firman Tuhan, “Ambillah anak tunggal kesayanganmu, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, bangunlah Abraham. Ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu. Lalu berangkatlah ia, dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.Pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya,
dan melihat tempat itu dari jauh.Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu, “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Aku beserta anakku akan pergi ke sana. Kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

Lalu Abraham mengambil kayu untuk kurban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedangkan ia sendiri membawa api dan pisau di tangannya.
Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya, “Bapa!” Sahut Abraham, “Ya, anakku.” Bertanyalah Ishak, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?”Sahut Abraham, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku.”

Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama, dan sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham. Abraham lalu mendirikan mezbah di situ dan menyusun kayu. Kemudian Ishak, anaknya itu, diikat, dan diletakkannya di mezbah, di atas kayu api itu. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Tetapi berserulah Malaikat Tuhan dari langit, “Abraham, Abraham!”
Sahut Abraham, “Ya, Tuhan.”Lalu Tuhan berfirman, “Jangan kaubunuh anak itu,
dan jangan kauapa-apakan dia, sebab kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah,
dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Abraham lalu menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut pada belukar. Diambilnya domba itu, lalu dipersembahkannya
sebagai kurban pengganti anaknya.Dan Abraham menamai tempat itu “Tuhan menyediakan”. Sebab itu sampai sekarang dikatakan orang, “Di atas gunung Tuhan menyediakan.”

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham, katanya, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman Tuhan —
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,maka Aku memberkati engkau berlimpah-limpah
dan membuat keturunanmu sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut. Dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
Melalui keturunanmulah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mentaati firman-Ku.”

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN SINGKAT:Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18

“Kurban Abraham leluhur kita.”
Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Setelah Abraham mendapat anak, Ishak, maka Allah mencobai Abraham. Ia berfirman kepadanya, “Abraham,” Abraham menyahut, “Ya, Tuhan.”Firman Tuhan, “Ambillah anak tunggal kesayanganmu, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Maka sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham.Abraham mendirikan mezbah di situ dan menyusun kayu.Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.Tetapi berserulah Malaikat Tuhan dari langit, “Abraham, Abraham!” Sahut Abraham, “Ya, Tuhan.”
Lalu Tuhan berfirman, “Jangan kaubunuh anak itu, dan jangan kauapa-apakan dia,
sebab kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan
menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Abraham lalu menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut pada belukar. Diambilnya domba itu, lalu dipersembahkannya sebagai kurban pengganti anaknya.

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham, katanya, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman Tuhan —
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,maka Aku memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut. Dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.Melalui keturunanmulah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mentaati firman-Ku.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 16:5.8.9-10.11, R:1

Refren: Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
  • Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah
    yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
  • Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati,
    dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
  • Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

BACAAN KETIGA Kel 14:15-15:1

“Orang-orang Israel berjalan di tengah laut yang kering.”
Pembacaan dari Kitab Keluaran:

Dalam perjalanan keluar dari tanah Mesir,ketika hampir tersusul oleh pasukan Firaun,ketakutanlah orang-orang Israel dan berseru-seru kepada Tuhan.Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.Dan engkau, angkatlah tongkatmu, dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel dapat masuk ke tengah-tengah laut dan berjalan di tanah yang kering.Dan sementara itu Aku akan menegarkan hati orang-orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku.Maka orang Mesir akan insaf bahwa Aku ini Tuhan, apabila Aku menampakkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orang-orangnya yang berkuda.”

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berpindah, berjalan di belakang mereka; dan tiang awan yang tadinya bergerak dari depan mereka, beranjak dan berdiri di belakang mereka.Demikianlah
tiang awan itu berdiri di antara tentara Mesir dan orang Israel. Awan itu menimbulkan kegelapan, sehingga malam itu berlalu tanpa kesempatan bagi orang Mesir untuk mendekati orang-orang Israel.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, serta mengeringkan laut itu.Maka terbelahlah air laut itu,Dan orang Israel masuk dan berjalan di tengah-tengah laut yang kering; sedang di kiri dan di kanan mereka
air itu sebagai tembok bagi mereka.Orang Mesir pun mengejar dan menyusul mereka.
Semua kuda Firaun, kereta dan pasukan berkudanya mengikuti orang Israel masuk ke tengah-tengah laut itu.

Pada waktu jaga pagi, Tuhan memandang tentara Mesir dari dalam tiang api dan awan,lalu mengacau-balaukan tentara Mesir.Tuhan membuat roda kereta mereka berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata,
“Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir!”Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, kereta mereka, dan pasukan berkuda mereka.”Musa mengulurkan tangannya ke atas laut; maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya semula, sedangkan orang Mesir lari menuju air itu. Demikianlah Tuhan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.
Jadi berbaliklah segala air itu, lalu menimbun kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut.Tiada seorang pun di antara mereka yang selamat.Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Demikianlah pada hari itu Tuhan menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terkapar di pantai laut.
Ketika orang Israel melihat betapa dasyat perbuatan Tuhan terhadap orang Mesir,
maka seluruh bangsa itu merasa takut akan Tuhan;mereka percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya.

Pada waktu itulah Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan madah ini bagi Tuhan:

(Bacaan ini tidak ditutup dengan “Demikianlah sabda Tuhan, tetapi langsung disambung dengan kidung berikut:)

Kel 15:1-2.3-4.5-6.17-18,R:1

Refren: Baiklah kita menyanyi bagi Tuhan,sebab Ia tinggi luhur.

Kidung:
  • Baiklah akku menyanyi bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur.Kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.Tuhan itu kekuatan dan mazmurku.Ia telah menjadi keselamatanku.Dia Allahku, kupuji Dia; Dialah Bapaku, kuluhurkan Dia.
  • Tuhan itu pahlawan perang,Tuhan, itulah nama-Nya!Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut;para perwira pilihannya dibenamkan ke dalam Laut Teberau.
  • Samudera raya menutupi mereka;ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu.Tangan kanan-Mu, ya Tuhan, mulia karena kekuasaan-Mu,tangan kanan-Mu, ya Tuhan, menghancurkan musuh.
  • Engkau membawa umat-Mu dan mencangkokkan mereka di atas gunung milik-Mu sendiri,di tempat yang telah Kaujadikan kediaman-Mu,di tempat kudus yang didirikan tangan kanan-Mu, ya Tuhan.Tuhan memerintah selama-lamanya.

 

Bacaan Keempat: Yes 54:5-14,

“Dalam kasih setia abadi, Tuhan, penebusmu, akan mengasihani engkau.”

Tuhan bersabda kepada Nabi Yesaya, jika yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati Tuhan memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? firman Allahmu. Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman Tuhan, Penebusmu. Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau. Hai yang tertindas, yang dilanggar angin badai, yang tidak dihiburkan! Sesungguhnya, Aku akan meletakkan alasmu dari batu hitam dan dasar-dasarmu dari batu nilam. Aku akan membuat kemuncak-kemuncak tembokmu dari batu delima, pintu-pintu gerbangmu dari batu manikam merah dan segenap tembok perbatasanmu dari batu permata. Semua anakmu akan menjadi murid Tuhan, dan besarlah kesejahteraan mereka; engkau akan ditegakkan di atas kebenaran. Engkau akan jauh dari pemerasan, sebab engkau tidak usah lagi takut, dan engkau akan jauh dari kekejutan, sebab ia tidak akan mendekat kepadamu.

Mazmur Tanggapan. IV, Mzm 30:2.4.5-6.11.12a.13b

Refren: Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
  •  Aku akan memuji ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak membiarkan musuh-musuhku bersuka cita atas diriku. Tuhan, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan daku di antara mereka yang turun ke liang kubur.
  •  Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi oleh-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab hanya sesaat ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
  •  Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kuubah menjadi orang yang menari-nari, Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Dari bacaan kelima (Yes 55:1-11) kita membaca/mendengar mengenai Tuhan yang memperhatikan umat-Nya yang kehausan di tengah jalan. Air, penyangga hidup, diberikan dengan cuma-cuma, gratis, sebagai rahmat supaya mereka dapat pulang dari pembuangan. Pemberian sederhana ini baru permulaan. Kebaikan lain dijanjikan: makanan, tempat tinggal, kebutuhan hidup, dan baru setelah itu hal-hal yang menyangkut hidup rohani: kehidupan agama (“Perjanjian”), pertobatan , kemampuan mendengar sabda ilahi. Malam ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

Bacaan Kelima:Yes 55:1-11,

“Datanglah kepadaku, maka kamu akan hidup, dan aku akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu.”

Beginilah firman Tuhan, “Hai kamu semua orang yang haus, marilah dan minumlah! Dan kamu yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli, dan makanlah; minumlah anggur dan susu tanpa bayar! Mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti? Dan mengapa upah jerih payahmu kamu belanjakan untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan mendapat makanan yang baik, dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu, dan datanglah kepadaku, dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup! Aku akan mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh, yang Kujanjikan kepada Daud. Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena Tuhan, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau. Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengasihaninya; baiklah ia kembali kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu, dan rancangan-Ku di atas rancanganmu. Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberi benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”

Mazmur Tanggapan V: Yes 12:2-3.4bcd.5-6

Refren: Tuhan, Dikaulah sumber air hidup.
  • Sungguh, Allah keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar; sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba dengan kegirangan, dari mata air keselamatan.
  • Pada waktu itu kamu akan berkata, “Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukan karya-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur!”
  • Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulia karya-Nya; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab yang mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!

Perayaan wafat dan kebangkitan Yesus bukan hanya berarti perayaan keselamatan, tetapi juga perayaan yang memberi penegasan bahwa ”janji keselamatan Allah telah terpenuhi, bahwa Allah itu setia dan mengasihi umat-Nya”. Jaminan ini mengajarkan setiap orang yang percaya agar selalu hidup dalam iman, harap, dan kasih kepada-Nya; memelihara ketenangan batin dalam doa, pujian dan sembah bakti yang tak kunjung putus.

Bacaan Keenam: Bar 3:9-15.32;4:4,

“Berjalanlah dalam semarak Tuhan!”

Dengarkanlah, hai Israel, segala perintah kehidupan, condongkanlah telinga untuk mengenal kearifan. Apa sebabnya, hai Israel, apa sebabnya maka engkau berada di negeri musuhmu serta menjadi tua di negeri yang asing dan menajiskan dirimu dengan yang mati dan terbilang di antara mereka yang turun ke dunia orang mati? Engkau telah meninggalkan sumber kebijaksanaan! Jikalau engkau berjalan di jalan Allah, niscaya selamanya engkau diam dengan damai sejahtera. Belajarlah di mana ada kearifan, di mana kekuatan dan di mana pengertian, supaya sekaligus kauketahui tempat umur panjang dan kehidupan, tempat cahaya mata dan damai sejahtera. Siapakah telah menemukan tempat kebijaksanaan, siapakah telah masuk ke dalam perbendaharaannya?

Mazmur Tanggapan VI, Mzm 19:8-9.10-11

Refren: Sabda-Mu adalah kebenaran, hukum-Mu kebebasan.
  • Sabda Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa. Peraturan Tuhan teguh, membuat arif orang bersahaja. Titah Tuhan tepat, menyenangkan hati. Perintah Tuhan jelas, membuat mata berseri.
  • Hikmat Tuhan baik, tetap selama-lamanya. Keputusan Tuhan benar, adil selalu. Lebih indah daripada emas murni, lebih manis daripada manu lebah.

Yehezkiel mewartakan rahmat pengudusan. Pentahiran, pembebasan dari segala kenajisan, roh dan hati yang baru, sikap berpegang teguh pada ketetapan Tuhan, semua itu adalah suatu rahmat. Isi pewartaan kenabian Yehezkiel membangkitkan pengharapan Israel. Tuhan berpihak lagi kepada Israel, demi menghidupkan kembali harapan dan iman mereka. Tuhan sungguh panjang akal dan kasih setia.

Bacaan Ketujuh:Yeh 36:16-17a.18-28,

“Aku akan mencurahkan air jernih ke atasmu, dan kamu akan Kuberi hati yang baru.”

“Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanahnya sendiri, mereka menajiskan tanah itu dengan tingkah laku mereka. Maka Aku mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka, karena darah yang mereka curahkan di atas tanah itu; mereka menajiskan tanah itu dengan berhala-berhala mereka. Aku menghamburkan mereka di antara bangsa-bangsa, sehingga mereka berserak-serak di dalam negeri; Aku menghakimi mereka selaras dengan tingkah lakunya. Di mana saja mereka datang di tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, sehingga semua orang menyindir mereka dengan berkata: Katanya mereka umat Tuhan, tetapi mereka harus keluar dari tanahnya! Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang. Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah Firman Tuhan Allah: bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus, yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang. Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, demikianlah Firman Tuhan Allah, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri; Aku akan membawa kamu kembali ke tanahmu. Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dan segala kenajisanmu dan dari semua berhalamu aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberi hati yang baru, dan roh yang baru akan Kutaruh di dalam batinmu. Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras, dan kepadamu Kuberi hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu, dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku; aku akan membuat kamu tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu. Kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.”

Mazmur Tanggapan VIIA: Mzm 42:3.5bcd;43:3-4; Ul: lih 42:2; 2/4

Refren: Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan ingin melihat wajah Allah.
  • Jiwaku haus akan Allah akan Allah yang hidup! Bilakah tiba saatnya aku boleh datang melihat Allah.
  • Ku terkenang, ketika berkenan maju di tengah kepadatan manusia, melangkah menuju ke rumah Allah di tengah sorak-sorai dan nyanyian syukur.
  • Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu supaya menuntun langkahku dan membawaku ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
  • Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, suka citaku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, sumber kegembiraanku.

atau Yes 12:2-3.4bcd.5-6; atau Mzm 51:12-13.14-15.18-19;

EPISTOLA: Rom 6:3-11

“Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati,dan tidak akan mati lagi.”
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara,kita semua, yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
oleh pembaptisan dalam kematian, supaya, seperti halnya Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidupdalam hidup yang baru.Sebab jika kita telah menjadi satu dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan kebangkitan-Nya.Karena kita tahu
bahwa manusia-lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh-dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus,
kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.Karena kita tahu bahwa Kristus, sesudah bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi;
maut tidak berkuasa lagi atas Dia!Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.Demikianlah hendaknya kamu memandangnya:kamu telah mati bagi dosa,
tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.

MAZMUR TANGGAPAN Mzm 118:1-2.16ab-17.22-23

Refren: “Alleluya, Alleluya, Alleluya.”
  • Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!Kekal abadi kasih setia-Nya.
    Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”
  • Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan.Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan.
  • Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangungan telah menjadi batu penjuru.
    Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Bacaan Injil Mat 28:1-10

Ia telah bangkit, dan mendahului kamu ke Galilea.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur Yesus.
Maka terjadilah gempa bumi yang hebat, sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke kubur Yesus dan menggulingkan batu penutup kubur itu,
lalu duduk di atasnya.Wajahnya bagaikan kilat, dan pakaiannya putih bagaikan salju.Para penjaga kubur itu gemetar ketakutan, dan menjadi seperti orang-orang mati.Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu, “Janganlah kamu takut!Aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia dibaringkan.Maka pergilah segera dan katakanlah kepada murid-murid-Nya, bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Ia kini mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya, akulah yang telah mengatakannya kepadamu.”Maka mereka segera pergi dari kubur itu, diliputi rasa takut dan sukacita yang besar.Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata,
“Salam bagimu!” Mereka mendekati-Nya, memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
Maka kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan:

Karya Tuhan baik

Keagungan penciptaan terlihat dengan nyata pada sabda pembukanya, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (ayat 1). Semua yang ada di bawah kolong langit ini merupakan karya ilmiah dan karya seni Allah yang tiada duanya. Dari ketiadaan, kekosongan, dan ketiadaan bentuk, Allah mencipta, mengisi, dan mengatur alam semesta ini.

Seperti seorang maestro karya seni memandang karya-karyanya itu dengan perasaan senang dan puas, demikianlah Sang Pencipta memandang karya akbar-Nya dan mengomentarinya sebagai baik (ayat 4, 10, 12). Betapa brilian pikiran penciptaan yang ada di benak Ilahi, sungguh tidak dapat disamai oleh pikiran-pikiran manusia yang pernah menjejak dan mengukir sejarah dunia ini. Karena semua pikiran manusia hanya meneruskan dan mengembangkan dari fondasi yang Allah sudah letakkan.

Pada tiga hari pertama Allah menciptakan dan mengatur wadah untuk kehidupan. Di hari pertama, Allah menciptakan terang untuk menjadi wadah waktu bagi kehidupan: yaitu siang dan malam. Tanpa terang, tiada kehidupan. Hari kedua dan hari ketiga merupakan pengaturan yang begitu rapih dan sistematis dari dunia ciptaan ini. Pemisahan air di langit dari air yang di bawah langit menciptakan ruangan untuk makhluk udara dan makhluk air. Sedangkan daratan dengan berbagai tumbuhan di dalamnya diciptakan dan diatur agar menjadi tempat yang indah dan asri bagi penghuninya, berbagai makhluk hidup darat, dan terutama manusia.

Tuhan menciptakan semuanya ini, bersama dengan ciptaan-ciptaan yang lain di tiga hari berikutnya sebagai konteks bagi manusia mengembangkan diri dan melayani Tuhan serta sesama. Tugas manusia sebagai ciptaan tertinggi adalah memelihara dan menjaga keasrian dan keharmonisan ciptaan. Manusia bertanggung jawab untuk turut serta menggumuli bahkan mencari jalan keluar bagi penyelesaian masalah seperti pemanasan global, kerusakan ekosistim, dan pembaruan paru-paru dunia.

Semua untuk manusia

Sebagaimana penciptaan tiga hari pertama mempersiapkan wadah bagi penghuni-penghuninya, demikian tiga hari kedua sampai dengan dunia binatang diciptakan adalah penciptaan untuk tujuan kemanusiaan.

Matahari, bulan dan bintang-bintang Allah ciptakan dan letakkan agar manusia mengenal waktu dan polanya. Hal ini penting kelak supaya manusia bisa mengelola alam secara tepat sesuai musim dan tentunya karakter dari berbagai ciptaan tersebut.

Ikan dan burung Allah ciptakan untuk mengisi laut dan udara, menjadi bagian dari keasrian alam ini. Penciptaan ikan dan burung (ayat 21) menggunakan kata kerja yang khusus, yakni bara\’, yang hanya muncul enam kali dalam kisah penciptaan (Kej. 1:1; 21; 27-31; 2:3). Rupanya penciptaan ikan dan burung merupakan tingkatan penciptaan makhluk hidup setelah sebelumnya alam yang diciptakan. Hal ini ditandai dengan munculnya pertama kali Allah memberkati ciptaan-Nya itu untuk berkembang biak dan memenuhi ruang yang Allah ciptakan khusus untuk mereka (ayat 22).

Akhirnya, di hari keenam, Tuhan menciptakan binatang darat, baik hutan, ternak, maupun melata sebagai bagian terakhir sebelum manusia diciptakan. Dengan ketiga bagian alam sudah terisi oleh berbagai makhluk hidup, lengkaplah sudah segala sesuatu yang dipersiapkan Allah untuk ciptaan-Nya yang termulia, yaitu manusia. Kelak dalam penciptaan manusia baru kita mengerti apa tujuan dan fungsi masing-masing ciptaan itu untuk manusia, dan apa tugas manusia berkaitan dengan makhluk ciptaan lainnya.

Semua karya penciptaan Allah di tiga hari kedua ini sama-sama dikomentari Allah sebagai baik adanya (ayat 18, 21, 25). Apa yang baik ini bersama dengan apa yang baik di tiga hari pertama, merupakan lingkungan yang sangat baik bagi manusia. Mari syukuri kebaikan Allah ini dengan tidak henti-hentinya memperlakukan baik semua ciptaan-Nya ini, demi kemurahan-Nya dan manfaat sesama kita.

Raja atau penatalayan?

Manusia, sang homo sapiens (manusia yang berpikir), telah disebut juga sebagai homo faber (manusia yang membuat), juga homo ludens (manusia yang bermain), dan banyak homo lainnya. Semuanya adalah contoh dari usaha untuk menjawab pertanyaan berikut: siapakah sebenarnya manusia?

Apa yang menjadi jati diri sejati dari manusia? Tetapi, manusia tidak eksis dan berada sendiri; manusia eksis di dalam alam. Segala pertanyaan tentang jati dirinya harus juga menjelaskan tentang hubungan manusia tersebut dengan alam sekitarnya. Manusia zaman dulu menjawab pertanyaan ini dengan menyembah alam semesta/unsur-unsurnya. Manusia masa kini menjawab pertanyaan tersebut dengan bersikap seperti seorang raja tiran mengeksploitasi alam habis-habisan. Yang lain mengambil jalan ketiga; menyatu dengan alam walaupun tidak jelas bagaimana ini bisa terjadi.

Wawasan arkeologis terkini tentang zaman Perjanjian Lama telah memungkinkan kita menafsirkan ayat 26 demikian: manusia adalah gambar Allah dalam pengertian menjadi wakil dan tanda kehadiran serta pemerintahan Allah di atas segenap ciptaan. Keberadaan manusia, dan tugasnya untuk berkuasa atas alam, adalah tanda atau “gambar” dari kedaulatan Allah atas semesta. Karena itu, tugas “penguasaan” yang dilakukan manusia mempunyai sifat penatalayanan. Manusia berkuasa atas alam demi Allahnya dan bukan demi dirinya sendiri. Manusia diberikan mandat ini semata-mata untuk memberlakukan tatanan yang teratur atas alam ciptaan, sebagaimana Allah juga telah mengatur alam semesta dari kekacauan mula-mula. Karena itu, kehadiran Kristen harus menimbulkan keteraturan pada alam sekitarnya, mulai dari pekarangan dan got di sekitar rumah, hingga keprihatinan makro bagi lingkungan hidup.

Renungkan: Gambar Allah pada kita tidak hanya ditemukan di dalam diri, melalui kapasitas mental dan rohani, tetapi juga di luar, melalui tindakan penatalayanan kita atas alam dan kehidupan kita.

Makan dan istirahat.

Banyak orang yang berwawasan pemikiran modern, mengerti keilahian Allah secara aristotelianis: Allah itu tidak terbatas! Ia tidak membutuhkan sesuatu yang di luar diri-Nya, dan tidak mengalami degradasi dalam bentuk apa pun. Lalu mengapa Allah bisa menghasilkan suatu konsep yang sangat finit, materialis, manusiawi dan seperti makanan? Ada apa pula sehingga Allah berhenti dari pekerjaan-Nya dan beristirahat? (kata Ibrani syabat pada ayat 2-3 mengandung arti “berhenti” dan “beristirahat”, bdk. BIS dan mayoritas versi bhs. Inggris)

Pasti Anda bisa menjawab ini dengan teologis dan benar: Allah beristirahat dan menciptakan makanan bukan karena keterbatasan- Nya, tetapi karena kehendak bebas-Nya yang berdaulat. Ini betul, tetapi implikasi dari pernyataan ini yang sering luput dari perhatian Kristen masa kini. Makan dan beristirahat adalah sesuatu yang baik, karena Allah yang menciptakan makanan dan mendesain kebutuhan untuk makan (mengapa hanya biji-bijian? bdk. 9:2-4), serta Ia juga memberi teladan dengan beristirahat (bdk.Kel. 20:8-11). Karena itu, kedua hal ini juga bersifat rohani karena spiritualitas kita seharusnya juga terwujud dari pandangan dan tindakan kita terhadap makanan dan istirahat. Kristen yang rohani tidak menyalahgunakan dengan berlebihan keduanya — menjadi rakus dan malas — dan juga tidak meniadakan dan menyangkali kebaikan dari kedua anugerah Allah ini.

Orang Kristen di Indonesia kini punya panggilan besar untuk menunjukkan kesaksiannya, ketika dunia sekitar kita makin terbelah dua antara mereka yang sangat kekurangan dan kelebihan makanan, dan ketika dunia menjadi makin mencintai kesibukan.

Renungkan: Ketika manusia makan dan beristirahat dengan baik, ini menjadi berita kepada segenap alam bahwa ciptaan dan pemeliharaan Allah itu baik. Inikah yang berita yang diterima orang lain ketika mereka melihat kita makan dan pengaturan hidup kita?

Bacaan kedua, Ketika cinta harus memilih!

Allah mengasihi kita, memberikan berkat-berkat-Nya yang melimpah kepada kita. Kita mengasihi Allah oleh karena segala berkat yang dinyatakan-Nya untuk kita. Namun, kita harus beranjak dari situ, kita harus dapat mengasihi Allah karena Diri-Nya, bukan semata karena berkat-berkat-Nya! Itu yang sedang diuji dari diri Abraham. Ujian itu tidak tanggung-tanggung! Berkat yang paling berharga, yang paling prestisius, yang telah dibuktikan pantas didapatkan sekarang harus dilepas oleh pilihan mengasihi Allah.

Sebenarnya perikop ini tidak mengungkapkan pergumulan pribadi Abraham ketika diperhadapkan dengan pilihan menyerah-kan Ishak untuk dikorbankan karena ketaatan dan kasihnya kepada Allah, atau mempertahankan Ishak oleh karena kasih kepada diri sendiri. Namun, dengan imajinasi kita mencoba menangkap perasaan terdalam hati seorang ayah, baik dari sisi pribadi pun kehidupan sosial masyarakat. Bagi Abraham, anak yang ditunggu-tunggu selama puluhan tahun ini, yang telah membuatnya lelah secara fisik dan batin, adalah suatu harta kesayangan yang tidak mungkin dilepaskan. Secara sosial masyarakat, memiliki ahli waris kandung berarti meneruskan nama dan prestise keluarga. Pasti dua hal ini berkecamuk dalam hati Abraham. Belum lagi memikirkan pertanyaan teologis apakah kini Allah membatalkan janji-Nya?

Apapun pergumulan pribadi Abraham, ketetapan hati untuk lebih mengutamakan Allahlah yang membuat ia taat untuk mempersembahkan Ishak di mezbah. Kasih kepada Allah mengalahkan keinginan Abraham untuk mempertahankan hak miliknya. Oleh sebab itu, Allah semakin memperjelas pengenalan Abraham akan Allah dan rencana-Nya (ayat 16-18).

Renungkan: Saatnya akan tiba, Anda harus memilih mempertahankan hak, diri, keluarga, apa saja yang Anda kasihi atau melepaskannya demi kesetiaan dan kasih kepada Kristus!

Bacaan ketiga, Tuhan pasti menolong

Pernahkah Anda merasa bahwa Tuhan terlambat menolong, saat krisis melanda? Mungkin saat itu Anda bertanya-tanya, apakah Tuhan tidak sanggup menolong atau Dia sudah tidak perduli.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh umat Israel saat melihat pasukan Firaun mendekat. Mereka menghadapi jalan buntu karena di hadapan mereka membentang Laut Teberau yang tak terseberangi. Musa memang sudah memberikan janji dan jaminan Tuhan bahwa mereka tidak akan ditangkap lagi oleh Firaun. Kenyataannya Firaun semakin dekat, sementara belum ada tindakan sama sekali, baik dari Musa maupun dari Tuhan. Namun justru pada saat itu Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya. Ia tidak terlambat bertindak. Ia tidak tinggal diam (band. ay. 13, orang Israel akan diam saja), melainkan campur tangan dengan melakukan mukjizat yang besar, yang pertama kali mereka saksikan seumur hidup mereka.

Tuhan bertindak tepat pada waktunya dalam kebuntuan, ketegangan, dan ketakutan yang sedang dihadapi manusia dengan memberikan jalan keluar kepada mereka. Dia menyatakan kuasa-Nya. Pertama-tama dengan tiang awan-Nya yang membuat malam menjadi sangat gelap sehingga pasukan Mesir tidak dapat mendekati umat Israel semalam-malaman (ayat 19-20). Dengan memakai tongkat Musa yang diulurkan ke laut Teberau, Tuhan membelah laut tersebut sehingga terbentuk tanah kering untuk dilalui umat Israel ke seberang. Umat pun menyeberang dengan selamat. Dan akhirnya, dengan kuasa dahsyat-Nya atas alam, Ia menenggelamkan pasukan Firaun di laut Teberau hingga binasa.

Tuhan tidak pernah terlambat bertindak, kuasa-Nya yang dahsyat sanggup menyelesaikan masalah sebesar apapun. Karena itu jangan pernah kehilangan iman kita kepada Tuhan. Ia peduli dan akan bertindak dalam kuasa dan kedaulatan-Nya. Entah Dia akan melalukan krisis itu secepatnya atau Dia akan meningkatkan kekuatan anak-anak-Nya dalam menghadapi krisis tersebut.

Bacaan keempat, Pemeliharaan yang pasti.

Tempat macam apakah yang Anda inginkan sebagai tempat berteduh dan berlindung? Jawabannya, pasti adalah tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman. Di bawah naungan yang memberikan keamanan, kenyamanan, keteduhan, dan perlindungan inilah kita dapat merasakan ketenangan, di tengah badai gelombang kehidupan. Janda yang ditinggalkan suaminya tidak akan selamanya berkabung; wanita yang tidak memiliki anak, tidak akan seterusnya menderita. Pemeliharaan, perlindungan dan rasa aman yang Allah berikan adalah jaminan yang pasti, bahwa tidak ada kuasa apa pun yang sanggup menghancurkan umat-Nya. Dialah satu-satunya tempat perlindungan yang kokoh.

Janji yang pasti. Memang diakui bahwa sungguh tidak mudah berbicara tentang pemeliharaan, perlindungan dan rasa aman yang Allah berikan kepada mereka yang berada dalam kesempitan. Mereka tidak akan mudah percaya. Tugas kita sebagai orang percaya yang meyakini sepenuhnya kebenaran janji Allah itu, kita harus menyaksikan kepada mereka bahwa Allah yang maha kuasa itu, yang memberikan janji perlindungan yang pasti. Dialah Allah yang penuh kasih sayang, yang tetap memegang teguh perjanjian damai dengan umat tebusan-Nya. Pegang teguhlah janji-Nya!

Bacaan kelina, Rancangan yang luar biasa.

Kemerdekaan yang dinikmati manusia merupakan hasil dari penggenapan rancangan Allah yang luar biasa. Memang, secara manusiawi rancangan Allah itu terlalu tinggi bagi kita. Artinya, sulit bagi kita untuk bisa memahami keagungan rancangan-Nya. Tetapi Allah menegaskan bahwa yang tak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Rancangan Allah itu selain mendatangkan kemasyhuran bagi nama-Nya, juga mendatangkan kesejahteraan bagi umat-Nya (12-13).

Penyerahan penuh. Dalam menggenapkan rancangan-Nya itu, Allah menawarkan kasih dan kehidupan. Yang diminta-Nya hanyalah suatu penyerahan yang penuh dan pertobatan total dari umat-Nya. Allah menuntut sikap ini dari manusia bukan karena Allah bergantung pada manusia, tetapi agar manusia dapat menikmati secara penuh berkat yang disediakan-Nya. Ketika kita mau kembali kepada Tuhan, maka Ia akan mengasihani kita dan memberi pengampunan dengan limpahnya (7).

Renungkan: Kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, Allah telah merancangkan suatu rancangan damai sejahtera bagi hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11)

Renungan keenam, Dengarkanlah, hai Istael, segala perintah kehidupan!

Doa yang bagus ini, mulai dengan dorongan kepada bangsa Israel supaya mendengarkan, yaitu menaati perintah Allah, yang dinyatakan 3:17-4:4 dimana Allah memberikan kebijaksanaan kepada Israel, dan kebijaksanaan itu ditemukan dalam kitab hokum Allah, yaitu Taurat. Sehingga seluruh puisi ini adalah seruan kepada Israel untuk melaksanakan kehendak Allah dan dengan demikian mereka bijak dan terberkati. Konsekuensi dari Israel tidak melaksanakan dan mendengarkan Allah, Israel dibawa ke pembuangan.

Renungan ketujuh, Tanah dan ranah.

Tanah adalah berkah. Berkah adalah ranah (unsur atau elemen yang dibatasi) — tiada berkah tanpa perbatasan. Ketika berkah tak lagi dianggap sebagai anugerah, kala tanah tak lagi dipertahankan cerah, di sanalah ranah dilanggar dan sang kafilah harus menanggung amarah.

Bagi bangsa Israel, tanah adalah sesuatu yang amat kudus — jauh dari urusan broker seperti sekarang (lihat Im. 25). Tanah mengandung unsur rohani yang begitu dalam — tanah Palestina adalah tanah Allah sendiri. Karena itulah tanah ini kudus: bukan karena pada dirinya sendiri tanah itu kudus, tapi karena Allah yang kudus memberikannya kepada Israel dan hadir di sana.

Mereka yang berada di Babel menangis. Tanah mereka dilalap habis oleh musuh yang bengis. Salah mereka sendiri. Mereka kemudian rindu rumah. Allah memberikan sepercik kebahagiaan lewat kata. Ia berjanji akan melawan musuh-musuh Israel. Edom akan dihancurkan dan tanah terjarah dapat kembali dihuni. Bangsa Israel akan mendapatkan kembali harta mereka yang sangat berharga. Keadaan akan kembali seperti dulu ketika Daud berkuasa, bahkan lebih daripada itu! Penderitaan bukan selama-lamanya. Harapanlah yang tinggal tetap.

Ayat 16-21 menunjukkan suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Waktu kekudusan tanah dilanggar, kekudusan Allah dilanggar pula. Kenajisan Israel digambarkan seperti wanita sehabis menstruasi, menyebabkan Allah murka dan menarik berkah-Nya. Tanah itu tiada lagi dapat didiami. Bangsa Israel tersebar ke mana-mana. Hukuman Allah tersebut membawa akibat kedua: kini bangsa-bangsa lain mencemoohkan nama Allah sendiri. Musuh- musuh Israel berkata, “Di mana Yahweh? Bukankah Allah mereka tidak berkuasa?” Nama Allah pun dipermalukan.

Merasa layak menerima sesuatu kadang diperlukan. Orang minder tak pernah merasa berhak mendapatkan apa-apa — ini tidak sehat. Sayangnya, ada pula orang yang terlalu merasa diri layak. Siapa yang suka mengajak makan orang yang selalu merasa dirinya harus ditraktir?

Bagian kedua pasal 36 ini memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai motivasi Allah untuk kembali memberikan pengharapan kepada bangsa Israel: bukan karena Israel pada dirinya sendiri layak mendapatkan pemulihan, tidak pula karena Israel telah berbuat baik, tetapi semata-mata karena Allah ingin menguduskan nama-Nya kembali.

Ketika bangsa Israel dihukum, maka Allah dianggap tidak menepati perjanjian-Nya dengan Daud. Sikap ingkar janji bertentangan dengan kekudusan Allah karena di dalam kekudusan hanya ada kesempurnaan, kebaikan, dan kesetiaan. Ini menjelaskan mengapa cemoohan bangsa-bangsa kafir merupakan pencemaran nama Allah yang kudus.

Kini Allah ingin menunjukkan bahwa diri-Nya tetap kudus. Ia menghukum bangsa Israel dan seakan-akan mengingkari janji- Nya, justru karena Ia kudus. Namun demikian, Ia tidak mungkin diam ketika bangsa-bangsa lain salah menafsirkan hukuman Allah sebagai tanda ketidaksempurnaan-Nya. Ia kembali menyelamatkan Israel dengan kekuasaan-Nya. Nama Yahweh harus ditinggikan oleh segala bangsa!

Keselamatan yang diberikan kepada bangsa Israel menyeluruh sifatnya: bukan hanya secara fisik dengan pemulihan ekonomi, sosial, politis, budaya, tetapi juga pemulihan hati atau religi (ayat 25-27). Tanpa pemulihan dari dalam, pemulihan dari luar akan segera sirna kembali. Ini berarti ketaatan dan kemampuan menuruti kehendak Allah pun merupakan suatu anugerah. Bangsa Israel harus merasa malu akan dosa mereka dan bersyukur pada Tuhan yang tidak pernah melalaikan perjanjian-Nya.

Renungkan: Kehidupan orang percaya berasal dari anugerah dan ditopang sepenuhnya oleh anugerah. Ketika kita mulai merasa mampu mengasihi Dia dengan kekuatan kita sendiri, bukalah Roma 11:36!

Menyalibkan dosa

Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki Roh Allah yang memampukan kita hidup taat pada Dia dan tidak tunduk pada kedagingan kita. Namun selama kita masih hidup dalam tubuh yang fana, godaan itu akan terus hadir. Kalau kita tidak dekat dengan Allah dan tidak mau dengar-dengaran pimpinan Roh-Nya, kita bisa gagal. Kita bisa terjebak lagi pada kedagingan manusia lama kita. Lalu bagaimana cara agar kita tidak mudah jatuh, melainkan semakin lama semakin kokoh dalam iman dan kekudusan?

Pertama-tama, ingatlah bahwa Yesus sudah mati bagi kita. Ia sudah mengalahkan kuasa dosa (ayat 10). Oleh karena itu manusia lama kita, yaitu tubuh dosa kita telah ikut pula disalibkan sehingga dosa tidak berkuasa lagi atas kita (ayat 6). Maka kita harus memandang diri kita telah mati bagi dosa (ayat 11a). Artinya kita harus mematikan keinginan berdosa kita. Jangan biarkan anggota tubuh kita dipakai untuk berbuat dosa (ayat 13a). Perlu ada langkah-langkah konkret untuk tidak menyerah pada godaan dosa. Misalnya, godaan melalui mata. Jangan gunakan mata untuk melihat hal-hal yang merangsang hawa nafsu sehingga timbul keinginan untuk memuaskannya. Kita harus melawan dengan serius. Caranya, jangan lagi membiarkan mata kita membaca buku-buku yang tidak baik atau menonton film/vcd/dvd yang merangsang birahi kita.

Kedua, Yesus sudah bangkit dari kematian. Kuasa maut sudah dikalahkan. Kuasa Yesus sekarang membangkitkan dalam diri kita hasrat baru untuk hidup kudus dan menyenangkan hati Tuhan. Kita harus memandang diri kita sekarang sebagai hidup bagi Allah (ayat 11b). Oleh karena itu panggilan hidup anak-anak Tuhan adalah menyerahkan anggota-anggota tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang menjadi berkat buat orang lain dan yang memuliakan Tuhan (ayat 13b). Pakailah mata kita untuk memandang keindahan ciptaan Tuhan dengan rasa takjub sehingga hati dan mulut kita tak putus-putus memuji kebesaran-Nya. Gunakan tangan kita untuk menopang orang yang jatuh tersandung, sebagai wujud kasih Allah dalam diri kita. Karyakan talenta yang kita miliki agar makin banyak orang yang merasakan pertolongan Allah lewat hidup dan karya kita.

Bacaan Injil hari ini, Makna fakta kebangkitan.

Peristiwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati adalah peristiwa yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Tak satu pun Injil mengisahkan bagaimana proses terjadinya hingga Yesus bangkit dari kematian. Karena peristiwa ini terlalu Agung dan Mulia untuk dilihat oleh manusia. Namun demikian Injil menyatakan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati.

Fakta batu terguling dan hilangnya mayat Yesus ini menegaskan bahwa kebangkitan Yesus bukanlah kebangkitan roh yang tidak bertubuh. Sebaliknya Yesus bangkit dengan tubuh-daging-Nya. Mereka segera menceritakan semuanya kepada murid-murid yang lain. Namun mereka tidak mempercayainya karena peristiwa itu sangat menakjubkan, di luar jangkauan akal manusia.

Jika para perempuan mengatakan melihat roh Yesus, mungkin mereka akan lebih mudah percaya. Walaupun demikian, Petrus segera berlari ke kubur untuk membuktikan kebenaran berita itu. Ketika melihat ke dalam kubur itu, ia hanya melihat kain kafan yang dipakai untuk membungkus mayat Yesus. Hal ini mempertegas bahwa Yesus bangkit dengan tubuh-daging-Nya. Kebangkitan-Nya membawa kita kepada suatu pemahaman bahwa ada suatu realita baru di dalam kehidupan manusia, yakni setelah kematian-Nya akan ada kehidupan baru yang tidak terpisah namun masih mempunyai unsur- unsur yang lama yaitu tubuh dan daging. Dan Kristuslah yang pertama kali mengalami ini (Kol. 1:18).

Bagaimana dengan keadaan murid Yesus? Para perempuan itu datang ke kubur, tetapi jenasah Yesus tidak mereka temukan. Mereka terkejut sampai terpaku. Ketika itulah tampak dua orang laki-laki berpakaian berkilau-kilauan, yang membuat para perempuan itu sangat ketakutan, menundukkan kepala, tetapi tak melarikan diri. Mereka, kedua orang itu langsung menegur: bahwa kedatangan mereka ke kubur sebenarnya aneh, sebab mencari DIA yang hidup, tetapi datang ke kubur. Dia telah bangkit kembali, Dia hidup, jadi tidak mungkin berada di dunia orang mati. Perempuan-perempuan itu percaya, tetapi Yesus yang bangkit tidak mereka lihat.

Untuk mengerti PASKAH, kita dituntut beriman saja, tanpa bukti-bukti lain. Para jago minuman keras di kampung saya, memiliki istilah “lawaran” untuk upacara minum mereka. Minum “lawaran” berarti minum saja tanpa tambahan kacang goreng atau apa pun. Orang baru disebut hebat kalau bisa menikmati minum saja, minum lawaran.

Untuk mengerti PASKAH, kita dituntut beriman lawaran. Beriman saja, tanpa bukti-bukti tambahan. Hal ini dibutuhkan, sebab kita pun seperti para perempuan yang menjenguk Yesus; tidak melihat Yesus yang bangkit. Bahkan tanda-tanda ketidakhadiran-Nya pun tidak kita lihat. Perempuan itu masih bisa melihat “tanda ketidakhadiran Yesus”, yaitu kubur kosong, jenasahnya tidak ada lagi. Kita tidak melihat apa pun: Kuburnya tidak kita lihat. Kita berada dalam situasi lain, di tempat lain (bukan di Israel) dan zaman lain. Karena itu, dibutuhkan iman lawaran, iman tanpa syarat untuk mampu merayakan Paskah.

Paskah itu perayaan Tuhan yang disiksa, disalib, dibunuh dan telah bangkit kembali, tetapi kebangkitan-Nya tidak kita lihat. Maka, untuk merayakan Paskah dibutuhkan sikap beriman, tidak menuntut bukti. Jika ada orang, baru akan beriman kalau sembuh dari sakit, kalau dapat pacar, kalau dapat kerja, kalau dapat rezeki; semua ini iman bersyarat. Tomas contohnya: dengan sinis menolak berita kebangkitan, sebelum mencucukkan jarinya ke dalam luka Yesus.

Perayaan PASKAH adalah perayaan iman tingkat tinggi, sebab orang dituntut untuk percaya begitu saja. Orang yang amat bergantung dengan berbagai ramalan, dengan berbagai kesaktian dan jimat semu seperti di atas, sulit mengerti PASKAH. Kita harus belajar percaya seperti kaum perempuan itu, yang percaya tanpa syarat, bahwa Dia yang disalibkan telah hidup kembali. Selamat merayakan vigili Paskah.

Renungkan: Kebangkitan-Nya merupakan deklarasi Allah bahwa Yesuslah Anak Allah yang berkuasa (Rm. 1:4) dan suci. Kebangkitan-Nya sangat menentukan kehidupan manusia karena seluruh proses penebusan-Nya selalu dikaitkan dengan kebangkitan-Nya mulai dari pembenaran (Rm. 4:25), kelahiran kembali (1Ptr. 1:3), penyucian (Rm. 6:4-6) hingga pemuliaan (Flp. 3:20-21).

DOA: Segala puji syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Tuhan Yesus. Engkau telah mengalahkan dosa dan maut. Segala puji syukur bagi-Mu, ya Putera Allah, karena Engkau telah mengangkat diriku untuk berada bersama-Mu sepanjang segala masa. Amin. (Lucas Margono)

Mat 28:1-10 Ia telah bangkit, dan mendahului kamu ke Galilea.
Mat 28:1-10 Ia telah bangkit, dan mendahului kamu ke Galilea.

 

Bacaan dan Renungan Jumat 30 Maret 2018|Jumat Agung

Bacaan Liturgi 30 Maret 2018|Hari Jumat Agung

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12

Ia ditikam karena kejahatan kita.
Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan,”Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil!Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan!Seperti banyak orang tertegun melihat dia — rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi, –demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia!Sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.Maka mereka berkata:Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan, dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering.

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya,sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia;dan rupanya pun tidak menarik,sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya.

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri!
Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya
seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba
yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan, dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan, dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya,
umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia.Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas.Sebab Tuhan berfirman,Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Ini semua sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak,sekalipun ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Mazmur 31:2.6.12-13.15-16.17.25

Ref:Luk 23:46: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.

  • Pada-Mu, Tuhan, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku;sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
  • Di hadapan semua lawanku aku tercela, tetangga-tetanggaku merasa jijik,
    para kenalanku merasa ngeri;Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati,
    telah menjadi seperti barang yang pecah.
  • Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,aku berkata: “Engkaulah Allahku!”
    Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskan dari orang-orang yang mengejar aku!
  • Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan!

Bacaan Kedua:Ibr 4:14-16;5:7-9

Ia telah belajar menjadi taat,dan menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Pembacaan dari Surat Kepada Orang Ibrani:

Saudara-saudara,kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah.Maka baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.Sebab Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam Agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita!Sebaliknya Ia sama dengan kita!Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa.Sebab itu marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian,supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut;dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan.Akan tetapi sekalipun Anak, Ia telah belajar menjadi taat;ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya!
Dan sesudah mencapai kesempurnaan,Ia menjadi pokok keselamatan abadi
bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Bait Pengantar Injil: Flp 2:8-9

Kristus sudah taat bagi kita;Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama.

Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42

Mengenang Sengsara Tuhan.
Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Yohanes:

Seusai perjamuan Paskah,keluarlah Yesus dari ruang perjamuan bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman. Yesus masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.Yudas yang mengkhianati Yesus tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.Maka datanglah juga Yudas ke situ bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi.Mereka datang lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya. Maka Ia maju ke depan dan berkata kepada mereka, “Siapakah yang kamu cari?”Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret!”
Kata Yesus kepada mereka, “Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Yesus
berdiri juga di situ bersama-sama mereka.Ketika Yesus berkata kepada mereka ‘Akulah Dia’, mundurlah mereka, dan jatuh ke tanah.Maka Yesus bertanya pula, “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka, “Yesus dari Nazaret!”Jawab Yesus, “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.”Demikian terjadi supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang.

Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, dan menetakkannya kepada hamba Imam Agung dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.

Kata Yesus kepada Petrus, “Sarungkanlah pedangmu itu! Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”

Maka para prajurit serta perwiranya, dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia.Lalu mereka membawa Yesus mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Agung;dan Kayafaslah yang telah menasihatkan kepada orang-orang Yahudi: Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.

Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Agung, dan ia masuk ke halaman istana Imam Agung itu.Tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Agung, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu, lalu membawa Petrus masuk.
Maka kata perempuan penjaga pintu kepada Petrus, “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus, “Bukan!”Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu,dan mereka berdiri berdiang di situ. Petrus pun berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka.Maka mulailah Imam Agung menanyai Yesus tentang para murid dan tentang ajaran-Nya.Jawab Yesus kepadanya, “Aku berbicara terus terang kepada dunia!
Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah tempat semua orang Yahudi berkumpul, Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”Ketika Yesus berkata demikian, seorang penjaga yang berdiri di situ menampar muka Yesus sambil berkata, “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Agung?”Jawab Yesus kepadanya,
“Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau benar, mengapakah engkau menampar Aku?”

Lalu Hanas mengirim Yesus terbelenggu kepada Kayafas, Imam Agung.Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya, “Bukankah engkau juga seorang murid Yesus?”Petrus menyangkalnya, katanya, “Bukan!” Salah seorang hamba Imam Agung, keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus, berkata kepadanya, “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Yesus?”
Maka Petrus menyangkal lagidan ketika itu berkokoklah ayam.

Keesokan harinya mereka membawa Yesus dari istana Kayafas ke gedung pengadilan.
Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu,
supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata, “Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?”Jawab mereka kepadanya, “Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!”Kata Pilatus kepada mereka, “Ambillah Dia, dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu!” Kata orang-orang Yahudi itu, “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.”Demikian terjadi supaya genaplah firman Yesus
yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Ia akan mati.

Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?”Jawab Yesus,
“Dari hatimu sendirikah engkau katakan hal itu? atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?”Kata Pilatus, “Orang Yahudikah aku?
Bangsamu sendiri dan imam-imam kepala telah menyerahkan Engkau kepadaku,
apakah yang telah Engkau perbuat?”Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini! Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan,
supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini!”Maka kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi Engkau adalah raja.”
Jawab Yesus, “Seperti yang kaukatakan, Aku adalah raja!Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”Kata Pilatus kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?”

Sesudah mengatakan demikian, Pilatus keluar lagi mendapatkan orang-orang Yahudi,
dan berkata kepada mereka, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.
Tetapi padamu ada kebiasaan, bahwa pada hari raya Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi ini bagimu?”
Mereka pun berteriak,”Jangan Dia, melainkan Barabas!” Barabas adalah seorang penyamun.

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri, dan menaruhnya di atas kepala Yesus.Mereka mengenakan jubah ungu pada-Nya,dan sambil maju ke depan mereka berkata, “Salam, hai raja orang Yahudi!” Lalu mereka menampar wajah Yesus.

Pilatus keluar lagi dan berkata kepada Orang-orang Yahudi,”Lihatlah aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka, “Lihatlah Manusia ini!”Ketika para imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Yesus, berteriaklah mereka, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka, “Ambil saja sendiri dan salibkanlah Dia!
Sebab aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya, “Kami mempunyai hukum, dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”

Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia.lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan, dan berkata kepada Yesus, “Dari manakah asal-Mu?”
Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya.Maka kata Pilatus, “Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?”Yesus menjawab, “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan dari atas. Sebab itu, dia yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”
Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus, tetapi orang-orang Yahudi berteriak, “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar.
Setiap orang yang menganggap diri raja, melawan Kaisar.”

Ketika mendengar perkataan itu, Pillatus menyuruh Yesus ke luar.Lalu ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani: Gabata.Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.
Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu, “Inilah rajamu!”Maka berteriaklah mereka, “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka,
“Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala, “Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!”Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.Dan mereka menerima Yesus.

Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa ke luar kota,ke tempat yang bernama Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.Di situ Yesus disalibkan, dan bersama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.Banyak orang Yahudi membaca tulisan itu,
sebab tempat Yesus disalibkan itu letaknya dekat kota, dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, Latin dan bahasa Yunani.Maka kata imam-imam kepala kepada Pilatus, “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi: Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.”Jawab Pilatus, “Apa yang kutulis, tetap tertulis!”

Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian Yesus,
lalu membaginya menjadi empat bagian, masing-masing prajurit satu bagian.Jubah Yesus pun mereka ambil. Tetapi jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah merupakan satu tenunan utuh.Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain,
“Janganlah kita membagi jubah ini menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang akan mendapatnya.” Demikianlah terjadi supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci:
Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka,dan membuang undi atas jubah-Ku. Hal itu telah dilakukan oleh prajurit-prajurit itu.

Di dekat salib Yesus berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu-Nya,Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang Ia kasihi di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”dan kemudian kata-Nya kepada murid itu,”Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia
— supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, –“Aku haus!”

Di situ ada suatu buli-buli penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang pada sebatang hisop,mencelupkannya dalam anggur asam itu,lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.Sesudah meminum anggur asam itu, berkatalah Yesus, “Sudahlah selesai!” Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.

(semua hening sejenak menerungkan wafat Tuhan)

Karena hari itu adalah hari persiapan Paskah, dan supaya pada hari Sabat
mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus
dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan, dan mayat-mayatnya diturunkan.Maka datanglah prajurit-prajurit, lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.
Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati,
mereka tidak mematahkan kaki-Nya.Tetapi seorang dari antara prajurit itu
menikam lambung Yesus dengan tombak, dan segera mengalirlah darah serta air ke luar.Dan orang yang melihat sendiri hal itu yang memberi kesaksian ini, dan benarlah kesaksiannya.Dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan;dan nas lain yang mengatakan:
Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam.

Sesudah itu Yusuf dari Arimatea,(Yusuf ini adalah seorang murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi)meminta kepada Pilatus,
supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Pilatus meluluskan permintaan Yusuf.Maka datanglah Yusuf dan menurunkan jenazah Yesus Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang dulu datang malam-malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.Mereka mengambil jenazah Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat pemakaman orang Yahudi.Di dekat tempat Yesus disalibkan itu ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya,
maka mereka meletakkan jenazah Yesus di situ.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Bacaan pertama, Derita hamba Allah

Setiap manusia pasti pernah menderita. Ada banyak sebab manusia menderita: akibat perbuatan dosa, akibat perbuatan bodoh, atau karena hal itu merupakan realitas hidup di dunia yang berdosa ini. Namun, ada juga orang yang menderita karena kehendak Allah untuk menunaikan misi-Nya.
Nyanyian Hamba yang terakhir ini membicarakan penderitaan yang dialami hamba Allah karena ia mengemban tugas dari Allah. Nyanyian ini bisa dibagi menjadi lima bagian. Pertama: 52:13-15. Bagian pendahuluan ini menyimpulkan bahwa hamba Allah ini harus mengalami direndahkan dan dihina sebelum ia ditinggikan dan dimuliakan. Kedua: 53:1-3. Hamba Allah ini sejak awal pelayanannya sudah menderita penolakan yang dahsyat dari orang-orang yang dilayaninya. Ketiga: 53:4-6. Orang-orang itu menyangka dia jahat dan berdosa sehingga ia menderita dihukum Allah, padahal dosa-dosa merekalah yang dipikulnya. Keempat: 53:7-9. Demi menyelamatkan orang-orang itu, ia tidak memberontak ketika ia diperlakukan seperti penjahat. Kematiannya pun dianggap sebagai kematian yang pantas bagi orang jahat. Kelima: 53:10-12. Bagian penutup ini mengungkapkan keberhasilan hamba Allah tersebut dalam misinya. Kematiannya tidak sia-sia karena merupakan kurban penebus salah di hadapan Allah. Kematiannya berkhasiat memerdekakan para tawanan dosa. Ia bangkit kembali bagaikan pahlawan yang menang perang sehingga ia berhak menerima jarahan, yaitu para musuh.

Siapakah hamba Allah ini, yang telah menderita bahkan mati demi menyelamatkan umat yang dikasihi Allah dan bangkit mengalahkan kuasa dosa secara tuntas? Dalam Perjanjian Baru dan sampai sekarang hanya Yesus satu-satunya yang menggenapi Nyanyian Hamba ini. Oleh karena itu, Dia saja yang patut menerima pujian, hormat, dan sembah semua umat tebusan Allah.

Renungkan: Hal yang dihina dan diremehkan dunia tentang Kristus justru membuat kita kagum dan mengasihi Dia.

Mazmur, Percaya dan bersyukur dalam segala situasi.

Orang percaya seperti halnya semua orang lain, mengalami situasi hidup berubah-ubah. Bedanya adalah, orang percaya tidak membiarkan kehidupan rohaninya terhempas turun-naik mengikuti turun-naik situasi hidup yang tak menentu. Juga orang percaya tidak menjadi tidak realistis atau aneh di dalam menghadapi situasi nyata hidup ini. Ia tetap dapat tersenyum penuh suka ketika hidup nyaman, ia pun meratap ketika hidup menghadirkan kesusahan. Namun semua itu dialaminya dalam iman yang semakin tumbuh, hubungan dengan Tuhan yang semakin akrab.

Kebenaran ini tampak dalam struktur mazmur ini. Inti mazmur ini adakah ratapan yang berakhir dengan pujian syukur . Mengapa bisa demikian? Karena situasi yang membangkitkan ratapan tersebut diterima pemazmur dengan doa dan iman. Menarik kita catat bahwa ratapan pemazmur dibungkus dengan kedua unsur tersebut. Doa dan ungkapan iman mendahului dan mengikuti ratapannya. Seiring dengan itu, sikapnya terhadap pihak yang mungkin menjadi sebab penderitaannya, dan pengenalannya akan Tuhan pun bertumbuh. Ia semakin membenci dosa (ayat 6) semakin menginginkan kebenaran- keadilan Allah berlaku. Ia semakin akrab berpegang mengimani Allah perjanjian. Tidak heran bahwa meski tetap harus meratap dalam situasi sulit yang ditanggungnya, akhirnya ia dapat menaikkan meninggikan Allah dengan puji-syukur dan kesaksian yang tulus.

Mazmur ini dengan mengharukan diucapkan Yesus ketika Ia tergantung di salib. Ialah yang memungkinkan kita menerima dan menjalani situasi hidup berat dengan sikap seorang pemenang. Kebenaran ini perlu kita hayati secara segar di Indonesia kini.

Renungkan: Bersama Dia yang telah merubah maut menjadi jalan hidup, kita pun dapat menerima situasi sesulit apapun dalam doa, iman dan nyanyian kemenangan.

Injil hari ini,

Injil yang kita dengarkan hari ini sangat panjang, lebih panjang dari bacaan Injil mana pun yang biasa dibacakan di gereja dalam upacara liturgi kita. Ya, kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Injil Yohanes. Pada umumnya, di banyak tempat, kisah sengsara ini tidak dibacakan secara biasa, tetapi dinyanyikan dengan pemeranan oleh tiga orang. Berkaitan dengan hal-hal itu saja bisa segera muncul pertanyaan lagi: mengapa? Nampaknya tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa itu terjadi karena Kisah Sengsara begitu istimewa.

Begitu istimewanya kisah ini hingga menjadi matakuliah khusus. Di tempat lain, bahkan dipelajari secara lebih luas dan mendalam. Belum lagi fakta bahwa keempat penginjil memandang penting peristiwa ini, tak ada satu pun penginjil yang tak memuatnya dalam Injilnya. Tetapi yang sungguh-sungguh membuatnya istimewa adalah kisah itu sendiri, kebenaran yang ditunjukkannya. Betapa Yesus yang sesungguhnya penuh kuasa membiarkan diri-Nya dikhianati, digiring ke pengadilan yang tidak adil, disiksa, disangkal, dihina, dilecehkan dan dibunuh. Untuk apa? Untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya menyelamatkan kita, manusia yang berdosa. Dia yang tak berdosa menderita bagi kita yang berdosa. Sang Kebenaran disalahkan oleh orang-orang yang bersalah. Sang Penyelamat wafat di tangan orang-orang yang tak mau menerima keselamatan. Injil hari ini mengajarkan kebenaran iman kita.

Kalau begitu istimewa dan mengajarkan kebenaran, mengapa banyak orang tidak percaya? Jawabannya pada kata-kata Yesus sendiri, “Setiap orang yang berasal dari kebenaran. Mari kita ikuti Injil ini tahap demi tahap.

Pemimpin sejati.

Kristus bukan tipe pemimpin yang egois, karena di saat yang mengancam diri-Nya, Ia tidak berusaha menyelamatkan diri-Nya sendiri. Justru di saat seperti itu, Kristus malah memperkenalkan diri, menampilkan diri ke depan untuk melindungi murid-murid-Nya (ay. 8). “Kalau Aku yang kamu cari, biarlah mereka pergi”. Inilah salah satu bentuk kepribadian agung yang dimiliki Yesus. Ia mengorbankan diri-Nya demi keselamatan orang lain.

Adakah kita menemukan pemimpin-pemimpin seperti Yesus di tengah-tengah bangsa dan gereja kita? Atau paling tidak pernahkah kita menemukan jiwa dan semangat Yesus di tengah-tengah bangsa dan gereja saat ini?
Membela Kristus dengan pedang. Demi menunjukkan bahwa para murid tidak menerima begitu saja perlakuan orang-orang kepada Yesus, sebuah pedang diayunkan Petrus, sebagai bakti kepada Yesus. Demi menunjukkan kepada orang-orang, bahwa walaupun kecil dan lemah, para pengikut Kristus tidak pasrah tetapi berbuat sesuatu. Sebuah bukti, bahwa murid-murid Yesus bukanlah penonton yang tak memiliki kekuatan apa-apa, melihat Gurunya ditangkap dan diseret orang. Namun untuk semua itu Tuhan Yesus mengatakan: “sarungkanlah pedangmu!”

Renungkan: Yesus Kristus tidak pernah menginginkan kita membela kebenaran dengan kekerasan.

Penjahat.

Tuhan dianggap penjahat? Begitulah yang terjadi! Bukan karena Dia jahat, tetapi justru karena Dia baik. Orang baik banyak yang masuk ke dalam penjara karena kebaikan mereka. Orang jahat tak senang kepada orang baik karena kehadiran orang baik mengungkap kejahatan mereka. Itulah yang kini terjadi pada Tuhan. Orang banyak itu bahkan adalah orang-orang beragama. Mereka menaati hukum yang mencegah mereka berbuat najis (ayat 28), namun sekaligus malah merencanakan kejahatan terhadap Yesus. Hanya iblis yang bisa menuduh Tuhan jahat. Dengan tuduhan sejahat itu, jelaslah betapa jahatnya iblis dan para pengikutnya.

Raja. “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja,” kata Yesus kepada Pilatus, sang wakil kaisar Roma untuk jajahannya di Yudea (ayat 37). Penjahat menghakimi dengan ukuran kejahatannya, namun seorang raja yang benar menghakimi dengan keadilan. Yesus datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Ia adalah raja yang baik dan sempurna atas kerajaan yang surgawi. Tak heran bila dalam dialog tentang raja dan kerajaan itu, kebodohan dan kegelapan hati dan pikiran Pilatus ditelanjangi. Ia tidak tahu apa itu kebenaran, walaupun ia memegang kuasa untuk menjadi hakim. Yesus yang disengsarakan itu yang akan menghakimi semua orang yang berbuat jahat, termasuk Pilatus. Saat itu pun Yesus telah menghakimi Pilatus. Pilatus seharusnya bijak membuat keputusan. Namun, hatinya yang bercabang membuatnya tak berdaya. Keputusan salah boleh diambil hakim dunia ini, namun di tangan Allah semua keputusan harus tunduk pada rencana dan keputusan Ilahi.

Renungkan: Ketika kejahatan semakin meluas, bahkan juga dilakukan oleh para pemimpin, pengikut Kristus harus berani berkorban demi terungkapnya kejahatan dan terpancarnya kebenaran.

Tak ada kesalahan.

Pilatus tak menemukan kesalahan pada Yesus karena Dia memang tak bersalah (ayat 38). Tetapi, orang Yahudi tetap meminta supaya Dia dihukum mati (ayat 40). Karena untuk Pilatus pertimbangan keamanan dan stabilitas politik jauh lebih utama maka ia rela mengambil keputusan yang bertentangan dengan kebenaran, bahkan menumpas hati nuraninya sendiri. Itulah jahatnya kuasa bila tidak dikontrol oleh kebenaran.

Maka, mulailah penyesahan itu. Yesus dicambuki, dicaci, dipermalukan. Pernahkah Anda dipermalukan dengan cara ini? Pernahkah muka Anda diludahi? Tuhan pernah! Itu semua demi untuk menyelamatkan kita. Itulah pengorbanan-Nya demi kasih-Nya kepada kita. Kita mendapatkan selamat, Tuhan yang menderita. Padahal sebenarnya tak satu pun dari kita layak beroleh kebaikan Tuhan itu. Dia rela berkorban menebus hidup orang-orang jahat seperti kita dengan sengsara-Nya. Dari kerelaan berkorban pada Yesus inilah mengalir keajaiban sikap Kristen yang bersedia berkorban untuk kepentingan dan kebaikan orang lain.

Memilih yang salah. Barabas yang salah dibebaskan, tetapi Yesus yang tidak salah harus disalibkan. Sulit dipahami, mengapa orang lebih suka memilih yang salah daripada yang benar. Tetapi, itulah kenyataan dunia. Yang salah, namun memuaskan diri, lebih disenangi daripada yang benar, tetapi tidak memuaskan nafsu angkara murka. Pilihan yang salah memang mungkin membuat kita senang, cuma kesenangannya hanya sesaat. Setelah itu kehancuran hebat akan segera menyusul. Pilihan untuk memuaskan kebanggaan diri dan pembalasan dendam selalu membawa pada pilihan yang salah.

Tetapi, di sinilah indahnya dan ajaibnya rencana dan karya Allah. Keputusan salah manusia menjadi pelaksanaan dari rencana dan keputusan Ilahi. Bila demikian halnya, apakah pengkhianatan Yudas dan keputusan jahat para pemimpin Israel dan Pilatus menjadi benar karena melalui mereka rencana Allah telah digenapi? Tidak! Rencana Allah berjalan melalui mereka, tetapi mereka sadar ketika melakukan kejahatan itu dan bertanggung jawab atasnya sebab manusia bukan boneka.

Renungkan: Kita harus menyambut rencana Allah secara aktif supaya kita menjalani rencana-Nya di pihak-Nya.

Salib bukan kekalahan

Bagi para musuh Yesus, salib yang Yesus pikul dan tempat Yesus digantung merupakan lambang kemenangan mereka dan kekalahan Yesus. Apalagi Yesus ditempatkan di antara dua penjahat (lihat Luk 23:33), sehingga Ia pun terhitung sebagai penjahat (Mrk. 15:28).

Namun, penulis Injil Yohanes menyajikan peristiwa penyaliban Yesus sampai kematian-Nya bukan sebagai tanda kekalahan Anak Manusia. Papan nama yang diletakkan di atas-Nya, berbunyi, “Yesus, orang Nazaret, raja orang Yahudi.” Bagi orang Yahudi dan imam-imam kepala, tulisan itu sangat mengganggu mereka. Kebenaran sejati tidak bisa ditenggelamkan oleh hiruk pikuk “Salibkan Dia, salibkan Dia” (ayat 6, 15). Bahkan peristiwa jubah dan pakaian Yesus yang dibagikan di antara para prajurit, seruan Yesus, “Aku haus!,” dan tulang-tulang Yesus yang tidak dipatahkan, serta ditikamnya lambung Yesus adalah penggenapan nubuat Perjanjian Lama (ayat 24: Mzm. 22:19; ayat Mzm. 34:21; ayat 37, Za. 12:10). Hal ini menyatakan peristiwa penyaliban dan kematian Yesus ada dalam rencana dan kedaulatan Allah Bapa. Sikap Yesus saat Ia disalib menunjukkan bahwa Ia tidak kalah terhadap semua musuh-Nya. Sebaliknya, Ia mampu memperhatikan kebutuhan Maria, ibu jasmani-Nya yang akan ditinggalkan-Nya, dengan menyediakan putra angkat yang akan merawat dan mengasihinya.

Salib Yesus adalah kemenangan kasih dan kuasa Allah yang menyelamatkan manusia berdosa. Kematian-Nya memang ditentukan Allah Bapa untuk membereskan belenggu-belenggu dosa yang mematikan manusia. Oleh karena itu, jangan pernah kita malu terhadap salib Yesus karena Dia memikulnya dengan penuh kewibawaan. Dia naik ke salib dengan kepastian bahwa misi penyelamatan Ilahi sedang digenapi.

Pergumulan salib.

Di atas salib, Yesus berjuang antara hidup dan mati. Di atas salib, masa depan umat manusia dan dunia sedang dipertaruhkan. Namun, beberapa meter dari tempat itu, para prajurit sedang santai mengisi waktu senggang, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, hanya untuk mendapatkan sebuah jubah ungu. Apakah pergumulan salib tidak menyentuh hati mereka? Ataukah mereka tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekeliling mereka? Masa depan umat manusia dan dunia terletak pada pergumulan Yesus di atas salib! Apakah kita merasakan getaran pergumulan salib itu dalam hidup kita?

“Aku haus” Tubuh yang mampu mengorbankan segala-galanya untuk orang lain, ternyata adalah tubuh yang rapuh, yang haus seperti juga manusia yang haus. Ia yang berkata “barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35); Ia yang bersabda “barangsiapa yang minum air yang Ku berikan ini, ia tidak akan haus selama-lamanya”; sekarang Dia berteriak “Aku haus”. Tahukah kita bahwa kita memiliki Tuhan dan Juruselamat yang dimensi-dimensi-Nya tak dapat dibandingkan dengan ukuran ruang seluas apapun dari alam raya ciptaan-Nya ini?

Tekadku: Aku akan meninggikan salib Kristus karena salib itu adalah lambang kemenangan Yesus atas kuasa dosa dan maut.

Yesus dikuburkan

Kematian hanya meninggalkan jasad tak bernyawa. Begitu pula yang terjadi pada Yesus. Tinggal jasad-Nya yang tergantung di kayu salib. Orang-orang Yahudi yang menginginkan kematian-Nya, mungkin sudah puas sebab mereka tidak merasa terancam lagi. Namun demikian, mereka tetap harus melaksanakan hukum Taurat yang mereka junjung tinggi. Menurut Taurat, jasad orang yang dihukum salib harus dikuburkan pada hari itu juga (Ul. 21:22-23). Apalagi keesokan harinya adalah hari Sabat, mereka tentu tidak ingin menajiskan diri karena berurusan dengan mayat.

Memang ironis. Di satu sisi, mereka memperhatikan kesucian ritual (band. Yoh. 18:28). Namun di sisi lain, mereka tidak sadar atau malah tak peduli bahwa konspirasi untuk menghabisi nyawa Yesus berlawanan dengan kesucian dan Hukum Taurat yang menjadi orientasi hidup mereka. Karena hanya memperhatikan kesucian lahiriah itulah maka mereka meminta tentara Roma untuk mempercepat kematian orang-orang yang disalib dengan mematahkan kaki mereka. Namun karena para tentara melihat Yesus sudah mati, maka kaki-Nya tidak dipatahkan. Hanya salah satu tentara menikam lambung-Nya (ayat 33-34). Sesungguhnya, tindakan para tentara itu menggenapi nubuat tentang Yesus (ayat 36-37).

Yusuf Arimatea.

Berlawanan dengan dua kelompok tadi, Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus tampil untuk menguburkan jasad Yesus. Keduanya adalah pemimpin agama Yahudi, tetapi mengikut Yesus secara diam-diam. Meski tindakan mereka menggambarkan ketidaktahuan tentang kebangkitan Yesus, tetapi memperlihatkan keberanian untuk menyatakan bahwa mereka berpihak pada Yesus. Ini berbeda dari sikap para murid yang tidak lagi kelihatan batang hidungnya.

Ia mencintai Yesus, tetapi tidak berani berterus terang, sebab mengaku murid Yesus dalam situasi saat itu penuh risiko. Tetapi, tiba-tiba ia menjadi berani, walaupun Petrus, sang batu karang sudah menyangkal Tuhannya; murid-murid yang hidup bersama-sama Yesus selama tiga tahun lari tercerai-berai; Kristus dinyatakan sebagai nabi palsu dan penjahat oleh pengadilan. Di saat seperti itulah Yusuf Arimatea secara berani menyatakan diri sebagai pengikut dan sahabat Yesus, Tokoh “kriminal” yang sudah dieksekusi, tanpa memikirkan risiko. Di saat-saat yang rawan, ia berupaya memberikan yang terbaik dan berbuat yang terbaik bagi Yesus. Beranikah kita memproklamirkan diri sebagai sahabat dan murid Yesus di tengah- tengah dunia yang membenci Yesus; di tengah-tengah dunia di mana banyak murid Yesus yang lari tercerai-berai meninggalkan Yesus?

Nikodemus. Ia adalah seorang Farisi, yang karena takut pada orang-orang Yahudi, mengunjungi Yesus secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam. Bersama Yusuf Arimatea, ia menguburkan jenazah Yesus. Nikodemus, seorang petobat baru yang memiliki pengenalan pribadi kepada Yesus, menyatakan kasihnya kepada Yesus di saat kematian-Nya. Yusuf dan Nikodemus adalah murid Yesus yang melakukan sesuatu yang tak dilakukan oleh orang lain, walaupun berisiko tinggi.

Menyatakan iman dengan ancaman terhadap popularitas, kedudukan, atau nyawa, tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Sedih mendengar makin banyak orang menyangkali Kristus karena sesuatu yang lain. Kualitas kasih macam apakah yang kita tunjukkan kepada Kristus?

Doa: Tolong kami agar tetap setia kepada Yesus dalam segala keadaan. (Lucas Margono)

Yoh 18:1-19:42 Mengenang Sengsara Tuhan.
Yoh 18:1-19:42
Mengenang Sengsara Tuhan.
(Sumber gambar: Sesawi.net)

 

Bacaan dan Renungan Kamis 29 Maret 2018|Kamis Putih

Bacaan Liturgi 29 Maret 2018|Hari Kamis Putih (Misa Sore)

Bacaan Pertama: Kel 12:1-8.11-14

Ketetapan tentang Perjamuan Paskah.
Pembacaan dari Kitab Keluaran:

Pada waktu itu berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun di tanah Mesir,”Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu, bulan yang pertama bagimu tiap-tiap tahun.Katakanlah kepada segenap jemaat Israel, ‘Pada tanggal sepuluh bulan ini hendaklah diambil seekor anak domba oleh masing-masing menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.Tetapi jika rumah-tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk menghabiskan seekor anak domba, maka hendaklah ia bersama-sama dengan tetangga yang terdekat mengambil seekor menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.

Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela berumur satu tahun; kamu boleh mengambil domba, boleh kambing.Anak domba itu harus kamu kurung sampai tanggal empat belas bulan ini.Lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada senja hari.Darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, tempat orang-orang makan anak domba itu.
Pada malam itu juga Mereka harus memakan dagingnya yang dipanggang;daging panggang itu harus mereka makan dengan roti yang tidak beragi dan sayuran pahit.
Beginilah kamu harus memakannya: pinggangmu berikat, kaki berkasut, dan tongkat ada di tanganmu.Hendaklah kamu memakannya cepat-cepat.Itulah Paskah bagi Tuhan.

Sebab pada malam ini Aku akan menjelajahi negeri Mesir, dan membunuh semua anak sulung, baik anak sulung manusia maupun anak sulung hewan,dan semua dewata Mesir akan Kujatuhi hukuman.Akulah Tuhan.Adapun darah domba itu menjadi tanda bagimu
pada rumah-rumah tempat kamu tinggal.Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewati kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu,
pada saat Aku menghukum negeri Mesir.Hari ini harus menjadi hari peringatan bagimu, dan harus kamu rayakan sebagai hari raya bagi Tuhan turun-temurun.

Mazmur: 116:12-13.15-16bc.17-18

Ref: 1Kor 10:16

Piala syukur ini adalah persekutuan dengan Darah Kristus.

  • Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?
    Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.
  • Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
    Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu!Engkau telah melepas belengguku!
  • Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama Tuhan;aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya,

Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Setiap kali kamu makan dan minum,kamu mewartakan wafat Tuhan.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,apa yang telah kuteruskan kepadamu ini telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur atasnya, Ia memecah-mecahkan roti itu seraya berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!”Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku.”Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.

Bait Pengantar Injil Yoh 13:34

Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.
Seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Bacaan Injil Yoh 13:1-15

Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba
untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.
Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus.Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya.
Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya,
lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang,
tetapi engkau akan memahaminya kelak.”Kata Petrus kepada-Nya,
“Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku!” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku.”Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”Kata Yesus kepadanya, “Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!”Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia; karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”

Sesudah membasuh kaki mereka, Yesus mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat,
sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.Nah, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki.sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Ketika Tuhan “berjalan melewati”

Bagian ini menjelaskan makna Paskah yang pertama kali dirayakan oleh orang Israel. Kata Paskah memiliki akar kata ‘psh’ dari rumpun bahasa Semit (termasuk bahasa Arab, Ugarit, dan Ibrani) yang berarti “berjalan melewati.”

Melalui ritual Paskah ini kelak umat Israel akan mengenang kejadian yang begitu penting di dalam sejarah mereka ketika Tuhan menyelamatkan (“berjalan melewati”) mereka dari perbudakan di Mesir. Peristiwa ini merayakan klimaks pembebasan umat Israel, yaitu ketika Tuhan memberikan tulah kesepuluh berupa kematian anak sulung semua keluarga Mesir kecuali di dalam rumah tangga Israel. Perayaan ini berupa pengurbanan domba yang darahnya dibubuhkan pada pintu rumah orang Israel, supaya mereka terhindar dari kematian anak sulung (ayat 7,12-13). Domba tersebut lalu dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur-sayuran pahit. Mereka harus memakannya dengan berpakaian lengkap untuk bepergian. Hal ini menunjukkan ketergesaan dan kesiapan untuk meninggalkan Mesir. Nanti ketika perayaan ini diulang, perayaan ini harus dilanjutkan dengan perayaan hari roti tidak beragi selama seminggu penuh (ayat 18-20). Umat Israel diperintahkan untuk melakukan kembali secara dramatis apa yang telah terjadi pada waktu itu di Mesir. Dengan mengenang peristiwa ini berarti mereka akan selalu mengingat kasih Allah kepada mereka di dalam sejarah keselamatan orang Israel.

Peristiwa Paskah ini merupakan suatu cara untuk mengingatkan umat Israel di Mesir dan keturunan mereka bahwa Allah betul-betul hadir, menghukum orang-orang Mesir, dan menyelamatkan umat Israel. Allah menjadi nyata di dalam peristiwa ini. Demikian juga di dalam Yesus Kristus, kehadiran Allah nyata. Di dalam Yesus Kristus Allah hadir di dalam hati orang-orang yang memercayai Dia. Kristuslah domba Paskah yang menebus dosa manusia (Yoh. 1:29).

Renungkan: Tuhan Yesus telah membayar dan menghapus dosa-dosa kita. Ia telah menjadi domba Paskah bagi kita.

Mazmur, Allah pasti mempertahankan milik-Nya.

Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam (ayat 11). Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 10). Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya (ayat 13), membayar nazarnya di depan umat Allah (ayat 14,18); mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Arti nya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.

Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya (ayat 15). Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu diresponi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.

Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.

Bacaan kedua, Makna Perjamuan Kudus

Arti Perjamuan Terakhir yang sesungguhnya adalah; pertama, tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan, dan darah yang dicurahkan oleh Kristus dalam peristiwa salib (ayat 23-25). Kedua, Perjamuan Kudus bukan sekadar upacara untuk mengingat kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi lebih merupakan tindakan atau jawaban umat terhadap tindakan kasih Allah yang telah menyadarkan kita bahwa keselamatan sudah digenapi dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Ketiga, melalui Perjamuan Kudus, Kristus meletakkan satu dasar bagi komunitas baru orang-orang percaya yang saling mengasihi, yang selalu menceritakan peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya sampai Ia datang (ayat26). Perjamuan Kudus sarat dengan muatan kasih, yang mengingatkan dan memperbolehkan kita untuk meneruskan kasih Allah dalam Yesus Kristus kepada setiap orang.

Renungkan: Ingatlah bahwa kematian dan kebangkitan Kristus dalam Perjamuan Kudus harus menjadi bagian integral dari hidup kita yang harus kita beritakan kepada semua orang.

Injil hari ini, Praktek pembasuhan kaki.

Pada masa itu, tindakan pembasuhan kaki merupakan tindakan penyambutan terhadap tamu yang datang. Tuan rumah menyediakan air dan mempersilahkan tamu untuk membasuh sendiri kaki mereka. Sesekali kegiatan pembasuhan kaki para tamu itu dilakukan oleh para pelayan. Namun keadaan ini tidak berlaku bagi Yesus. Artinya, Yesus adalah tamu, Dia juga berlaku sebagai Pelayan, dan sekaligus sebagai tuan rumah. Ia mengambil air, membasuh dan mengeringkan kaki murid-murid-Nya satu demi satu. Para pemimpin gereja selayaknyalah meneladani perbuatan Yesus. Peran kepemimpinan-Nya tidak menghalangi Dia untuk bertindak sebagai pelayan.

Pola dasar pelayanan Kristen. Mengapa Yesus harus membasuh kaki murid-murid-Nya? Bukankah itu melanggar aturan dan tradisi? Yesus telah mempertontonkan suatu sikap yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin gereja. Inilah pola dasar pelayanan Kristen. Melayani bukan karena tuntutan jabatan, melainkan karena kerelaan mengutamakan orang lain, merendahkan diri sendiri dan membangun orang yang dilayani dalam kasih dan persekutuan. Saling memulihkan, itulah tujuan pelayanan kita. Dari kerendahan, pengosongan dan penghambaan diri itu, mengalir pemulihan, pemersatuan dan pembangunan tubuh Kristus.

Teladan Kristus. Kristus telah memberikan pengajaran yang memiliki kekuatan atau pengaruh untuk mengubah hidup orang lain. Kristus memberikan teladan nyata. Pengajaran-Nya itu mendorong, menuntut dan merombak pola hidup pelayanan kita. Karena itu kita wajib memperhamba diri satu kepada yang lain. Bila para pelayan Kristus, pemimpin gereja, sedia meniru teladan Tuhan Yesus, barulah mereka sepenuhnya layak menjadi utusan atau wakil Kristus dalam dunia ini.

Yesus kita imani sebagai pribadi sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena itu, ketika membasuh kaki para murid, Ia pun berlaku sebagai Allah dan manusia. Mencuci kaki sebagai ungkapan pengabdian manusia satu terhadap yang lain, mudah kita terima. Tetapi, upacara Allah membasuh kaki manusia, adalah hal yang di luar jangkauan pikiran manusia. Namun, Tuhan Yesus tetap menegaskan kepada kita dengan berkata, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Bila Yesus menegaskan diri-Nya dengan berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan,” maka kita pun harus memahami dan menghayati peristiwa pembasuhan kaki oleh Tuhan juga dalam konteks maksud Tuhan ketika upacara itu dilakukan saat acara Makan Paskah. Allah membasuh kaki manusia bukan melulu tindakan perendahan diri Allah tetapi juga tanda pembersihan diri manusia yang akan dilaksanakan-Nya dalam kurban darah-Nya yang menyucikan manusia. Dan itulah yang secara tersirat disampaikan oleh Yesus.

Selain ungkapan perendahan diri Tuhan, pengabdian Tuhan terhadap manusia, unsur terpenting dalam pembasuhan kaki adalah penebusan. Maksud pengabdian dan penebusan ini makin jelas ketika keesokan harinya Tuhan melaksanakan misi penebusan-Nya, wafat di kayu salib. Inilah misteri iman yang mau kita rayakan dalam peristiwa agung hari Kamis Putih di mana di dalamnya terdapat upacara pembasuhan kaki.

Tuhan bukan hanya mengungkapkan maksud pengabdian-Nya tetapi lebih penting adalah rencana penebusan-Nya. Sebab itu, jangan sampai kita sebagai orang Katolik karena terlalu bersemangat dengan berbagai acara pembasuhan kaki di dalam rekoleksi keluarga atau retret pertobatan, sampai lupa akan dimensi iman yang luhur dari upacara pembasuhan kaki yaitu dimensi penebusan Tuhan.

Renungkan: Dasar dari pelayanan adalah kasih. Karena itu, atas dasar kasih pulalah kita dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesama.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menetapkan Ekaristi bagi kami, dengan demikian kami menjadi komunitas-Mu dan tanda kehadiran-Mu. Biarlah orang-orang mengenal kami sebagai orang-orang Kristiani karena kami senantiasa saling membasuh kaki dengan saudari-saudara kami. Amin. (Lucas Margono)

29 Maret 2018-KAmis Putih
Yoh 13:1-15
Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.