Month: February 2019

Bacaan dan Renungan Jumat 01 Maret 2019|Pekan Biasa VII

Kalender Liturgi 01 Mar 2019,Jumat Pekan Biasa VII

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I Sir 6:5-17

Sahabat yang setia tiada ternilai.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat,dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu,
tetapi dari antara seribu hanya satu saja menjadi penasehatmu.Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu,dan jangan segera percaya padanya.
Sebab ada orang yang bersahabat hanya selama menguntungkan,tetapi di kala engkau mendapat kesukaran, ia tidak bertahan.

Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh,lalu menistakan dikau dengan menceriterakan percekcokanmu dengan dia. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan,tetapi tidak bertahan pada hari kemalanganmu.Pada waktu engkau sejahtera ia sehati sejiwa dengan dikau dan bergaul akrab dengan seisi rumahmu.
Tetapi bila engkau mundur ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu.

Jauhilah para musuhmu,dan berhati-hatilah terhadap para sahabatmu.Sahabat yang setia merupakan pelindung yang kuat;yang menemukannya, menemukan suatu harta.
Sahabat yang setia, tiada ternilai,dan harganya tiada terbayar.

Sahabat yang setia laksana obat kehidupan;hanya orang yang takwa akan memperolehnya.Orang yang takwa memelihara persahabatan dengan lurus hati,
sebab sebagaimana ia sendiri, demikianpun sahabatnya.

Mazmur Tanggapan:Mzm 119:12.16.18.27.34.35

Ref:Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu.

  • Terpujilah Engkau, ya Tuhan;ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
  • Ketetapan-ketetapan-Mu akan menjadi sumber sukacitaku,firman-Mu tidak akan kulupakan.
  • Singkapkanlah mataku,supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari hukum-Mu.
  • Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu,supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.
  • Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu;dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.
  • Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu,sebab aku menyukainya.

Bait Pengantar Injil”Yoh 17:17ab

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.Kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Bacaan Injil: Mrk 10:1-12

Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan.di situ orang banyak datang mengerumuni Dia, dan seperti biasa Yesus mengajar mereka. Maka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus.Mereka bertanya,
“Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?”Tetapi Yesus menjawab kepada mereka,”Apa perintah Musa kepada kamu?”Mereka menjawab,”Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.”

Lalu Yesus berkata kepada mereka,”Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah untukmu.Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita;karena itu pria meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan isterinya.Keduanya lalu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah,janganlah diceraikan manusia.”

Setelah mereka tiba di rumah, para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka,”Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan wanita lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.Dan jika isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan pria yang lain,ia berbuat zinah.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan Jumat 01 Maret 2019

Cita-cita Allah. 

Salah satu topik penting yang terus dibicarakan dan diperdebatkan di kalangan Kristen adalah perceraian. Dari dulu, gereja menggumuli bagaimana mengatasi persoalan ini. Namun, persoalan ini semakin pelik dan sulit dicarikan titik temunya karena masing-masing gereja memiliki persepsi sendiri. Bagaimana Alkitab memandang hal ini?

Dengan tujuan hendak menguji apakah Yesus sepandangan dengan Musa, orang Farisi bertanya tentang perceraian. Namun usaha pengujian ini menjadi sia-sia karena ternyata Yesus justru balik bertanya mengenai apa yang Musa perintahkan. Kemungkinan besar, Yesus sudah tahu maksud orang-orang Farisi yang ingin mengadunya dengan pandangan Musa. Tetapi, orang-orang Farisi itu tidak menjawab apa yang diperintahkan tetapi apa yang diperbolehkan Musa. Memang, menurut Ulangan 24:1, Musa memperbolehkan perceraian dengan syarat ada surat perceraian. Yesus tidak menyangkal hal itu, tetapi ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah, yang diberikan sejak awal penciptaan, tetapi untuk memuaskan kedegilan hati orang-orang zaman itu.

Yesus menjelaskan dua hal penting tentang cita-cita Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (lih. Kej. 1:27 dan 2:24). Pertama, pernikahan adalah rencana Allah. Di dalamnya laki-laki dan perempuan hidup dalam suatu persekutuan yang tak terpisahkan, saling berbagi, saling mengisi, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan harus berlangsung seumur hidup. Kedua, laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi “satu daging” dengan istrinya. Artinya, mereka berada dalam persekutuan hidup yang utuh dan permanen. Karena itu tidak mungkin dipisahkan, bahkan dengan alasan apa pun!

Renungkan: Pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda adalah cita-cita Allah untuk Anda. Karena itu peliharalah perkawinan Anda sebagai bentuk syukur Anda kepada Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon ampun untuk cara-caraku yang telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh-Mu. Ampunilah sikap tidak berterima kasih yang kupertontonkan selama ini. Dalam belas kasih-Mu, sembuhkanlah kerusakan apa saja yang telah kusebabkan. Dengan bebas aku juga mengampuni semua orang yang pernah menggerutu terhadap aku. Aku ingin agar semua relasiku bertandakan belas kasih dan cintakasih dari-Mu saja. Amin. (Lucas Margono)

Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.
Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.

Allah Bapa yang berbelas kasih,sanggupkanlah aku untuk hidup dalam kesetiaan akan nilai-nilai injil, dan akan apa yang kupilih untuk dihidupi. Amin

Bacaan dan Renungan Kamis 28 Februari 2019

Kalender Liturgi Kamis,28 Feb 2019|Kamis Pekan Biasa VII

Bacaan I:Sir 5:1-8

Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Jangan mengandalkan kekayaanmu,dan jangan berkata, “Ini cukup bagiku.”
Hati dan kekuatanmu jangan kauturuti untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsumu.
Jangan berkata, “Siapa berkuasa atas diriku?”Camkanlah, Tuhan akan menghukum engkau dengan keras.

Jangan berkata, “Betul, aku sudah berdosa,tetapi apakah menimpa diriku sebab Tuhan panjang hati.”Jangan menyangka pengampunan terjamin,sehingga engkau menimbun dosa demi dosa.

Jangan berkata,”Belas kasihan Tuhan memang besar.Dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya.”Sebab belas kasihan memang ada pada Tuhan tetapi kemurkaan pun ada pada-Nya,dan geram-Nya turun atas orang jahat.

Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan,jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Sebab tiba-tiba saja meletuslah kemurkaan Tuhan,dan engkau binasa pada saat hukuman.

Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil,sebab pada hari sial takkan berguna sedikitpun.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan

Mzm 1:1-2.3.4.6

Ref:Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.

  • Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
    yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,dan siang malam merenungkannya.
  • Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,yang menghasilkan buah pada musimnya,dan tak pernah layu;apa saja yang diperbuatnya berhasil.
  • Bukan demikianlah orang-orang fasik:mereka seperti sekam yang ditiup angin.
    Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil: 1Tes 2:13

Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,melainkan sebagai sabda Allah.

Bacaan Injil:Mrk 9:41-50

Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,daripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,”Barangsiapa memberi kalian minum air secangkir oleh karena kalian adalah pengikut Kristus,ia tidak akan kehilangan ganjarannya.

Barangsiapa menyesatkan salah seorang dari anak-anak kecil yang percaya ini,
lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.

Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah,karena lebih baik bagimu
dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,daripada dengan utuh kedua belah tangan masuk dalam neraka,ke dalam api yang tak terpadamkan.Dan jika kaki menyesatkan engkau, penggallah,karena lebih baik bagimu dengan kaki timpang masuk ke dalam hidup,daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka.
Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah,karena lebih baik bagimu masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tak pernah padam.Sebab setiap orang akan digarami dengan api.Garam memang baik! Tetapi jika garam menjadi hambar,dengan apakah kalian akan mengasinkannya? Hendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Melepas dan menerima. 

Kita bukan hanya hidup di dunia, tetapi dunia itu mengikat kita. Kadang dunia memiliki kita dan kita harus terus hidup di dunia. Namun demikian, bagaimana seharusnya hidup di dunia tanpa tercengkeram olehnya?

Para pengikut Yesus diperingatkan agar tidak menghentikan usaha mereka yang mengusir setan demi nama Yesus karena mereka juga adalah orang-orang percaya. Jika para murid “menyesatkan” mereka, yaitu, membuat mereka tidak lagi bersekutu dengan Yesus, maka para murid akan menerima ganjaran yang keras — suatu hukuman mati. Yesus meneruskan nasihat-Nya, masih berkenaan dengan bagaimana menaati kehendak Allah. Yesus berbicara tentang pengorbanan diri sampai semaksimal mungkin, dengan melepas apa yang seharusnya dilepas daripada hal-hal tertentu akan membuat orang kehilangan segala sesuatunya.

Di sini kita diingatkan lagi tentang tiga zona dalam kehidupan manusia, yang mencakup tangan, kaki, dan mata. Kehidupan orang percaya haruslah utuh untuk Tuhan, dan ia harus berusaha untuk sedapat mungkin meminimalkan kecemaran dengan melepaskan kemelekatan.

Ayat 49 memberikan kepada kita semacam peringatan akan pemurnian. Murid-murid akan menghadapi penganiayaan, dan mereka akan dimurnikan. Untuk itu, mereka perlu menyiapkan diri menghadapi masa-masa sulit. Ayat 50 berbicara bukan lagi tentang garam penyucian, tetapi tentang garam sehari-hari. Di sini para murid berfungsi sebagai garam dunia yang akan menyucikan dunia dengan tumpahnya darah mereka ke tanah. Misi yang mereka kerjakan adalah misi yang krusial, dan mereka harus bersatu padu untuk melaksanakan amanat agung Tuhan memberitakan Injil-Nya!

Renungkan: Melepaskan sesuatu yang kita sayangi dan nikmati memang tidak enak. Namun, kita akan menerima kehidupan yang sejati bila itu sesuai kehendak Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, aku sungguh ingin mematahkan hubunganku dengan dosa dalam hidupku. Tolonglah aku menemukan cara-cara yang praktis untuk memotong apa saja yang menyebabkan aku menyakiti hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi garam yang tidak hambar dalam Kerajaan Allah. Amin. (Lucas Margono)

28 Feb 2019
Mrk 9:41-50 Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan, daripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.

Tuhan Yesus, jangan biarkan aku hidup dari indra dan nafsuku. Semoga aku lebih berpegang pada sabda-Mu, sehingga mampu membawa pengaruh baik dalam keluarga dan masyarakatku. Amin

Bacaan dan Renungan Rabu 27 Februari 2019|Pekan Biasa VII

Kalender Liturgi Rabu, 27 Februari 2019,Rabu Pekan Biasa VII

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I:Sir 4:11-19

Orang yang mencintai kebijaksanaan, dicintai oleh Tuhan.

Kebijaksanaan menjunjung tinggi para anaknya,dan menaruh perhatian pada orang yang mencarinya.Barangsiapa mencintai kebijaksanaan mencintai kehidupan,dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita.

Barangsiapa berpaut pada kebijaksanaan mewarisi kemuliaan,dan ia diberkati Tuhan setiap langkahnya.Barangsiapa melayani kebijaksanaan, berbakti kepada Yang Kudus,
dan barangsiapa mencintai kebijaksanaan dicintai oleh Tuhan.Barangsiapa mendengarkan kebijaksanaan akan memutuskan yang adil,dan aman sentosalah kediaman orang yang mengindahkannya.

Jika orang percaya pada kebijaksanaan niscaya ia mewarisinya,dan keturunannya akan tetap memilikinya.Boleh jadi ia dituntun kebijaksanaan lewat jalan yang berbelok-belok dahulu,sehingga ia takut dan gemetar;boleh jadi kebijaksanaan menyiksa dia sebagai siasat sampai dapat percaya padanya,dan mengujinya dengan segala aturannya.

Tetapi kemudian kebijaksanaan kembali kepadanya dengan kebaikan yang menggembirakan,dan menyingkapkan kepadanya pelbagai rahasia. Tetapi jika orang sampai menyimpang,maka ia akan dibuang oleh kebijaksanaan dan diserahkan kepada kebinasaan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan

Mzm 119:165.168.171.172.174.175

Ref:Besarlah ketenteraman orang yang mencintai hukum-Mu, ya Tuhan.

  • Besarlah ketenteraman orang-orang yang mencintai hukum-Mu,tidak ada batu sandungan bagi mereka.
  • Aku berpegang pada titah dan peringatan-peringatan-Mu,sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.
  • Biarlah bibirku mengucapkan puji-pujian,sebab Engkau mengajarkan ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
  • Biarlah lidahku menyanyikan janji-Mu,sebab benarlah segala perintah-Mu.
  • Aku rindu akan keselamatan yagn datang daripada-Mu, ya Tuhan,dan hukum-Mu menjadi kesukaanku.
  • Biarlah jiwaku hidup supaya memuji-muji Engkau,dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku.

Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6

Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan, sabda Tuhan. Tiada orang sampai kepada Bapa, tanpa melalui Aku.

Bacaan Injil: Mrk 9:38-40

Barangsiapa tidak menentang kalian, memihak kalian.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada suatu hari Yohanes berkata kepada Yesus,”Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita,mengusir setan demi nama-Mu.Lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”Tetapi Yesus berkata, “Jangan kalian cegah dia!Sebab tak seorang pun
yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku,dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Membela Yesus

Persaingan memang menjadi warna dalam dunia bisnis. Namun apakah dunia pelayanan juga mengenal persaingan? Lalu bagaimana perasaan Anda atas keberhasilan pelayanan gereja atau kelompok lain? Iri? Atau ada perasaan tersaingi?

Murid-murid yang diwakili oleh Yohanes menyatakan keheranan karena ada orang, di luar kedua belas murid, yang berhasil mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah para murid memiliki hak monopoli dalam hubungan mereka dengan Sang Guru? Bukankah Yesus tidak menyuruh orang itu melakukannya sebagaimana Ia telah menyuruh kedua belas murid-Nya (Mrk. 3:14-15)? Atau mungkin keberhasilan orang itu dan kegagalan kesembilan murid yang lain yang justru mengganggu perasaan murid-murid Yesus (Mrk. 9:18)?

Meski demikian Yesus tidak ikut gusar. Yesus tidak keberatan bila orang itu memakai nama-Nya untuk mengusir setan. Dapat dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang percaya pada Yesus walau ia tidak termasuk murid. Artinya orang itu bukan musuh Yesus. Yesus tidak mau para murid melihat pengusiran setan sebagai tindakan yang salah hanya karena orang itu tidak termasuk kedua belas murid. Karena dengan menolong orang lain, sesungguhnya orang itu telah melakukan perintah Allah. Malah ia akan menerima upah karena kebaikan yang telah dilakukan (ayat 41).

Kita pun hendaknya jangan pernah berpikir bahwa hanya kita saja yang dapat melakukan yang baik. Atau kita berpikir bahwa lebih baik bila orang lain bergabung dengan kita karena akan lebih banyak yang bisa dilakukan. Ini adalah pikiran yang sempit. Sebaiknya kita bersyukur atas pelayanan dan pekerjaan baik yang dilakukan orang lain. Hati-hatilah terhadap kecenderungan mencela pelayanan orang lain hanya karena mereka tidak termasuk aliran gereja kita. Mungkin saja mereka melakukan kesalahan dalam beberapa hal. Namun ingatlah bahwa lebih baik jika suatu pelayanan dilakukan oleh orang lain daripada tidak sama sekali.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Jauhkanlah kami dari sikap intoleransi dan angkuh terhadap pihak mana pun yang tidak seiman dengan kami. Amin. (Lucas Margono)

Mrk 9:38-40 Barangsiapa tidak menentang kalian, memihak kalian.
Mrk 9:38-40 Barangsiapa tidak menentang kalian, memihak kalian.

Tuhan jauhkanlah aku dari kesombongan pribadi maupun kelompok. Semoga aku selalu terbuka untuk bekerjasama dengan siapa pun untuk membangun kedamaian dan kesejahteraan bersama. Amin

Bacaan dan Renungan Selasa, 26 Februari 2019|Pekan Biasa VII

Kalender Liturgi 26 Feb 2019,Selasa Pekan Biasa VII

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I:Sir 2:1-11

Bersiap-sedialah menghadapi pencobaan.

Anakku, jika engkau mau mengabdi kepada Tuhan, bersiap-sedialah menghadapi pencobaan.Tabahkanlah dan teguhkanlah hatimu. Jangan gelisah pada waktu malang.
Berpautlah kepada Tuhan, jangan berpaling dari pada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu.

Terimalah saja apa pun yang menimpa dirimu dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu.Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang dikasihi Tuhan diuji dalam kancah penghinaan.Percayalah pada Tuhan maka Iapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.

Kalian yang takut akan Tuhan nantikanlah belas kasihan-Nya dan jangan menyimpang, supaya kalian jangan terjatuh.Kalian yang takut akan Tuhan, percayalah pada-Nya, niscaya kalian tidak akan kehilangan ganjaran.
Kalian yang takut akan Tuhan, harapkanlah yang baik, sukacita kekal dan belas kasihan.

Ingatlah akan angkatan yang sudah-sudah, dan perhatikanlah: pernahkah Tuhan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya? Pernahkah Tuhan meninggalkan orang yang tekun bertakwa? Pernahkah Tuhan tidak menghiraukan orang yang berseru kepada-Nya? Sungguh, Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ia mengampuni dosa dan menyelamatkan di waktu kemalangan.

Mazmur Tanggapan

Mzm 37:3-4.18-19.27-28.39-40

Ref:Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan, dan Ia akan bertindak.

  1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia; bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memenuhi keinginan hatimu.
  2. Tuhan mengetahui hari hidup orang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; mereka tidak akan mendapat malu sewaktu ditimpa kemalangan,
    dan pada hari-hari kelaparan mereka akan menjadi kenyang.
  3. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik,maka engkau memiliki tempat tinggal yang abadi; sebab Tuhan mencintai kebenaran, dan tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Orang-orang yang berbuat jahat akan binasa
    dan anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
  4. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;Tuhan menolong dan meluputkan mereka, dari tangan orang-orang fasik; Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bait Pengantar Injil:Gal 6:14

Tiada yang kubanggakan, selain salib Tuhan. Karenanya dunia tersalib bagiku dan aku bagi dunia.

Bacaan Injil:Mrk 9:30-37

Barangsiapa ingin menjadi yang pertama,hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya.

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya melintasi Galilea.Yesus tidak mau hal itu diketahui orang, sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia. Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada Yesus.Kemudian Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Ketika sudah berada di rumah
Yesus bertanya kepada para murid itu, “Apa yang kalian perbincangkan tadi di jalan?” Tetapi mereka diam saja, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan semuanya.”

Yesus lalu mengambil seorang anak kecil ke tengah-tengah mereka. Kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini demi nama-Ku, ia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, sebenarnya bukan Aku yang mereka terima,melainkan Dia yang mengutus Aku.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Cara menjadi orang besar

Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya (ayat 32). Akibatnya mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian, yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ironis bukan? Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar. Dan orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru. Maka Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain. Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak (ayat 36). Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting.

Pandangan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani kita. Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, dan kekayaan. Ambisi dunia adalah menerima perhatian dan penghargaan. Lalu salahkah berambisi menjadi orang besar? Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan. Kebesaran adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Misalnya seorang dokter. Ia dianggap besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah sakit mahal. Atau karena ia sering menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan. Ia dianggap besar bila ia juga menyediakan waktunya untuk menangani orang miskin.

Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Apa solusinya? Milikilah hati seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri. Ingatlah bahwa Yesus rela dianggap tak berarti dan memikul salib bagi kita.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Bentuklah hatiku agar aku menemukan sukacita dalam melayani orang-orang lain, seperti juga Engkau sangat bersukacita dalam memperhatikan diriku. Amin. (Lucas Margono)

26 Feb 2019
Mrk 9:30-37 Barangsiapa ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya.

Jauhkanlah aku, ya Tuhan, dari segala keinginan untuk memegahkan diri. Mampukanlah aku untuk senantiasa mengasihi Engkau dan melayani sesama. Amin