Month: June 2019

Bacaan dan Renungan Senin 01 Juli 2019| Pekan Biasa XIII

Bacaan Liturgi 01 Jul 2019|Senin Pekan Biasa XIII

St. Oliver Plunkett; St. Teodorikus

Bacaan I: Kej 18:16-33

Apakah Engkau akan membinasakan orang saleh bersama dengan orang jahat?

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Setelah Abraham diberi janji oleh Tuhan,maka berangkatlah ketiga tamunya.Mereka mengarahkan pandangannya ke Sodom,dan Abraham mengantarkan mereka. Berpikirlah Tuhan,”Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham
apa yang akan Kulakukan ini?Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa,dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?Sebab Aku telah memilih dia,supaya ia memerintahkan kepada anak-anak dan keturunannya,agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan,dan agar Tuhan memenuhi kepada Abraham
apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Maka bersabdalah Tuhan,”Sesungguhnya, banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora,dan sesungguhnya sangat beratlah dosanya.Baiklah Aku turun untuk melihat,
apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak;Aku hendak mengetahuinya.”Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom,tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan Tuhan.Abraham datang mendekat dan berkata,”Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama-sama dengan orang jahat? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu?Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu?Tidakkah Engkau mengampuninya demi kelima puluh orang benar
yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian,
membunuh orang benar bersama dengan orang jahat,sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang jahat!Jauhkanlah kiranya yang demikian daripada-Mu!
Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”Tuhan bersabda,
“Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom,Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.”

Abraham menyahut,”Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan,walaupun aku debu dan abu.Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu,apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?”Tuhan bersabda, “Aku takkan memusnahkannya,jika Kudapati empat puluh lima di sana.”

Lagi Abraham melanjutkan perkataannya,”Sekiranya empat puluh didapati di sana?”
Sabda Tuhan,”Aku takkan berbuat demikian demi yang empat puluh itu.”Kata Abraham,
“Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi.Sekiranya tiga puluh didapati di sana?”Sabda Tuhan,”Aku takkan berbuat demikian jika Kudapati tiga puluh di sana.”Kata Abraham lagi,”Sesungguhnya aku telah memberanikan diri
berkata kepada Tuhan.Sekiranya dua puluh didapati di sana?”Sabda Tuhan,
“Aku takkan memusnahkannya demi yang dua puluh itu.”Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka,kalau aku berkata lagi sekali ini saja.Sekiranya sepuluh didapati di sana?”Jawab Tuhan,”Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu.”Lalu pergilah Tuhan, setelah Ia selesai bersabda kepada Abraham.Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mzm 103:1-2.3-4.8-9.10-11

Ref:Tuhan itu pengasih dan penyayang.

  • Pujilah Tuhan, hai jiwaku!Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
    Pujilah Tuhan, hai jiwaku,janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
  • Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu,yang menyembuhkan segala penyakitmu!Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur,dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
  • Tuhan adalah pengasih dan penyayang,panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
    Tidak terus menerus Ia murka,dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.
  • Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita,atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.Setinggi langit dari bumi,demikian besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia!

Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab

Hari ini janganlah bertegar hati,tetapi dengarkanlah suara Tuhan.

Bacaan Injil: Mat 8:18-22

Ikutilah Aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari banyak orang mengerumuni Yesus. Melihat hal itu Yesus menyuruh bertolak ke seberang.Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya,
“Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

Yesus berkata kepadanya,”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang,
tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya,”Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”Tetapi Yesus berkata kepadanya,
“Ikutilah Aku,dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Demikianlah Injil Tuhan.

RENUNGAN

Keputusan salah membawa malapateka

Keputusan mengikut Yesus harus tegas. Sekarang dan tidak boleh ditunda-tunda dengan alasan apapun juga. Kalau kesempatan berbuat baik datang, kita tidak boleh menunda-nunda melakukannya. Laksanakan segera bila Anda tidak ingin kesempatan dari Tuhan itu sama sekali berlalu dari Anda. Malapetaka bisa datang setiap saat. Keputusan untuk mengikut Yesus Kristus adalah keputusan terpenting dalam hidup ini. Itu akan menentukan bukan saja nasib kekal kita tetapi juga mutu hidup, kepribadian, pengalaman Anda dalam waktu hidup ini. Meski keputusan tidak boleh ditunda, Tuhan juga tidak ingin kita mengambil keputusan yang membabi-buta. Keputusan yang mantap lahir dari pertimbangan akan semua resiko dan konsekuensi yang terlibat, bukan dari ketergesaan. Tuhan ingin kita memutuskan dengan hati terbuka, juga pikiran, dan mata terbuka.

Yesus adalah Tuhan. Yesus yang meneduhkan angin ribut adalah objek iman para murid. Itu sebabnya, kegoncangan dalam iman mereka yang lebih dulu Tuhan tegur dan diamkan. Yesus ingin agar mereka tidak saja tahu bahwa kondisi hidup dapat ditenangkan Yesus, tetapi lebih dari itu adalah iman kepadaYesus sebagai Tuhan tanpa harus tergantung sedikit pun pada keadaan. Seluruh kondisi hidup sepenuhnya diatur oleh-Nya. Fokus perhatian dan usaha kita para pengikut-Nya bukanlah pada persoalan hidup dan jalan keluarnya, tetapi pada Dia dan kehendak-Nya untuk hidup ini.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata radikal. Kata ini sebetulnya sangat netral dan mengungkapkan kesungguhan yang positif bila itu dihayati dengan baik. Kata radikal berasal dari bahasa Latin radix yang berarti akar. Maka, radikal berarti seakar-akarnya, dalam arti sangat mendasar dan mendalam.

Iman dalam arti tertentu memerlukan sikap radikal untuk menghayatinya. Namun, radikalitas iman tidak dalam arti destruktif terhadap pihak lain, melainkan dalam arti konstruktif. Yesus pun menghayati hidup-Nya secara radikal sehingga seluruh hidup-Nya dipersembahkan untuk mewartakan Kerajaan Allah.

Yesus juga memanggil kita untuk mengimani-Nya secara radikal, sehingga tidak ada satu hal lain pun yang boleh menghalangi iman kita kepada-Nya. Secara radikal hal itu diungkapkan untuk menjawab orang yang mau mengikuti-Nya, tetapi masih berpikir tentang rencana penguburan ayahnya. Jawaban Yesus radikal: Biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati!

Ya Yesus, semoga aku memiliki iman yang radikal, yang membuat hidupku semakin berserah kepada-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin. (Lucas Margono)

01 Juli 2019
Mat 8:18-22 Ikutilah Aku.

Ya Bapa yang penuh kasih sayang, Engkaulah sumber panggilan dan perutusanku dalam mengikuti Yesus Putra-Mu. Ajarilah aku untuk selalau bersyukur kepada-Mu atas panggilan, Perutusan dan Pelayanan para imam dan biarawan/ti. Kuatkanlah dan teguhkanlah panggilan mereka, agar mereka tetap tekun dan setia melayani dengan tulus dan penuh sukacita. Amin

Bacaan dan Renungan Minggu 30 Juni 2019| Pekan Biasa XIII

Bacaan Minggu, 30 Juni 2019, Hari Minggu Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan I : 1 Raj 19:16b.19-21

“Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia.”

19:16b Sekali peristiwa Tuhan berkata kepada Nabi Elia: “Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.”19:19 Maka Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. 19:20 Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” 19:21 Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka.” Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10.11;

Refren : Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.

  • Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku,Engkaulah bagian warisan dan pialaku,Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
  • Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku.Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
  • Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tenteram;sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati,dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.
  • Engkau memberitahukan kepadaku, ya Allah, jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.

Bacaan II : Gal 5:1.13-18

“Kamu dipanggil untuk merdeka.”

5:1 Saudara-saudara, Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.

5:13 Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” 5:15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. 4:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Bait Pengantar Injil: 1Sam 3:9; Yoh 6:68c

Bersabdalah, ya Tuhan, sebab hamba-Mu mendengarkan. Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal.

Bacaan Injil : Luk 9:51-62

“Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.”

9:51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. 9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain. 9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 9:58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” 9:61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 9:62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Renungan

Krisis berakhir pelayanan berakhir.

Ada dua pelajaran yang sangat berguna bagi umat Kristen dari peristiwa krisis rohani yang dialami Elia, yaitu bagaimana krisis itu berakhir dan dampak yang mengikuti krisis itu akibat fanggapan Elia yang kurang terpuji. Walaupun akhirnya krisis berlalu namun membawa dampak yang kurang menggembirakan bagi kehidupan pelayanan Elia.

Setelah mendapatkan kekuatan dari makanan yang disediakan Allah, Elia pergi ke gunung Horeb dan bermalam di gua. Lingkup pemikiran Elia masih terfokus pada pekerjaan dan keberadaannya yang terpojok (ayat 10.14). Ia nampaknya belum mampu melepaskan diri dari permasalahan yang membelit dan melibas dirinya. Setelah ia bertemu dengan Allah yang hadir melalui angin sepoi-sepoi basa dan firman yang dinyatakan-Nya yang membenahi ulang pemikiran Elia (ayat 15), mulailah ia sadar dan berubah arah. Berarti kehadiran dan firman-Nya merupakan satu-satunya ‘terapi’ bagi krisis rohani Elia.

Namun tampaknya akhir krisis ini juga menandai akhir kehidupan pelayanan Elia. Allah memerintahkan Elia untuk mengurapi Elisa sebagai penggantinya. Hal ini cukup mendadak karena Allah belum pernah membicarakan mengenai regenerasi kepada Elia. Dan bukankah Elia juga baru saja melakukan tindakan yang sangat spektakuler dan menakjubkan, yang mampu membawa bangsa Israel berbalik kepada Allah? Mengapa tiba- tiba harus menyiapkan pengganti, bukankah Elia masih diperlukan untuk membimbing bangsa Israel? Alasan yang bisa kita dapatkan dari peristiwa ini adalah tanggapan Elia sendiri ketika ia mengalami krisis rohani yaitu “Cukuplah itu, sekarang ya Tuhan ambillah nyawaku” (ayat ). Dalam keadaan tertekan yang luar biasa, ia menyatakan ingin berhenti melayani lalu mati. Dengan kata lain Elia ingin terbebas dari permasalahan yang sedang dihadapinya dengan cara melarikan diri.

Renungkan: Tanggapan dan tindakan kita dalam menghadapi krisis rohani akan menentukan perjalanan kehidupan pelayanan kita selanjutnya. Allah tidak menghendaki hamba-Nya menjadi seorang pengecut yang cepat putus asa dalam menghadapi suatu masalah. Temuilah Tuhan dan firman-Nya maka orientasi pikiran kita akan diubahkan, dan kita akan menemukan jawaban dan jalan keluar bagi krisis rohani kita.

Mazmur, Iman dan kesehatan manusia.

Berbicara tentang iman seringkali membawa kita kepada konsep-konsep yang abstrak, seakan tak ada hubungannya dengan realita kehidupan sehari-hari. Mazmur 16 mengajarkan kepada kita realita iman, manifestasi iman, dan peran iman bagi kebahagiaan manusia.

Doa pemazmur (ayat 1) mengungkapkan imannya terhadap Allah. Imannya senantiasa menyadarkannya akan realita kehidupan yang sering tidak bersahabat. Iman yang ia miliki juga terungkap di dalam kepuasannya terhadap Allah (ayat 2,5). Apa pun yang ia alami, ia tetap yakin bahwa Allah yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik. Pemazmur mengungkapkan bahwa orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang selalu rindu untuk bersekutu dengan saudara lainnya yang seiman, dan berbuat kebaikan kepada mereka (ayat 3). Perbedaan antara orang beriman dan yang tidak, dapat diidentifikasikan dengan melihat perbuatan dan perkataan mereka (ayat 4).

Di samping membuat orang puas dengan Allah, iman juga membuat orang puas dengan kehidupannya (ayat 6). Ini tidak berarti bahwa iman membuat orang menjadi cepat puas sehingga tidak ada niat dan kerja keras untuk terus memperbaiki taraf hidupnya. Namun kepuasan ini yang memampukan orang beriman untuk mensyukuri setiap yang dimiliki dan tidak iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Iman juga akan menjauhkan orang Kristen dari rasa kuatir dan gentar menghadapi masa depan, sebab masa depan terletak dalam genggaman tangan Tuhan dan Ia senantiasa menyertainya (ayat 8,11). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman berhubungan erat dengan kesehatan jiwa dan fisik seseorang (ayat 9).

Renungkan: Seorang yang merasa puas, hatinya akan bersukacita dan tentram. Jika Anda mengalami stress, depresi, tekanan darah tinggi, sakit maag, jantung, dan lain-lain, evaluasilah kehidupan iman Anda.

Bacaan II, Kasih, hukum, dan kebebasan

Kebebasan tanpa norma sama sekali bukan kebebasan melainkan bencana. Banyak orang Kristen salah memahami dan salah memaknai kemerdekaan yang sejati. Seakan-akan bebas dari dosa berarti bebas untuk berbuat dosa. Mengapa bisa timbul salah pengertian seperti ini?

Kesalahan pertama adalah karena tidak mengerti fungsi hukum Taurat secara tuntas. Karena keselamatan adalah anugerah dan bukan diperoleh dengan menaati hukum Taurat, banyak orang merasa ajaran-ajaran etika di hukum Taurat pun tidak perlu diberlakukan. Akibatnya mereka merasa sah saja melanggar hukum Taurat. Padahal hukum Taurat mengajarkan jalan-jalan yang benar untuk dilakukan anak-anak Tuhan. Tuhan Yesus sudah merangkum hukum Taurat menjadi hukum kasih (ayat 14). Kesalahan kedua adalah karena salah mengerti maksud Tuhan menyelamatkan orang berdosa. Seseorang diselamatkan agar menjalani hidup dalam kasih. Jadi, anak-anak Tuhan dimerdekakan dari perbudakan dosa dan dari kutuk hukum Taurat supaya dapat mempraktikkan kasih ilahi kepada sesamanya. Bagaimana cara mempraktikkan hukum kasih itu dan tidak terjerat kepada keingingan-keingingan daging? Hanya satu cara, yaitu dengan menyerahkan hidup kita dipimpin oleh Roh. Kita harus melawan setiap keinginan daging yang masih mau menguasai kita dengan cara membiarkan Roh Tuhan memimpin hidup kita (ayat 16-18).

Orang yang belum diselamatkan berbuat dosa karena memang dibelenggu oleh kuasa dosa. Namun, anak-anak Tuhan hidup mempraktikkan keadilan, kebenaran, dan kekudusan sebagai pernyataan kasih mereka kepada Kristus dan kepada sesama. Bukti kasih mereka kepada Kristus adalah berupa kerelaan diatur dan dipimpin oleh Roh. Bukti kasih mereka kepada sesama adalah menjadi berkat dan teladan hidup beriman bagi sesama.

Renungkan: Hanya di dalam kasih karunia kita dimampukan mengasihi dengan tulus.

Injil hari ini, Murid Kristus bukanlah murid gampangan.

Dunia pendidikan masa kini menuntut orang-tua mempersiapkan anak-anak agar berhasil masuk di sekolah lanjutan dan universitas yang bermutu. Oleh karena itu sejak Sekolah Dasar, anak-anak sudah diikutkan berbagai les. Meskipun menyadari bahwa beban anak-anak mereka semakin berat, waktu istirahat mereka pun semakin sedikit, dan pengeluaran bulanan akan meningkat, para orang-tua tetap melakukannya. Untuk menjadi murid sebuah sekolah yang berkualitas tinggi bukanlah hal yang gampang dan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk itu.

Demikian pula menjadi murid Kristus, bukanlah murid gampangan juga. Karena sebagai murid Kristus, kita adalah wakil Kristus yang adalah Allah sendiri, sekalipun ia masih anak kecil (ayat 48). Luar biasa sekali kedudukan seorang murid Kristus. Namun untuk menjadi murid-Nya ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.

Dalam dunia yang mengagungkan kekuatan dan kekuasaan, seorang murid Kristus tidak boleh mengandalkan itu semua dalam menjalankan tugas dan misinya. Konsep ini diambil berdasarkan pernyataan Yesus bahwa Anak Manusia harus mengalami ‘salib’, ketika semua orang masih keheranan menyaksikan kebesaran Allah yang dinyatakan melalui diri-Nya (ayat 43b-45). Seorang murid Kristus juga harus siap menerima ketidakramahan dan kekejaman dunia terhadap dirinya tanpa membalas (ayat 51-56). Ia juga harus menyadari bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi (ayat 58).

Sikap seorang murid terhadap Gurunya adalah memberikan prioritas utama kepada-Nya di atas tugas-tugas pribadi dan tradisi agama (ayat 59-62). Kemudian sebagai sesama murid, tidak pandang golongan atau kedaerahan.

Lewat bacaan Injil hari ini, ditampilkan beberapa orang – dengan inisiatif sendiri atau bahkan diminta sendiri oleh Yesus – untuk bisa mengikutiNya. Tetapi apa yang terjadi? Tidak ada yang lolos. Sebabnya terlalu banyak alasan. Ada yang kalah sebelum bertanding, berat sekali, tak punya tempat yang nyaman. Untuk tidur saja tidak ada tempat yang tetap. Terus yang lain, demi rasa hormat mohon supaya dapat mendampingi orang tua sampai hari tuanya dulu. Kalau sudah beres, baru bergabung untuk mengikuti . Itukan alasan yang dibuat-buat alias menolak. Dan yang terakhir, mohon restu dari orang tua. Sangat sopan dan bisa disebut sebagai pemuda/i yang baik. Tetapi kalau terus tergantung pada orang lain, kapan akan menjadi dewasa. Kesimpulannya, ketiganya tidak layak. Motivasi mereka untuk mengikuti Yesus tidak kuat. Hasilnya tentu tidak akan maksimal alias sia-sia dan malah akan merepotkan. Kalau kita – dalam hidup – sudah menentukan Yesus sebagai sumber dan pusat hidup, jalanilah ini dengan sebaik-baiknya. Menerima Yesus barangkali sudah, tetapi hidup dalam tuntutanNya yang belum maksimal. Bagaimana jadi maksimal, lha mau berdoa atau pergi ke Gereja saja tunggu nanti-nanti. Atau kalau berdoa dan di Gereja tidak pernah serius, hanya dengan setengah hati. Karena itu, perlu sekali kita memeriksa diri kita masing-masing dengan jujur dan teliti. Bertanyalah,“Apakah aku sudah dengan sungguh-sungguh mengikuti Yesus? Apakah di antara kesibukkanku yang seabrek-abrek ini, aku masih dengan bebas merindukan Allah?”. Seperti mata ada untuk melihat dan tangan untuk meraba, kita ada untuk apa? Untuk mencari, menemukan dan akhirnya menyatu dengan Allah. Untuk mencapainya dibutuhkan motivasi yang kuat untuk hasil yang maksimal. BUKTIKAN!!

DOA: Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati para kudus-Mu telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mendorong kami, umat-Mu, untuk semakin menimba kekuatan dari firman-Mu dalam Kitab Suci dan memperoleh sumber kehidupan di dalamnya. Bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi yang disediakan bagi kami. Semoga visi ini mendorong kami untuk tetap melangkah maju dalam perjalanan ziarah kami di dunia ini. Amin. (Lucas Margono)

Luk 9:51-62 Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.
Luk 9:51-62 Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.

Bacaan dan Renungan Sabtu 29 Juni 2019|HR St. Petrus dan Paulus Rasul

Bacaan Liturgi, Sabtu 29 Juni 2019| HR St. Petrus dan Paulus Rasul. Pekan Biasa XII

Bacaan I : Kis 12:1-11

“Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes.”

Waktu terjadi penganiayaan terhadap jemaat, Raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Pada malam sebelum Herodes menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus, dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya. Kata malaikat itu, “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Lalu kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Petrus pun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu keluar, dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi; sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.”

Mazmur 34:2-3.4-5.6-7.8-9

Refren : Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.

  • Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarkan dan bersukacita.
  • Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya. Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
  • Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya!
  • Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang bertakwa, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!

Bacaan II : 2 Tim 4:6-8.17-18

“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.”

Saudaraku terkasih, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan, dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Tuhan akan melepaskan daku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Bait Pengantar Injil: Mat 16:18

Engkau adalah Petrus, di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, 
dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bacaan Injil : Mat 16:13-19

“Engkau adalah Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”

Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

Renungan:

Bebas dari penjara.

Ada begitu banyak peristiwa-peristiwa yang tak terduga terjadi di sekitar kita. Ada peristiwa yang melibatkan diri kita, ada juga peristiwa yang melibatkan orang lain. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya: “bagaimana mungkin aku atau dia atau mereka dapat mengalami peristiwa itu?” Berbagai pertanyaan akhirnya menutup keterkejutan tersebut.

Bila kita memperhatikan peristiwa yang dialami Petrus dalam penjara, belenggu di tangannya terlepas, dan akhirnya bebas dari penjara itu, tidaklah berlebihan jika Petrus menyadari bahwa itulah yang dinamakan mukjizat.

Kehidupan manusia penuh dengan ceritera seperti itu. Ada orang yang sakit sekarat tidak ada lagi pengharapan, tiba-tiba bebas dari penjara dari kematian dan penderitaan yang mengerikan, tanpa disadari darimana mukjizat itu datang. Apakah kita akan mengatakan bahwa semua itu diatur oleh sang nasib, atau semua yang terjadi itu semata-mata hanyalah kebetulan saja? Petrus yakin bahwa campur tangan Tuhan membuat bermacam-macam terobosan yang mengejutkan dan tidak terduga. Membebaskan manusia ketika sudah tidak ada pengharapan.

Namun demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa inilah satu-satunya pola yang ditempuh Allah. Allah juga seringkali tidak membebaskan kita dari penjara atau perangkap kehidupan. Kadang- kadang Allah justru memberikan perhatian kepada kita melalui penjara itu. Ia tidak membebaskan Yesus dari salib, Allah memberikan perhatian kepada Yesus melalui salib. Sebab itu bila tidak ada nalaikat yang datang dalam kehidupan kita, itu tidak berarti Allah telah meninggalkan kita. Tetapi sebaliknya, itu berarti Allah sedang memilih satu cara dan arah yang lain dengan menempatkan kita di dalam penjara.

Renungkan: Tuhan senantiasa mampu membebaskan kita dari penjara dengan bermacam-macam metode atau terobosan.

Mazmur, Alami Tuhan

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1, lih 1 Samuel 18-28). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh.

Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan, maka hidup ini akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Ayo, takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11). Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup Anda. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup Anda. Saat Anda mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Bacaan II, Berani….. minta tolong?!

Pemberani. Itulah salah satu gambaran ideal yang harus ditampakkan oleh seorang pelayan Tuhan. Sifat lain yang sering dianggap “semarga” dengan keberanian adalah kemandirian, dan siap untuk memberikan pertolongan pada saat dibutuhkan. Sifat-sifat inilah yang justru tidak ditonjolkan Paulus kali ini.

Mengapa demikian? Ada cukup banyak alasan. Beberapa sahabat terdekat Paulus Seperti Timotius sendiri, Kreskes, Titus, dan lainnya,tidak sedang bersama dengannya. Juga Tikhikus, karena Paulus sendiri yang telah mengutusnya pergi. Selain itu, juga Demas yang telah membelot serta meninggalkan Paulus, bersama dengan orang-orang lain yang telah “meninggalkan aku” pada saat pembelaannya yang pertama di pengadilan (ayat 16). Semua ini dilengkapi dengan kehadiran Aleksander, yang banyak berbuat jahat. Karena itu Paulus berani meminta tolong, terutama kepada Timotius, dan, secara tidak langsung, kepada Markus. Permintaan tolong ini merupakan pengakuan Paulus tentang ketidakberdayaan dirinya yang membutuhkan bantuan saudara-saudara yang lain.

Berani mengakui kebutuhan penting dalam pertumbuhan iman. Kerendahan hati ini melahirkan pengakuan, bahwa hanya Allah yang sanggup bertindak adil terhadap yang jahat (ayat 14), dan yang sanggup mendampingi, menguatkan, dan menjagainya.

Paulus, rasul yang dikenal tegar iman dan berkepribadian matang, bukanlah manusia super, yang selain terus mengandalkan pertolongan dan pemeliharaan Allah, juga selalu dapat mengatasi permasalahannya sendiri. Pauluspun ternyata membutuhkan Dukungan moril dari teman-temannya. Tindakan Paulus ini membukakan kepada kita tentang dua hal. Pertama, fungsi teman atau sahabat dalam persekutuan adalah saling menghibur, menguatkan, dan berbagi suka maupun duka. Kedua, hanya sahabat sejati yang memiliki kepekaan untuk bertindak memberikan pertolongan.

Renungkan: Kadang mengakui kesulitan dalam pertumbuhan kerohanian kita berarti kesempatan untuk meminta tolong. Sebaliknya, sering keengganan kita untuk meminta tolong adalah awal dari keangkuhan dan kebebalan, yang bermuara pada kejatuhan.

Injil hari ini, Arti sebuah pengakuan.

Seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia tujuh tahun: “Kata orang, siapakah ayah?” Setelah berpikir sejenak, anak ini menjawab: “Ada yang mengatakan polisi, ada yang mengatakan Pak RT, ada juga yang memanggil Pak Broto!” Kemudian ayahnya bertanya lagi: “Menurut kamu, siapakah ayah?” Dengan wajah ceria, anak ini menjawab: “Ayahku!” Anak ini mengenal ayahnya dengan pengenalan yang bersifat pribadi dan lebih dalam dibandingkan orang lain.

Suatu kali ketika Yesus sedang berada di Kaisarea Filipi, tiba-tiba ia memunculkan pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh murid-murid-Nya. Ia menanyakan bagaimana pendapat orang tentang siapakah Anak Manusia. Yesus bertanya terlebih dahulu tentang pendapat orang lain dan bukan pendapat mereka. Maka dengan spontan mereka menjawab bahwa orang mengenal-Nya sebagai Yohanes Pembaptis, seperti pendapat raja Herodes; ada yang mengatakan Elia karena Elia pernah dikatakan akan menampakkan diri lagi (Mal 4:5); ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tokoh-tokoh yang disetarakan dengan Yesus adalah tokoh besar, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru; namun mereka hanya memiliki jabatan kemanusiaan. Jadi di antara orang banyak, belum ada yang mengenal Yesus dalam jabatan Keillahian-Nya. Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada murid-murid- Nya. Simon Petrus, murid yang paling cepat berespons mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Inilah jabatan Keillahian Yesus. Yesus menegaskan bahwa Allah Bapa yang memungkinkan Petrus dapat mengenal Yesus sebagai Mesias.

Pengenalan kita akan Yesus adalah pengenalan yang bersifat pribadi, bukan sekadar kata orang atau menyaksikan perbuatan-Nya bagi orang lain, tetapi karena kita mengalami sendiri hidup bersama-Nya. Ia menginginkan pengakuan yang bukan hanya berdasarkan pengetahuan, tetapi pengakuan yang lahir karena hubungan pribadi dengan Dia. Kita mudah mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi sungguhkah kita menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya yang Maha Kuasa atau kita sendiri yang masih mengendalikan hidup kita?

Renungkan: Pikirkan arti sebuah pengakuan Anda, siapakah Yesus bagi Anda?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.(Lucas Margono)

Mat 16:13-19 Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku.
Mat 16:13-19 Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku.

Bacaan dan Renungan Jumat 28 Juni 2019| Pekan Biasa XII | Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus

Bacaan Liturgi, Jumat 28 Juni 2019| Pekan Biasa XII , Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus

Bacaan I : Yeh 34:11-16

“Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring tenang.”

34:11 Beginilah firman Tuhan, “Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. 34:12 Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. 34:13 Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel , di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. 34:14 Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel . 34:15 Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah. 34:16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Mazmur 23:1-3a.3b-4.5.6

Refren : Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

  • Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: ‘ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. ‘Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
  •  Sekalipun aku harus berjalan, di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
  • Kausiapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
  • Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.

Bacaan II : Rom 5:5b-11

“Allah melimpahkan kasih-Nya atas kita.”

5”5b Saudara-saudara terkasih, kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar–tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati–.5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Bait Pengantar Injil:Yoh 10:14

Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan. Aku mengenal domba-domba-Ku 
dan domba-domba-Ku mengenal Aku.

Bacaan Injil : Luk 15:3-7

“Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan.”

15:3 Sekali peristiwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, 15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, lalu kehilangan seekor, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 15:5 Dan kalau telah menemukannya, ia lalu meletakkannya di atas bahu dengan gembira, 15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan. 15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Renungan

Nubuat Yehezkiel kini difokuskan pada para raja Israel yang digambarkan sebagai gembala-gembala yang tidak bertanggung jawab. Alih-alih mencintai domba-domba (rakyat Israel), mereka tidak acuh terhadap tugas penggembalaan, dan hanya bisa menikmati tanpa pernah memberi (ayat 3). Egoisme seperti ini menimbulkan kemarahan Allah. Raja-raja Israel tidak sadar bahwa mereka hanyalah gembala-gembala, dan bukan pemilik. Allahlah yang mempunyai domba-domba itu.

Allah mengambil alih dari sini. Ia akan menggembalakan domba- domba-Nya kembali “sebagaimana seharusnya” (ayat 16). Seorang gembala lain yang setia kepada tugasnya (ayat 23-24) akan diangkat (kemungkinan Yoyakhin — 2Raj 25:27-30). Di bawah pemerintahannya, rakyat akan sejahtera. Namun demikian, domba-domba itu pun memiliki tanggung jawab, suatu seni menjadi domba yang baik (ayat 17-22).

Pasal ini ditutup dengan janji Allah yang merentang sampai ke masa depan ketika bangsa Israel dipulihkan (ayat 25-31). Keadaan yang digambarkan mengingatkan pada Yes 11:6-9. Tanpa kekerasan — hanya cinta yang hadir. Manusia tidak lagi memperkosa alam dan sesamanya. Kasih setia Allah kukuh hingga kekal.

Mazmur, Indahnya kehidupan Kristen.

Menggunakan gambaran domba yang dipelihara oleh gembala (1-4) dan tamu di hadapan tuan rumah yang sangat baik hati (5-6), Daud menggambarkan betapa indahnya hidup dalam pemeliharaan Allah. Mengapa?

Domba adalah binatang yang tidak dapat hidup lepas dari sang gembala sebab ia tidak dapat mencari makan dan minum sendiri atau pun melindungi dirinya sendiri dari serangan binatang buas. Demikian pula Daud sebagai domba dalam menjalani hidup di dunia, ia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Ia bukan hanya tidak akan kekurangan namun materi yang ia dapatkan akan menyehatkan dan menyegarkan dirinya, bukannya membuatnya sakit (2), sebab gembalanya akan membimbingnya untuk mendapatkan materi secara benar dan sehat (3). Gambaran ini mengandung kebenaran yang dalam yaitu materi untuk memenuhi kebutuhan fisik yang kita dapatkan tanpa bimbingan Tuhan justru akan menghancurkan kita sebab materi itu mungkin rumput yang beracun atau air yang di dasarnya terdapat pusaran arus yang deras sehingga akan menenggelamkan kita. Daud juga menyadari bahwa ia bukan hidup di surga namun di dunia yang telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Karena itu ia tidak heran jika suatu saat harus mengalami penindasan dan ketidakadilan yang akan membawanya kepada kematian. Ia tidak takut sebab ia tahu bahwa Allah yang menyertai adalah Allah yang berkuasa menjaga dan melindunginya (4).

Mampukah Anda menikmati makanan lezat di sebuah perjamuan jika Anda tahu musuh-musuh sedang menanti untuk menghancurkan Anda? Daud mampu. Ia yakin bahwa dirinya adalah tamu Allah. Di zaman Timur Tengah purba, tamu adalah raja dan kebutuhannya harus dipenuhi sang tuan rumah. Selain itu seorang tuan rumah bertanggungjawab atas keselamatan tamunya. Ini membuat dirinya tetap tenang dalam segala situasi dan tetap dapat menikmati setiap berkat yang disediakan Allah walaupun sedang menembus badai krisis (5-6).

Renungkan: Selidikilah kehidupan Anda! Apakah segala berkat materi yang Anda miliki sekarang merupakan rumput hijau dan air yang tenang? Apakah Anda dapat tetap tenang menikmati kehidupan ini walaupun gejolak sosial dan politik semakin memanas? Ingat, Anda adalah domba sekaligus tamu dari Gembala dan Tuan Rumah Agung yaitu Allah.

Bacaan kedua Hidup dalam damai sejahtera.

Damai sejahtera sangat dirindukan dan terus dicari banyak orang. Damai sejahtera itu selain berhubungan dengan kondisi hati, juga berkait dengan hubungan-hubungan yang baik dan benar dengan sesamanya. Kita patut bersukacita dan merasa beruntung bahwa di dalam Kristus kita telah diperdamaikan dengan Allah. Dari musuh, kita dijadikan sahabat Allah. inilah wujud nyata pembenaran Allah di dalam Yesus Kristus. Karena ada dalam hubungan damai dengan Allah, kita dimungkinkan bermegah bahkan di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan hidup seberat apapun.

Bermegah dalam setiap keadaan. Hidup dalam damai sejahtera tidak berarti kita bebas dari pergumulan, masalah dan penderitaan. Janganlah kita salah mengartikannya. Di sinilah letak dialektika kehidupan Kristen. Di satu pihak kita telah menjadi milik Kristus, di pihak lain kita sedang bertumbuh dalam Kristus. Dalam iman, masalah, pergumulan, penderitaan itu tetap ada, namun tidak lagi bersifat merusak. Sebaliknya semuanya itu akan membuat kita makin tekun, tahan uji, dan berpengharapan pada Allah. Melaluinya kita belajar untuk selalu bergantung pada kuasa Kristus yang memberdayakan kita, melalui Roh Kudus yang diam di dalam kita (ayat 1-5).

Renungkan: Bermegah bukan berarti pongah, sebab sumber dan isi kemegahan kita ialah kasih karunia dan kuasa Allah dalam Kristus.

Injil hari ini, Berharga di mata Tuhan.

Seorang penjahat besar divonis mati. Penjahat ini tidak kenal takut, tidak ada penyesalan terhadap kejahatannya. Namun, oleh pelayanan rohani dan kunjungan rutin pastor dan umat yang tulus penjahat ini bertobat. Tuturnya ketika diwawancarai, “Saya bertobat karena dari sekian banyak orang yang datang pada saat Misa di Lembaga Pemasyarakatan itu (LP) Pastor menunjuk saya dan berkata ‘Yesus mengasihimu.’ Saya adalah orang paling jahat di sel ini, namun justru sayalah yang paling dikasihi.”

Kalau domba seekor yang tersesat itu bisa berkata mungkin ia akan berujar begini, “Sungguh saya berbahagia karena gembala saya mengasihi saya. Saya dipandang sangat berharga sehingga ia meninggalkan domba-domba lainnya untuk mencari saya.” Hal yang senada juga bisa terlontar dari mulut dirham sekeping yang hilang itu, “Pasti ibu ini sangat menghargai saya, sehingga ia menemukan aku yang sudah tertimbun debu di sudut rumah.”

Ungkapan di atas adalah rekaan belaka. Kenyataannya adalah pemilik domba dan empunya dirham itu juga menyatakan ungkapan perhatian dan kasihnya kepada benda-benda miliknya itu dengan mengajak orang lain bersukacita bersamanya (ayat 6,9). Ungkapan itu lebih dari sekadar kegembiraan karena mendapat hadiah atau memenangkan undian. Ungkapan itu menyatakan hati yang penuh dengan kasih dan penghargaan yang tinggi terhadap harta miliknya itu.

Kalau untuk domba dan dirham seseorang rela bersusah payah untuk mencari dan menemukannya, lebih lagi Tuhan yang empunya manusia. Dia mengurbankan diri-Nya untuk keselamatan dan hidup yang kekal kita. Malaikat-malaikat di surga yang mengenal isi hati Allah pun turut berpartisipasi merayakannya dengan sukacita (ayat 7,10). Sudahlah pasti Anda dan saya sangat berharga di mata-Nya dan layak dikasihi-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin. (Lucas Margono)

Luk 15:3-7 Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan.
Luk 15:3-7 Bergembiralah bersama dengan daku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan.