Month: September 2019

Bacaan dan Renungan Selasa 01 Oktober 2019|Pekan Biasa XXVI

Bacaan Liturgi Selasa,01 Oktober 2019

Bacaan I:Yes 66:10-14b

Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai.

Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya,hai semua orang yang mencintainya!Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya,hai semua orang yang pernah berkabung karenanya!Hendaknya kamu minum susu yang menyegarkan dan menjadi kenyang,hendaknya kamu menghirup dan menikmati susu yang bernas.Sebab beginilah firman Tuhan:Sungguh, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai,dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir.Kamu akan menyusu, akan digendong,dan akan dibelai-belai di pangkuan.Seperti seseorang yang dihibur ibunya,demikianlah kamu akan Kuhibur;kamu akan dihibur di Yerusalem.Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang,dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat.

Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1.2.3

Jagalah aku dalam damai-Mu, ya Tuhan.

  • Tuhan, aku tidak tinggi hati,dan tidak memandang dengan sombong;aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
  • Sungguh, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya,ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
  • Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel,dari sekarang sampai selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil:Mat 11:25

Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,sebab misteri Kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil.

Bacaan Injil:Mat 18:1-5

Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini,kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Sekali peristiwa datanglah murid-murid kepada Yesus dan bertanya,”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka,lalu berkata,”Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini,kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku,ia menyambut Aku.”

Renungan:

Keselamatan dan hukuman.

Peringatan Allah bahwa Ia akan datang untuk membalas perbuatan siapa saja yang mengucilkan umat-Nya dan meremehkan kuasa-Nya bukanlah sekadar gertakan. Bagi mereka yang gentar akan firman Tuhan, peringatan ini justru disambut dengan sukacita dan gembira. Kedatangan Tuhan membawa kemakmuran dan kesejahteraan kepada orang yang gentar akan firman-Nya. Mereka akan dipandang, diperhatikan, dan ditolong Tuhan. Damai sejahtera akan mengalir seperti sungai. Sebaliknya Tuhan akan datang untuk melampiaskan murka-Nya dan hardik-Nya dengan nyala api untuk menimpa dan melenyapkan segala yang tidak murni yaitu orang-orang yang melakukan pelanggaran dan dosa.

Sikap menantikan kedatangan-Nya. Selain menghukum, kedatangan Tuhan juga meminta pertanggungjawaban kepada segenap makhluk ciptaan-Nya atas kehidupan yang dianugerahkan-Nya. Kita pun tak luput dari perhatian Allah untuk dimintai pertanggungjawabannya. Sambil menantikan kedatangan Tuhan, kita harus menentukan sikap: menjadi orang yang gentar akan firman-Nya atau menjadi orang yang meremehkan kuasa-Nya. Yang jelas dan pasti, hanya orang yang gentar akan firman-Nya yang akan menantikan kedatangan Tuhan dengan penuh kesiapan!

Injil hari ini, berbicara tentang siapa yang terbesar di dalam kerajaan sorga?

Persaingan menjadi yang terbesar sudah merupakan iklim dunia, apalagi di negara yang sedang berkembang. Kecenderungan manusia ingin dihargai, dipandang, ditinggikan, dan dipuji, menjadikan iklim ini semakin mendarah daging hampir ke semua lapisan masyarakat. Beberapa perikop yang kita baca hari ini, memperlihatkan bagaimana Yesus mengkontraskan pengajarannya dengan standar dunia.

Ketika murid-murid-Nya memakai standar dunia dalam konsep Kerajaan Allah, Yesus tidak segera menanggapi, tetapi Ia memanggil seorang anak kecil dalam rangka mengajarkan konsep yang benar. Anak kecil selalu di posisi tidak penting, lemah tak berdaya, tidak dapat memimpin, dan tidak memiliki ambisi menumpuk kekayaan atau kedudukan. Peragaan Yesus tidak berarti bahwa para murid-Nya harus menjadi anak-anak, tetapi agar mereka memiliki sikap seperti anak kecil. Menjadi anak kecil berarti rela menjadi tak berarti, berani mengakui ketidakberdayaan, dan bertobat dari dosa dan hidup yang berporos ambisi. Seperti inilah sikap seorang yang menyambut Yesus dan memiliki Kerajaan Sorga, yang bukan dengan kebenaran dan kemampuan diri sendiri, sehingga tidak lagi muncul ambisi bersaing menjadi yang terbesar.

Dalam Kerajaan Sorga juga tidak berlaku standar dunia tentang kesempurnaan fisik sebagai keindahan. Oleh karena itu Yesus memperingatkan para murid-Nya bila ada anggota tubuh yang menyebabkannya berdosa, ia harus memenggal anggota tubuh tersebut, sehingga tidak menghalangi pertobatannya. Dapat dikatakan bahwa sia-sia memuaskan diri dengan segala keinginan dunia bila rohani kita tidak mendapatkan kebahagiaan sejati dalam Kerajaan Sorga. Keinginan duniawi akan membawa kita kepada kebinasaan (ayat 8). Janganlah kita terhitung sebagai penyesat karena tidak rela menanggalkan segala keinginan yang membawa kepada kebinasaan. Mungkin bukan hanya kita yang binasa, tetapi juga anak-anak Tuhan yang lain. Yesus memberikan peringatan keras bagi para penyesat, apabila menyesatkan anak-anak kecil yang percaya kepada-Nya, karena anak-anak paling mudah disesatkan.

Renungkan: Merendahkan diri menjadi seperti anak kecil berarti rela menanggalkan segala keakuan, kemampuan, kedudukan, harga diri, dan ambisi, demi Kerajaan Surga yang bernilai kekal.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan kerajaan-Mu kepada orang-orang yang menjadi seperti anak kecil di hadapan-Mu, yang memiliki kerendahan hati yang sejati dan sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan ilahi dan pemeliharaan-Mu yang penuh kasih. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar mampu bergerak maju di jalan-Mu. Amin.

Mat 18:1-5 Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Mat 18:1-5 Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Bacaan dan Renungan Senin 30 September 2019|Pekan Biasa XXVI|PW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

Bacaan Liturgi Senin,30 September 2019

PW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

Bacaan I : Za 8:1-8

Keselamatan bagi Israel

8:1 Datanglah firman TUHAN semesta alam, bunyinya: 8:2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar. 8:3 Beginilah firman TUHAN: Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung TUHAN semesta alam akan disebut Gunung Kudus. 8:4 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. 8:5 Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak laki-laki dan anak perempuan yang bermain-main di situ. 8:6 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib? demikianlah firman TUHAN semesta alam. 8:7 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, 8:8 dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.”

Mazmur 102:16-18,19-21,29,22-23

Refren: Tuhan sudah membangun Sion dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.

Mazmur:

  • Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu: bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.
  • Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus. TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati.
  • Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu, supaya nama TUHAN diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem, apabila psrs bsngsa berkumpul bersama-sama dan kerajaan-kerajaan berhimpun untuk beribadah kepada TUHAN.

Bait Pengantar Injil:Mrk 10:45

Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.

Bacaan Injil:Luk 9:46-50

Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.

9:46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 9:47 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 9:48 dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan 9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” 9:50 Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Renungan:

Nubuat Zakharia tentang kunci pemulihan penuh Israel ialah kembalinya Allah ke Sion, yang menunjuk kepada saat ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan dan memulai pemerintahan-Nya di dunia atas bangsa-bangsa. Pada saat itu kehadiran Allah akan menjadikan Yerusalem sebuah kota kebenaran dan kesetiaan, dan gunung Tuhan akan kudus, yaitu dikhususkan untuk beribadah kepada-Nya. Pasal ini memberikan sepuluh berkat yang akan menyertai pemerintahan di bumi itu, masing-masing diawali dengan frase, “Beginilah firman Tuhan semesta alam, …” Sehingga damai sejahtera, kemakmuran dan kebahagiaan terjadi di Yerusalem di masa mendatang. Za 8:4-5.

Kembalinya umat Israel dari pembuangan Babel dari timur; menjadi gambaran pemulihan di masa depan dari segala penjuru dunia, dari timur dan barat, yaitu dari seluruh bumi (bd. Yes 43:5-6), Allah akan sungguh-sungguh menjadi Allah umat-Nya, dan mereka akan menerima kebenaran-Nya melalui Kristus. Orang-orang yang kembali bukan hanya kaum buangan, tetapi semua orang Yahudi di perantauan dan setelah mereka kembali maka perjanjian akan dibaharui, bdk Yer 31:31+.

Keinginan Allah memulihkan Israel merupakan perbuatan serius walaupun umat Israel sendiri tidak menanggapi dengan antusias. Dan bahkan sering menyeleweng dan tidak tahan uji. Keseriusan Allah dinyatakan dalam ayat 8:2 ”Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar.” Dua kali Tuhan menyatakan kasih-Nya yang tak berkesudahan dan perhatian-Nya bagi Israel (bdg. ps. 1). “Kasih” atau Allah, pasti murka terhadap orang-orang yang mengusik umat Allah ( “Kehangatan amarah yang besar”). Allah begitu bertekad untuk kembali ke Sion dengan berkat pada masa mendatang, sehingga Dia berbicara tentang hal itu seolah-olah telah terlaksana. Yerusalem mendapat julukan kota yang Setia. Karena Allah sendiri yang berkenan berdiam di tengah-tengah kota tersebut. Za 8:3 Sehingga kedamaian dan keamanan Yerusalem terwujud, dan ketika Israel berhubungan dengan Tuhan sebagaimana mestinya dalam hal-hal rohani, berkat-berkat duniawi selalu mengikuti.

Peperangan-peperangan tidak akan mempengaruhi laju pertumbuhan umat Israel ataupun usia semua orang baik muda maupun tua. Maka di Yerusalem tetap “Penuh dengan anak laki-laki dan anak-anak perempuan” (Za 8:5). Bagi orang prediksi-prediksi ini tampak tidak mungkin, namun tidak ada yang terlalu hebat bagi Allah (Kej. 18:14; Mat. 19:26).

“Dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya” orang-oang Yahudi yang terserak dikumpulkan kembali. Nubuat bahwa Israel harus berada di Tanah Perjanjian dan pada saat nubuat digenapi barulah oarang-orang Israel sadar akan maksud utama Allah baginya. Pemulihan negeri itu merupakan prasyarat pokok menurut kesaksian Kitab-kitab nubuat. Kembalinya orang-orang Israel ini akan terjadi dari segenap penjuru bumi (bdg. Yes. 11:11,12; Amos 9:14, 15).

Mazmur, Semua akan binasa tetapi Engkau tetap ada.

Di kala diri merasa sangat tak berdaya, pasti membutuhkan tumpuan yang kokoh dan kekal. Semua yang ada di dunia ini akan binasa, namun Allah Sang Pencipta tetap ada selamanya. Semua boleh usang seperti pakaian, tetapi Tuhan tetap sama, dan tahun-tahun-Nya tidak berkesudahan (27-28). Tuhanlah tumpuan yang kokoh dan kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Di dalam naungan-Nya, kita merasakan ketenteraman sejati, walau di dalam penderitaan yang berat sekalipun; karena Dia menanggungnya bagi kita.

Tiba saatnya. Seluruh umat percaya harus meyakini bahwa Allah bukan sekadar ada, tetapi hadir dan bertindak tepat waktu di tengah-tengah kehidupan umat-Nya. Keyakinan inilah yang telah membuat orang Kristen mampu bertahan di tengah-tengah keadaan dunia sekarang ini, yang jahat, kacau, dan tak menentu. Akan tiba saatnya, di mana Allah yang bersemayam di tempat maha tinggi akan memandang ke bumi dan mendengar doa keluhan umat-Nya. Ia akan membebaskan umat-Nya, agar nama-Nya dimuliakan.

Renungkan: Semua bisa berubah, bahkan akhirnya binasa. Tetapi Allah kita kekal. Dia yang telah menciptakan, menebus, dan memelihara kita.

Injil hari ini, Ambisi untuk menjadi yang ter ….

Bagi sementara orang keinginan untuk maju, untuk terkenal, untuk berkuasa dan memiliki kredibilitas terpercaya adalah sah-sah saja, wajar-wajar saja. Bahkan tidak sedikit orang yang berambisi untuk itu dan siap menekuninya. Fokus perhatian pada pemenuhan ambisi ini pun terjadi di kalangan para murid Tuhan Yesus. Bahkan mereka dengan sangat ekstrim berani mengungkapkan hal tersebut kepada Yesus. Di saat Tuhan sedang memusatkan perhatian pada urusan kekal Kerajaan Allah dengan syarat-syaratnya yang berat — Ia harus menderita dan dibunuh—dan untuk kepentingan umat manusia, para murid lebih memusatkan perhatian pada ambisi dan kepentingan pribadi mereka (ayat 46). Itulah sebabnya mengapa para murid tidak mengerti apa maksud ucapan Tuhan Yesus tentang penderitaan-Nya.

Namun, Tuhan Yesus begitu baik dan sabar meladeni kekisruhan pikiran murid-murid-Nya. Padahal, ketidakpahaman mereka terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya sebenarnya makin memberatkan pergumulan-Nya. Diambil-Nya seorang anak kecil. Melalui perkataan-Nya, Ia mengubah konsep para murid tentang arti “penting” dan besar. Anak kecil itu didudukkan sebagai pihak yang sering kali tidak dipedulikan orang. Menurut Yesus penilaian seperti ini tidak berlaku dalam Kerajaan Allah. Artinya, mereka yang benar-benar “besar” dan “penting” dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang dengan segala kerendahan hati memperhatikan “orang-orang kecil“ dan “perkara-perkara kecil” (ayat 48).

Belajar memperhatikan yang kecil dan sedia menjadi kecil, adalah cara untuk mengerti apa sesungguhnya yang diartikan “penting” dalam prioritas Tuhan Yesus. Tuhan Yesus juga mengajar para murid untuk tidak hanya menganggap kalangan sendiri yang paling penting atau paling benar.

Renungkan: Orang yang berbesar hati akan sudi mengakui fakta kehadiran dan karya Allah melalui orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menjadi sungguh-sungguh rendah hati. Tolonglah kami untuk berhenti mengejar-ngejar kekuasaan serta status dan mulai melayani dalam kasih dan kerendahan hati. Amin. (Lucas Margono)

Luk 9:46-50 Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.
Luk 9:46-50 Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.

Bacaan dan Renungan Minggu 29 September 2019|Pekan Biasa XXVI

Bacaan Liturgi Minggu,29 September 2019

Bacaan I : Amos 6:1a.4-7

“Yang duduk berjuntai dan bernyanyi akan pergi sebagai orang buangan.”

6:1a Beginilah firman Tuhan, Allah semesta alam, “Celakalah orang-orang yang merasa aman di Sion, yang merasa tenteram di Gunung Samaria! 6:4 Yang berbaring di tempat tidur dari gading, dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak lembu dari tengah kawanan binatang yang tambun; 6:5 yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya! 6:6 Celakalah orang yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! 6:7 Sebab sekarang mereka akan pergi sebagai orang buangan di kepala barisan, dan berlalulah hiruk pikuk pesta orang-orang yang duduk berjuntai itu.”

Mazmur 146:7.8-9a.9b-10

Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.

  • Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, Tuhan memberi roti kepada orang-orang yang lapar, dan membebaskan orang-orang yang terkurung.
  • Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.
  • Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-menurun.

Bacaan II : 1Tim 6:11-16

“Taatilah perintah ini hingga pada saat Tuhan menyatakan diri.”

6:11 Hai, engkau manusia Allah, jauhilah semua kejahatan, kejarlah keadilah, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. 6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil, untuk itulah engkau telah mengikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. 6:13 Di hadapan Allah yang menghidupkan segala sesuatu dan di hadapan Yesus Kristus yang memberi kesaksian yang benar di hadapan Pontius Pilatus, aku memperingatkan engkau, 6:14 “Taatilah perintah ini tanpa cacat dan tanpa cela hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 6:15 Saat itu akan ditentukan oleh Penguasa satu-satunya yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja, dan Tuan di atas segala tuan. 6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada kematian, dan bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tak seorang pun pernah melihat Dia, dan tak seorang pun manusia dapat melihat Dia. Bagi Dialah hormat dan kuasa yang kekal. Amin.

Bait Pengantar Injil:2Kor 8:9

Yesus Kristus menjadi miskin, sekali pun Ia kaya,supaya oleh karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Bacaan Injil : Luk 16:19-31

Orang kaya dan Lazarus yang miskin

16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 16:20 Dan ada seorang pengemis bernamaLazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk dipangkuannya. 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkanlidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Renungan :

Jaminan semu.

Teguran Allah mengaum lebih keras dan kini ditujukan kepada para pemimpin umat. Mereka biasa dikenal sebagai yang terkemuka dan utama (ayat 1) dan yang beroleh kesempatan istimewa menikmati hal-hal terbaik (harfiah: utama) dalam hidup (ayat 6; bdk. ayat 4-5). Di tengah-tengah krisis bangsa seharusnya para pemimpin yang pertama prihatin, tetapi justru mereka larut dalam kehidupan gemerlap dan menganggap kekelaman dari Allah itu jauh dari mereka (ayat 3, 6). Mata mereka telah dibutakan oleh kekayaan hasil rampasan dan penindasan terhadap yang lemah. Bahkan mereka masih terus menyelenggarakan pemerintahan dengan tangan besi dan memutarbalikkan keadilan (ayat 3, 12). Untuk semua yang mereka lakukan, Tuhan bersumpah demi diri-Nya untuk menghukum (ayat 8) juga memusnahkan bangsa itu (ayat 9). Allah akan membangkitan suatu bangsa untuk menindas mereka.

Tindakan penghukuman Allah untuk bangsa Israel menjadi peringatan keras bagi kita, orang percaya masa kini. Sering kita merasa kuat dan mampu melakukan segala sesuatu tanpa Allah. Bahkan sering pula kita menutup mata terhadap berbagai krisis atau bencana yang terjadi di sekitar kita, karena kita tidak tanggap membaca tanda- tanda zaman. Kita sering bersyukur karena tidak mengalami bencana, tetapi bersikap masa bodoh terhadap orang lain yang mengalami bencana. Sikap-sikap seperti ini tidaklah patut dilakukan oleh umat Allah.

Berbagai bencana atau peristiwa pasti mempunyai hikmat tersendiri yang dapat memberi petunjuk atau tuntutan bagi langkah hidup kita. Walaupun kita memiliki kuasa dan kekuatan, harta dan kekayaan, kita tidak boleh menggantungkan hidup kita pada hal-hal itu. Karena hal-hal itu bukan allah tetapi pemberian Allah untuk diabdikan kepada Allah dan sesama.

Renungkan: Harta dan kedudukan tidak lebih adalah alat-alat agar kita mengabdi Allah dan menjadi saluran berkat-Nya bagi sesama.

Mazmur, Allah adalah satu-satunya yang patut disembah.

Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya. Tidak ada suatu kuasa pun yang dapat menandingi Allah. Bahkan kekuasaan para bangsawan dan penguasa mana pun bukan tandingan. Bagi pemazmur, setinggi apa pun kedudukan dan kuasa yang dimiliki seseorang, ia tetap manusia biasa dan tidak akan pernah menjadi Allah (ayat 2, 3), karena kekuasaan manusia tidak pernah memberi hidup. Dialah yang memberi kita hidup dengan segala kemungkinan di dalamnya.

Perbuatan penyelamatan Allah. Perbuatan penyelamatan Allah yang dikatakan pemazmur pada pasal ini adalah wujud kepedulian Allah terhadap mereka yang tertindas karena ketidakadilan, yang lemah seperti anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang asing (ayat 6-9). Pemazmur sungguh memahami bahwa Allah menolong penderitaan fisik dan mental manusia. Ia membela orang benar yang kesepian dan tertindas serta mendukung yang lemah.

Renungkan: Kita telah menerima pengampunan dan karya penyelamatan Allah dalam kasih Kristus. Hal ini berarti bahwa Allah telah memulihkan hubungan kita dengan Allah. Hubungan tersebut akan mewarnai hubungan kita dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupan.

Bacaan II, Pertandingan iman

Mempertahankan iman yang benar terhadap serangan ajaran sesat dilukiskan Paulus seperti peperangan (1:18) dan pertandingan atletik (6:12; bdk. 2Tim 4:7). Iman ini disebut di dalam surat ini sebagai “kebenaran” (1Tim 2:4; 3:15; 4:3), “ajaran kita”, atau “harta yang dipercayakan” kepada hamba-Nya.

Sebagian anggota jemaat telah menyimpang dari iman, maka perjuangan untuk mempertahankan iman itu semakin mendesak.

Baik pertandingan maupun peperangan menuntut usaha yang tak setengah-setengah. Timotius disapa “manusia Allah,” serupa dengan sebutan “abdi Allah” bagi beberapa pemimpin Israel (Musa, Samuel, Daud, dll.). Sebagai abdi Allah dan pemimpin jemaat, Timotius harus menjauhi “cinta uang” dan berbagai kejahatan yang mengikutinya. Sebaliknya, ia harus mengejar sifat-sifat yang diperlukan untuk memenangkan pertandingan itu (1Tim 6:11): “Keadilan dan ibadah” menyangkut sikap adil dalam relasi dengan orang lain, dan menyembah Allah, bukan mamon; “kesetiaan dan kasih” menyangkut integritas serta kasih untuk melayani dan berkurban, bukan pemuasan diri; “kesabaran dan kelembutan” menyangkut kesabaran dalam menghadapi situasi yang sulit dan dalam menghadapi orang-orang yang mendatangkan kesulitan. Pegangan Timotius dalam perjuangan ini ialah “hidup kekal” (12) yang telah diterimanya ketika ia bertobat (“dipanggil”) dan dibaptis (“berikrar di depan banyak saksi”).

Otoritas untuk perintah Paulus dan untuk perjuangan Timotius dalam melaksanakannya bersumber pada Allah Bapa dan Kristus Yesus (13-16). Pujian yang meninggikan Allah sebagai “Raja dan Tuan” di atas segalanya menyatakan kemahakuasaan-Nya. Pertandingan dan peperangan iman dapat dimenangkan oleh Timotius, dan oleh setiap hamba Tuhan, dengan bersandar kepada kuasa Sang Raja.

Renungkan: Jangan biarkan diri dikuasai kedagingan, sebaliknya taklukkan diri pada Sang Raja.

Injil hari ini, Kesalahan yang fatal seorang manusia. Bahaya cinta uang

Tergambar dalam cerita Yesus tentang seorang kaya yang berpakaian mewah dan tiap hari mengadakan pesta pora dalam kemewahan. Seringkali kita berpendapat bahwa karena ia tidak mendermakan uangnya dan tidak mempunyai belas kasihan kepada orang miskin, maka ia tidak dapat diselamatkan. Jawaban ini akan membawa kita pada pemahaman yang salah, yakni bahwa keselamatan manusia dapat diperoleh dengan upayanya sendiri, padahal keselamatan adalah karena iman.

Orang kaya tersebut tidak pernah sungguh-sungguh percaya seperti pengakuannya. Dia bukan seorang ateis, juga bukan seorang Saduki yang tidak percaya pada kehidupan sesudah kematian. Kesalahan utamanya ialah bahwa ia tidak pernah serius terhadap berita firman Tuhan. Bukankah Hukum Taurat mengajarkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, tetapi mengapa ia tidak pernah menunjukkan belaskasihannya kepada Lazarus. Ia pun berkata kepada Abraham bahwa saudara-saudaranya tidak mungkin menanggapi secara serius firman Tuhan jika tidak ada orang yang datang dari dunia orang mati. Abraham atau di sini berarti Allah, menolak permintaan orang kaya bukan karena Ia melihat bahwa kedatangan orang mati tidak akan membantu. Mereka tidak perlu diyakinkan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada atau penghakiman setelah kematian atau neraka itu ada. Namun mereka perlu diyakinkan bahwa pengabaian dan pemberontakan terhadap firman-Nya adalah suatu hal yang serius. Dan ini berhubungan dengan masalah moralitas manusia dan karakter moralitas Allah.

Renungkan: Jika kita meremehkan peringatan Alkitab tentang dosa kita di hadapan-Nya, maka betapapun banyaknya penglihatan tentang dunia orang mati yang kita terima, tidak pernah akan meyakinkan kita secara pribadi bahwa kita berada dalam bahaya, jika kita tidak bertobat.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka dan dapat menerima pengajaran-Mu. Aku mungkin sangat sibuk hari ini, namun aku tetap memohon kepada-Mu untuk menolong aku menyerahkan waktuku dan pemusatan perhatianku kepada-Mu, sehingga aku pun dapat disentuh oleh sabda-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Luk 16:19-31 Orang kaya dan Lazarus yang miskin
Luk 16:19-31 Orang kaya dan Lazarus yang miskin

 

Bacaan dan Renungan Sabtu 28 September 2019| Pekan Biasa XXV

Bacaan Liturgi Sabtu,28 September 2019.

PF S. Wenseslaus, Martir;PF S. Laurensius Ruiz dkk. Martir

Bacaan I : Za 2:1-5,10-11a

Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu,

2:1 Aku Zakaria, melayangkan mataku dan melihat: Tampak seorang yang memegang tali pengukur. 2:2 Aku lalu bertanya: “Ke manakah engkau pergi?” Maka ia menjawab: “Ke Yerusalem, untuk mengukurnya, untuk melihat berapa lebar dan panjangnya.” 2:3 Lalu malaikat yang berbicara dengan daku maju ke depan. Sementara itu seorang seorang malaikat lain maju, lalu mendekatinya, 2:4 dan diberi perintah: “Larilah, katakanlah kepada orang muda di sana itu, demikian: Yerusalem akan tetap tinggal seperti padang terbuka oleh karena banyaknya manusia dan hewan di dalamnya. 2:5 Dan Aku sendiri, demikianlah sabda TUHAN, akan menjadi tembok berapi di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.”
2:10 Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab sesungguhnya Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu, demikianlah sabda TUHAN; 2:11a dan pada waktu itu banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu.”

Mazmur Tanggapan : Yer 31:10,11-12ab,13

Refren: Tuhan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.

Mazmur:

  • Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, dan beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan menghimpunnya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya!
  • Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN.
  • Waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.

Bait Pengantar Injil:2Tim 1:10b

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Bacaan Injil: Luk 9:43b-45

Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

9:43b Semua orang heran karena segala yang dilakukan Yesus. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 9:44 “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” 9:45 Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Renungan:

Yerusalem masih dalam keadaan yang memprihatinkan pada akhir pembuangan di Babel. Jumlah orang yang kembali relatif sedikit. Allah memberikan semangat kepada mereka dengan mengatakan bahwa Ia belum selesai dengan Yerusalem; kota itu akan dijadikan tempat paling mulia di bumi. Penglihatan ketiga ini memandang ke depan kepada kerajaan seribu tahun, ketika kota ini tidak akan bertembok lagi dan penuh sesak dengan orang banyak. Dalam kerajaan seribu tahun, Yerusalem tidak akan memerlukan tembok karena Tuhan sendiri akan menjadi tembok berapi di sekitarnya (bd. Yes 4:5). Bahkan yang lebih penting, kemuliaan Allah di tengah-tengah umat-Nya akan menjadikan seluruh kota itu suatu bait suci yang dipenuhi kehadiran-Nya (bd. Yeh 43:1-7). Bahkan kini, kehadiran dan kemuliaan Allah di antara umat-Nya adalah sesuatu yang seharusnya didambakan dan dicari oleh gereja melebihi segala sesuatu yang lain. (Yer 31:1-5).

Sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu. Kegirangan Sion akan lengkap dengan kembalinya sang Mesias dalam penampakan-Nya yang kasat mata. Banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN. Pada masa kekuasaan dan kemuliaan-Nya, Mesias akan menarik banyak bangsa kepada-Nya. Aku akan diam di tengah-tengahmu. Untuk yang ketiga kalinya dalam pasal ini, nabi menyatakan bahwa Mesias akan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Yehuda sebagai milik-Nya. Dengan banyaknya bangsa-bangsa yang akan diberkati dalam Kristus TUHAN tidak akan mengurangi kemuliaan Israel. Israel akan tetap menjadi ahli waris TUHAN, dan Kota Kudus itu akan tetap merupakan tempat kediaman-Nya. (Yer 31:10-11)

Mazmur, Hari depan yang lebih baik.

Di dunia ini tidak ada yang dapat menandingi kualitas kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Demikian pula tidak ada yang dapat menandingi duka seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Namun dalam nas kita hari ini para ibu bangsa Yehuda diperintahkan oleh Allah supaya berhenti menangis karena kehilangan anak-anak mereka. Mengapa? Sebab masih ada harapan bagi masa depan mereka. Anak-anak mereka akan kembali. Penderitaan yang mereka alami bukanlah babak akhir bagi mereka, karena kebahagiaan dan kedamaian akan segera menggantikannya.

Firman kepada para ibu Yehuda merupakan bagian dari janji pengharapan yang diberikan kepada bangsa Yehuda. Semua janji Allah itu menyatakan bahwa masa depan mereka sangat cerah. Allah tidak hanya akan mempersatukan mereka kembali namun Allah sendiri yang akan memelihara dan menjaga keamanan mereka setelah dipersatukan, sehingga tidak akan ada lagi musuh yang dapat menghancurkanya (10). Jika Allah adalah gembalanya, apa yang harus ditakutkan oleh domba-domba-Nya. Mereka telah dilepaskan dari penguasa kuat yang menindas dan mengeksploitasinya (11). Kemerdekaan sebuah bangsa merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan di masa depan bagi sebuah bangsa. Apa yang akan terjadi pada taman yang diairi dengan baik? Itulah yang akan terjadi pada Yehuda sebab bukit Sion sudah dipulihkan. Ke sanalah Yehuda akan beribadah. Ke sanalah Yehuda akan menemukan sumber air kehidupan. Karena kebajikan Allah hidup mereka semuanya terjamin baik anak-anak, anak muda, hingga orang tua, baik yang dilayani maupun yang melayani.

Janji Allah ini pasti sebab Allah sendiri yang menjanjikan. Bahkan jika Allah tidak mau atau tidak dapat menepati janji-Nya, maka Nama Allah akan dipertaruhkan, sebab bukankah Ia sendiri sudah menyatakan semuanya bukan saja kepada bangsa Yehuda tapi juga kepada bangsa- bangsa lain di seluruh pelosok dunia (10)? Dialah Allah pengharapan yang pasti bagi masa depan yang lebih baik.

Jika Yehuda yang telah memberontak kepada Allah dijanjikan masa depan yang penuh harapan, lebih-lebih lagi umat Kristen yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa tidakkah hari depan kita juga penuh harapan?

Injil hari ini, Serangkaian peristiwa seputar diri Yesus makin menegaskan bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah” (9:20). Peristiwa-peristiwa seperti pengusiran roh-roh jahat, pembangkitan orang mati, pemberian makan lima ribu orang, pemuliaan di atas gunung, dll., mungkin terasa beruntun untuk mereka pahami. Tiga perikop yang kita baca hari ini menunjukkan pergumulan mereka untuk memahami panggilan diri mereka sebagai murid-murid Yesus di tengah arus penyingkapan yang begitu deras ini.
Mereka sulit memahami pemberitahuan Yesus bahwa Ia harus menderita (44, bdk. 22). Bila ini saja masih sulit mereka terima, apalagi aplikasi ikutan bahwa sebagai para pengikut Yesus, mereka pun harus ikut memikul salib. Padahal mereka sendiri dipenuhi angan-angan kebesaran dan posisi tinggi. Sebagai antidot (obat penawar) bagi “pikiran” ini, Yesus mengambil seorang anak kecil dan, yang lebih mengejutkan lagi, menjadikannya sebagai teladan bagi para calon `pembesar’ Kerajaan Allah. Mereka juga lebih mementingkan masalah “kelompok dalam” versus. “orang luar” ketimbang menyadari bahwa orang tersebut sama-sama melakukan pelayanan dalam nama Tuhan Yesus. Tiga peristiwa ini menunjukkan pergumulan dan koreksi yang harus mereka alami. Betapa Tuhan membentuk mereka.

Pelajaran yang diberikan nas ini sangat luar biasa. Sebagai murid-murid Kristus, banyak di antara kita layak digolongkan sebagai aktivis-aktivis pelayan. Sayangnya, hingar-bingar pelayanan kerap membuat kita berorientasi pada status dan hierarki serta eksklusivisme kelompok. Padahal, kita dipanggil untuk memikul salib demi Dia, menjadi orang-orang hina demi Tuhan, dan bersekutu bersama semua orang yang menyebut nama-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah kita di dalam Dia.

Renungkan: Bukan kemampuan dan talenta, tetapi bagaimana Tuhan membentuk kita seturut dengan kehendak-Nya, itulah yang mendefinisikan diri kita.

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. (Lucas Margono)

Luk 9:43b-45 Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.  Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.
Luk 9:43b-45 Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.