Month: October 2019

Bacaan dan Renungan Jumat 01 November 2019| HR Semua Orang Kudus

Bacaan Liturgi Jumat, 01 November 2019|Pekan Biasa XXX

Bacaan I:Why 7:2-4.9-14

Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya;mereka terdiri dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa.

Aku, Yohanes, melihat seorang malaikat muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup. Dengan suara nyaring ia berseru kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya, “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”

Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. Kemudian dari pada itu
aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya,dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dengan suara nyaring mereka berseru, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta, dan bagi Anak Domba!”

Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta, tua-tua dan keempat makhluk yang ada di sekeliling takhta itu. Mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah sambil berkata, “Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, hikmat dan syukur, hormat, kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku, “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu, dan dari manakah mereka datang?” Maka kataku kepadanya, “Tuanku, Tuan mengetahuinya!” Lalu ia berkata kepadaku, “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar! Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.”

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6

Ref:Inilah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.

  • Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
  • Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan.
  • Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bacaan II:1Yoh 3:1-3

Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Saudara-saudara terkasih, Lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita sungguh anak-anak Allah.
Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.Saudara-saudaraku yang kekasih,sekarang kita ini sudah anak-anak Allah,tetapi bagaimana keadaan kita kelak belumlah nyata.Akan tetapi kita tahu bahwa,apabila Kristus menyatakan diri-Nya,kita akan menjadi sama seperti Dia,sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya,ia menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Bait Pengantar Injil:Mat 11:28

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Bacaan Injil:Mat 5:1-12a

Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga.

Sekali peristiwa ketika melihat banyak orang yang datang, Yesus mendaki lereng sebuah bukit. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya. Lalu Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hati,
karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat;bersukacita dan bergembiralah,karena besarlah ganjaranmu di surga.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan:

Perlindungan ilahi bagi umat Allah

Meterai-meterai hukuman Allah atas dunia ini dibukakan, namun terhadap umat-Nya yang sejati meterai Allah dikenakan untuk melindungi mereka dari hukuman-Nya (ayat 1-4). Siapa 144.000 orang yang dimeteraikan itu? Siapa kumpulan besar yang yang tidak terhitung jumlahnya itu?

Orang Kristen tidak dijanjikan luput dari berbagai aniaya yang berasal dari orang-orang yang tidak takut akan Allah. Justru aniaya dunia ini adalah alat untuk menguji dan mendorong orang beriman untuk bertekun dalam iman agar beroleh kemenangan lewat ketekunan itu. Luput yang dipaparkan Yohanes adalah terhindar dari hukuman Allah atas penghuni dunia yang membenci Dia dan bertindak jahat terhadap umat-Nya. Penglihatan tentang meterai perlindungan ilahi ini menjawab teriakan (ayat 6:10) dan pertanyaan umat yang menderita (ayat 7:17). Hasil dari tindakan Allah membela umat-Nya adalah tak terbilang banyaknya umat yang setia kepada-Nya mengalami pemurnian dan siap menerima kemuliaan.

Siapakah umat yang dimeteraikan Allah agar luput dari hukuman-Nya bagi dunia ini? Bedakah 144.000 orang (ayat 7:4-8) dari kumpulan besar dalam ayat 9? Meski ditulis dalam dua kelompok berbeda bukan berarti Yohanes melihat dua golongan manusia yang beroleh meterai keselamatan dari Allah. Kelompok pertama adalah gambaran simbolis dari keseluruhan umat Allah zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka adalah orang-orang yang telah mempercayakan hidup mereka kepada Allah dan rencana keselamatan-Nya. Tindakan memberikan meterai yang mengakibatkan perlindungan ilahi itu adalah tindakan pengesahan kepemilikan Allah atas umat-Nya. Orang-orang yang menaruh iman kepada Kristus adalah kita dan seluruh umat Allah yang memperoleh meterai Roh. Tak satu pun yang terluput dari empat kuda dan empat malaikat penjuru bumi yang membinasakan dan menyesatkan itu, kecuali mereka yang bermeterai keselamatan dari Allah.

Mazmur, Hari ini harinya Tuhan.

Zaman Israel purba,mazmur 24 merupakan mazmur yang khusus dinyanyikan dalam setiap penyembahan di Bait Allah pada hari pertama. Mazmur ini dinyanyikan secara bergantian antara pemimpin penyembahan dengan umat Israel, sebagai manifestasi dari kesiapan hati dan seluruh keberadaan bangsa Israel untuk menyambut hadirat kemuliaan Allah.

Mula-mula seluruh umat Israel menyanyikan ayat 1-2, yang merupakan pengakuan bahwa Allahlah Pemilik seluruh bumi dan segala isinya termasuk manusia, karena Ialah yang menciptakan, menetapkan, dan memelihara. Mereka menyatakan dengan tegas apa pun yang mereka miliki baik itu kekayaan, kepandaian, bahkan kehidupannya adalah milik Tuhan. Karena itu mereka harus mendayagunakan semuanya dengan benar dan penuh rasa tanggung jawab. Pemimpin ibadah segera menyambung pujian itu dengan pertanyaan (3) agar jemaat mengevaluasi sudahkah hidup mereka layak di hadapan-Nya. Segera jemaat menjawab bahwa mereka yang mengakui kepemilikan Allah secara mutlak dalam kehidupan sehari-harilah yang layak datang kepada-Nya (4-6). Orang yang menggunakan tangannya untuk pekerjaan kotor, mendapatkan keuntungan materi dari orang lain, dan menipu untuk keuntungan pribadi sama dengan merampok harta Allah.

Akhirnya penyembahan itu ditutup dengan seruan bersama untuk menyambut Raja Kemuliaan (7-10) sebagai pernyataan bahwa mereka telah berusaha hidup dengan mengakui dan menghargai kedaulatan Allah atas seluruh keberadaan mereka dengan segala kekayaannya.

Renungkan: Betapa indahnya jika hidup kita setiap hari dievaluasi berdasarkan mazmur ini sehingga kita dapat menutup setiap hari dengan pujian bagi kemuliaan-Nya.

Bacaan II, Menanggapi kasih Allah

Relasi manusia dengan Allah terjadi karena kasih Allah yang dianugerahkan pada manusia. Kasih itu membuat kita layak disebut anak-anak Allah (ayat 1). Apa artinya?

Kasih Allah dinyatakan kepada semua orang melalui pengorbanan Yesus (Yoh 3:16). Orang yang percaya kepada Yesus dan menyambut kasih itu, diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12). Tuhan memberi jaminan mengenai hal ini (Rmm 8:16). Selanjutnya, kita harus semakin serupa dengan Yesus. Bukan berarti kita akan kehilangan kepribadian kita, lalu diganti dengan kepribadian dan karakter yang Allah berikan pada kita. Bukan demikian! Kita tetap menjadi diri kita sendiri, tetapi karakter dan natur kita akan disempurnakan ke dalam gambaran kesempurnaan Yesus (ayat 2). Walau demikian, kita masih akan melalui perjalanan panjang. Tidak ada seorang pun dari kita yang mencapai garis finish, sampai kita bertemu dengan Yesus. Pada saat itulah kita benar-benar akan menyerupai Dia.

Mengetahui tujuan kekal kita dan memiliki pengharapan akan mencapai tujuan itu, memotivasi kita untuk memelihara kekudusan hidup. Bila kita tahu bahwa akhir hidup kita adalah berjumpa dengan Yesus, tentu kita ingin memulainya sejak sekarang. Itu membuat kita ingin melayani Dia, ingin hidup menyenangkan Dia. Kita tidak ingin melakukan dosa lagi karena itu berarti tidak menghargai Dia. Di dalam Roma 6, Paulus menjelaskan bahwa ketika orang datang pada Yesus, ketika dosa-dosa diampuni dan anugerah Allah dinyatakan, orang berubah secara radikal-manusia lama mati dan manusia baru hidup. Jadi bila orang mengakui diri sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, tetapi tetap merasa nyaman dalam kebiasaan dosa, itu patut dipertanyakan. Sebab gaya hidup berdosa bertentangan dengan gaya hidup benar, berlaku benar dan mengasihi saudara.

Meski Allah mengasihi kita berdasarkan inisiatif-Nya sendiri, hendaknya kita menyatakan tanggapan kita dengan terus berjalan di dalam kebenaran, dalam setiap aspeknya.

Injil hari ini, Siapakah saya?

Pada akhir tahun ini, baiklah kita mencoba mawas diri. Bila sampai saat ini kita masih diberi hidup dan kesehatan, nyatalah besar anugerah dan sayang-Nya atas kita. Dalam pelayanan Yesus, tidak semua orang yang telah menerima pertolongan-Nya akan menjadi murid atau pengikut-Nya. Pengikut Tuhan memiliki ciri yang jelas karena Ia membuat berbagai tuntutan yang tinggi dan harus terjelma dalam hidup orang yang menanggapi-Nya.

Pola hidup baru. Tuhan ingin para pengikut-Nya bahagia. Itu pasti! Namun kebahagiaan itu dikaitkan dengan mutu manusianya, bukan apa yang dimilikinya. Kebahagiaan diawali pertobatan, yaitu perpalingan hidup dari perbuatan, kebiasaan, budaya salah dan lain sebagainya. Kesadaran akan betapa miskinnya kita di hadapan Allah, menjadi titik tolak dari proses pemuridan selanjutnya, yang kelanjutannya masih perlu kita tapaki.

Semakin dekat Dia semakin kita mirip Dia dan sifat-sifat-Nya. Lemah lembut bukannya keras, lapar dan haus akan kebenaran bukannya kecemaran, murah hati bukannya kikir atau tamak, berhati murni, juru damai. Itulah jalan bahagia, jalan penuh tuntutan harga namun juga jalan hidup sepenuhnya dalam pembentukan Tuhan.

Renungkan: Kita akan bahagia bila mengikuti pembentukan Allah atas diri kita dengan meninggalkan yang lama.

DOA: Bapa surgawi, jutaan orang dalam dunia pada saat ini sedang menanggung penderitaan karena iman-kepercayaan mereka kepada Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah Roh Kudus-Mua untuk menghibur dan memperkuat mereka selagi mereka terus bersandar kepada-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Bacaan dan Renungan Kamis 31 Oktober 2019| Pekan Biasa XXX

Bacaan Liturgi Kamis, 31 Okt 2019,Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Rm 8:31b-39

Tiada makhluk mana pun yang dapat memisahkan kita dari cinta kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus.

8:31b Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? 8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 8:36 Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” 8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. 8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Mazmur 109:21-22,26-27,30-31

Refren: Selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, ya Tuhan.

Mazmur:

  • Engkau, ya ALLAH, Tuhanku, bertindaklah kepadaku demi kebesaran nama-Mu, lepaskanlah aku karena kasih setia-Mu yang murah! Sebab sengsara dan miskinlah aku, dan hatiku terluka dalam diriku.
  • Tolonglah aku, ya TUHAN, Allahku, selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya mereka tahu, bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya TUHAN, yang telah melakukannya.
  • Aku hendak bersyukur nyaring kepada TUHAN dengan mulutku, aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkan dia dari orang-orang yang menghukumnya.

Bait Pengantar Injil:Luk 13:35; Mrk 11:10

Teberkatilah yang datang atas nama Tuhan.Terpujilah Engkau di Surga.

Bacaan Injil:Luk 13:31-35

Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.

13:31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” 13:32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. 13:33 Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. 13:34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 13:35 Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Renungan:

Kasih Kristus kekal

Dengan kalimat-kalimat yang hidup dan menarik, Rasul Paulus menyatakan keyakinan imannya, bahwa tidak ada yang dapat melawan, menggugat, dan memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Justru karena Kristus sudah menghadapi kematian, lalu bangkit dan dipermuliakan maka Dia menjadi Pembela kita di saat kita menghadapi berbagai penderitaan dan penganiayaan (34-36), yang memang harus dihadapi oleh setiap anak Tuhan. Dia ada bersama dan mendampingi kita.
Jadi, apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Justru penderitaan menolong kita untuk menghisabkan diri kita dengan Dia. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Ayat 37-39 mengajak kita melihat semua penderitaan itu dari sudut Kristus yang mengasihi kita, sehingga kita diyakinkan bahwa baik maut maupun hidup, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, dan makhluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.

Maka seorang Kristen hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan memang harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolak oleh Yesus. Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apa pun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kasih-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman di dalam Dia.

Kasih Allah dalam Yesus Kristus membantu kita menghadapi penderitaan. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang menyertai kita senantiasa, juga dalam kesulitan dan duka.

Mazmur, Nantikan keadilan Tuhan

Pemazmur melanjutkan doa permohonannya dengan suatu keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak adil terhadap kefasikan dan akan membela orang yang lemah dan yang diperlakukan tidak adil. Oleh karena itu, sikap pemazmur yang tidak membalas kejahatan melainkan menyerahkan penghakiman ke tangan Tuhan adalah sikap menegakkan keadilan.

Banyak orang sangat menekankan belas kasihan dan cinta kasih, namun tidak mengimbanginya dengan keadilan dan kekudusan Tuhan. Akhirnya ia cenderung menjadi orang yang tidak berjuang untuk keadilan dan hanya “menerima nasib.” Orang-orang demikian biasanya dikuasai oleh trauma di hati yang tidak pernah tuntas diselesaikan. Merupakan suatu hal yang wajar bila hati kita terluka ketika disakiti, namun yang penting adalah bagaimana kita mengatasi dan mengalahkan perasaan kepahitan itu. Menguburnya begitu saja seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi tidak mampu menghilangkan trauma, sebaliknya akan menghalangi diri kita dipakai leluasa oleh Tuhan. Pemazmur sendiri menyelesaikannya dengan memandang kepada kasih setia, kemurahan, dan kebaikan Tuhan. Ia dikuatkan oleh kebergantungannya kepada Tuhan (ayat 26).

Musibah atau kecelakaan yang dialami oleh orang fasik adalah perbuatan tangan Tuhan sendiri, bukanlah pembalasan tangan orang-orang benar (ayat 27). Orang yang mengutuki menurut pandangan dunia seolah berada dalam posisi yang lebih tinggi daripada mereka yang dikutuki, namun sesungguhnya orang itu sedang menimbun aib bagi diri mereka sendiri. Sebaliknya orang-orang benar akan bersukacita karena mereka mengerti secara pribadi dan menikmati serta merespons dengan benar berkat Tuhan. Sukacita inilah yang menggerakkan pemazmur untuk terus memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Keadilan Tuhan melindungi orang benar dan membinasakan orang fasik.

Injil hari ini, Waktu penyelamatan yang sempit.

“Orang modern terkenal dengan kesibukan dan jadwal yang padat. Sampai-sampai mereka tidak memiliki waktu untuk menunda pekerjaan. Akan tetapi, untuk hal rohani, justru kebalikannya”. Apakah pernyataan ini dapat dibenarkan? Inilah tantangan buat kita, orang-orang Kristen yang hidup pada zaman modern sekarang ini. Kesempatan untuk mendapatkan keselamatan tidak selalu ada, dan kita juga tidak mengetahui kapan kesempatan itu berakhir.

Atas pertanyaan mengenai jumlah orang yang diselamatkan, Yesus menjawab justru dengan menyingkapkan urgensi waktu. Pintu sempit menyebabkan orang harus berjuang dan berdesak-desakan dengan orang lain untuk memasukinya. Jangan menunda-nunda mengambil keputusan.
Sikap menunda orang Yahudi disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka sudah pasti akan masuk Kerajaan Allah, sehingga tidak merasa urgensinya untuk mengambil keputusan. Padahal, Yesus berkata, “Aku tidak tahu dari mana kamu datang.” Mereka tidak dikenal Yesus oleh karena mereka tidak memilih untuk mengenal Dia. Oleh sebab itu banyak kejutan akan terjadi. Orang yang menyangka akan masuk ke Kerajaan Allah justru ditolak, sedangkan orang-orang yang mereka cap kafir tetapi memiliki Yesus akan menikmatinya bersama dengan para orang saleh Perjanjian Lama (ayat 28-30).

Yesus sendiri menyadari urgensi di dalam pelayanan-Nya. Ia berkata, hari ini dan esok adalah untuk melayani, karena hari ketiga Dia harus mati untuk menyelamatkan umat manusia (ayat 32-33). Yesus menangisi Yerusalem yang menolak untuk menerima dan percaya kepada-Nya. Maka mereka hanya akan menyaksikan peristiwa salib tanpa dapat menikmati khasiatnya.

DOA: Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Amin (Mzm 57:2; 63:9). (Lucas Margono)

31 Oktober 2019
Luk 13:31-35
Tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.

Bacaan dan Renungan Rabu 30 Oktober 2019| Pekan Biasa XXX

Bacaan Liturgi Rabu, 30 Oktober 2019|Pekan Biasa XXX

Bacaan I:Rom 8:26-30

Bagi mereka yang mengasihi Tuhan segala sesuatu mendatangkan kebaikan.

Saudara-saudara,Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa.Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.Dan Allah yang menyelami hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah,berdoa untuk orang-orang kudus.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.Sebab semua orang yang dipilih Allah sejak semula, mereka itu juga ditentukan sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan Allah dari semula,mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.Dan yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Mzm 13:4-6

Ref:Aku percaya akan kasih setia-Mu, ya Tuhan.

  • Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya Tuhan, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, supaya musuhku jangan berkata, “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.
  • Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan,karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Bait Pengantar Injil:2Tes 2:14

Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.

Bacaan Injil:Luk 13:22-30

Mereka datang dari timur dan barat, dan akan duduk makan di dalam kerajaan Allah.

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Maka bertanyalah orang kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berusahalah masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu, ‘banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.Jika tuan rumah telah bangkit dan menutup pintu, kalian akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata,’Tuan, bukakan pintu bagi kami.’Tetapi dia akan berkata, ‘Aku tidak tahu dari mana kalian datang.’Maka kalian akan berkata,’Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.’

Tetapi ia akan berkata,’Aku tidak tahu dari mana kalian datang.Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kalian semua yang melakukan kejahatan!’Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi,apabila kalian melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi ada di dalam Kerajaan Allah, tetapi kalian sendiri dicampakkan ke luar.Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.Ingatlah, ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan ada orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir.”

Renungan

Injil Hari ini, Waktu penyelamatan yang sempit.

“Orang modern terkenal dengan kesibukan dan jadwal yang padat. Sampai-sampai mereka tidak memiliki waktu untuk menunda pekerjaan. Akan tetapi, untuk hal rohani, justru kebalikannya”. Apakah pernyataan ini dapat dibenarkan? Inilah tantangan buat kita, orang-orang Kristen yang hidup pada zaman modern sekarang ini. Kesempatan untuk mendapatkan keselamatan tidak selalu ada, dan kita juga tidak mengetahui kapan kesempatan itu berakhir.

Atas pertanyaan mengenai jumlah orang yang diselamatkan, Yesus menjawab justru dengan menyingkapkan urgensi waktu. Pintu sempit menyebabkan orang harus berjuang dan berdesak-desakan dengan orang lain untuk memasukinya. Jangan menunda-nunda mengambil keputusan.

Sikap menunda orang Yahudi disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka sudah pasti akan masuk Kerajaan Allah, sehingga tidak merasa tergesa-gesa untuk mengambil keputusan. Padahal, Yesus berkata, “Aku tidak tahu dari mana kamu datang.” Mereka tidak dikenal Yesus oleh karena mereka tidak memilih untuk mengenal Dia. Oleh sebab itu banyak kejutan akan terjadi. Orang yang menyangka akan masuk ke Kerajaan Allah justru ditolak, sedangkan orang-orang yang mereka cap kafir tetapi memiliki Yesus akan menikmatinya bersama dengan para orang saleh Perjanjian Lama (ayat 28-30).

Untuk dilakukan: Bila Anda belum atau tidak merasa perlu mengambil keputusan mengenai keselamatan Anda, sekaranglah saat yang tepat.

DOA: Tuhan Yesus, kami berdoa untuk berakhirnya perbudakan di muka bumi ini, dalam segala bentuknya. Hiburlah dan kuatkanlah semua orang yang masih menderita di bawah kekejaman perbudakan. Semoga lewat sentuhan Roh Kudus-Mu, para pemilik dan pedagang budak disadarkan tentang dosa-dosa mereka dan mereka mau mendengarkan Kabar Baik-Mu. Amin. (Lucas M.)

Luk 13:22-30 Mereka datang dari timur dan barat, dan akan duduk makan di dalam kerajaan Allah.
Luk 13:22-30 Mereka datang dari timur dan barat, dan akan duduk makan di dalam kerajaan Allah.

Bacaan dan Renungan Selasa 29 Oktober 2019|Pekan Biasa XXX

Bacaan Liturgi Selasa, 29 Oktober  2019| Pekan Biasa XXX

Bacaan I:Rom 8:18-25

Seluruh mahluk dengan rindu menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

Saudara-saudara, aku yakin,penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan,bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya;tetapi penaklukan ini dalam pengharapan,sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, dan masuk ke dalam kemerdekaan mulian anak-anak Allah.

Kita tahu, sampai sekarang ini seluruh makhluk mengeluh dan merasa sakit bersalin; dan bukan hanya mahluk-mahluk itu saja! Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai kurnia sulung dari Allah,kita pun mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak,yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan lagi pengharapan.Sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang sudah dilihatnya?
Tetapi kalau kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat,maka kita akan menantikannya dengan tekun.

Mazmur Tanggapan:Mzm 126:1-6

Ref:Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita.

*Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion,kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria,dan lidah kita dengan sorak-sorai.

  • Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa,”Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita,maka kita bersukacita.
  • Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan,seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata,akan menuai dengan bersorak-sorai.
  • Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bait Pengantar Injil:Mat 11:25

Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Bacaan Injil:Luk 13:18-21

Biji itu tumbuh dan menjadi pohon.

Ketika mengajar di salah satu rumah ibadat, Yesus bersabda, “Kerajaan Allah itu seumpama apa? Dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon,dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya.”Dan Yesus berkata lagi,”Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”

Renungan:

Penderitaan orang Kristen.

Boleh dikata tiap hari kita mendengar berbagai berita tentang penderitaan yang dialami orang di dunia ini. Orang Kristen sendiri menderitakah? Ya. Seperti halnya Kristus sudah menderita, kita pun ikut menderita bersama-Nya ank arena Dia (ayat 17). Karena kita masih hidup dalam dua zaman, antara zaman lama dan zaman baru, kita sedang berjalan dari penderitaan menuju kemuliaan (ayat 18). Penderitaan itu dialami baik oleh anak-anak Allah maupun segenap isi ciptaan (ayat 21-22). Namun penderitaan yang sedang kita alami ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima kelak (ayat 18).

Sikap orang Kristen dalam penderitaan. Orang Kristen tidak perlu hancur di dalam penderitaan. Ada beberapa prinsip yang memungkinkan kita menang. Pertama, kita telah menerima karunia sulung Roh yang tidak saja menguatkan kita tetapi juga menjamin bahwa kita akan tiba dalam kemuliaan kelak (ayat 23). Kedua, kita dapat berkeluh kesah kepada Allah tentang tubuh fana kita dan sifat daging dosa kita (ayat 23b). Ketiga, dalam iman dan harap kita menatap ke Hari Tuhan (ayat 24). Keempat, pengharapan itu memberi kita ketekunan, kemenangan dan keselamatan di dalam penderitaan kita.

Kristus yang telah menderita hadir dalam penderitaan kita melalui Roh-Nya untuk mengubah keluh kesah kita menjadi nyanyian syukur.

Mazmur, Perbuatan Allah masa lampau dan kini.

Setelah menghadapi pergumulan panjang, Tuhan memulihkan keadaan. Kemungkinan saat itu Tuhan membawa mereka keluar dari pembuangan di Babilonia. Mimpi menjadi kenyataan! Mereka keluar dari pengalaman pahit. Hati mereka diliputi sukacita dan sorak kegirangan. Ingatan yang kuat akan pertolongan Tuhan di masa lampau mendorong mereka untuk kembali melanjutkan iman percaya kepada Tuhan. Melalui pengharapan itu pula, umat menemukan jaminan akan kebebasan dan keselamatan mereka. Sekalipun Kristen menghadapi pergumulan karena penindasan dan pemasungan hak untuk beribadah, beriman, dan berkarya; tetap ada anugerah Allah yang menguatkan umat untuk berharap dan menikmati kemenangan.
Allah hidup dan dinamis. Allah tidak pernah pasif atau tinggal diam melihat umat-Nya menderita. Seringkali sebelum umat berseru memohon belas kasihan, penyertaan dan pertolongan telah dinyatakan-Nya secara ajaib (ayat 1). Kapan dan bagaimana Allah bertindak tidak semata-mata tergantung pada permohonan dan kebutuhan manusia, karena Ia tahu saat dan cara yang tepat menyatakan pertolongan-Nya. Tetaplah berdoa dan berhentilah untuk “mengatur” saat dan cara Allah bekerja, karena Ia tahu yang terbaik bagi kita.

Injil hari ini, Kecil itu indah!

Demikian judul sebuah buku dan menjadi motto banyak orang. Benih tanaman itu begitu kecil tetapi begitu bertemu dengan tanah yang subur jadilah tunas kecil, tumbuh berkembang dengan pesat tak terbendung, dan dalam waktu beberapa tahun sudah menjadi pohon yang besar dan siap menghasilkan buah. Demikian juga terjadi dalam benih-benih makhluk hidup hewan dan manusia.Itulah karya agung Allah Pencipta. Maka marilah kita perhatikan apa-apa yang kecil. Kalau kita mawas diri dan cermat, bukankah yang kita butuhkan di dalam hidup sehari-hari juga yang kecil-kecil bukan yang besar-besar? Bercermin dari bacaan Injil hari ini saya ajukan ajakan (contoh) sebagai berikut:

1. Meskipun sebagai orang beragama, beriman yang taat dan setia, alias menjadi orang baik sendirian saja, jangan takut: percayalah kebaikan anda akan tumbuh berkembang pada diri anda serta meluas pada sesama yang anda jumpai setiap hari. Demikian juga jika menjadi ‘minoritas’ (suku, ras atau agama) tidak perlu menjadi takut atau minder asalkan anda berbudi pekerti luhur dan senantiasa bertindak benar. Berjalan atau melangkah bersama Allah kapanpun dan dimanapun tidak ada yang perlu ditakuti.

2. Rasanya tidak lengkap jika saya tidak mengangkat mereka yang sering disebut kecil dalam percaturan hidup bersama antara lain para pembantu rumah tangga atau buruh-buruh. Pada saat ini ketika para pembantu rumah tangga (PRT) minta cuti untuk mudik, kiranya baru dirasakan betapa pentingnya ‘yang kecil’ atau pembantu rumah tangga tersebut. Maka baiklah kita tidak hanya melihat pentingnya para PRT, tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Pentingnya bukan karena masalah pekerjaan, melainkan hemat saya Allah yang meraja atau Kerajaan Allah hadir dalam diri PRT yang baik. Bukankah PRT yang baik berarti jujur, cekatan, rajin, disiplin, tidak pernah marah dst.dan jika keutamaan-keutamaan tersebut tidak ada padanya ia langsung di PHK, tidak layak menjadi PRT?

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Rm 8:22). Tumbuh dan berkembang semakin dirajai oleh Allah memang butuh perjuangan dan pengorbanan, sebagaimana dialami atau dihayati oleh para ibu yang akan bersalin/melahirkan anak. Perjuangan atau pengorbanan tersebut tidak akan sia-sia karena sekaligus disertai oleh pengharapan yang kuat, maka dalam berjuang dan berkorban juga disertai atau dijiwai oleh kegairahan serta penyerahan diri total. Keutamaan-keutamaan macam apa saja yang dialami atau dihayati oleh para ibu yang sedang bersalin: para ibu kami harapkan mensharingkan pengalaman tersebut ke suami atau sesama serta anak-anak dst. Keutamaan-keutamaan yang dialami atau dihayati oleh ibu yang sedang bersalin dibutuhkan bagi siapapun yang menghendaki untuk tumbuh-berkembang semakin dikuasai atau dirajai oleh Allah, atau semakin suci, baik, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama. Keutamaan-keutamaan tersebut juga dibutuhkan oleh siapapun juga sampai mati/tua agar orang yang bersangkutan sungguh bahagia dan sejahtera. Kutipan surat Paulus di atas kiranya senada dengan peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” (= Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian). Salah satu keutamaan baik apa yang berhubungan dengan hamil dan persalinan maupun berakit dan berenang adalah ‘dengan segala kerendahan hati dan kesabaran mengikuti proses’. Maka marilah kita perdalam dan kembangkan keutamaan berproses ini dalam hidup sehari-hari, dan jauhkan ‘budaya instant’ yang tidak sehat, misalnya cepat-cepat kaya dengan korupsi, cepat-cepat menikmati hubungan seksual padahal belum suami-isteri, cepat-cepat lulus tetapi tidak pernah belajar melainkan dengan membeli nilai atau menyontek dst.Pengalaman sakit bersalin, berjuang dan berkorban (dalam bekerja, belajar dst) dengan penuh gairah dan pengharapan kiranya tidak jauh dari misteri wafat dan kebangkitan Yesus (salib= penyerahan diri kepada dunia dan Bapa).

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mzm 126:5-6)

DOA: Bapa surgawi. Kuduslah Engkau, ya Allah yang Mahabaik. Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini. Aku menaruh kepercayaanku pada tangan-tangan kasih-Mu. Aku percaya sepenuhnya akan janji-janji-Mu. Tolonglah aku agar dapat menunggu dengan sabar pemenuhan dari segala hal baik dari-Mu yang aku belum melihatnya. Amin. (Lucas Margono)

Luk 13:18-21 Biji itu tumbuh dan menjadi pohon.
Luk 13:18-21 Biji itu tumbuh dan menjadi pohon.