Month: February 2020

Bacaan dan Renungan Senin 02 Maret 2020

Kalender Liturgi Senin, 02 Maret  2020 | Prapaskah I

Bacaan I :  Imamat 19:1-2.11-18

“Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran.” 

19:1 TUHAN berfirman kepada Musa: 19:2 “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. 19:11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. 19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. 19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. 19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. 19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN. 19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. 19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Mazmur 19:8.9.10.15; R: Yoh. 6:64b, do = f, 2/4, PS 853

Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.

  • Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
  • Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati, perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
  • Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
  • Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku dan berkenan akan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batu dan penebusku.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965 

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Waktu ini adalah waktu perkenanan, hari ini adalah hari penyelamatan!

Bacaan Injil : Matius 25:31-46

“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 25:39  Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Renungan :

Perikop bacaan I ini merupakan bagian dari “hukum kesucian” pada Imamat 17-26. Hukum kesucian berisi perintah-perintah Tuhan kepada umat Israel untuk menjaga kesucian dalam kehidupan sehari-hari. Ayat kunci hukum kesucian ada pada ayat 2 “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.” Bahkan dapat dikatakan, bahwa ayat ini merupakan kunci untuk memahami seluruh kitab Imamat.

Sering kali ayat kunci ini ditafsirkan demikian: “Manusia diharuskan dan diperintahkan untuk hidup kudus karena Tuhan itu kudus. Manusia diharuskan (tentu dengan usaha sendiri) untuk menguduskan diri, untuk sama dengan Allah yang kudus.” Jika tafsiran ini benar, maka tentu saja ini merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Sebenarnya, kata “Kuduslah kamu” dalam bahasa Ibrani bukanlah sebuah kalimat perintah melainkan sebuah kalimat pernyataan. Maka harus ditafsirkan demikian: Tuhan, Allah umat Israel, itu kudus. Oleh karena Allah itu kudus, maka umat-Nya juga akan menjadi kudus, atau lebih tepatnya, umat disertai oleh Tuhan untuk berproses menjadi kudus. Proses menjadi kudus ini bukanlah usaha manusia sendiri, melainkan anugerah Tuhan. Proses ini merupakan sebuah proses “pembaruan budi” seperti yang diberitakan Paulus di Roma 12:1-2.

Karena umat Tuhan disertai Tuhan yang kudus, maka umat harus mau diproses menjadi kudus dalam segala aspek kehidupan. Pertama, kudus dalam relasi dengan Tuhan(3-8). Kudus dalam aspek ini berarti melakukan apa yang menyenangkan Tuhan. Kedua, kudus dalam relasi dengan sesama (9-18). Kudus dalam aspek ini berarti melakukan kebaikan untuk sesama sesuai dengan karakter Tuhan. Penegasan untuk kudus ini terlihat dari pengulangan frasa, “Akulah Tuhan…” (3,4,10,12,14,16,18).

Mazmur, Indahnya berintereaksi dengan firman-Nya.

Allah telah menyatakan kemuliaan dan pekerjaan tangan- Nya melalui ciptaan-Nya (2-7). Melalui alam semesta ini manusia sebetulnya dapat mengenal hikmat, kekuatan, serta kebaikan Allah. Walaupun alam semesta tidak dikaruniai kemampuan untuk berbicara (4), kebisuan mereka mampu menceritakan kemuliaan Allah sehingga didengar oleh siapa pun, dimana pun, serta kapan pun.

Penyataan Allah tidak berhenti sampai di sini sebab penyataan umum melalui alam semesta tidak mungkin memampukan manusia bertahan dalam kehidupan ini dan memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya (15). Karena itu penyataan umum ini diperkaya dengan penyataan khusus Allah yaitu firman-Nya (8-11). Melaluinya Allah menjalin hubungan dengan manusia secara langsung dan menyentuh keberadaan manusia hingga ke pusat kehendaknya yaitu mulai dari akal budi, hati, hingga jiwa. Sentuhan yang dilakukan oleh firman-Nya adalah sentuhan secara pribadi dan bekerja di dalam diri manusia. Manusia yang tersentuh oleh firman-Nya menjadi manusia yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Apa pun yang terjadi jiwanya tetap segar dan hatinya tetap bersuka. Kesegaran dan kesukaan itu akan memancar keluar dari matanya sehingga orang lain dapat menyaksikannya (9). Ia akan menyadari dosa- dosanya, dan mengerti bagaimana seharusnya ia hidup (12), serta ketidakmampuannya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya (13). Daud menyadari semuanya ini dan dituntun untuk memohon kepada Allah agar dianugerahi kemampuan dan kesempatan untuk hidup berkenan kepada- Nya (14-15).

Jika alam semesta bekerja dalam kebisuannya, firman itu akan bekerja dalam intereaksinya dengan manusia. Karena itu manusia harus mempelajari dan memegang teguh firman-Nya seperti yang diteladankan oleh Daud (12-13).

Renungkan: Betapa indah, sempurna, teguh, tepat, murni, benar dan lebih bernilainya firman Allah dari segala kemuliaan harta dunia, (11). Karena itu jangan biarkan firman itu diam dalam kebisuan karena keengganan kita untuk berintereaksi dengannya. Keindahan dan kekuatannya akan bekerja dalam diri kita jika kita mau menyediakan waktu secara khusus untuk berintereaksi dengannya.

Injil hari ini, Bukan iman teori tetapi iman kenyataan

Bagian ini mengakhiri rangkaian nubuat dan ajaran Tuhan Yesus tentang kedatangan-Nya dan penghakiman akhir kelak. Beberapa hal penting Ia bentangkan. Pertama, seperti halnya Injil harus diberitakan ke sekalian bangsa, hari penghakiman kelak pun meliputi semua bangsa (ayat 32). Kedua, seperti halnya Injil harus ditanggapi oleh masing-masing demikian pun penghakiman itu akan berlaku untuk masing-masing orang (ayat 33). Ketiga, bila dalam warta Injil Yesus datang sebagai Juruselamat dalam kerendahan-Nya, kelak Ia akan datang sebagai Raja dengan segenap kemuliaan-Nya dan semua malaikat-Nya (ayat 31). Ketika itu, keputusan akhir nasib kekal tiap orang akan diambil (ayat 34,41).

Atas dasar apakah keputusan kekal itu Tuhan jatuhkan? Bagian ini mengejutkan sekali. Tradisi Protestan mengajarkan bahwa kita selamat bukan karena perbuatan, tetapi karena iman kepada anugerah Allah. Hanya apabila orang menyambut Yesus dan karya penyelamatan-Nya, orang bersangkutan akan selamat. Namun, bagian ini kini seolah mengajarkan hal berbeda. Semua orang kelak akan dihakimi atas dasar perbuatan baik mereka. Mereka yang memiliki perbuatan kasih nyata kepada sesama, masuk ke dalam kebahagiaan kekal (ayat 35-40). Sebaliknya mereka yang tak berbuat kasih dibuang ke dalam siksaan kekal (ayat 41-46).

Karena itu jangan sekali-kali mengabaikan perbuatan nyata demi menekankan prinsip sola gratia. Namun, jangan juga cepat menyimpulkan bahwa keselamatan adalah hasil amal. Yang Tuhan nilai layak bersama Dia ialah mereka yang melakukan perbuatan berjaga-jaga, mengembangkan talenta, dalam keadaan melayani, dst. Semua perbuatan itu menurut komentar Tuhan sendiri adalah perbuatan “untuk Kristus.” Hasil dari menerima penyelamatan dari Kristus adalah memiliki kasih Kristus dan memiliki kepekaan Kristus.

Renungkan: Hasil dari diselamatkan adalah Kristus hidup dan berkarya dalam hidup orang. Bila karya nyata itu tidak ada, maka batallah pengakuan imannya tentang Kristus.

DOA:

Ya Tuhan, berilah aku hati yang peka terhadap sesama yang membutuhkan bantuanku, dan mampukanlah aku memandang wajah putra-Mu yang hadir dalam diri mereka. Amin. (Lucas Margono)

Bacaan dan Renungan Minggu 01 Maret 2020| Minggu PraPaskah-1

Bacaan Liturgi Minggu 01 Maret 2020, Minggu PraPaskah-1

Bacaan I : Kejadian 2:7-9.3:1-7

“Ciptaan pertama dan dosa asal.”

2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. 2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. 2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” 3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” 3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. 3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Mazmur 51:3-4.5-6a.12-13.14-17; Ul: 3a, do = bes, 4/4, PS 812

Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.

  • Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.
  • Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
  • Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari pada-Ku!
  • Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu.

Bacaan II : Roma 5:12-19

“Di mana pelanggaran bertambah banyak, di sana karunia menjadi berlimpah-limpah.”

5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. 5:13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. 5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. 5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. 5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Ayat. (Mat 4:4b)
Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah.

Bacaan Injil : Matius 4:1-11

“Yesus berpuasa selama empat puluh hari, dan dicobai Iblis.”

4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. 4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. 4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” 4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” 4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, 4:6 lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” 4:7 Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, 4:9 dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” 4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Renungan :

Pada hari Minggu pertama masa Prapaskah ini kita semua merenungkan tentang godaan dari iblis. Pada malam paskah kita semua akan membaharui janji baptis dengan mengatakan bahwa kita melawan iblis dan segala kuasa kejahatan di dunia ini. Iblis sedang bekerja di dunia ini. St. Petrus berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Pt 5:8). Orang-orang yang selalu tergoda dan jatuh dalam dosa berasal dari iblis sebab iblis berbuat dosa dari mulanya (1Yoh 3:8).

Di dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian kita medengar kisah manusia pertama jatuh di dalam dosa karena godaan iblis. Tuhan pada mulanya memiliki rencana yang ilahi dan baik bagi manusia. Rencana Allah yang baik itu ditunjukkan dengan membentuk manusia dari debu tanah (Adamah) dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2: 7). Manusia memiliki posisi yang agung dalam pikiran Tuhan. Tuhan tidak hanya menciptakannya dan selesai. Ia juga menciptakan taman eden, aneka pepohonan yang menghasilkan buah-buahan. Pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan jahat ditempatkan Tuhan di pusat taman Eden. Tuhan melarang manusia pertama untuk tidak memakan buahnya. Iblis dalam wujud ular menggoda Hawa untuk mengambil dan memakan buah pohon itu. Ini adalah godaan soal makanan. Manusia pertama jatuh dalam dosa karena mereka lebih taat kepada iblis daripada kepada Tuhan. Mereka menyalahgunakan kebebasan sebagai anak Allah di hadirat Tuhan. Pada akhirnya mereka juga menyadari kehinaan diri di hadirat Tuhan.

Dosa manusia pertama memiliki dampak di dalam hidup kita saat ini. Setiap saat selalu ada godaan yang datang silih berganti. Ketika hendak melakukan kebaikan selalu ada kejahatan yang melawannya. Kematian dan kerja keras untuk bertahan hidup juga merupakan dampak dari dosa manusia pertama. Namun Tuhan selalu memiliki rencana untuk menyelamatkan manusia. Manusia pertama tidak taat, ia jatuh dalam dosa dan sudah berlalu. Kasih dan kemurahan Tuhan tidak akan berlalu.

Mazmur, Pertobatan Sejati.

Dampak dosa adalah kehancuran yang luar biasa bagi semesta kehidupan. Wajah murka Allah menerpa kita dalam ketidakbahagiaan, derita lahir batin yang berpuncak pada kematian kekal. Sedangkan, wajah kasih Allah yang sebenarnya menjamin hidup tenteram seolah asing, tidak dikenal, sebab pikiran kita terselubung dosa. Hanya dengan hati yang hancur, dan penyesalan dosa, kesempatan memperoleh berkat pengampunan Allah terbuka kembali (ayat 19).

Roh Tuhan Berkarya. Siapakah manusia sehingga kasih dan kesetiaannya dapat bertara dengan Allah? Kesetiaan dan ketaatan manusia selalu dibayangi oleh kerentanan terhadap godaan dosa. Namun bukan tidak mungkin perjanjian damai sejahtera Allah dengan manusia terjalin sepanjang masa. Sekali lagi kasih Allah dinyatakan. Ia memberikan Roh-Nya yang kudus (ayat 12-13); sehingga kita beroleh kekuatan, ketabahan, ketekunan, penghiburan dan pembaharuan hidup untuk setia kepada Allah. Dosa membuat hidup penuh tekanan dan kesedihan. Sebaliknya, kesungguhan untuk bertobat dan keterbukaan hati menyambut uluran tangan Roh Allah, membangkitkan harapan dan kegirangan hidup.

Renungkan: Kristus menanggung kehancuran di salib, agar setiap kehancuran hidup kita dapat disembuhkan-Nya.

Bacaan II, Ikut Adam atau Kristus?

Paulus membandingkan Adam dan Kristus sebagai wakil dari dua kelompok manusia. Adam adalah manusia pertama. Ia jatuh ke dalam dosa karena melanggar firman Allah. Pelanggaran Adam ternyata bukan hanya berpengaruh pada dirinya sendiri. Persekutuan dengan Adam mengakibatkan seluruh manusia jadi terkena dampaknya (ayat 12, band. 1Kor 15:22). Semua manusia jadi terlahir sebagai orang berdosa karena ketidaktaatan Adam. Lebih dari itu, sebagai hukuman dosa, semua manusia harus binasa (ayat 17). Dosa Adam bukan sekadar sebuah contoh buruk yang jelas tidak boleh ditiru. Dosa Adam merusak kemanusiaan secara keseluruhan.

Yesus Kristus hidup dalam ketaatan kepada Allah. Meski kehendak Allah begitu berat untuk dilakukan, Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam hidup-Nya. Bahkan meski itu harus mengorbankan nyawa-Nya. Namun dampaknya ternyata jauh lebih luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).

Persekutuan kita dengan Adam menjadikan kita sebagai orang berdosa yang akan mengakhiri hidup dalam kebinasaan karena murka Allah. Namun kita bisa melakukan sesuatu agar tidak terikat terus dalam persekutuan dengan Adam. Kita dapat memutuskan untuk terikat dalam persekutuan dengan Kristus dan menikmati kelahiran baru di dalam Dia. Persekutuan yang baru ini memungkinkan kita memiliki keselamatan dan hidup kekal karena kasih karunia Kristus yang tercurah atas kita. Kelahiran baru menandai pemutusan hubungan kita dengan dosa dan kuasanya, serta mengawali hidup baru di dalam Kristus untuk menikmati kekekalan sebagai anak Allah. Mungkin kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, tapi kita tidak lagi terikat di dalamnya. Kehadiran Kristus yang kita undang menguasai hati kita akan menolong kita untuk menang.

St. Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa dosa telah masuk ke dalam dunia lantaran satu orang dan karena dosa itu maka masuklah juga maut ke dalamnya. Maut juga menjalar karena semua orang berbuat dosa. Kasih karunia Allah sangat besar dan melampaui segalanya. Berkaitan dengan hal ini, St. Paulus mengatakan: “Sebab jika karena pelanggaran satu orang itu semua orang telah jatuh dalam kuasa maut, jauh lebih besarlah kasih karunia dan anugerah Allah, yang dilimpahkanNya atas semua orang lantaran satu orang yaitu Yesus Kristus. Kasih karunia Allah jauh lebih besar daripada dosa satu orang” (Rm 5:15-16). Ketaatan Kristus membenarkan atau menyelamatkan kita semua.

Injil hari ini, Strategi menghadapi tawaran Iblis.

Jika Anda ditawari untuk memiliki segalanya di dunia ini, tetapi kehilangan nyawa. Apakah Anda bersedia?

Tuhan Yesus pun mengalami tawaran yang berasal dari Iblis. Tawaran Iblis ditujukan kepada Yesus dengan tujuan menggagalkan misi Yesus untuk mengorbankan diri-Nya bagi penebusan dosa manusia. Iblis memakai kesempatan pada saat Yesus lapar setelah berpuasa untuk mengajukan tawarannya (ayat 2). Iblis mengira jika Yesus lapar maka Ia akan melakukan tindakan yang Iblis harapkan, yang dapat dimanfaatkan Iblis sebagai “pintu” penaklukan Iblis terhadap diri Yesus. Oleh karena itu, Iblis melancarkan tiga kali penawaran yang dibalut tampilan menyenangkan.

Pertama, penawaran kebutuhan jasmani yang masuk melalui kebutuhan hidup Yesus (ayat 3). Iblis berkata: “Jikalau Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu itu menjadi roti” (Mat 4:3). Godaan ini berhubungan dengan hak milik yang dimiliki. Orang bisa tergoda dengan harta benda dan menjadi manusia gila harta. Godaan ini sangat actual dalam hidup bermasyarakat tertutama dalam kasus korupsi, pencucian uang dan lain sebagainya. Orang yang gila harta dapat menghancurkan keluarga!

Kedua godaan yang bersifat Kedagingan atau kekuasaan. Iblis berkata kepada Yesus: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah dirimu ke bawah, sebab ada tertulis: “Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya supaya kakimu tidak terantuk pada batu” (Mat 4: 6). Godaan ini mengatakan tentang sikap kita untuk menempatkan diri kita sebagai pusat segalanya. St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa sebab dari semua godaan adalah akibat dari segala kecenderungan manusiawi (concupiscence). Misalnya kenikmatan daging, asal muasal dari kerakuasan untuk berkuasa.

Ketiga, kata Iblis “Semua akan kuberikan kepadaMu, jika engkau sujud menyembah aku” (Mat 4:9). Godaan ini menunjukkan sikap kerakusan atau gila untuk berkuasa. Sikap ingin menguasai Tuhan dan sesama. Karena mau berkuasa orang dapat melakukan cara apa saja, dengan menyogok atau memberi uang tutup mulut, melakukan “serangan fajar” dan money politic, gelar-gelar palsu, intimidasi untuk pihak yang lebih lemah. Semua cara kotor dapat dilakukan untuk memperoleh kekuasaan.

Ketiga penawaran Iblis itu dipatahkan Yesus dengan mengutip firman Tuhan yang dilandasi atas kebergantungan mutlak kepada Bapa-Nya (ayat 4, 7, 10). Jawaban Yesus kepada tiga penawaran Iblis itu memiliki tingkatan yang berbeda yaitu ay. 4 mengutip firman Tuhan; ay. 7 mengutip firman Tuhan sekaligus dengan tegas menyatakan identitas diri-Nya; ay. 10 dengan firman Tuhan menghardik Iblis dengan keras untuk menjauh dari-Nya!

Setiap hari kita dihadapkan berbagai tawaran yang terlihat menarik, tetapi ternyata menyesatkan. Tawaran seperti ini sulit ditanggulangi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri dan melupakan Tuhan yang sanggup memberikan jalan keluar (ayat 1Kor. 10:13). Biasanya tawaran ini diselubungi atau pun disamarkan dalam bentuk yang indah, ajaran filsafat duniawi, gaya hidup bebas, kesempatan yang menarik, kebutuhan hidup, kegiatan rohani, dll. Apakah setiap tawaran harus ditolak? Tergantung tujuannya. Apakah sesuai dengan firman Tuhan? Bagaimana menyiasatinya? Mengenali tujuan setiap tawaran, lalu memakai kebenaran firman Tuhan dengan disertai sikap tegas menolaknya.

Yesus dalam bacaan Injil berhasil mengatasi godaan-godaan ini. Ia mengalahkan iblis sehingga iblis meninggalkanNya dan para malaikat datang untuk melayaniNya. Kita pun memiliki banyak godaan tetapi ketika terlalu mengandalkan diri maka mudah sekali iblis menguasai diri kita. Mari kita kembali kepada Tuhan, biarlah diri kita berada dalam kuasa Yesus untuk mengalahkan iblis. Jangan pernah menyerah terhadap iblis karena Yesuslah yang lebih berkuasa. Ia menyelamatkan kita satu kali untuk selamanya.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengalahkan segala cobaan di padang gurun. Semoga dalam masa prapaskah ini kami juga berhasil mengalahkan segala godaan akan harta, kuasa dan kenikmatan daging. Amen. (Lucas Margono)

Bacaan dan Renungan Sabtu 29 Februari 2020| Sabtu Sesudah Rabu Abu

Kalender Liturgi Sabtu 29 Februari  2020

Bacaan I : Yesaya 58:9b-14

“Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri, maka terangmu akan terbit dalam gelap.”

58:9b Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. 58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.   

Mazmur 86:1-2.3-4.5-6

Ref. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.

  • Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, jawablah aku, sebab sengsara dan miskinlah aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi; selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
  • Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
  • Sebab, ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni; kasih setia-Mu berlimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yeh 33:11)
Aku tidak berkenan akan kematian orang fasik, melainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.

Bacaan Injil : Lukas 5:27-32

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.”

5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” 5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Renungan :

Yesaya mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, melainkan ‘memuaskan hati orang yang tertindas’. Menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan bentuk penindasan yang halus. “Duduk di kursi tinggi sambil menggoyangkan kaki memang enak dan nikmat, namun kasihan mereka yang kena sepakan goyangan   kaki’, demikian kata sebuah pepatah.

Para petinggi atau atasan sering berusaha menunjukkan kewibawaannya dengan menunjukkan kesalahan dan kekurangan bawahan atau anggotanya. Lama kelamaan tindakan menyalahkan orang lain ini menjadi  kebiasaan dan semakin hebat. Orang yang bersikap mental demikian pasti akan mengalami kekeringan atau frustrasi, serba tidak puas. Kita semua mendambakan kepuasan hati dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka mari kita memuaskan hati orang tertindas. Kita dengan rendah hati mendekati dan sapa saudara-saudari kita itu untuk memperoleh apa yang mereka dambakan, dan kemudian dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita tanggapi dambaan hati mereka. Semoga pepatah “jatuh tertimpa tangga” tidak menjadi kenyataan dalam diri saudara-saudari kita yang tertindas: hidup miskin, berkekurangan serta tertindas selalu dilecehkan  dan diolok-olok atau bahkan digusur dari tempat mereka berteduh dengan kekerasan.

Mazmur, Aku sengsara miskin, namun Allah besar ajaib.

Tidak jelas penderitaan macam apa dan sebab apa konteks dari mazmur ini. Yang jelas di dalam jiwanya ia merasa sengsara dan miskin (ayat 2). Jiwanya tertekan mungkin karena dosa dan hukuman yang dideritanya. Ia minta diselamatkan (ayat 3), mengangkat jiwanya kepada Tuhan (ayat 4), memohon Allah membuatnya bersukacita kembali dan mengampuni dia (ayat 5). Permohonan itu ditujukan kepada Tuhan yang dikenalnya (ayat 3), bukan kepada allah lain. Hubungan pemazmur dengan Tuhan sangat akrab dan mendalam. Dia memohon sepanjang hari, terus menerus, tiada henti (bdk. Luk 18:1-8).

Bulatkan hatiku. Hati adalah akar dari semua masalah manusia. Di dalam hati itulah terletak sikap terhadap Tuhan dan pertimbangan bagaimana kita ingin hidup yang akan mengungkap diri dalam berbagai perbuatan. Pemazmur menyadari itu, maka ia tidak sekadar memohon pengampunan tetapi “bulatkanlah hatiku untuk takut akan namaMu” (bdk. 12-13), dan yang kuat untuk hidup sebagai pemenang.

Renungkan: Kegagalan dan kejatuhan tidak perlu membuat kita menjauhi Tuhan, sebab Dia baik dan kasih setia-Nya tidak berubah!

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk terus menerus berdoa, dan mensyukuri kesetiaan-Mu. Amin.

Injil hari ini, Yesus datang untuk orang berdosa.

Memang wajar kalau para ahli Taurat dan orang Farisi tidak bisa menerima fakta Yesus bertandang ke rumah Lewi si pemungut cukai dan makan bersamanya. Dalam tradisi orang Yahudi, makan adalah bentuk persekutuan. Bagaimana mungkin, orang benar, bahkan seorang rabi, bersekutu dengan orang-orang berdosa? Apa yang ditolak karena dianggap najis, justru itulah yang Yesus lakukan. Yesus dan para murid menghadiri perjamuan makan yang diadakan Lewi untuk diri-Nya. Bahkan Ia duduk semeja dengan mereka yang disebut orang berdosa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (ayat 29).

Mengapa Lewi mengundang Yesus? Karena sebelumnya Yesus telah mengundang Lewi untuk mengikut-Nya. Bagi Lewi, undangan Yesus ini tidak hanya mengejutkannya, tetapi suatu kehormatan. Selama ini Lewi merasa dikucilkan dari pergaulan dengan sesama orang Yahudi, apalagi dengan para tokoh agama Yahudi seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sekarang tokoh sesuci Yesus mau memilihnya untuk menjadi murid-Nya. Undangan Yesus inilah yang mendorong Lewi untuk menghormati Dia dengan perjamuan makan. Sekaligus, kesempatan itu digunakan untuk membawa teman-teman sejawatnya mengenal Yesus.

Bagi Yesus, yang penting dari undangan perjamuan makan adalah respons Lewi yang menerima kehadiran-Nya dalam hidupnya, dan kehadiran orang-orang ‘berdosa’ lainnya untuk mengenal dan menerima Dia seperti yang telah terjadi pada Lewi. Bagi Yesus, hidup-Nya jauh lebih berguna untuk mereka yang menyadari diri sebagai orang berdosa, daripada untuk mereka yang merasa diri orang benar dan tidak memerlukan Juruselamat.

Renungkan: Sebagaimana Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, demikianlah seharusnya hidup kita, orang-orang Kristen adalah untuk menjadi berkat untuk sesama kita, terutama mereka yang masih ‘orang berdosa.’

DOA: Tuhan Yesus, kami menyadari bahwa kebencian dan penolakan bersifat merusak, sementara cintakasih dan pengampunan adalah rumusan untuk memperoleh kesembuhan yang paling mujarab. Engkau menunjukkan semua ini dalam kehidupan-Mu sendiri, dan kami akan mengalaminya dalam kehidupan kami, begitu kami sungguh melaksanakan rumusan itu. Amin. (Lucas Margono)

29 FEB 2020

Bacaan dan Renungan Jumat 28 Februari 2020|Jumat sesudah Rabu Abu

Kalender Liturgi Jumat 28 Februari  2020

Bacaan I : Yes 58:1-9a

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.”

58:1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 58:2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 58:3 “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19, do = bes, 4/4, PS 812

Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Atau: Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

  • Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.
  • Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
  • Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Am 5:14)
Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu.

Bacaan Injil : Matius 9:14-15

“Mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

9:14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak? 9:15 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Renungan :

“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 59:6-7), demikian firman Allah melalui nabi Yesaya.

Berpuasa atau lakutapa secara negatif berarti ‘membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk’, sedangkan secara positif berarti ‘memecah-mecah roti bagi orang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tidak punya rumah dan memberi pakaian kepada orang telanjang’  alias memperhatikan dan mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka pertama-tama marilah kita buka aneka macam tali kuk atau nafsu yang tak teratur yang mengganggu cara hidup dan cara bertindak baik, dengan kata lain marilah kita musnahkan aneka macam harta benda, impian, harapan, dambaan, kata-kata dan perilaku yang menjauhkan kita dari Tuhan. Meningkatkan dan memperdalam keutamaan-keutamaan di masa Prapaskah juga penting, antara lain memperhatikan dan mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan.

Pada masa Prapaskah juga diselenggarakan ‘Aksi Puasa Pembangunan’ (APP), entah berupa pengumpulan dana atau uang atau kegiatan membangun hidup bersama atau lingkungan hidup, sehingga kebersamaan hidup semakin enak, damai, mempesona dan menarik. Baiklah kita berpartisipasi dalam kegiatan APP di lingkungan atau wilayah atau paroki kita masing-masing. Marilah kita perhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing; marilah menunduk alias ‘melihat ke bawah’, memperhatikan mereka yang kurang beruntung dan hidup seperti kita. Masa Prapaskah juga merupakan masa untuk memperdalam dan meningkatkan kepedulian kita terhadap yang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

Mazmmur, Indahnya sebuah pengampunan

Ada tujuh mazmur pengakuan dosa dalam Kitab Mazmur (Mzm. 6, 32, 38, 51, 102, 130, 143). Mazmur 51 ini merupakan mazmur pengakuan dosa yang paling indah. Ini adalah pengakuan dosa Daud setelah nabi Natan menegur dia karena perzinaannya dengan Batsyeba.

Daud meminta belas kasihan Tuhan karena ia tahu bahwa ia telah berdosa. Ia sadar bahwa hanya Allah yang dapat menghapus dosanya. Ia tahu bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah yang penuh rahmat. Perkataan Daud agar Allah tidak mengambil Roh-Nya yang kudus dari dirinya merupakan permohonan supaya Allah jangan menolak dia menjadi raja seperti yang telah Allah lakukan pada Saul (ayat 1Sam 16:14. Untuk itu Daud berjanji akan mengajarkan jalan Tuhan kepada orang-orang lain untuk membawa mereka ke dalam pertobatan setelah Allah memulihkannya (ayat 14-15). Ia kemudian memohon supaya Allah melepaskan dia dari hutang darah tersebut. Daud sadar bahwa bukan darah kambing dan domba yang menghapuskan dosanya, tetapi hanya Allah yang dapat menghapuskan dosa jika ia datang kepada Allah dengan hati yang hancur (ayat 18-19).

Pertobatan Daud dari dosa yang begitu mengerikan dan pengampunan Allah yang begitu ajaib menunjukkan bahwa tidak ada dosa apapun yang dapat memisahkan umat Allah dari kasih Allah jika ia sungguh-sungguh bertobat. Karena itu jangan ragu untuk meminta ampun kepada Tuhan atas semua dosa kita, bagaimanapun najisnya.

Injil hari ini,

Injil hari ini cukup pendek hanya 2 ayat. Yesus menjelaskan apa arti dan makna puasa bagi kita semua. Ketika sedang berada di dalam pesta perkawinan atau pernikahan kiranya tak ada seorangpun yang berpuasa dan pada umumnya semuanya dalam keadaan bahagia dan gembira, mempesona dan menarik, meskipun ada yang pura-pura atau sandiwara. Kebersamaan dengan sang mempelai memaksa orang untuk ceria, gembira,  namun ketika tidak bersama mempelai ada kemungkinan murung, uring-uringan dan menjengkelkan.

Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua bahwa jika kita tidak hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan alias tidak baik dan tidak bermoral alias berdosa, kita wajib berpuasa atau matiraga. Hari ini kebetulan hari Jum’at, hari berpantang dan mungkin juga ada yang menjadikannya hari berpuasa juga. Maka baiklah kita mawas diri apakah saya hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, jika tidak marilah kita berpuasa atau matiraga. Matiraga secara harafiah berarti mematikan kerinduan atau dambaan raga, seperti nafsu makan dan minum, berbicara menurut selera pribadi, nafsu seks dan seterusnya. Bermatiraga atau berpantang berarti tidak menuruti dambaan atau nafsu tersebut atau mengendalikannya sehingga perwujudannya semakin mendekatkan kita dengan Tuhan dan sesama manusia alias semakin suci, semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. semoga tindakan kita berpuasa dan matiraga  mendorong dan memotivasi kita menyadari akan kehadiran karya Allah dalam ciptaan-ciptaanNya, sehingga kita semakin melayani dan membahagiakan ciptaan-ciptaan Allah, terutama dan pertama-tama manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan kuat-kuasa dan Roh-Mu sehingga dengan demikian aku dapat menjadi suatu tanda kasih-Mu yang penuh sukacita dan penuh kuat-kuasa bagi orang-orang di sekelilingku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. (Lucas Margono)

28 FEB 2020