Category: Bacaan Harian

Bacaan dan Renungan Jumat 24 Januari 2020| Pekan Biasa II| PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja

Kalender Liturgi Jumat, 24 Januari 2020, Pekan Biasa II

PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan I: 1Sam 24:3-21

“Aku tidak akan menjamah Saul sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.”

24:3 Pada suatu hari Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan. 24:4 Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. 24:5 Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. 24:6 Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; 24:7 lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” 24:8 Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya. 24:9 Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: “Tuanku raja!” Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah. 24:10 Lalu berkatalah Daud kepada Saul: “Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu? 24:11 Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. 24:12 Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 24:13 TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; 24:14 seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. 24:15 Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja! 24:16 Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu.” 24:17 Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: “Suaramukah itu, ya anakku Daud?” Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul. 24:18 Katanya kepada Daud: “Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.24:19 Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku. 24:20 Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini. 24:21 Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.

Mazmur 57:2,3-4,6,11

Refren: Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku.

  • Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; di bawah sayap-Mu aku akan bernaung sampai berlalulah malapetaka ini.
  • Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang mengerjakan segalanya bagiku: Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan daku, mencegah orang-orang yang menganiaya aku; semoga Allah mengirimkan kasih setia dan kebenaran-Nya.
  • Bangkitlah mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu meliputi seluruh bumi! Sebab, kasih setia-Mu menjulang setinggi langit dan kebenaran-Mu setinggi awan-gemawan.

Bait Pengantar Injil:2Kor 5:19

Dalam diri Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.

Bacaan Injil: Mrk 3:13-19

“Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia.”

3:13 Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. 3:14 Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 3:15 dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. 3:16 Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 3:17 Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 3:18 selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 3:19 dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Renungan:

“Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku” (1Sam 24:18-19), demikian kata Saul kepada Daud, pengakuan jujur Saul terhadap Daud. Entah Daud atau Saul kiranya dapat menjadi teladan kita. Meneladan Saul berarti mereka yang berfungsi sebagai pembesar atau petinggi hendaknya jujur terhadap diri sendiri, jika salah hendaknya mengakui kesalahannya dengan rela dan besar hati, meskipun hal itu dilakukan kepada anggota, bawahan atau anak buah. Sebaliknya kita semua dipanggil untuk meneladan Daud, yang tidak mencelakakan atau melukai orang lain sedikitpun, meskipun secara rational maupun faktual dapat dilakukan, dengan kata lain hendaknya kita senanitiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ingat dan hayati bahwa sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, kita dipanggil untuk senantiasa menjadi pewarta-pewarta kabar baik. Hendaknya apa yang tersiarkan atau terkabarkan dari diri kita masing-masing adalah apa yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, maka masing-masing dari kita hendaknya senantiasa hidup baik. Untuk hidup baik pada masa kini kita tak dapat berusaha sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan orang lain, sebagaimana para rasul maupun penerusnya, para uskup, senantiasa juga hidup dan berkarya dalam kolegialitas. Maka hendaknya sering diselenggarakan pertemuan, curhat atau diskusi, entah secara formal atau informal, antar kita. Kami percaya pertemuan antara orang-orang atau pribadi-pribadi yang berkehendak baik pasti akan menghasilkan buah yang tak terduga, yang lebih baik.

Mazmur, Membentuk dan membuka.

Pergumulan hidup tidak saja membentuk sikap dan mengubah kebiasaan tetapi juga membuka watak yang sudah ada untuk mengungkapkan diri. Itulah yang terjadi dalam kisah Daud ketika ia harus terus berusaha membebaskan dan menyembunyikan diri karena dikejar-kejar Saul dan tentaranya. Namun Daud membuktikan bahwa dalam kondisi yang serba tertekan, dan terancam ini, ia tidak mengikuti ambisi dan dendam pribadi. Buktinya, Daud tidak menggunakan kesempatan untuk membunuh Saul yang sedang tertidur dalam gua. Bukankah ini kesempatan emas? Memang pertimbangan manusia mengatakan bahwa ia bertindak bodoh. Tetapi pertimbangan Allah lewat pengalaman hidup Daud adalah lebih tepat, jelas dan bijak.

Prinsip yang benar. Mengapa Daud tidak menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan dendam? Bukankah itu saat yang paling gampang? Keyakinannya untuk terus berpegang pada prinsip hidup yang benar, yaitu bahwa Tuhanlah yang memberi perlindungan baginya, mengendalikan hidupnya, menerima keluhannya dan memberikan jalan keluar terhadap permasalahannya. Penyelesaian yang berasal dari pertimbangan diri sendiri bukan menyelesaikan tetapi justru menimbulkan permasalahan baru.

Injil hari ini, Dipilih dari antara orang banyak.

Setelah beberapa kali kita melihat lokasi pelayanan Yesus di rumah dan di sinagoge, kali ini pelayanan Yesus berlangsung di tepi danau. Di situ Yesus menyembuhkan banyak orang dari berbagai tempat. Orang-orang yang datang kepada-Nya tidak hanya minta untuk disembuhkan dari penyakit, tetapi juga minta dibebaskan dari roh jahat. Lokasi pendengar yang demikian luas mencerminkan popularitas Yesus. Bahkan roh jahat pun mengenal Yesus sebagai Anak Allah. Tetapi, Yesus melarang mereka bersaksi karena Yesus ingin agar orang banyak mengenal-Nya sebagai Anak Allah melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Bukan melalui kesaksian setan dan roh-roh jahat, Yesus menjadi orang terkenal, dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Tidak heran jika pemimpin agama Yahudi berusaha membunuh-Nya.

Selanjutnya, Yesus berinisiatif memilih dari antara orang banyak 12 orang untuk ditetapkan menjadi rasul. Meskipun mereka yang dipilih-Nya berasal dari berbagai latar belakang, tetapi kebanyakan adalah orang “biasa”. Empat dari mereka adalah nelayan, Matius adalah pemungut cukai, Simon orang Zelot adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Yahudi. Memang tidak mudah bekerja dan hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, karena itu Yesus tidak pernah memaksa murid-murid untuk tetap mengikut-Nya. Yesus tidak menginginkan keikutsertaan paksa, tetapi kesukarelaan. Mereka yang dipilih-Nya melakukan dua tugas, pertama, untuk menyertai-Nya dalam tugas pelayanan. Kedua, memberitakan Injil. Tugas ini berat, namun Tuhan memperlengkapi mereka dengan kuasa yang besar. Kuasa yang melampaui kuasa setan-setan dan roh-roh jahat.

Kita pun dipanggil untuk menjadi mitra Allah dan mitra Yesus dalam karya perutusan, ikut serta menghadirkan Kerajaan Allah, mewartakan Injil melalui kesaksian hidup kita yang dijiwai oleh nilai-nilai Injili dan ikut serta membangun dunia menurut visi Kerajaan Allah. Di tengah masyarakat yang ditandai oleh konflik sosial, egoisme, dan sektarianisme, kita dipanggil untuk membangun persaudaraan sejati.

Renungkan: Orang Kristen dipilih Yesus dipilih untuk suatu tugas yang mulia, yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah tugas tersebut Anda jalankan?

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keyakinan untuk mensyeringkan dengan orang-orang lain kehidupan yang telah Kauberikan kepadaku. Bentuklah aku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu mengasihi dengan bela rasa dan hanya menggantungkan kepada kuat-kuasa-Mu semata. Amin. (Lucas Margono).

Mrk 3:13-19 Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia.
Mrk 3:13-19 Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia.

Bacaan dan Renungan Kamis 23 Januari 2020|Pekan Biasa II

Kalender Liturgi Kamis 23 Jan 2020,Pekan Biasa II

PF St. Vinsensius, Diakon dan martir

Bacaan I: 1Sam 18:6-9; 19:1-7

“Saul berikhtiar membunuh Daud.”

18:6 Sesudah Daud mengalahkan Goliat, orang Filistin itu pulang. Maka di segala kota Israel, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 18:7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” 18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” 18:9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.
19:1 Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud, 19:2 sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: “Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana. 19:3 Aku akan keluar dan berdiri di sisi ayahku di padang tempatmu itu. Maka aku akan berbicara dengan ayahku perihalmu; aku akan melihat bagaimana keadaannya, lalu memberitahukannya kepadamu.” 19:4 Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya: “Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! 19:5 Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?” 19:6 Saul mendengarkan perkataan Yonatan dan Saul bersumpah: “Demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh.” 19:7 Lalu Yonatan memanggil Daud dan Yonatan memberitahukan kepadanya segala perkataan itu. Yonatan membawa Daud kepada Saul dan ia bekerja padanya seperti dahulu.

Mazmur 56:2-3,9-10a,10bc-11,12-13

Refren: Kepada Allah Aku percaya dan tidak takut.

Mazmur:

  • Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang menginjak-injak aku, sepanjang hari mereka memerangi dab menghimpit aku! Aeteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang menyerbu aku dari tempat tinggi.
  • Tuhan Engkau tahu akan sengsaraku, airmataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu, Bukankah semuanya telah Kaucatat? Musuhku akan mundur pada waktu aku berseru.
  • AKU YAKIN, BAHWA Allah berpihak kepadaku. Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Tuhan, yang sabda-Nya kjunjung tinggi.
  • Kepada-Nya aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kupenuhi, dank urban syukur akan kupersembahkan kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil:2Tim 1:10

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

“Roh-roh jahat berteriak, “Engkau Anak Allah.” Tetapi dengan keras Yesus melarang memberitahukan siapa Dia.”

3:7 Sekali peristiwa, Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 3:8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 3:9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 3:10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 3:11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” 3:12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Renungan:

Meskipun tidak dirinci penyebabnya, antara Daud dan Yonathan berkembang suatu ikatan kasih persahabatan. Namun, melihat proses dan hasilnya pastilah Roh Tuhan sendiri yang bekerja dalam hati dan pikiran kedua sahabat tersebut. Suatu ikatan tanpa pamrih. Hukum kasih yang diajarkan Tuhan bagi umat-Nya benar-benar terwujud di sini (ayat 3; bdk. Mat. 22:37-40). Tidak mudah mengembangkan persahabatan demikian. Mengapa? Persahabatan dunia masih sering dilatarbelakangi banyak keperluan: bisnis, uang, kekuasaan, dan lain-lain.

Kebencian yang membara. Kebalikan dari peristiwa yang terjadi antara Yonathan dan Daud, berlangsung pula permusuhan antara Saul dan Daud. Saul membenci Daud. Kebencian itu adalah buah dari iri hati Saul atas keberhasilan Daud dalam peperangan melawan Filistin (ayat 7-8). Kebencian memembutakan akal sehat dan melumpuhkan kontrol diri. Di mana roh kebencian dipupuk, di sana Roh Kasih sejati tidak mendapat tempat yang layak (ayat 10).

Bagaimana Tuhan melindungi Daud dari ancaman dan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Saul? Dua kali Raja Saul coba menombak Daud (1Sam. 18:10-11; 19:9-10) dan tiga kali dengan mengutus para tentara untuk membunuh Daud (1Sam. 19:20-21). Semuanya gagal!

Allah memelihara Daud melalui kedua anak Saul yang mengasihi dia, yaitu Yonatan dan Mikhal. Keduanya mengasihi Daud dengan kasih yang berbeda. Yonatan mengasihi Daud dengan kasih persaudaraan, Mikhal mengasihi Daud dengan kasih asmara. Mereka berdua mendapat peran penting dari Tuhan untuk melindungi orang yang mereka kasihi. Keduanya menyatakan ketulusan cinta dengan membela Daud dari ketidakadilan ayah mereka. Peran mereka bukan tidak berisiko. Yang mereka hadapi bukan semata ayah, melainkan raja yang memiliki kedaulatan dan kuasa. Mikhal harus menerima kata-kata kasar Saul yang marah besar karena ia membiarkan Daud lari (1Sam. 19:17). Sedangkan Yonatan, karena selalu membela Daud di depan sang ayah (1Sam. 19:4-5; 20:32), jadi dimarahi bahkan sempat ditombak (1Sam. 20:33). Kasihlah yang menyebabkan Yonatan dan Mikhal melindungi Daud. Namun kita belajar juga bahwa mereka tidak membalas kemarahan ayah mereka dengan sikap kasar karena mereka mengasihi dan menghormati dia. Sikap kasih dan hormat yang patut kita teladani. Selanjutnya Tuhan juga memelihara Daud dengan perantaraan Samuel dan kelompok nabi pengikutnya.

Di mana kita bisa menemukan kasih sejati? Kasih yang tidak bisa diam melihat kejahatan dan ketidakadilan merajalela? Kasih yang tulus dan berani membela orang yang dikasihi walau harus menghadapi akibatnya? Kasih yang penuh pengorbanan seperti itu telah diwujudkan oleh Kristus dalam kematian-Nya di salib. Kasih yang meraih orang-orang yang tidak layak dikasihi. Hanya mereka yang sudah mengalami kasih salib Kristus yang mampu untuk menyatakan kasih Ilahi tersebut.

Mazmur, Menghadapi Musuh

Pernahkah Anda merasa terancam karena tindakan orang pada Anda? Bagaimana sikap Anda pada saat itu?

Daud pernah merasa terancam dan teraniaya. Perhatikan gambaran serangan yang dia hadapi: diinjak-injak, diperangi, dan juga diimpit (ayat 2-3). Para musuh mengintai Daud, memburu dia seolah mengincar nyawanya (ayat 6-7). Betapa kuat musuh yang dihadapi Daud. Ia bagai tak berdaya menghadapi mereka. Tak heran bila ia merasa takut. Bagaimana Daud mengatasi situasi yang begitu menekan? Satu-satunya pertolongan yang dia harapkan adalah Allah. Ia yakin pada kuasa Allah yang akan melindungi dia. Sebab itu ia memohon belas kasihan Allah agar menolong dia. Bila menghadapi Allah, tentu para penindas tersebut akan seperti macan ompong. Terlihat menakutkan, tapi tak punya kemampuan mematikan. Sebab itu Daud mengharapkan keadilan Allah yang akan meluputkan dia dari bahaya. Dan ketika itu terjadi, Daud memuji-muji Allah karena telah melepaskan dia dari musuh dan melindungi dia dari bahaya. Oleh karena itu Daud berjanji akan memberikan persembahan syukur kepada Allah (ayat 11-13).

Sebagai orang percaya yang harus hidup damai dan mengusahakan perdamaian dengan semua orang, kita tentu tidak mengharapkan adanya musuh. Namun keberpihakan kita pada Allah bukan tidak mungkin akan memperhadapkan kita pada musuh-musuh iman kita. Bagaimana menghadapi hal itu? Melihat pengalaman Daud, kita dapat meyakini Allah yang akan melawan orang-orang yang bermaksud jahat terhadap kita. Rasa takut mungkin saja akan muncul dan kemudian melahirkan rasa panik. Belajar dari Daud, jangan biarkan rasa takut menguasai kita. Marilah kita memandang pada Allah yang akan melepaskan kita. Hadapilah musuh iman dengan keyakinan bahwa Penolong kita adalah Tuhan yang memiliki kuasa di atas segala kuasa, dan musuh-musuh iman kita tidak akan pernah berhasil melampaui kuasa Allah. Kiranya pemahaman ini menguatkan iman kita.

Injil hari ini, Motivasi mengikut Yesus,

Kabar tentang mukjizat yang dilakukan oleh Yesus menarik perhatian orang banyak dari berbagai wilayah, baik wilayah Yahudi maupun nonYahudi. Berbagai upaya mereka lakukan agar dapat menemui Dia, bahkan untuk menyentuh Dia supaya mengalami langsung mukjizat tersebut (ayat 7). Sayangnya, kesediaan mereka mengikut Yesus hanya karena tertarik pada mukjizat yang dilakukan Yesus (ayat 8b) menggunakan kata kerja yang menegaskan ketertarikan mereka pada perbuatan Yesus). Itu sebabnya Tuhan mengambil jarak, menghindar dari orang banyak dengan naik ke perahu (ayat 9). Hampir senada dengan itu, Yesus juga melarang keras pengakuan roh-roh jahat bahwa Ia adalah Anak Allah (ayat 11).

Mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa Tuhan menghindari desakan orang banyak dan juga melarang pengakuan tentang identitas-Nya? Bukankah Yesus sesungguhnya adalah Anak Allah? Memang benar. Akan tetapi, status Anak Allah bukan hanya dinyatakan dalam bentuk demonstrasi kuasa atau mukjizat yang spektakuler. Kemesiasan Yesus di-nyatakan juga melalui penderitaan atau jalan salib, yang jelas tidak populer. Mukjizat penyembuhan dan pengusiran roh-roh jahat merupakan bagian dari rencana yang besar, yaitu mewujudkan pemerintahan Allah di dunia. Ini hanya terwujud melalui salib-Nya. Tuhan mengingat bahwa para murid belum memahami prinsip ini dengan jelas. Sebab bila mereka salah memahami, maka bisa saja mereka jadi memiliki motivasi yang salah, seperti yang terjadi pada orang banyak. Dan itulah yang diharapkan oleh roh-roh jahat.

Bagaimana dengan Anda? Menjadi pengikut Yesus karena mencari mukjizat atau ada alasan lain? Tahukah Anda bahwa Yesus bukan hanya melakukan mukjizat, tetapi juga menekankan pentingnya pengenalan yang utuh tentang diri-Nya?

Renungkan: Menyukai kegiatan rohani yang spektakuler tidak menjamin bahwa kita adalah pengikut Tuhan yang sejati. Pengikut Tuhan yang sejati akan mengenal dan menaati Tuhan seperti yang Tuhan nyatakan dalam peringatan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun kecuali Engkau sendiri. Tidak ada sesuatu pun lainnya yang dapat memuaskan hasrat hati kami. Tuhan, ajarlah kami agar dapat semakin dekat dengan diri-Mu, supaya dapat menerima kasih-Mu dan kuat-kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan, peganglah kami erat-erat agar kami dapat terus berada di dekat hati-Mu. Amin.(Lucas Margono).

23 Jan 2020
Mrk 3:7-12 Roh-roh jahat berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi dengan keras Yesus melarang memberitahukan siapa Dia.

Bacaan dan Renungan Rabu 22 Januari 2020| Pekan Biasa II

Kalender Liturgi Rabu,22 Januari 2020, Pekan Biasa II

PF S. Vinsensius, Diakon dan Martir

Bacaan I: 1Sam 17:32-33,37,40-51

“Daud mengalahkan Goliat dengan umban dan batu.”

17:32 Pada suatu hari Daud menghadap Saul dan berkata kepadanya, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” 17:33 Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”
17:37 Tetapi Daud berkata kepada Saul, “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”
17:40 Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. 17:41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. 17:42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. 17:43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. 17:44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.” 17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. 17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, 17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” 17:48 Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; 17:49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. 17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. 17:51 Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka.

Mazmur 144:1-2,9-10,

Refren: Terpujilah Tuhan, gunung batuku.

Mazmur:

  • Terpujilah Tuhan, gunung batuku! Ia mengajar tanganku bertempur, Ia melatih jari-jariku berperang!
  • Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung; Dialah yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!
  • Ya Allah, aku hendak menyanyikan lagu baru bagi-Mu; dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur. Sebab Engkaulah yang memberikan kemenangan kepada raja-raja dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu.

Bacaan Injil: Mrk 3:1-6

Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?

3:1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 3:2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3:3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!” 3:4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. 3:5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 3:6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Renungan:

Seperti Daud vs. Goliat.

Mungkin ada yang berpikir, seandainya masalah dan kesulitan, bahkan tantangan dan bahaya kita dapat selesai dengan cara seperti ini. Dengan cara dan kekuatan Allah, kita menang. Semudah mencari 5 batu halus di kali dan mengumban sasaran (ayat 40,49). Memang pasti Daud sangat ahli dalam mengumban. Tetapi umban dan batu mengalahkan perlengkapan perang yang lengkap dan fisik yang luar biasa (ayat 4-7)? Pasti ada kekuatan ekstra dari Tuhan, kalau tidak mau disebut mukjizat.
Tetapi, kedaulatan dan rencana Allah sumber segala kuasa adalah satu- satunya penentu apakah orang Kristen mendapatkan kekuatan ekstra/mukjizat atau tidak. Ketika kita ingin belajar dari Daud yang menghadapi Goliat, ada satu hal yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang mendapatkan kekuatan ekstra: kepercayaan Daud kepada Allah yang hidup (bdk. Ibr. 11:32). Jelas Goliat nyata dan mengerikan. Tetapi para allah yang dalam nama mereka Goliat mengutuki Daud tidak nyata dan mati (bdk. 1Sam. 5). Nas ini menggambarkan Daud sebagai pahlawan yang perkasa, bukan semata karena keterampilannya sendiri, tetapi karena Allah adalah Yahweh semesta alam (ayat 45). Daud sungguh-sungguh percaya bahwa pertempuran itu semata-mata ada di tangan Tuhan (ayat 47), dan Allah menyertai-Nya (ayat 37, bdk. 18:12, 14, 28).

Allah bekerja melalui orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, dan melaluinya Allah akan menyatakan kedahsyatan kuasa-Nya. Walaupun tidak selamanya musuh yang menyerang, masalah yang menghadang, situasi sulit yang menerjang runtuh secepat Goliat roboh, tetapi iman dan penyerahan kepada Allah berarti kemenangan. Mengapa? Karena Tuhan menyertai kita, seperti Ia menyertai Daud.
Tindakan iman adalah penyerahan kepada penyertaan Allah yang berdaulat. Iman tidak memaksa, tetapi berserah dan bertindak menaati Allah dalam situasi apapun.

Mazmur, Fajar pun terbit.

Mazmur ini memaparkan tiga situasi pengalaman Daud. Sesudah melalui berbagai kesulitan yang berasal dari Saul, akhirnya Daud bertakhta. Sebagai raja yang takut akan Tuhan, hal utama yang ia lakukan di dalam keberhasilan itu adalah bersyukur dan memohon berkat Allah. Daud sadar bahwa Tuhanlah yang telah menjadikan dia sebagai raja yang memiliki kekuasaan tertinggi di negara yang dia pimpin. Ia sadar sepenuhnya bahwa keberhasilannya berasal dari Tuhan (1-2). Tuhanlah yang telah membuat tangan dan jari-jarinya (1) terampil dalam peperangan. Sehingga ia menjadi prajurit yang terlatih, bagaikan instrumen di tangan Tuhan. Ia menyadari bahwa semua kebaikan Allah merupakan anugerah yang ia, sebagai manusia fana, tidak layak menerimanya (3, 4).

Dalam ayat 5-11, Daud memohon pertolongan lebih lanjut dari Allah untuk masalah yang tengah dia hadapi. Permohonan ini dilandasi atas fakta kemenangan yang sudah ia alami atas Saul. Meski dalam situasi bahaya yang sedang ia hadapi, ia tidak hanya memohon tapi lanjut dalam pujian (9). Daud terlatih untuk selalu hidup dalam hadirat Allah. Ia tidak sekadar berserah kepada Tuhan tetapi aktif hidup dan berjalan di dalam hadirat, pengertian dan berkat Tuhan.

Meski harus terus menghadapi banyak masalah, Daud sanggup menatap masa depan dalam terang penyertaan dan berkat Tuhan. Ia memohon berkat bagi generasi penerus, agar tumbuh andal dan mengukir masa depan yang mulia . Ia juga meminta agar kondisi ekonomi mereka makmur. Daud tak lupa memohon berkat agar seluruh umat hidup dalam keamanan.

Sebagai perorangan, keluarga, gereja, bangsa, kita semua juga mendambakan masa kini dan masa depan yang sejahtera. Meneladani Daud, kita perlu belajar untuk melihat perjalanan hidup dan sejarah sebagai karya-karya Allah yang melibatkan iman, ketaatan, dan ungkapan syukur kita secara konkret.

Injil hari ini, Yesus, Tuhan atas Sabat.

Tradisi yang berlaku di agama Yahudi, hari Sabat adalah hari ketika umat berada di rumah ibadat untuk beribadah pada Allah (ayat 1). Sebagai orang Yahudi, Yesus pun beribadah pada hari Sabat di sinagoge. Bagi Yesus ini adalah suatu kebiasaan baik, ketika umat mengekspresikan rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Namun, ternyata tidak semua orang berpikiran yang sama dengan Yesus. Ada sekelompok orang yang datang ke sinagoge bukan untuk bersekutu dan beribadah, tetapi untuk mempersalahkan Yesus (ayat 2). Mereka adalah para pemimpin agama Yahudi (ayat 6; bdk. 2:24-28).

Keberadaan seorang yang tangannya mati sebelah dijadikan objek oleh para pemimpin agama Yahudi. Mereka berharap agar Yesus menyembuhkannya, sehingga Yesus dipersalahkan karena melanggar hukum Sabat. Meski tidak diutarakan, Yesus tahu pikiran mereka. Yesus meminta orang yang tangannya mati sebelah untuk berdiri di tengah-tengah (ayat 3). Meskipun orang tersebut tidak menunjukkan indikasi bahwa ia sedang sekarat, tetapi Yesus menyembuhkannya. Melalui tindakan ini, Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Apa yang harus dilakukan pada hari Sabat: berbuat baik dan menyelamatkan orang atau berbuat jahat dan membunuh orang? Para pemimpin agama itu tahu pilihan yang tidak melanggar Sabat. Tetapi, karena tidak mau percaya pada Yesus, mereka tetap diam. Yesus marah — kemarahan yang mengungkapkan bahwa Yesus adalah manusia sejati — tetapi bukan kemarahan yang tanpa alasan. Yesus marah karena kedegilan orang yang tidak mau percaya pada- Nya. Marah yang timbul karena ingin mendamaikan manusia dan Allah. Amarah Yesus adalah amarah damai. Penolakan terhadap damai inilah yang membangkitkan amarah-Nya.

Renungkan: Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Hari Sabat adalah hari ibadah dan bukan hari mencari musuh.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. (Lucas Margono)

Mrk 3:1-6 Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?
Mrk 3:1-6 Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?

Bacaan dan Renungan Selasa 21 Januari 2020| Pekan Biasa II

Bacaan Liturgi 21 Januari 2020, Pekan Biasa II

PW S. Agnes, Perawan dan Martir

Bacaan I: 1Sam 16:1-13

“Samuel mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya dan berkuasalah Roh Tuhan atas Daud.”

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” 16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. 16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.” 16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?” 16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. 16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.” 16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.” 16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.” 16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” 16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Mazmur 89:20,21-22,27-28

Refren: Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku.

  • Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi. Engkau berkata, “Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu.
  • Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku. Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap menyertai dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.
  • Dia pun akan berseru kepada-Ku, “Bapakulah Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.” Aku pun akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi Yang Tertinggi di antara raja-raja bumi.”

Bait Pengantar Injil:Ef 1:17-18

Bapa Tuhan kita Yesus Kristus akan menerangi mata budi kIta,agar kita mengenal harapan panggilan kita.

Bacaan Injil: Mrk 2:23-28

Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. 2:24 Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 2:25 Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, 2:26 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” 2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, 2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan:

Hikmat dan urapan Roh

Orang yang dipakai Tuhan, pasti Tuhan karuniai hikmat dan urapan Roh. Tanpa hikmat, pelayanan tak bisa dijalankan secara maksimal dan kehendak Tuhan tak bisa dilaksanakan dengan sempurna. Tanpa pengurapan Roh, maka yang dilakukan seseorang bukanlah pelayanan, tetapi hanya kegiatan agamawi semata, tanpa arah.

Samuel adalah seorang yang dikaruniai hikmat dan urapan Roh. Saat itu Samuel menghadapi dilema: ia harus menaati firman Tuhan untuk pergi mengurapi Daud, menggantikan Saul sebagai raja. Namun bila ia berterus terang akan misinya, Saul akan membunuh dia. Hikmat Tuhan menolong Samuel untuk menyatakan hal yang tepat. Dia diutus Tuhan untuk mengadakan upacara persembahan kurban. Nanti di tengah upacara tersebut, Tuhan akan menyatakan pengurapan-Nya. Hikmat Tuhan juga nyata ketika Samuel harus menemukan siapa di antara anak-anak Isai yang Tuhan pilih. Jelas kriteria Tuhan sangat berbeda daripada yang dipikirkan manusia: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (ayat 7b).

Daud yang diurapi Tuhan melalui Samuel adalah pemimpin yang diurapi. Pernyataan Kitab Suci sangat jelas. “berkuasalah Roh TUHAN atas Daud” (ayat 13b). Pada saat yang sama, Roh Tuhan undur daripada Saul (ayat 14). Memang pada masa Perjanjian Lama, Roh Kudus belum dicurahkan dalam hati orang percaya secara permanen. Roh Tuhan dicurahkan kepada orang-orang yang Tuhan pilih untuk melakukan tugas tertentu. Mereka yang tidak taat pada Tuhan akan mengalami nasib seperti Saul, ditolak Tuhan.

Apa yang nyata buat Samuel dan Daud seharusnya nyata pula buat kita hamba-hamba-Nya pada masa kini. Terlebih Roh Kudus sudah dicurahkan secara permanen di hati setiap orang percaya. Mari andalkan pimpinan Roh Kudus dan minta hikmat Allah dalam pelayanan kita agar dengan cerdik dan tulus (Mat. 10:16) kita menjadi berkat bagi sesama.

Mazmur, Di mana kasih setia Allah?

Ada saat-saat di dalam hidup kita ketika kita merasa begitu mengenal Allah, menikmati kasih-Nya, dan hidup bersyukur kepada-Nya. Namun, seringkali pula Allah yang kita percayai tidak menjawab realitas hidup kita setiap hari.

Awal bacaan kita hari ini masih merupakan pengembangan ide mengenai Daud yang ada dalam ayat 4-5. Ada 4 hal di sini yang dapat diamati. Pertama, keluarga kerajaan Daud bisa berdiri karena pemilihan Allah yang penuh anugerah ayat 20. Kedua, masa depan dinasti Daud didasarkan atas janji-janji Allah (ayat 22-26). Ketiga, perjanjian antara Daud dengan Allah merupakan hubungan yang khusus, ketika Daud diangkat menjadi anak Allah yang sulung (ayat 28). Dengan demikian, Daud memiliki hak yang lebih daripada raja-raja lain di dunia. Keempat, hubungan ini tidak akan pernah dapat dipatahkan karena didasarkan pada sumpah Allah sendiri. Betapa luar biasanya kasih setia Allah!
Namun bila kita membaca kelanjutan Mazmur ini, mazmur yang mengagungkan kasih setia Allah ini juga menimbulkan pertanyaan, “Di mana kasih setia Allah?” Pemazmur menemukan kontradiksi. Allah yang berjanji itu juga yang seakan-akan mengingkari ucapan-Nya sendiri. Allah menolak Daud. Takhtanya ditumbangkan, kota serta benteng-bentengnya diruntuhkan. Sesuatu yang ironis mencuat: tangan kanan Allah yang berkuasa kini tidak lagi memerintah, tetapi justru tangan kanan musuh-musuh Daud yang ditinggikan. Maka, ratapan pemazmur mengalir keluar dari mulutnya, “Berapa lama lagi?” Pemazmur tidak dapat mengerti apa yang terjadi. Kenyataan pahit yang dilihatnya membuat ia berbicara mengenai kesia-siaan hidup. Namun, misteri ini tidak terpecahkan.

Jawaban itu akan muncul ketika Kristus menggenapi janji Allah dengan mengokohkan takhta Daud selamanya. Apa yang dapat dilakukan pemazmur waktu itu di dalam ketidaktahuannya? Ia hanya dapat memuji Allah. Dalam situasi seperti itu, mungkin pujian yang singkatlah yang paling tepat dinaikkan.

Renungkan: Banyak perkara yang tidak dapat kita mengerti. Allah kadang begitu sulit ditebak. Dalam situasi seperti itu, kita diajar untuk tetap mengimani janji Allah dan bersyukur pada-Nya.

Injil hari ini, Hakikat sabat.

Makna sesungguhnya dari Sabat adalah saat ketika umat beristirahat dan ‘bersenang-senang karena Tuhan’ (Yes. 58:14). Allah menciptakan alam semesta beserta isinya selama 6 hari, lalu pada hari ke 7 beristirahat. Satu hari perlu bagi Allah untuk relaks. Allah pun menyadari bahwa manusia bukanlah robot yang mampu bekerja tanpa henti. Sabat merupakan saat ketika manusia disegarkan kembali rohani dan fisiknya. Namun, orang Farisi mengartikan lain. Bagi mereka tindakan para murid Yesus memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat adalah suatu pelanggaran. Sesungguhnya apa yang dilakukan para murid Yesus melanggar hukum yang ditetapkan orang Farisi, tetapi tidak melanggar Taurat.

Melalui perikop ini kita melihat bahwa Yesus tidak membatalkan Sabat, apalagi membuatnya menjadi tidak berlaku. Justru Yesus berupaya meletakkan kembali fungsi sabat bagi umat manusia. Bahkan terjadi perluasan jangkauan, tidak hanya berlaku bagi orang Yahudi saja, tetapi untuk semua umat manusia (ayat 27). Sabat dibuat untuk manusia, untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Sabat bukan beban bagi manusia. Melalui Sabat, umat mengingat Allah, yang menciptakan alam dan isinya selama 6 hari, dan beristirahat pada hari ke-7. Kita mendapatkan pelajaran penting mengenai makna Sabat, yaitu bahwa selama enam hari manusia menikmati ciptaan — bekerja, berusaha — dan pada hari ke tujuh manusia menikmati persekutuan dengan sang Pencipta. Hanya dengan demikian manusia mengerti makna dan tujuan ciptaan. Kedua, Sabat mengingatkan bahwa Allah pembebas dan penyelamat (Ul. 5:15). Mengabaikan Sabat berarti mengabaikan Allah pencipta dan penyelamat.

Bagi orang-orang Farisi, tindakan Yesus sulit dimengerti. Sebab, mereka begitu terbelenggu oleh peraturan-peraturan hukum yang mereka buat sendiri. Untuk ”melindungi” hukum Allah, mereka membuat peraturan-peraturan yang jelimet (mendetail sekali sehingga sulit melihat kesatuannya), menjadi amat kasuistik sehingga mereka justru sering melupakan atau tidak melihat lagi tujuan dari hukum itu. Misalnya, mereka mempersoalkan apakah menyalakan api atau mencuci piring pada hari Sabat itu termasuk kerja atau tidak; seberapa jauh orang boleh berjalan pada hari Sabat. Dengan demikian, sering kali manusia dikorbankan demi peraturan dan bukan peraturan untuk membantu manusia. Akhirnya, orang melakukan peraturan demi peraturan dan bukan untuk suatu tujuan yang lebih luhur.

Dalam kasus Injil ini sebenarnya tujuan menguduskan hari Sabat ialah agar manusia tidak hanya kerja—kerja dan kerja saja—melainkan mengambil waktu untuk berdoa, untuk membaca firman Tuhan, dan untuk merenungkan panggilannya yang abadi.

Dewasa ini, kesadaran akan hari Tuhan, hari Sabat (Minggu), menjadi luntur ke arah keduniawian. Bagi banyak orang—termasuk orang-orang Katolik—hari Minggu adalah hari orang berfoya-foya atau berolah raga sedemikian rupa sehingga sering kali tidak sempat ke gereja. Hari Minggu sudah dianggap bukan hari Tuhan, melainkan hari mencari hiburan duniawi.

Renungkan: Menikmati ciptaan tanpa mengenal Allah pencipta berarti penghujatan. Manusia perlu keselamatan dari penghujatan kepada Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin. (Lucas Margono)

Mrk 2:23-28 Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.
Mrk 2:23-28 Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.