Category: Bacaan Harian

Bacaan dan Renungan Selasa 11 Agustus 2020| Pekan Biasa XIX| PW Sta. Klara, Perawan

Kalender Liturgi 11 Agustus 2020, Selasa Pekan Biasa XIX

PW S. Klara, Perawan

Bacaan I: Yeh 2:8-3:4

Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan,dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

Tuhan bersabda kepadaku, “Hai, anak manusia, dengarkanlah sabda-Ku kepadamu. Janganlah membantah seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.”Aku melihat, ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab. Ia Membentangkannya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.

Sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan. Lalu sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini dan isilah perutmu dengannya.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. Tuhan bersabda lagi, “Hai anak manusia, mari, pergilah! dan sampaikanlah sabda-Ku kepada mereka.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan:Mzm 119:14.24.72.103.111.131

Ref:Betapa manisnya janji Tuhan bagi langit-langitku.

  • Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
  • Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasehat bagiku.
  • Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,lebih berharga dari pada ribuan keping emas dan perak.
  • Betapa manisnya janji-Mu bagi langit-langitku,melebihi madu bagi mulutku.
  • Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
  • Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

Bait Pengantar Injil:Mat 11:29

Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

Bacaan Injil:Mat 18:1-5.10.12-14

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini.

Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh,  jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

Lalu Yesus bersabda lagi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Injil hari ini, Terbesar vs terkecil.

Kalau bisa kita ingin menjadi yang terbesar dalam jabatan, harta, prestasi, kehormatan, kepintaran, dlsb, namun menghindari menjadi yang terkecil. Murid-murid Tuhan pun tidak luput dari ambisi ingin posisi tertinggi dalam Kerajaan Surga.

Mereka menganggap Kerajaan Surga suatu kerajaan yang dipimpin oleh Tuhan Yesus sebagai raja. Maka sebagai pengikut-Nya, murid-murid pasti mendapat jabatan (ayat 1). Pertanyaan tentang siapakah murid Tuhan yang akan menduduki posisi tertinggi di antara mereka memenuhi pikiran mereka. Jawaban Tuhan Yesus di luar dugaan. Ia menjadikan seorang anak kecil sebagai contoh. Apa syarat yang Tuhan ajukan bagi murid yang mau jadi yang terbesar? Pertama, harus mengalami pertobatan sejati (ayat 3). Pertobatan sejati adalah syarat utama untuk memasuki Kerajaan Surga. Tanpanya, seseorang tidak mampu mengerti kebenaran ilahi. Itu membuktikan ia belum mengalami kelahiran kembali dalam Roh (lih. Yoh. 3:3).

Kedua, harus bersedia merendahkan diri (ayat 4). Merendahkan diri guna memberitakan Injil hendaknya dijadikan dasar pelayanan. Artinya, menanggalkan prinsip “Siapa kamu? Siapa aku?” Tidak mungkin menjangkau “mereka yang terhilang” tanpa penanggalan kesombongan diri. Kerelaan pergi memberitakan Injil kepada “mereka yang terhilang” ini diumpamakan Tuhan dengan mencari satu domba yang tersesat (ayat 12-14). Hanya orang yang sedia menjadi “kecil” saja yang tahu menghargai arti satu jiwa tersesat dibandingkan sembilan puluh sembilan yang tidak. Ketiga, orang yang sudah diterima Tuhan apa adanya harus menerima “mereka yang terhilang” (ayat 5, 10-11). Hendaklah kita mengulurkan tangan dan menyambut dengan tulus setiap orang agar mereka datang ke persekutuan umat Tuhan tanpa membeda-bedakan status sosial, kekayaan, dan kemampuannya.

Ingatlah: Orang besar adalah orang yang rela menjadi kecil dan tajam melihat arti dari hal-hal kecil.

DOA: Bapa surgawi, tidak ada siapa pun yang kukenal seperti Engkau, ya Allahku. Engkau melihat segalanya yang terdapat dalam pikiranku, hatiku dan tindakanku, dan Engkau tetap mengasihiku secara lengkap-total. Aku menyerahkan diriku kepada tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Ajarlah aku hidup sebagai anak-Mu yang taat. Amin.

11 Agustus 2020

Bacaan dan Renungan Senin 10 Agustus 2020| Pekan Biasa XIX

Kalender Liturgi 10 Agustus 2020, Senin Pekan Biasa XIX

Bacaan I:2Kor 9:6-10

Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Saudara-saudara, orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit pula. Sebaliknya orang yang menabur banyak akan menuai banyak pula. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau terpaksa. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis, “Ia murah hati, orang miskin diberi-Nya derma, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

Dia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,Dia jugalah yang akan menyediakan benih bagi kamu; Dialah yang akan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan:Mzm 112:1-2.5-9

Ref:Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman.

  • Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan,yang sangat suka akan segala perintah-Nya.Anak cucunya akan perkasa di bumi;keturunan orang benar akan diberkati.
  • Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman,ia melakukan segala urusan dengan semestinya.Orang jujur tidak pernah goyah;ia akan dikenang selama-lamanya.
  • Ia tidak takut pada kabar buruk,hatinya tabah, penuh kepercayaan kepada Tuhan.Hatinya teguh, ia tidak takut,sehingga ia mengalahkan para lawannya.
  • Ia murah hati, orang miskin diberi-Nya derma;kebajikan-Nya tetap untuk selama-lamanya,tanduk-Nya meninggi dalam kemuliaan.

Bait Pengantar Injil:Yoh 8:12b

Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan,tetapi mempunyai terang hidup.

Bacaan Injil:Yoh 12:24-26

Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Menjelang akhir hidup-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan:

Memberi dengan sepenuh hati

Jemaat Korintus pernah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem (2b). Kesiapan mereka malah merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama (2c). Sikap jemaat Korintus membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Namun seiring perjalanan waktu, mereka tidak melaksanakan janji tersebut. Berarti, mereka tidak sepenuh hati ingin membantu jemaat miskin itu. Itu sebabnya Paulus mendesak agar mereka mewujudkan komitmen mereka. Kini Paulus membalik posisi jemaat Korintus, dengan menyebut-nyebut jemaat Makedonia untuk membangkitkan rasa malu mereka (4). Karena itu Paulus meminta Titus dan saudara-saudara yang lain untuk pergi mendahuluinya ke Korintus, dengan harapan agar jemaat Korintus memenuhi janji mereka untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem (5).

Dengan memberikan persembahan secara benar, umat Tuhan belajar prinsip anugerah dan keajaiban pemeliharaan Allah. Pertama, dengan bersikap murah hati dalam memberi, jemaat akan beroleh kemurahan hati Allah (6). Kedua, orang Kristen harus memberi dengan sukarela bukan terpaksa (7). Ketiga, Allah tahu pengorbanan orang yang memberikan persembahan. Ia memelihara mereka (8-11). Keempat, memberi sebagai wujud perhatian dan kasih kepada jemaat yang perlu, dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah (12-14).

Di Indonesia kini ada cukup banyak gereja yang mengalami kemiskinan rohani karena kesulitan finansial. Kita perlu peduli terhadap kesulitan mereka. Sebagai tubuh Kristus, satu menderita semua turut menderita. Kita perlu memikirkan dan mengusahakan agar sesama saudara seiman kita juga boleh mendapatkan berbagai sarana yang dapat membantu mereka bertumbuh dalam firman dan berkembang dalam aspek-aspek kehidupan lainnya.

Jika Anda pernah berjanji dan menyatakan kesiapan untuk membantu pendanaan, lakukanlah dengan sepenuh hati.

Mazmur. Kesukaan hidup dalam Firman

Mazmur 112 melanjutkan mazmur 111 dengan menyatakan manfaat dan konsekuensi etis bagi mereka yang menjalani hidup takut akan Tuhan (Mzm. 111:10). Takut akan Tuhan akan membuahkan hidup yang benar dan berkenan kepada-Nya.

Inilah berkat yang dialami semua orang yang takut kepada Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya. Hidupnya akan penuh dengan kesukaan menaati firman Tuhan (Mzm. 112:1). Inilah paradoks yang indah: takut yang benar akan Tuhan mendatangkan kesukaan hidup. Bagi sebagian orang menaati peraturan adalah semata-mata kewajiban legalistic sehingga hal itu merupakan suatu keterpaksaan. Namun bagi anak Tuhan, peraturan Tuhan justru menyukakan hati karena itu adalah jati dirinya. Anak Tuhan menyadari bahwa hidup yang ia jalani adalah anugerah Tuhan sehingga setiap peraturan Tuhan ia yakini sebagai hal yang mendatangkan kebaikan semata-mata. Ia tahu bahwa dengan menerapkan firman Tuhan sepenuhnya dalam hidupnya, ia tinggal dalam ruang anugerah Tuhan. Dengan pemahaman seperti itu, hidup seorang anak Tuhan tidak akan pernah goyah apalagi sampai meragukan Tuhan (ayat 6-7) bahkan ketika ia berhadapan dengan para musuhnya (ayat 8). Lebih daripada itu, anak Tuhan dimampukan bukan hanya menerima berkat (ayat 2-3) untuk dinikmati sendiri melainkan juga memberikan berkat untuk memberkati orang lain (ayat 4-5, 9). Salah satu bentuk berkat yang dialami anak Tuhan adalah pelipatgandaan, yaitu berkat keturunan (ayat 2).

Kebahagiaan anak Tuhan bukan ditentukan dari dan oleh ukuran dunia ini yang serba permisif dan melawan Allah karena dunia ini ada di bawah penghukuman Allah. Hanya saat anak Tuhan hidup seturut firman-Nya, ia mengalami pemeliharaan Allah dan sukacita yang tidak dapat dipadamkan oleh tentangan dan hujatan dunia ini.

Injil hari ini, “Aku berkata kepadamu, kalian yang telah aku beritahukan tentang kematian dan penderitaan-Ku: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh, bukan hanya di atas, melainkan sampai masuk ke dalam tanah dan mati, lalu terkubur dan lenyap, ia tetap satu biji saja, dan kamu tidak akan melihatnya lagi. Tetapi jika ia mati sesuai dengan hukum alam (jika tidak demikian, maka hal itu merupakan suatu mujizat), ia akan menghasilkan banyak buah, sebab Allah mengaruniakan sebuah tubuh bagi masing-masing benih.” Kristus adalah Biji Gandum itu, benih yang paling berharga dan bermanfaat. Nah, di sini terdapat,

1. Penegasan tentang keharusan Kristus untuk menanggung banyak penghinaan. Dia tidak akan menjadi akar dan kepala yang menghidupkan dan menggerakkankan gereja-Nya jika Dia tidak menunaikan penebusan kita dengan cara turun dari sorga ke atas bumi yang terkutuk ini, lalu naik dari bumi ini ke atas kayu salib yang terkutuk itu. Dia harus menyerahkan nyawa-Nya kepada maut, sebab kalau tidak begitu, kepada-Nya tidak akan dibagikan orang-orang besar sebagai rampasan (Yes. 53:12). Kepada-Nya akan diberikan sebuah benih, tetapi Ia harus terlebih dahulu mencurahkan darah-Nya untuk membeli dan menyucikan mereka, harus memenangkan mereka dan kemudian membawa mereka. Demikian pula, sebagai prasyarat untuk memperoleh kemuliaan yang akan didapat-Nya, harus ada pertambahan jumlah orang yang bergabung dalam Gereja-Nya. Jika Dia tidak dijadikan penebus dosa melalui penderitaan-Nya, dan dengan demikian membawa serta kebenaran yang kekal, Dia tidak akan layak menjadi penghiburan bagi orang-orang yang akan datang kepada-Nya, dan akan tetap seorang diri saja

2. Kebaikan yang diperoleh melalui penghinaan yang diterima oleh Kristus digambarkan di sini. Melalui penjelmaan-Nya menjadi seorang manusia, Ia jatuh ke tanah, kemudian tampak terkubur hidup-hidup di dalam bumi ini sehingga kemuliaan-Nya menjadi begitu terhalang. Bukan hanya itu, Dia juga mati. Benih yang kekal ini harus tunduk terhadap hukum kematian. Dia terbaring dalam kubur seperti sebuah benih yang terkubur di dalam tanah. Namun, sebagaimana benih itu kemudian muncul lagi dalam keadaan hijau, segar, berkembang dan tumbuh pesat, begitu pula seorang Kristus yang mati mengumpulkan kepada-Nya ribuan orang-orang Kristen yang hidup, dan Ia pun menjadi akar mereka. Dengan demikian, keselamatan jiwa-jiwa dari mulai saat itu sampai akhir zaman nanti berutang pada kematian Benih Gandum ini. Dengan demikian, Bapa dan Anak dipermuliakan, gereja bertumbuh, dan kesatuan tubuh rohani terpelihara, dan pada akhirnya nanti akan disempurnakan. Lalu, saat waktu sudah berhenti, setelah berhasil membawa banyak putra ke dalam kemuliaan melalui kematian-Nya dan disempurnakan melalui penderitaan-Nya, Sang Pemimpin keselamatan kita itu pun akan diagung-agungkan untuk selamanya melalui puji-pujian dari para orang kudus dan malaikat yang memuja-Nya (Ibr. 2:10, 13).

10 Agustus 2020
Yoh 12:24-26
Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

 

Bacaan dan Renungan Sabtu 08 Agustus 2020| Pekan Biasa XVIII

Kalender Liturgi 08 Agustus 2020, Sabtu Pekan Biasa XVIII

PW S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkotbah, Imam

Bacaan I:Hab 1:12-2:4

Orang benar akan hidup berkat imannya.

Tuhan, bukankah Engkau Allahku sejak sediakala?Bukankah Engkau Yang Mahakudus, yang takkan mati? Tuhan, Engkau telah menetapkan bangsa Kasdim sebagai penghukum. Ya Gunung Batu, Engkau telah menunjuk bangsa itu untuk menyiksa kami. Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan. Engkau tidak tahan memandang kelaliman. Bagaimana mungkin Engkau sekarang memandangi orang-orang yang berbuat khianat, dan berdiam diri bila orang-orang fasik menelan orang yang lebih baik?

Engkau menjadikan manusia seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada tuannya. Mereka semua ditariknya dengan kail, ditangkap dengan pukat dan dikumpulkannya dengan payang. Itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai. Itulah sebabnya ia mempersembahkan kurban untuk pukatnya dan membakar kurban untuk payangnya. Sebab berkat alat-alat itu pendapatan mereka mewah dan rezeki mereka berlimpah-limpah. Itukah sebabnya maka mereka selalu menghunus pedang dan membunuh bangsa-bangsa tanpa kenal belas kasihan?

Aku mau berdiri di tempat pengintaianku, dan berdiri terus pada menara. Aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan disabdakan Tuhan kepadaku, dan apa jawaban-Nya atas pengaduanku.

Maka Tuhan menjawab aku demikian: Catatlah penglihatan ini, guratlah pada loh batu agar mudah terbaca. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, namun segera akan terpenuhi dan tidak berdusta. Bila pemenuhannya terlambat, nantikanlah, akhirnya pasti akan datang, dan tidak batal! Sungguh, orang yang sombong tidak lurus hatinya; tetapi orang benar akan hidup berkat imannya.

Mazmur Tanggapan:Mzm 9:8-9.10-11.12-13

Ref: Orang yang mencari Engkau tidak Kautinggalkan, ya Tuhan.

  • Tuhan bersemayam untuk selama-lamanya, takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman. Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.
  • Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan. Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidaklah Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.
  • Bermazmurlah bagi Tuhan, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, sebab Dialah yang membalas penumpahan darah, karena ingat kepada orang yang tertindas, teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya.

Bait Pengantar Injil:2Tim 1:10b

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Bacaan Injil:Mat 17:14-20

Sekiranya kalian mempunyai iman, tiada yang mustahil bagimu.

Sekali peristiwa datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita.Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air.Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.”

Maka kata Yesus, “Hai kalian, angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kalian? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kalian? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur roh jahat itu lalu keluarlah ia dari padanya, dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian ketika mereka sendirian,para murid menghampiri Yesus dan bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Yesus menjawab, “Karena kalian kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sungguh, sekiranya kalian mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari sini ke sana,’maka gunung ini akan pindah,dan tiada yang mustahil bagimu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:Mat 15:1-2.10-14

Sekali peristiwa datanglah kepada Yesus beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem. Mereka berkata, “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat-istiadat nenek moyang? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”Yesus lalu memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkan dan camkanlah, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Maka datanglah para murid dan bertanya kepada Yesus, “Tahukah Engkau bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang Farisi?” Tetapi Yesus menjawab, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga, akan dicabut sampai akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka itu orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.”

Demikianlah sabda Tuhan.

RENUNGAN

Allah adil!

Di mana keadilan Allah? Mengapa orang berdosa tidak dihukum? Pertanyaan itu menghantui Habakuk karena ia melihat penduduk Yehuda melakukan kejahatan rohani dan sosial, namun Allah tidak menghukum mereka.

Jawaban Allah mencengangkan Habakuk. Allah akan menghukum Yehuda melalui orang-orang Kasdim. Dengan keperkasaan dan ketangkasan yang tiada banding, bangsa Kasdim dengan sombong akan melibas semua musuh mereka, termasuk bangsa Yehuda. Ini bukan jawaban yang diharapkan Habakuk. Sulit bagi Habakuk untuk melihat Allah memakai bangsa kafir yang jahat untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah umat-Nya sendiri (ayat 13). Yehuda memang berdosa dan lalim, tetapi menurut Habakuk, orang Kasdim jauh lebih jahat dari Yehuda. Bukankah mereka bangsa yang tidak mengenal Allah. Di manakah keadilan Allah? Di tengah kebingungan itu, Habakuk yang masih percaya akan keadilan Allah menantikan jawaban Tuhan (ayat 2:1). Jawaban Tuhan harus dinantikan dengan iman karena keadilan Allah akan ditegakkan pada waktunya (ayat 2-3). Orang yang percaya tidak akan goyah imannya dan menanti dengan taat sampai diselamatkan (ayat 4b). Sebaliknya, orang yang sombong dan tidak bertobat dari dosa-dosa serta menyia-nyiakan waktu yang diberikan untuk terus berbuat dosa pasti akan dihukum (ayat 5).

Suatu saat hukuman akan datang bagi mereka yang tidak bertobat. Masa sekarang, sebelum kedatangan Kristus kedua kali adalah masa anugerah untuk bertobat (ayat 2Ptr. 3:9). Masa itu akan segera berakhir. Orang yang memanfaatkan waktu singkat ini untuk bertobat dan berpaling dari kejahatannya akan menerima keadilan Allah yang menyelamatkan. Namun, bagi mereka yang mengeraskan hati, saat Dia datang kembali akan menjadi saat yang sangat mengerikan.

Kasih Allah dinyatakan pada masa sekarang. Bila kita menyia-nyiakan masa sekarang, betapa mengerikannya keadilan Allah yang kita terima kelak.

Injil, hari ini menjelaskan bahwa Iman bukan sekadar pengetahuan.

Pernah mengalami pengalaman yang memalukan? Seseorang datang minta didoakan Anda karena Anda orang Kristen. Namun, ternyata doa Anda tidak menghasilkan kesembuhan untuk menolong dia. Wah, apakah doa orang Kristen tidak ampuh lagi?

Kondisi seperti itu yang dihadapi para murid yang ditinggal Yesus naik ke bukit. Mereka tidak mampu menyembuhkan seorang anak yang menderita penyakit ayan (ayat 15-16). Yesus menegur mereka dengan keras. Teguran Yesus ini menunjukkan bahwa Yesus kecewa terhadap mereka. Kekecewaan-Nya ini disebabkan Yesus telah memperlengkapi mereka dengan kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit, tetapi mereka tidak menggunakannya. Selain itu, bukankah Yesus sudah mengutus mereka untuk memberitakan kabar baik?

Mengapa mereka gagal dalam hal doa?
Masalahnya terletak pada iman para murid yang terbatas pada kehadiran Yesus saja (ayat 17). Meski mereka sudah lama mengikut Yesus, mereka belum memiliki iman yang bersandar kepada Allah sepenuhnya. Iman ini digambarkan sebesar biji sesawi yang dapat memerintahkan gunung untuk berpindah (ayat 20). Namun, bukan masalah besar kecilnya ukuran iman, tetapi kepada siapa iman itu didasarkan!

Zaman ini banyak orang Kristen yang memiliki berbagai rupa doktrin cara penyembuhan. Umumnya menekankan kesembuhan secara spektakuler, ilahi dan mukjizat. Hal ini mulai menggeser iman yang seharusnya ditujukan kepada Allah menjadi kepada teknik-teknik penyembuhan. Orang mengkultuskan pribadi pelayan Tuhan yang telah menyembuhkan, tetapi melupakan Tuhan, Sang Penyembuh sejati. Yang diperlukan adalah iman yang benar dari kita kepada Allah. Doa, puasa, karunia, manusia, dan lain-lain adalah sarana iman yang dianugerahkan Allah bagi umat-Nya.

Siapakah sumber kesembuhan yang Anda harapkan dan imani? Tuhan ataukah manusia yang ia pakai menjadi alat-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk memusatkan pandangan mataku pada Engkau saja, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar perihal cintakasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu agar dengan demikian akupun akan mampu berjalan dalam iman dan menjadi saksi-Mu kepada masyarakat di sekelilingku dan dunia yang sungguh membutuhkan Engkau dan penyelamatan dari-Mu. Amin.

08 Agustus 2020
Mat 17:14-20
Sekiranya kalian mempunyai iman, tiada yang mustahil bagimu.

Bacaan dan Renungan Jumat 07 Agustus 2020|Pekan Biasa XVIII PF S. Kayetanus, Imam PF S. Sistus II, Paus, dkk. Martir

Kalender Liturgi 07 Agustus 2020, Jumat Pekan Biasa XVIII

PF S. Kayetanus, Imam PF S. Sistus II, Paus, dkk. Martir

Bacaan I:Nah 1:15;2:2;3:1-3.6-7

Celakalah kota penumpah darah!

Lihatlah!Di atas gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah pesta-pestamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab orang dursila takkan datang lagi menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!. Sungguh, Tuhan memulihkan kebanggaan Yakub,seperti kebanggaan Israel; sebab perusak telah merusakkannya dan telah membinasakan carang-carangnya.

Celakalah kota penumpah darah itu! Kota itu seluruhnya dusta belaka, penuh dengan barang perampasan, dan tidak henti-hentinya menerkam! Dengar, lecut cambuk dan derak-derik roda! Dengar, kuda lari menderap, dan kereta meloncat-loncat! Pasukan berkuda menyerang, pedang bernyala-nyala dan tombak berkilat-kilat! Banyak yang mati terbunuh dan bangkai bertimbun-timbun! Mayat tidak habis-habisnya, orang-orang jatuh tersandung pada mayat.

Aku akan melemparkan aib ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan. Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata, ‘Niniwe sudah hancur! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari pelipur lara untuk dia?’

Mazmur Tanggapan:Ul 32:35cd-36ab.39abcd.41

Ref:Tuhanlah yang mematikan,Tuhan pula yang menghidupkan.

  • Dekatlah sudah hari bencana bagi orang-orang jahat,dan segera datanglah apa yang telah disediakan bagi mereka.Sebab Tuhan akan memberi keadilan kepada umat-Nya,dan akan merasa sayang akan hamba-hamba-Nya.
  • Lihatlah sekarang bahwa Akulah Tuhan.Tiada allah kecuali Aku.Akulah yang mematikan, Aku pulalah yang menghidupkan.Aku telah meremukkan, tetapi Aku pulalah yang menyembuhkan.
  • Apabila Aku mengasah pedang-Ku yang berkilat-kilat,apabila tangan-Ku menjalankan penghukuman,maka Aku membalas dendam kepada lawan-Ku,dan mengadakan pembalasan kepada yang membenci Aku.

Bait Pengantar Injil:Mat 5:10

Berbahagialah orang yang dikejar-kejar karena taat kepada Tuhan, sebab bagi merekalah Kerajaan Allah.

Bacaan Injil:Mat 16:24-28

Setiap orang akan dibalas setimpal dengan perbuatannya.

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya bagi seorang jika ia memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sungguh, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan:

Murka Allah dinyatakan

Banyak orang tidak dapat menerima pandangan Kristen bahwa Allah murka terhadap orang berdosa dan akan menghukum mereka yang tidak mau bertobat. Apakah sifat menghukum Allah itu menunjukkan kekejaman-Nya?

Nahum dengan lantang mengumandangkan kemurkaan Allah atas para musuh-Nya (ayat 2-8). Allah berhak murka karena Dia “cemburu” karena umat manusia ciptaan-Nya (ayat 2). Ada dua alasan kecemburuan Allah, yaitu Allah tidak rela diri-Nya diduakan dan Dia tidak rela umat-Nya diperlakukan jahat! Oleh karena keadilan-Nya, Dia akan “membalas” para musuh sesuai dengan kejahatan mereka (ayat 3b). Namun pada saat yang sama, Ia juga penuh kesabaran menantikan pertobatan sebelum hukuman dijatuhkan (ayat 3a).

Murka Allah sungguh dahsyat. Nahum menggambarkan kehebatan api kemarahan Allah secara simbolis menerpa alam semesta ciptaan-Nya (ayat 4-5). Tidak ada yang dapat bertahan menghadapi kehangatan amarah Allah (ayat 6,8b), kecuali mereka yang mencari perlindungan pada-Nya (ayat 7-8a). Murka Allah ditujukan secara khusus kepada Asyur (ayat 9-10) karena ia menentang Allah dengan berlaku jahat kepada umat-Nya. Walaupun Asyur adalah sebuah kerajaan besar, mereka tidak dapat bertahan menghadapi hukuman Allah (ayat 12-14). Sebaliknya, nubuat penghukuman ini merupakan penghiburan bagi Yehuda (ayat 15). Yehuda yang telah menyaksikan Asyur menghancurkan Israel akan dilindungi Tuhan dari keganasan Asyur (ayat 2:1-2).

Setinggi-tingginya langit … toh akan jatuh juga!
Plesetan yang asal-asalan dari seorang teman ini ternyata mengena dengan apa yang dialami Asyur. Kekaisaran Asyur, negara adidaya dengan kekuatan militer yang sangat ditakuti waktu itu, jatuh semudah buah matang yang digoncang pelan (ayat 12). Nahum membandingkan Tebe, ibukota Mesir yang secara strategis punya pertahanan alami yang lebih kuat dari Niniwe dan dikelilingi daerah sekutu. Toh Tebe hancur juga di tangan Asyur, apalagi Niniwe. Nahum menyindir lemahnya para prajurit dan penduduk Niniwe (ayat 13a, 16-18) dan sia-sianya segala upaya mereka mempertahankan kotanya (ayat 14-15). Niniwe jatuh, seperti jargon politik yang sering kita dengar, yaitu karena “pembusukan” pemerintahan kerajaan Asyur (ayat 16-18). Namun, tidak hanya itu. Ada sebab lain yang lebih mendasar: dosa Asyur dahsyat dan mengerikan! Asyur adalah bangsa yang terkenal kejam dan penuh tipu daya. Raja Asyur, Asyurbanipal (+ 668-627 SM), misalnya, dengan bangga menyatakan: “Dengan mayat para prajurit dan penduduk Elam aku membendung sungai Ulai. Selama tiga hari aku membuat sungai itu … mengalirkan mayat mereka dan bukan air!” Kota-kota dijebak untuk mengikat perjanjian damai dengan Asyur, tetapi kemudian para penduduknya dijual sebagai budak. Penyembahan berhala juga marak di kota Niniwe (ayat 4a). Karena itu Allah bangkit melawan Asyur, mempermalukan dan menghancurkannya (ayat 5-6). Tidak heran banyak orang yang bersukacita karena kehancurannya (ayat 19) dan tiada yang meratapinya (ayat 7). Nahum telah menubuatkan ini jauh-jauh hari (+ 50 tahun sebelum jatuhnya Niniwe +612 SM), pada saat jatuhnya Niniwe masih jauh dari bayangan banyak orang. Tetapi, berita Nahum terbukti benar. Allah akan terus bertindak di dalam sejarah, karena Ia adalah Tuhan semesta alam (ayat 13a). Karena itu, tiap orang yang percaya kepada Allah, tidak perlu takut kepada Asyur-asyur manapun, termasuk Asyur zaman ini.

Sampai hari ini, anak-anak Tuhan menghadapi kebencian dan penindasan. Sepertinya para musuh Allah tidak terkendali. Pada waktunya, keadilan Allah akan dinyatakan, murka dan hukuman bagi para musuh, keselamatan bagi umat yang setia kepada-Nya. Oleh sebab itu, kita harus tetap setia beribadah kepada-Nya.

Renungkan: Itu telah terjadi, dan akan terjadi lagi. Kesombongan kekuatan dunia dari zaman manapun yang menganiaya umat Tuhan, akan hancur dan remuk di hadapan Allah.

Mazmur, Kasih yang tidak berkesudahan.

Allah yang menghukum karena cemburu-Nya, Allah juga yang membela umat kepunyaan-Nya. Namun, Ia menantikan saat-saat umat-Nya sadar akan kesalahan mereka, lalu berpaling dan bertobat. Saat itulah Ia bertindak menyatakan penyelamatan-Nya sekali lagi.

Bagian terakhir nyanyian Musa ini sekali lagi menunjukkan belas kasih dan kasih setia Allah yang tidak pernah memudar dari umat-Nya. Kalau sepertinya Allah membiarkan mereka menderita di dalam dosa, itu bukan karena Ia membenci mereka. Bukan pula karena Ia sudah habis akal dan habis sabar. Semua penderitaan dimaksudkan agar Israel sadar bahwa mereka sudah berdosa kepada-Nya. Allah sengaja membiarkan mereka ‘tenggelam’ dalam pergumulan kesesakan dosa-dosa mereka, supaya mereka mencari kelepasan. Tatkala mereka menyadari bahwa kelepasan tidak akan mereka temukan pada ilah-ilah yang mereka sembah, barulah mereka berpaling kepada Dia (ayat 36-37).

Saat itulah Ia akan bangkit kembali menebus umat-Nya dari tangan para musuh yang mencengkeram mereka. Dengan keperkasaan Allah menghancurkan lawan-lawan-Nya, supaya umat-Nya dibebaskan, Nama-Nya kembali dipuji bukan hanya oleh Israel, tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain yang melihat kebesaran-Nya (ayat 39-43).

Dengan berakhirnya nyanyian itu, tuntas sudah segala nasihat yang harus disampaikan Musa kepada umat Israel. Musa akan segera meninggalkan mereka, karena Tuhan tidak mengizinkan Musa masuk ke tanah perjanjian (ayat 48-52).

Buat umat Tuhan masa kini, nyanyian peringatan Musa ini seharusnya menolong kita untuk mawas diri. Allah setia dan mengasihi kita, tetapi kita tidak boleh mempermainkan kasih setia-Nya. Mempermainkan kasih setia-Nya akan mendatangkan penghukuman Allah bagi kita. Maukah kita dipukul dahulu oleh tangan penghukuman-Nya agar kita bertobat sungguh-sungguh?

Injil hari ini, Memang tak mudah jalannya.

Keberadaan Mesias sejati bertolak belakang dengan Mesias dalam konsep pemahaman orang-orang Yahudi. Kontras antara pemahaman dan realita menyebabkan mereka menolak Yesus, anak tukang kayu, yang akan menderita bahkan mati disalib seperti penjahat besar. Memang benar jalan yang akan dilalui-Nya tidak mudah, begitu pula dengan pengikut-Nya.

Murid-murid-Nya pun masih memiliki konsep pemahaman yang sama dengan orang Yahudi. Petrus protes dengan pernyataan Yesus bahwa Ia akan menderita, dibunuh, dan dibangkitkan. Perhatian Petrus hanya kepada penderitaan-Nya sehingga mengabaikan kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya ia mengatakan bahwa Allah pasti akan melindungi Yesus. Ternyata Petrus belum sungguh-sungguh mengerti arti pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias (ayat 16). Yesus menyatakan teguran keras: “Enyahlah Iblis!” menandakan teguran yang sangat serius karena Iblislah yang paling senang bila rencana keselamatan melalui Yesus gagal.

Kemudian Yesus mengalihkan perhatian kepada semua murid-Nya, dan menyatakan tentang konsekuensi orang yang mau mengikut-Nya. Seperti Yesus yang mengambil jalan salib, maka semua pengikut-Nya pun harus mengikuti jejak-Nya. Yesus sedang mengubah konsep murid-murid tentang panggilan hidup mereka, bahwa menjadi pengikut-Nya tidaklah mudah, karena harus siap mempersembahkan hidup seutuhnya bagi- Nya. Rela menyingkirkan segala keinginan bila tidak sesuai dengan-Nya, rela mengalami berbagai kesulitan, pergumulan, tantangan, dan ancaman karena Dia, dan mengarahkan langkah kita mengikuti jejak-Nya (ayat 24). Yesus memberikan alasan melalui suatu paradoks yang bernilai kekekalan. Bila seorang menikmati kesenangan dunia, ia akan kehilangan kesempatan hidup selamanya, sebaliknya bila seorang rela kehilangan kesempatan hidup di dunia, ia akan memperoleh kehidupan yang mulia di dalam kekekalan (ayat 25-26). Bila ia memilih yang kedua, maka Anak Manusia akan menyambutnya dalam kemuliaan-Nya (ayat 27).

Renungkan: Motivasi mendapatkan kesuksesan dan ketenaran sebagai pengikut-Nya akan membawa kepada kehancuran dan kekecewaan. Jalan yang seharusnya kita tapaki menuju kemuliaan-Nya memang tidak mudah, karena Ia tidak pernah menjanjikan kemudahan tetapi kehidupan kekal bersama Dia dalam perjuangan memikul salib-Nya.

07 Agustus 2020
Mat 16:24-28 Setiap orang akan dibalas setimpal dengan perbuatannya. Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius: Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya bagi seorang jika ia memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sungguh, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Demikianlah Injil Tuhan.