Category: Bacaan Katolik

Bacaan dan Renungan Jumat 16 Februari 2018

Bacaan Liturgi Jumat, 16 Februari 2018|Hari Jumat Sesudah Rabu Abu

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a

Berpuasa, yang kukehendaki, ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.
Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan Allah,’Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka, dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang berlaku yang benar dan tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyai Aku tentang hukum-hukum yang benar. Mereka suka mendekat menghadap Allah, dan bertanya,”Kami berpuasa, mengapa Engkau tidak memperhatikannya juga? Kami merendahkan diri,mengapa Engkau tidak mengindahkannya juga?” Camkanlah!
Pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan cara berpuasa seperti ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

Inikah puasa yang Kukehendaki: mengadakan hari merendahkan diri?
menundukkan kepala seperti gelagah? dan membentangkan kain karung serta abu sebagai lapik tidur? Itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah:
Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk;
membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang,
supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab,
engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!

Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19

Ref:Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
  • Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
    dan tahirkanlah aku dari dosaku!
  • Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku
    Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa,yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
  • Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan;kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya.Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur.Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil: Am 5:14

Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu.

Bacaan Injil: Mat 9:14-15

Mempelai itu akan diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata,
“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa,
tetapi murid-murid-Mu tidak?”
Jawab Yesus kepada mereka,
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita
selama mempelai itu bersama mereka?
Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka,
dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Renungan:

Hakikat puasa

Ibadah yang berkenan kepada Tuhan adalah sikap hati yang benar dalam tindakan yang saleh. Sebaliknya, perilaku rohani yang terlihat saleh, namun tidak keluar dari hati yang tulus adalah kemunafikan.

Israel bertanya mengapa Tuhan tidak memperhatikan upaya dan jerih payah mereka berpuasa (3a). Allah menjawab mereka dengan menunjukkan beberapa perbuatan mereka yang keliru, yaitu: bertindak semena-mena dan saling berkelahi (3b-5). Percuma melakukan hukum Tuhan yang satu sementara hukum-Nya yang lain dilanggar. Mengerjakan perilaku tak terpuji saat berpuasa sama dengan perbuatan sia-sia. Perilaku berpuasa seperti ini hanya sekadar tindakan lahiriah untuk menarik perhatian dan simpati orang lain, namun tidak dapat menipu Allah. Kiasan pedas “menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur” menunjukkan betapa bo-dohnya perbuatan mereka yang menggunakan simbol kesedihan palsu untuk menjangkau Allah (ayat 5).

Umat Israel mementingkan aturan agamawi dalam menunaikan puasa, tetapi melalaikan hakikat berpuasa yang diinginkan Allah yaitu, menegakkan keadilan (ayat 6) dan membagikan berkat kepada orang lain (ayat 7) serta mematuhi hukum hari Sabat. Perilaku munafik itu membatalkan tercurahnya berkat Allah bagi mereka dan menghalangi kuasa Allah menjawab doa mereka. Jadi, berbuat baik bagi orang lain dan menaati peraturan Allah adalah perwu-judan puasa yang sejati. Inilah perbuatan yang ingin Allah temukan hadir dalam diri umat-Nya.

Pernahkah Anda merasakan keadaan serupa seperti yang dialami Israel? Selidiki dulu, sungguhkah Anda telah mempraktikkan hakikat berpuasa atau sekadar melakukan syarat lahiriah berpuasa? Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Israel!

Beribadah kepada Allah harus mewujud dalam sikap kita melayani sesama dengan kasih dan adil.

Mazmur, Bukan korban tetapi pengakuan.

Tidak sedikit orang Kristen berpendapat bahwa kalau seseorang jatuh ke dalam dosa, di samping mengaku dosa maka ia harus semakin berusaha untuk hidup kudus. Caranya adalah dengan sering berpuasa, rajin ke gereja, baca Alkitab, dan sebagainya. Namun ironisnya, semakin ia berusaha untuk melakukan yang baik ternyata semakin ia frustrasi. Mengapa? Karena ternyata kebanyakan usahanya itu gagal. Akhirnya, ia berkesimpulan bahwa usaha yang dilakukannya sia-sia. Semakin banyak ia jatuh bangun semakin frustasi dirinya.

Latar belakang mazmur ini adalah kejatuhan Daud ke dalam dosa dengan Batsyeba (ayat 2 Samuel 11). Dosa Daud tidak berhenti sampai di situ. Ia bahkan membunuh Uria, suami Batsyeba untuk menutupi perzinahannya. Namun, Tuhan tidak membiarkan Daud berkanjang dalam dosanya. Melalui Nabi Natan, Tuhan menegurnya (ayat 2 Samuel 12:1-15). Hati Daud hancur. Ia datang ke hadapan Allah dengan pengakuan dan penyesalan yang dalam. Kehancuran hati Daud ini dipandang Allah sebagai korban sembelihan yang berkenan pada-Nya (ayat 18-19) dan sekaligus merupakan tanda bahwa Daud telah mendapat pengampunan dari Allah.

Selanjutnya Daud berdoa agar Allah bermurah-hati dengan membangun kembali “tembok-tembok Yerusalem” (ayat 20). Hal ini menandakan bahwa mazmur ini dituliskan ulang oleh penerus Daud pada saat Bait Suci telah dihancurkan dan karenanya umat TUHAN tidak bisa lagi

mempersembahkan korban. Bagi umat, tiadanya persembahan korban berarti TUHAN telah jauh dari umat-Nya. Namun pengalaman Daud ini pastilah menjadi suatu penghiburan bagi umat ketika dibacakan kepada mereka. Karena ternyata bukan korban persembahan yang utama bagi TUHAN tetapi pengakuan dan penyesalan atas dosa.

Renungkan: Jika kita jatuh ke dalam dosa, jangan mencoba menyelesaikannya sendiri. Akuilah dosamu di hadapan TUHAN dengan penyesalan yang dalam dan Ia akan mengampuni!

Injil hari ini,

Puasa memang penting. Puasa dapat melatih diri untuk berdisiplin, menahan berbagai nafsu dan keinginan-keinginan tidak teratur. Tetapi puasa hanya akan bermakna rohani apabila dikaitkan dengan hubungan antara manusia dengan Allah. Puasa yang maknanya dilepaskan dari hubungan tersebut menjadi bukan apa-apa, hanya suatu latihan fisik belaka. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam masa puasa ini? Melihat kembali bagaimana hubungan kita dengan Dia.

Tentang puasa, dalam Kitab Suci sebetulnya keharusan puasa bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x yaitu pada hari raya Pendamaian (Im 16:29-34 Im 23:26-32 Bil 29:7-11).

Tetapi orang-orang Farisi berpuasa 2 x seminggu (Luk 18:12).
Jadi, mereka berpuasa bukan karena diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu adalah puasa yang diharuskan oleh Firman Tuhan, pasti Yesus juga menyuruh murid-muridNya berpuasa), tetapi karena keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai tradisi. Tetapi mereka lalu memaksa orang lain (murid-murid Yesus) untuk juga berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu. Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup.

Murid-murid Yohanes Pembaptis datang kepada Yesus dan bertanya perihal puasa. Kita mengetahui gaya hidup Yohanes yang asketis: tinggal di padang belantara, hanya makan belalang dan madu, dan puasa juga. Jadi, kemungkinan besar murid-murid-nya juga mengikuti jejaknya. Mereka dan orang-orang Farisi memiliki kemiripan dalam hal menerapkan peraturan-peraturan hukum Yahudi. Mereka ketat dan rajin dalam hal berpuasa, bisa sampai 2 kali seminggu.

Bagian terakhir dan yang paling penting adalah tentang diri dan misi Yesus Kristus – tujuan-Nya datang ke dunia ini. Dia datang untuk menyatakan bahwa waktu sudah berubah, ini bukan lagi Perjanjian Lama. Mempelai pria sudah datang, kain lama tidak boleh ditambal dengan kain baru, anggur yang baru tidak bisa disimpan di dalam kantong kulit yang lama.

Di dalam Hosea 2:15-19, Allah Bapa digambarkan sebagai mempelai pria dan Israel sebagai istri-Nya. Ini menunjukkan adanya perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah. Lalu sekarang ketika Tuhan Yesus memanggil diri-Nya sebagai mempelai pria, Dia sekaligus ingin menyatakan kepada pendengar-Nya bahwa sesungguhnya Dia adalah Allah. Yoh 8:42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.Yoh 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.”

Dalam menjawab pertanyaan “mengapa murid-Mu tidak berpuasa?”, seakan-akan Yesus menjawab, “Be happy, for I am here!”. Biasanya apabila kita berjumpa dengan seorang teman, maka kita, yang didatangi teman itu, akan berkata, “Sungguh senang kamu datang.” Justru aneh apabila teman kita itu yang datang lalu berkata sendiri dengan lantang, “Bersukacitalah! Sebab aku sudah datang!” Tapi inilah yang Tuhan Yesus ucapkan. Jawaban yang Dia berikan membawa kita harus bertanya “siapakah Dia?”

Dan apabila Dia ada di sini, mengapakah kita bersedih? Mempelai pria sudah datang. Selayaknya sahabat-sahabat-nya juga ikut bersuka ria. Ini bukan waktu berduka cita. Sebelum kedatangan Tuhan Yesus mereka dalam keadaan yang menanti-nantikan Dia. Akan tetapi sekarang penggenapan Perjanjian Lama sudah nyata dan hadir di dalam diri Kristus Yesus. Maka itu berubahlah. Ganti dukacita jadi sukacita. Mempelai pria ada di sini. Ini bukan waktu untuk berpuasa. Ini waktu untuk minum anggur, bukan waktu minum air putih. Bersukacitalah karena Kristus sudah datang.

Lalu Tuhan Yesus melanjutkan, “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Ini menunjukkan kepada kematian Kristus di atas kayu salib. “Diambil” di sini boleh dimengerti dengan diambil dengan kekerasan. Ketika Kristus mati, maka itulah saat di mana mereka pantas untuk berduka cita.
Yoh 16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

Ucapan itu dikatakan Yesus ketika Dia masih hidup; murid-murid-Nya belum menyaksikan kematian dan kebangkitan-Nya. Jadi mungkin mereka masih belum terlalu paham akan maksud Tuhan Yesus ketika itu. Akan tetapi bagi kita sekarang ini yang hidup setelah peristiwa itu selesai, yang telah mengetahui secara keseluruhannya bahwa Kristus mati dan bangkit, dan naik ke sorga, kita boleh mengerti hidup ini secara paradox. Waktu antara kenaikkan dan kedatanganNya kedua kali ditandai dengan kehadiran dan ketidak-hadiran Yesus. Karena Yesus tidak ada, dan belum membinasakan secara total kuasa dosa dan kematian, maka murid-muridNya akan berduka (Mat 5:4) dan berpuasa (9:15) sampai Dia datang kembali. Waktu di mana murid-murid akan berpuasa menunjuk kepada masa sejarah gereja sepanjang jaman. Tetapi Yesus juga terus hadir (Mat 28:20), dan sudah mencapai kemenangan yang pasti, sehingga puasapun bukan berarti tidak adanya sukacita.

Orang Kristen yang terus menerus sedih lupa dengan apa yang sudah Kristus lakukan (mati, menyelamatkan kita dan menjadikan kita mempelai wanita-Nya). Akan tetapi orang Kristen yang juga terus menerus sukacita lupa dengan apa yang akan Kristus lakukan di depan – Dia masih mau datang untuk menjemput mempelai wanita-Nya.

Selanjutnya, selain datang untuk mengubah sikap pribadi demi pribadi (ayat 15), maksud kedatangan Yesus ke dunia ini juga adalah untuk mengubah struktur (ayat 16-17). Yesus mencoba menjelaskan ini dengan memakai dua contoh. Pertama, tentang kain yang susut. Jaman dulu kain yang baru biasanya akan menyusut waktu pertama kali dicuci. Jadi jika kain yang baru dan belum susut ini ditambalkan kepada kain yang lama (yang sudah susut) maka kain baru yang akan susut itu akan menarik dan merobek lebih besar kain yang lama. Meskipun ketika ditambal kelihatan rapi dan bagus, waktu pertama kali dicuci kain yang baru itu akan susut dan makin besarlah koyaknya.

Contoh yang kedua, tentang anggur yang disimpan di dalam kantong kulit. Jaman dulu, botol anggur terbuat dari kulit binatang. Lambat laun, setelah dipakai lama, botol kulit binatang itu menjadi tidak lagi elastis. Ketika anggur yang baru jadi, yang masih mengalami fermentasi, disimpan di situ, tekanan gas fermentasi dapat membuat kantong menjadi menggembung dan pecah. Karena itulah, anggur yang baru harus disimpan di dalam kantong yang baru juga.

Apa artinya ini? Kedatangan Kristus mau menunjukkan sekali lagi kepada kita bahwa ada sesuatu yang baru, yaitu perubahan struktur-struktur dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, status ke-imam-an dipegang oleh suku Lewi. Mereka beribadah di dalam Bait Allah. Para imam juga yang mempersembahkan korban setiap tahunnya. Yerusalem menjadi pusat kota ibadah. Sekarang di dalam Perjanjian Baru, ketika Kristus datang, itu semuanya tidak ada lagi. Tidak perlu lagi korban, tidak perlu lagi tempat yang khusus untuk bersembahyang (Yerusalem), tidak ada lagi peran imam dari suku Lewi. Semuanya sudah diganti karena Kristus yang menggenapi itu semua sudah datang. Dia adalah imam yang agung itu, yang membawa diri-Nya sendiri menjadi korban. Dia adalah Anak Domba Allah yang dicurahkan darah-Nya untuk mengangkut dosa dunia. Dia adalah the Temple of God – di dalam Dia-lah kita beribadah. Struktur yang sangat kuat membentuk jatidiri orang Israel sekarang harus mengalami perubahan.

Sekarang sudah menjadi masa yang baru! Ketika Kristus datang, Dia bukan saja mengubah diri orang tiap orang, tetapi juga mengubah struktur yang sudah ada, yang sudah mendasar dan sangat mempengaruhi hidup manusia. Apabila kita pikirkan lebih lanjut, seringkali struktur mengambil peranan lebih besar dalam pembentukan hidup kita.

1Yoh 3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin. (Lucas Margono)

16 Feb 2018

Nama-nama Paus Katolik Sejak Abad Pertama hingga sekarang (2018)

DAFTAR PAUS GEREJA KATOLIK SEJAK ABAD PERTAMA

  1. Paus Santo Petrus 32-64/67
  2. Paus Santo Linus 67-79
  3. Paus Santo Anakletus 79-88
  4. Paus Santo Klemens I 88-97
  5. Paus Santo Evaristus 97-105
  6. Paus Santo Aleksander I 105-115
  7. Paus Santo Siktus I 115-125
  8. Paus Santo Telesphorus 125-136
  9. Paus Santo Hyginus 136-140
  10. Paus Santo Pius I 140-155
  11. Paus Santo Anisetus 155-166
  12. Paus Santo Soter 166-175
  13. Paus Santo Eleutherius 175-189
  14. Paus Santo Viktor I 189-199
  15. Paus Santo Zephyrinus 199-217
  16. Paus Santo Kallistus I 217-222
  17. Paus Santo Urbanus I 222-230
  18. Paus Santo Pontianus 230-235
  19. Paus Santo Anterus 235-236
  20. Paus Santo Fabianus 236-250
  21. Paus Santo Kornelius 251-253
  22. Paus Santo Lusius I 253-254
  23. Paus Santo Stefanus I 254-257
  24. Paus Santo Siktus II 257-258
  25. Paus Santo Dionisius 260-268
  26. Paus Santo Feliks I 269-274
  27. Paus Santo Eutychianus 275-283
  28. Paus Santo Gaius 283-296
  29. Paus Santo Marselinus 296-304
  30. Paus Santo Marsellus I 308-309
  31. Paus Santo Eusebius 309-310
  32. Paus Santo Meltiades 311-314
  33. Paus Santo Silvester I 314-335
  34. Paus Santo Markus 335-336
  35. Paus Santo Julius I 337-352
  36. Paus Liberius 352-366
  37. Paus Santo Damasus I 366-383
  38. Paus Santo Sirikus 384-399
  39. Paus Santo Anastasius I 399-401
  40. Paus Santo Innosensius I 401-417
  41. Paus Santo Zosimus 417-418
  42. Paus Santo Bonifasius I 418-422
  43. Paus Santo Selestinus I 422-432
  44. Paus Santo Siktus III 432-440
  45. Paus Santo Leo I 440-461 Leo
  46. Paus Santo Hilarius 461-468
  47. Paus Santo Simplisius 468-483
  48. Paus Santo Feliks III 483-492
  49. Paus Santo Gelasius I 492-496
  50. Paus Anastasius II 496-498
  51. Paus Santo Symnakus 498-514
  52. Paus Santo Hormidas 514-523
  53. Paus Santo Yohanes I 523-526
  54. Paus Santo Feliks IV 526-530
  55. Paus Bonifasius II 530-532
  56. Paus Yohanes II 533-535
  57. Paus Santo Agapitus I 535-536
  58. Paus Santo Silverius 536-537
  59. Paus Vigilius 537-555
  60. Paus Pelagius I 556-561
  61. Paus Yohanes III 561-574
  62. Paus Benediktus I 575-579
  63. Paus Pelagius II 579-590
  64. Paus Santo Gregorius I Agung 590-604
  65. Paus Sabianus 604-606
  66. Paus Bonifasius III 607
  67. Paus Santo Bonifasius IV 608-615
  68. Paus Santo Adeodatus I 615-618
  69. Paus Bonifasius V 619-625
  70. Paus Honorius I 625-638
  71. Paus Severinus 640
  72. Paus Yohanes IV 640-642
  73. Paus Theodorus I 642-649
  74. Paus Santo Martinus I 649-654
  75. Paus Santo Eugenius I 654-657
  76. Paus Santo Vitalianus 657-672
  77. Paus Adeodatus II 672-676
  78. Paus Donus 676-678
  79. Paus Santo Agathus 678-681
  80. Paus Santo Leo II 682-683
  81. Paus Santo Benediktus II 684-685
  82. Paus Yohanes V 685-686
  83. Paus Conon 686-687
  84. Paus Santo Sergius I 687-701
  85. Paus Yohanes VI 701-705
  86. Paus Yohanes VII 705-707
  87. Paus Sisinnius 708
  88. Paus Konstantinus 708-715
  89. Paus Santo Gregorius II 715-731
  90. Paus Santo Gregorius III 731-741
  91. Paus Santo Zakarias 741-752
  92. Paus Stefanus II 752-757
  93. Paus Santo Paulus I 757-767
  94. Paus Stefanus III 767-772
  95. Paus Adrianus I 772-795
  96. Paus Santo Leo III 795-816
  97. Paus Stefanus IV 816-817
  98. Paus Santo Paskalis I 817-824
  99. Paus Eugenius II 824-827
  100. Paus Valentinus 827
  101. Paus Gregorius IV 827-844
  102. Paus Sergius II 844-847
  103. Paus Santo Leo IV 847-855
  104. Paus Benediktus III 855-858
  105. Paus Santo Nikolas I Agung 858-867
  106. Paus Adrianus II 867-872
  107. Paus Yohanes VIII 872-882
  108. Paus Marinus I 882-884
  109. Paus Santo Adrianus III 884-885
  110. Paus Stefanus V 885-891
  111. Paus Formosus 891-896
  112. Paus Bonifasius VI 896
  113. Paus Stefanus VI 896-897
  114. Paus Romanus 897
  115. Paus Theodorus II 897
  116. Paus Yohanes IX 898-900
  117. Paus Benediktus IV 900-903
  118. Paus Leo V 903
  119. Paus Sergius III 904-911
  120. Paus Anastasius III 911-913
  121. Paus Lando 913-914
  122. Paus Yohanes X 914-928
  123. Paus Leo VI 928-929
  124. Paus Stefanus VII 929-931
  125. Paus Yohanes XI 931-935
  126. Paus Leo VII 936-939
  127. Paus Stefanus VIII 939-942
  128. Paus Marinus II 942-946
  129. Paus Agapitus II 946-955
  130. Paus Yohanes XII 955-963
  131. Paus Leo VIII 963-964
  132. Paus Benediktus V 964
  133. Paus Yohanes XIII 965-972
  134. Paus Benediktus VI 973-974
  135. Paus Benediktus VII 974-983
  136. Paus Yohanes XIV 983-984
  137. Paus Yohanes XV 985-996
  138. Paus Gregorius V 996-999
  139. Paus Silvester II 999-1003
  140. Paus Yohanes XVII 1003
  141. Paus Yohanes XVIII 1003-1009
  142. Paus Sergius IV 1009-1012
  143. Paus Benediktus VIII 1012-1024
  144. Paus Yohanes XIX 1024-1032
  145. Paus Benediktus IX 1032-1044
  146. Paus Silvester III 1045
  147. Paus Benediktus IX 1045
  148. Paus Gregorius VI 1045-1046
  149. Paus Klemens II 1046-1047
  150. Paus Benediktus IX 1047-1048
  151. Paus Damasus II 1048
  152. Paus Santo Leo IX 1049-1054
  153. Paus Viktor II 1055-105
  154. Paus Stefanus IX 1057-1058
  155. Paus Nikolas II 1058-1061
  156. Paus Aleksander II 1061-1073
  157. Paus Santo Gregorius VII 1073-1085
  158. Paus Viktor III 1086-1087
  159. Paus Urbanus II 1088-1099
  160. Paus Paskalis II 1099-1118
  161. Paus Gelasius II 1118-1119
  162. Paus Kallistus II 1119-1124
  163. Paus Honorius II 1124-1130
  164. Paus Innosensius II 1130-1143
  165. Paus Selestinus II 1143-1144
  166. Paus Lusius II 1144-1145
  167. Paus Eugenius III 1145-1153
  168. Paus Anastasius IV 1153-1154
  169. Paus Adrianus IV 1154-1159
  170. Paus Aleksander III 1159-1181
  171. Paus Lusius III 1181-1185
  172. Paus Urbanus III 1185-1187
  173. Paus Gregorius VIII 1187
  174. Paus Klemens III 1187-1191
  175. Paus Selestinus III 1191-1198
  176. Paus Innosensius III 1198-1216
  177. Paus Honorius III 1216-1227
  178. Paus Gregorius IX 1227-1241
  179. Paus Selestinus IV 1241
  180. Paus Innosensius IV 1243-1254
  181. Paus Aleksander IV 1254-1261
  182. Paus Urbanus IV 1261-1264
  183. Paus Klemens IV 1265-1268
  184. Paus Gregorius X 1271-1276
  185. Paus Innosensius V 1276
  186. Paus Adrianus V 1276
  187. Paus Yohanes XXI 1276-1277
  188. Paus Nikolas III 1277-1280
  189. Paus Martinus IV 1281-1285
  190. Paus Honorius IV 1285-1287
  191. Paus Nikolas IV 1288-1292
  192. Paus Santo Selestinus V 1294
  193. Paus Bonifasius VIII 1294-130
  194. Paus Benediktus XI 1303-1304
  195. Paus Klemens V 1305-1314
  196. Paus Yohanes XXII 1316-1334
  197. Paus Benediktus XII 1334-1342
  198. Paus Klemens VI 1342-1352
  199. Paus Innosensius VI 1352-1362
  200. Paus Urbanus V 1362-1370
  201. Paus Gregorius XI 1370-1378
  202. Paus Urbanus VI 1378-1389
  203. Paus Bonifasius IX 1389-1404
  204. Paus Innosensius VII 1404-140
  205. Paus Gregorius XII 1406-1415
  206. Paus Martinus V 1417-1431
  207. Paus Eugenius IV 1431-1447
  208. Paus Nikolas V 1447-1455
  209. Paus Kallistus III 1455-1458
  210. Paus Pius II 1458-1464
  211. Paus Paulus II 1464-1471
  212. Paus Siktus IV 1471-1484
  213. Paus Innosensius VIII 1484-1492
  214. Paus Aleksander VI 1492-1503
  215. Paus Pius III 1503
  216. Paus Julius II 1503-1513
  217. Paus Leo X 1513-1521
  218. Paus Adrianus VI 1522-1523
  219. Paus Klemens VII 1523-1534
  220. Paus Paulus III 1534-1549
  221. Paus Julius III 1550-1555
  222. Paus Marsellus II 1555
  223. Paus Paulus IV 1555-1559
  224. Paus Pius IV 1559-1565
  225. Paus Santo Pius V 1566-1572
  226. Paus Gregorius XIII 1572-1585
  227. Paus Siktus V 1585-1590
  228. Paus Urbanus VII 1590
  229. Paus Gregorius XIV 1590-1591
  230. Paus Innosensius IX 1591
  231. Paus Klemens VIII 1592-1605
  232. Paus Leo XI 1605
  233. Paus Paulus V 1605-1621
  234. Paus Gregorius XV 1621-1623
  235. Paus Urbanus VIII 1623-1644
  236. Paus Innosensius X 1644-1655
  237. Paus Aleksander VII 1655-1667
  238. Paus Klemens IX 1667-1669
  239. Paus Klemens X 1670-1676
  240. Paus Innosensius XI 1676-1689
  241. Paus Aleksander VIII 1689-1691
  242. Paus Innosensius XII 1691-1700
  243. Paus Klemens XI 1700-1721
  244. Paus Innosensius XIII 1721-1724
  245. Paus Benediktus XIII 1724-1730
  246. Paus Klemens XII 1730-1740
  247. Paus Benediktus XIV 1740-1758
  248. Paus Klemens XIII 1758-1769
  249. Paus Klemens XIV 1769-1774
  250. Paus Pius VI 1775-1799
  251. Paus Pius VII 1800-1823
  252. Paus Leo XII 1823-1829
  253. Paus Pius VIII 1829-1830
  254. Paus Gregorius XVI 1831-1846
  255. Paus Pius IX 1846-1878
  256. Paus Leo XIII 1878-1903
  257. Paus Santo Pius X 1903-1914
  258. Paus Benediktus XV 1914-1922
  259. Paus Pius XI 1922-1939
  260. Paus Pius XII 1939-1958
  261. Paus Yohanes XXIII 1958-1963
  262. Paus Paulus VI 1963-1978
  263. Paus Yohanes Paulus I 1978

    Paus Yohanes Paulus I 1978
    Paus Yohanes Paulus I 1978
  264. Paus Santo Yohanes Paulus II 1978-2005

    Paus Santo Yohanes Paulus II 1978-2005
    Paus Santo Yohanes Paulus II 1978-2005
  265. Paus Benediktus XVI 2005-2013

    Paus Benediktus XVI 2005-2013
    Paus Benediktus XVI 2005-2013
  266. Paus Fransiskus 2013-sekarang

    Paus Fransiskus 2013-sekarang
    Paus Fransiskus 2013-sekarang

Referensi:

Bacaan dan Renungan Selasa 08 Agustus 2017

Bacaan Selasa, 08 Agustus 2017; Peringatan Wajib St. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam

Bacaan I: Bilangan 12:1-13

“Musa itu seorang nabi yang lain daripada yang lain. Bagaimana kalian sampai berani menaruh syak terhadap dia?”

Sekali peristiwa Miryam dan Harun menaruh syak terhadap Musa karena wanita Kush yang diperisterinya. Memang Musa telah memperisteri seorang wanita dari Kush. Kata mereka,”Benarkah Tuhan bersabda dengan perantaraanMusa saja? Bukankah Ia juga bersabda dengan perantaraan kita?” Hal itu didengar oleh Tuhan. Adapun Musa, dia itu seorang yang sangat lembut hatinya melebihi siapa pun di atas bumi. Lalu tiba-tiba bersabdalah Tuhan kepada Musa, Harun dan Miryam, “Keluarlah kalian bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah Tuhan dalam tiang awan dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam. Dan mereka berdua tampil. Lalu bersabdalah Tuhan, “Dengarkanlah sabda-Ku ini. Jika di antara kalian ada seorang nabi, maka Aku, Tuhan, menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan. Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikianlah halnya dengan hamba-Ku Musa, yang setia di seluruh rumah-Ku. Dengan Musa Aku berbicara berhadap-hadapan, terus terang, bukan dalam teka-teki. Dan ia telah melihat rupa Tuhan. Bagaimana kalian sampai berani menaruh syak terhadap hamba-Ku Musa?” Sebab itu bangkitlah murka Tuhan terhadap mereka. Tuhan meninggalkan tempat itu, dan tiang awan naik dari atas kemah. Pada saat itu Miryam tampak kena penyakit kusta, kulitnya menjadi putih seperti salju. Ketika Harun menoleh kepadanya, tampaklah olehnya bahwa Miryam telah terkena kusta. Harun lalu berkata kepada Musa, “Ah Tuanku, janganlah kiranya dosa ini ditimpakan kepada kami. Dalam kebodohan kami telah berbuat demikian. Janganlah kiranya Miryam ini dibiarkan sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan sudah setengah busuk dagingnya.” Lalu berserulah Musa kepada Tuhan, “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.”

Mazmur Tanggapan

Ref. Kasihanilah aku, ya Allah, sebab aku orang berdosa.
Atau: Alleluya.
Ayat. (Mzm 51:3-4.5-6a.6bc-7.12-13)

  1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.
  2. Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
  3. Maka Engkau adil bila menghukum aku, dan tepatlah penghukuman-Mu. Sungguh, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
  4. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baruilah semangat yang teguh dalam batinku.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 1:49b)
Rabi, Engkau Anak Allah, Engkaulah raja Israel.

Bacaan Injil: Mat 15:1-2.10-14

Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi
15:1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: 15:2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
15:10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: 15:11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” 15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” 15:13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. 15:14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”

Renungan Selasa, 08 Agustus 2017

Hormati gembala-gembala kita sebagai hamba Tuhan

Menjadi pelayan Tuhan tidak membuat orang kebal dari isu atau hasutan yang biasanya menimpa orang yang bekerja di bidang bisnis atau politik. Bak pohon yang makin tinggi makin sering diterjang angin, begitulah pelayan Tuhan sering mendapat sorotan dan menjadi sasaran rasa iri. Musa pun mengalaminya. Malah hasutan itu ditiupkan oleh saudaranya sendiri yaitu Miryam dan Harun (1-2). Mungkin mereka iri karena otoritas yang dimiliki Musa. Mereka menganggap posisi mereka sama dengan Musa.

Bagaimana Musa menghadapi isu tersebut? Musa tidak bereaksi. Ia adalah seorang yang berhati lembut (3). Kelembutannya tentu lahir dari kedekatannya dengan Tuhan (7-8). Maka tidak ada yang dia lakukan untuk menyanggah serangan kata-kata Miryam dan Harun. Tuhanlah yang kemudian bertindak. Campur tangan Tuhan memperlihatkan pentingnya masalah ini bagi Dia. Ia mempertemukan ketiga orang tersebut dan membuka isu itu di dalam terang firman-Nya (4-8). Tuhan memang menyatakan firman-Nya secara khusus kepada Musa, lebih istimewa daripada kepada nabi lain (6-8). Tuhan memang memilih Musa untuk mengemban tugas membebaskan bangsanya keluar dari Mesir. Itu sebabnya Tuhan menjadi murka dan menghukum Miryam dengan kusta (9-10). Mungkin Miryamlah “otak” dari hasutan ini. Melihat hal itu, Harun menyatakan penyesalannya dan meminta belas kasihan Musa. Lalu Musa, pria yang lembut hati itu, datang kepada Tuhan dan memohon kesembuhan atas diri Miryam (11-13). Namun, Tuhan tetap menginginkan Miryam dihukum selama tujuh hari (14-15).

Bagi para pelayan Tuhan Pastor, bruder, suster, biarawan-biarawati,  kisah ini menjadi penghiburan yang menguatkan: Tuhan memperhatikan dan turun tangan membela pelayan-Nya. Ini juga menjadi peringatan keras bagi sesama hamba Tuhan untuk tidak saling bersaing, tetapi saling mendukung dan menghormati. Menghormati Tuhan adalah juga berarti menghormati hamba-hamba yang telah Dia pilih.

Mazmur, Indahnya sebuah pengampunan

Ada tujuh mazmur pengakuan dosa dalam Kitab Mazmur (Mzm. 6, 32, 38, 51, 102, 130, 143). Mzm. 51 ini merupakan mazmur pengakuan dosa yang paling indah. Ini adalah pengakuan dosa Daud setelah nabi Natan menegur dia karena perzinaannya dengan Batsyeba.

Daud meminta belas kasihan Tuhan karena ia tahu bahwa ia telah berdosa. Ia sadar bahwa hanya Allah yang dapat menghapus dosanya. Ia tahu bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah yang penuh rahmat (ayat Yer. 24:7; Yeh. 36:26). Perkataan Daud agar Allah tidak mengambil Roh-Nya yang kudus dari dirinya merupakan permohonan supaya Allah jangan menolak dia menjadi raja seperti yang telah Allah lakukan pada Saul (ayat 1Sam. 16:14). Untuk itu Daud berjanji akan mengajarkan jalan Tuhan kepada orang-orang lain untuk membawa mereka ke dalam pertobatan setelah Allah memulihkannya (ayat 14-15). Ia kemudian memohon supaya Allah melepaskan dia dari hutang darah tersebut. Daud sadar bahwa bukan darah kambing dan domba yang menghapuskan dosanya, tetapi hanya Allah yang dapat menghapuskan dosa jika ia datang kepada Allah dengan hati yang hancur (ayat 18-19).

Pertobatan Daud dari dosa yang begitu mengerikan dan pengampunan Allah yang begitu ajaib menunjukkan bahwa tidak ada dosa apapun yang dapat memisahkan umat Allah dari kasih Allah jika ia sungguh-sungguh bertobat. Karena itu jangan ragu untuk meminta ampun kepada Tuhan atas semua dosa kita, bagaimanapun najisnya.

Injil hari ini mengajarkan kepada kita untuk Setia kepada firman.

Apakah tidak mencuci tangan sebelum makan merupakan tindakan yang melanggar Hukum Taurat? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. Bagi orang Farisi dan ahli Taurat perbuatan itu sudah melanggar Hukum Taurat (ayat 2), tetapi Tuhan Yesus mengatakan, “Tidak.”

Ada dua alasan mengapa Tuhan Yesus menyatakan demikian. Pertama, Yesus menegur kemunafikan mereka karena menggantikan Hukum Taurat dengan ajaran tradisi mereka (ayat 3, 6). Mungkin pada mulanya tradisi-tradisi seperti itu dimaksudkan untuk mendorong dan memastikan orang Israel taat sepenuhnya terhadap Hukum Taurat. Misalnya tradisi menjanjikan persembahan uang atau harta yang diberikan ke Bait Allah, mungkin dimaksudkan supaya umat setia beribadah kepada Allah. Praktiknya tradisi ini bahkan mengizinkan seseorang untuk mengabaikan perintah Tuhan yang lebih prinsip yaitu menghormati orang tua. Kedua, sebenarnya makan dengan tangan yang belum dicuci tidak melanggar Hukum Taurat. Inti Hukum Taurat bukan terletak pada peraturan-peraturan jasmani melainkan terletak di hati. Hati yang kudus akan menghasilkan perbuatan kudus, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, Yesus mengecam tradisi yang hanya mementingkan tindakan lahiriah, tetapi mengabaikan yang Tuhan inginkan.

Betapa mudahnya seseorang jatuh ke dalam dosa kemunafikan. Sepertinya ia saleh dan setia kepada Tuhan dengan menjalankan tata peraturan agamawi, tetapi telah melanggar perintah Tuhan lainnya yang lebih penting untuk dilakukan. Bisa jadi, kita dapat bahkan sering melakukan hal yang serupa ini yaitu memutarbalikkan kebenaran firman Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Kita juga berperilaku seolah-olah saleh padahal hanya ingin dipuja-puji orang lain. Mungkin orang lain bisa terkecoh oleh sikap itu. Akan tetapi, Tuhan tidak dapat dikelabui sebab Ia melihat hati setiap orang.

Menumbuhkan firman-Nya dalam hati adalah kunci untuk mencegah dosa kemunafikan

(Sumber: https://margonolucas.wordpress.com)

08

Bacaan dan Renungan Senin 07 Agustus 2017

Bacaan Senin, 07 Agustus 2017;Hari Biasa Pekan XVIII;Tahun A /I Hijau

Bacaan I:Bilangan 11:4b-15

“Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas bangsa ini.”

Sekali peristiwa, dalam perjalanannya melintasi gurun pasir, orang-orang Israel berkata, “Siapa yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat akan ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, akan mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tiada sesuatu pun yang kita lihat kecuali manna.” Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah. Orang-orang Israel berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dengan lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa penganan yang digoreng. Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ. Musa mendengar keluh kesah bangsa itu, sebab orang-orang dari setiap keluarga menangis di depan pintu kemahnya. Maka bangkitlah murka Tuhan dengan sangat, dan hal itu dinilai jahat oleh Musa. Maka Musa berkata kepada Tuhan, “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk, dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia dalam pandangan-Mu? Mengapa Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung atau melahirkan bangsa ini? Mengapa Engkau berkata kepadaku, ‘Pangkulah dia seperti seorang inang memangku anak yang sedang menyusu? Bimbinglah dia ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyangnya!’ Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dan berkata, ‘Berilah kami daging untuk dimakan.’ Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja; jika aku mendapat kasih karunia dalam pandangan-Mu janganlah kiranya aku mengalami malapetaka!”

Mazmur Tanggapan; Mzm 81:12-13.14-15.16-17; Ul: 2a

Ref. Bersorak sorailah bagi Allah, kekuatan kita.
Ayat.

  1. Umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti angan-angannya sendiri!
  2. Sekiranya umat-Ku mendengar Aku; sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan, seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan para lawan mereka Kupukul dengan tangan-Ku.
  3. Orang-orang yang membenci Tuhan akan tunduk kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik, dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 4:4b)
Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah.

Bacaan Injil: Matius 14:13-21

“Sambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat; dibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid. Lalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak.”

Sekali peristiwa, setelah mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis, menyingkirlah Yesus; dengan naik perahu Ia bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat, dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam para murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja memberi makan mereka.” Jawab mereka, “Pada kami hanya ada lima buah roti dan dua ekor ikan.” Yesus berkata, “Bawalah ke mari.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Setelah itu Ia mengambil kelima buah roti dan kedua ekor ikan. Sambil menengadah ke langit diucapkan-Nya doa berkat, dibagi-bagi-Nya roti itu dan diberikan-Nya kepada para murid. Para murid lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan sampai dua belas bakul penuh. Yang turut makan kira-kira lima ribu orang pria; tidak termasuk wanita dan anak.

Renungan Senin, 07 Agustus 2017

Memberi Yang Terbaik

Frater Gugupan ditugaskan oleh pembinanya untuk mendampingi kelompok anak- anak. Tugas ini merupakan hal baru baginya, suatu tugas yang tidak terlalu mudah baginya, karena ia sering merasa ragu apakah dia bisa memberikan sesuatu untuk orang-orang yang dijumpainya. Meski demikian,karena alasan tugas, Frater Gugupan tetap menjalankannya. Setelah lewat satu tahun, cara pandang Frater Gugupan berubah. Anak-anak polos, yang kadang cengeng dan manja, telah mengubah pribadi Frater Gugupan. Meski ia tidak pandai memainkan alat musik untuk menghibur anak-anak, ia ternyata bisa memberikan sesuatu yang sangat menggembirakan anak-anak, yakni kehadirannya sebagai seorang frater.

Yesus dalam injil hari ini mengajarkan murid-murid-Nya untuk senantiasa memberikan yang terbaik , yang bisa diberikan ketika berhadapan dengan sesama yang tentu memiliki kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya, entah kebutuhan jasmani maupun rohani. Dalam Injil dikisahkan bagaimana Yesus yang sebenarnya ingin beristirahat dari keramaian orang banyak, tapi tergerak oleh belas kasihan ketika berhadapan dengan orang banyak yang telah mengikuti-Nya dengan menempuh jalan darat. Orang- orang sakit dari antara mereka mendapatkan penyembuhan, dan bahkan mereka semua yang sementara lapar karena karena sepanjang hari telah mengikuti Yesus, diberikan makanan oleh Yesus. Yesus mengadakan mujijat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia adalah Allah dan Ia bisa melakukannya. Ia memberikan yang terbaik yang bisa diberikan-Nya. Yesus tak tanggung-tanggung dalam memberi karena hatinya senantiasa terbuka untuk digerakkan oleh umat manusia yang membutuhkan pertolongan dan belas kasihan.

Saudara terkasih, masing-masing kita memiliki sesuatu yang bisa kita bagikan untuk sesama yang ada disekitar kita. Kehadiran kita, senyum dan sapaan tulus kita, pengetahuan dan keterampilan dalam bidang tertentu, bahkan juga materi dan harta kekayaan kita, bisa kita bagikan untuk menjawab kebutuhan saudara-saudari kita. Ketika kita memberi, berilah dengan hati. Dan berilah yang terbaik yang ada pada kita. (CS/Percikan Hati-Agustus 2017)

07