Category: Bacaan Minggu

Bacaan dan Renungan Minggu 09 Agustus 2020| Pekan Biasa XIX

Kalender Liturgi 09 Agustus 2020, Minggu Pekan Biasa XIX

St. Oswaldus; Sta. Teresia Benedikta dr Salib

Bacaan I:1Raj 19:9a.11-13a

Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.

Sekali peristiwa, ketika Elia sampai di Gunung Horeb, masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka berfirmanlah Tuhan kepadanya, “Hai Elia, keluarlah, dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!” Lalu Tuhan lewat. Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu mendahului Tuhan. Namun Tuhan tidak berada dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa. Namun dalam gempa pun Tuhan tidak ada. Sesudah gempa menyusullah api. Namun T’uhan juga tidak berada dalam api itu. Api disusul bunyi angin sepoi-sepoi basa. Mendengar itu, segeralah Elia menyelubungi wajahnya dengan jubah, lalu keluar dan berdiri di depan pintu gua itu.

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14

Ref:Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, clan berilah kami keselamatan yang dari pada-Mu.

  • Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan. Bukankah Ia hendak berbicara ten tang damai? Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.
  • Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.
  • Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Bacaan II:Rom 9:1-5

Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku.

Saudara-saudara, demi Kristus aku mengatakan kebenaran, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku menurut daging. Sebab mereka adalah orang Israel. Mereka telah diangkat menjadi anak Allah, telah menerima kemuliaan dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, ibadat, serta janji-janji. Mereka itu keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias sebagai manusia, yang mengatasi segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji selama-lamanya. Amin!

Bait Pengantar Injil:Mzm 130:5

Aku menanti-nantikan Tuhan dan mengharapkan firman-Nya.

Bacaan Injil:Mat 14:22-33

Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air

Sesudah mengenyangkan orang banyak dengan roti, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai, dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira pukul tiga pagi, datanglah Yesus berjalan di atas air kepada mereka. Melihat Dia berjalan di atas air, para murid terkejut dan berseru, “Itu hantu!” Lalu mereka berteriak-teriak ketakutan. Tetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata, “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.” Kata Yesus, “Datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Keduanya lalu naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya, Engkau Putra Allah!”

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan

Selama atau sepanjang hidup kita di dunia tidak lepas dari segala gelombang kehidupan. Gelombang -gelombang kehidupan itu sering kali membuat kita frustasi atau putus asa. Akibatnya, kita sering menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, keadaan atau bahkan menyalahkan Tuhan. Itulah kondisi riil yang sering kita lihat dan mungkin juga kita alami.

Perahu kehidupan kita terombang-ambing karena badai persoalan hidup. sebagai orang beriman tentunya kita sadar dan yakin bahwa bila Tuhan Yesus ada bersama dan bersatu dengan kita, tidak ada yang perlu ditakuti, dan Yesus sendiri bersabda, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!”

Tuhan menghendaki kita untuk tenang dalam mengarungi samudra hidup kita masing-masing. Badai pasti ada. Namun, Ia sendiri menjanjikan pertolongan. Yang diminta dari kita adalah kerendahan hati untuk selalu mengandalkan Dia dan bukan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bersama Tuhan, badai dalam kehidupan kita pasti berlalu dan kita terus berlayar sampai di “Tanah Air” surgawi.

Ya Tuhan Allah, kuatkanlah iman kami supaya kami tidak takut dalam mengayuh bahtera kehidupan kami sebagai orang beriman. Tetaplah bersama kami. Amin.

Renungan diambil dari Ziarah Batin 2020

 

 

Bacaan dan Renungan Minggu 02 Agustus 2020| Pekan Biasa XVIII||PF S. Petrus Yulianus Eymard, Imam PF S. Eusebius Vercelli, Uskup PF S. Eusebius Vercelli, Uskup

Kalender Liturgi 02 Agustus 2020, Minggu Pekan Biasa XVIII

PF S. Petrus Yulianus Eymard, Imam PF S. Eusebius Vercelli, Uskup PF S. Eusebius Vercelli, Uskup

Bacaan I, Yes 55:1-3

Terimalah dan makanlah.

55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

Mzm 145:8-9,15-16,17-18

Ref:Engkau membuka tangan-Mu, ya Tuhan,dan memuaskan kami.

  • Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
  • Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya, Engkau membuka tangan-Mu dan berkenan mengenyangkan segala yang hidup.
  • Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Bacaan II, Rm 8:35,37-39

Tidak ada suatu makhluk pun dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus.

8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. 8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Bait Pengantar Injil:Mat 4:4b

Manusia hidup bukan saja dari roti, melainkan juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Bacaan Injil: Mat 14:13-21

Yesus memberi makan lima ribu orang

13 Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. 14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. 15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” 16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” 17 Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” 18 Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” 19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. 21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Renungan

Keajaiban firman Tuhan

Apa yang menjadi jaminan bagi seseorang untuk kepastian keselamatannya? Bagi umat yang sudah sekian lama menderita karena hukuman Allah atas dosa-dosa mereka, tentu tidak akan sembarang memercayai janji keselamatan tanpa bukti nyata. Bukan hanya secara jasmani mereka menderita, rohani mereka pun gersang. Tak ada satu pun yang bisa mereka lakukan untuk melepaskan diri dari keputusasaan. Belenggu pembuangan begitu ketat dan kuat.

Syukur kepada Allah, Dia telah menyatakan janji-Nya bahwa mereka yang berpaling dan menantikan keselamatan daripada-Nya tidak akan dikecewakan. Firman-Nya ya dan amin. Apa yang Allah janjikan dalam firman-Nya? Pertama, firmanNya adalah makanan dan minuman bagi jiwa, yang diberikan-Nya sebagai anugerah (ayat 1). Jangan mencari alternatif apapun untuk memuaskan dahaga rohani kita (ayat 2-3a). Dia sendiri sudah menetapkan hamba-Nya, Mesias keturunan Daud, sebagai agen keselamatan ini (ayat 3b-5).

Kedua, ketika Allah berfirman, Ia juga menyatakan diri-Nya, Ia hadir di antara kita. Kita tidak dapat memisahkan firman-Nya dengan diri-Nya sendiri. Itu sebabnya, mencari Tuhan adalah mencari firman-Nya. Ketiga, firman-Nya, jauh melampaui pemahaman kita. Dia adalah Allah yang tidak terbatas, firmanNya juga tidak terbatas. Namun segala kehendak-Nya dan apa yang Dia firmankan adalah untuk kebaikan kita. Keempat, firman-Nya sungguh berkuasa. Apapun yang Ia kehendaki pasti berhasil. Keadaan yang rusak, suasana yang mengerikan dan kehidupan yang sulit, secara ajaib akan berubah dengan baik ketika firman-Nya datang. Kelima, ada hormat dan pujian bagi orang yang memberitakan firman Tuhan karena melalui dia, nama Tuhan dimahsyurkan.

Firman-Nya ya dan amin. Kita yang sudah menerima keselamatan dan yang diberdayakan oleh firman-Nya demi misi-Nya, mari giat mengabarkan Injil agar lebih banyak lagi orang yang menanggapi undangan anugerah ini.

Ada pengalaman menarik saat kunjungan saya kepada seorang ibu janda renta dan sakit-sakitan. Perjumpaan di sore itu selalu tergiang dalam hatiku setiap kali mengikuti perayaaan ekaristi. Cerita demi cerita berlalu dan mengalir persaudaraan diantara kami. Ibu ini memilki enam orang anak dan semuanya sudah mentas; aku Ibu itu dengan bangga. Selanjutnya saya menimpali dan bertanya penuh kagum tapi juga prihatin.” Nggak apa-apa Suster sing penting aku ra kehilangan Gusti wae, aku tuh sedih karena dua hari ini ra nompo Gusti.” Kali ini aku semakin kagum dan terpana dengan pernyataan tulus dari janda sepuh yang ditinggal suami hampir sepuluh tahun. “luar biasa kerinduan terdalam dari seorang katolik sejati.” Kerinduannya bukan pada anak, cucu atau keluarga besarnya tapi kepada Dia Sang Gusti. Di usia senjanya; tak ada yang terlalu dirindukan atau diandalkan selain roti hidup. Rupa-rupanya kehadiran rutinnya dalam ekaristi harian di gereja sewaktu ia sehat meresap, berakar dan berbuah dalam hati seorang pribadi sederhana.

Sejenak merenung, kitapun mengingat saat-saat kita merasa haus akan makanan surgawi. Bacaan pertama menumbuhkan harapan dari Dia yang memberikan anggur, susu dan madu secara gratis. Zaman yang penuh dengan egoisme dan materialisme, kita masih mendapatkan kesempatan untuk menerima sesuatu yang abadi. Betapa kita sungguh bernilai di mata dan Hati-Nya. Cinta-Nya kepada kita manusia tak tergantikan oleh siapa dan apapun. Kitapun mencermati sabda dalam injil, betapa kesibukan membuat lelah, dan Yesus ingin “menyendiri.” Ia ingin mengambil waktu untuk berkontak dengan Bapa di tempat yang sunyi. Perasaan lelah tergantikan dengan belas kasihan saat melihat orang banyak mengikuti-Nya. Dan Ia melakukan mukjizat roti, penggandaan rahmat. Hal itu dilakukan dengan ikhlas dan penuh kasih. Memenuhi kebutuhan jasmani melalui roti dan penyembuhan. Apakah kita mau terbuka untuk menjadi perpanjangan kasih Tuhan di zaman ini? Ataukah kita hanya mengerutu dan mengeluh ketika ingin membantu? Kitapun mohon rahmat dan kerinduan untuk makanan yang bersifat kekal.

Bacaan II, Paulus menegaskan bahwa Kasih Kristus kekal

Dengan kalimat-kalimat yang hidup dan menarik, Rasul Paulus menyatakan keyakinan imannya, bahwa tidak ada yang dapat melawan, menggugat, dan memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Justru karena Kristus sudah menghadapi kematian, lalu bangkit dan dipermuliakan maka Dia menjadi Pembela kita di saat kita menghadapi berbagai penderitaan dan penganiayaan (34-36), yang memang harus dihadapi oleh setiap anak Tuhan. Dia ada bersama dan mendampingi kita.

Jadi, apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Justru penderitaan menolong kita untuk menghisabkan diri kita dengan Dia. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Ayat 37-39 mengajak kita melihat semua penderitaan itu dari sudut Kristus yang mengasihi kita, sehingga kita diyakinkan bahwa baik maut maupun hidup, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, dan makhluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.

Maka seorang Kristen hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan memang harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolak oleh Yesus. Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apa pun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kasih-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman di dalam Dia.

Kasih Allah dalam Yesus Kristus membantu kita menghadapi penderitaan. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang menyertai kita senantiasa, juga dalam kesulitan dan duka.

Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus mempunyai Hati yang peka.

Yesus peka akan keadaan orang banyak. Mereka kekurangan makanan. Timbullah belas kasihan Yesus. Jika pada Markus 6:34 belas kasihan Yesus timbul karena orang banyak seperti domba tanpa gembala, di sini belas kasihan Yesus muncul karena kebutuhan fisik. Orang banyak tidak mempunyai makanan. Yesus juga peka akan pendengar-pendengar-Nya. Meski jumlah mereka banyak, Ia masih memiliki waktu dan kesempatan untuk berbicara dan melayani mereka secara pribadi.

Siapa yang harus memberi mereka makan? Yesus melibatkan para murid. Yesus berhati peka, dan Ia ingin para murid-Nya pun peka bahkan sedia memberi. Murid-murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Jelas tidak cukup untuk lebih lima ribu orang (ayat 21). Masih dibutuhkan sedikitnya 5000 roti dan 5000 ikan. Jumlah yang mustahil. Akan tetapi, di hadapan Yesus bukan jumlah yang membuat mustahil atau tidak. Segala hal yang dipersembahkan kepada-Nya, diterima-Nya, diberkati, dilipatgandakan. Hasilnya? Lima roti dan dua ikan yang telah diberkati Yesus itu membuat semua orang kenyang. Bahkan ada sisa 12 bakul.

Tidak cukup kita memiliki Yesus, kita harus juga membagi keberkatan dalam Yesus itu kepada sesama kita yang berkekurangan. Terlibat dalam berbagai pelayanan rohani memang baik, tetapi itu tidak boleh membuat kita beralasan untuk mengabaikan kebutuhan dalam hal materiil yang dialami banyak orang di sekitar kita. Krisis berkepanjangan di Indonesia menyebabkan banyak saudara-saudara kita kekurangan gizi dan nutrisi. Berilah mereka makan. Caranya? Salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan yang memberdayakan mereka sehingga terbuka kesempatan untuk mencari makanan sendiri. Tanpa pemberdayaan ini mereka akan terus kelaparan.

Renungkan: Masihkah ada potensi dan milik yang Anda genggam sendiri dan tidak rela Anda serahkan untuk Yesus pakai memberkati orang lain?

Ya Tuhan Allah, berilah kami keyakinan yang teguh bahwa dengan kuasa-Mu, kami dapat menolong sesama. Amin

Mat 14:13-21 Mereka semuanya makan sampai kenyang.
Mat 14:13-21 Mereka semuanya makan sampai kenyang.

 

Bacaan dan Renungan Minggu 26 Juli 2020| Pekan Biasa XVII

Kalender Liturgi 26 Juli 2020, Minggu Pekan Biasa XVII

Bacaan I:1Raj 3:5.7-12

Salomo meminta hikmat dan pengertian.

Pada suatu malam Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi Beginilah firman Tuhan Allah, “Mintalah apa yang kauharapkan dari pada-Ku!” Lalu Salomo berkata, “Ya Tuhan, Allahku, Engkau telah mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku,sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Kini hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih,suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”

Tuhan sangat berkenan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.Maka berfirmanlah Allah kepada Salomo,”Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian,dan tidak meminta umur panjang,atau kekayaan, atau nyawa musuhmu,melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,maka Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu! Sungguh, Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian,sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau,dan sesudah engkau pun takkan bangkit seorang seperti engkau.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan:Mzm 119:57.72.76-77.127-128.129-130

Ref:Betapa kucintai Taurat-Mu, ya Tuhan.

  • Bagianku ialah Tuhan, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.
    Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.
  • Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku,sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.Biarlah rahmat-Mu turun kepadaku, sehingga aku hidup,sebab Taurat-Mulah kegemaranku.
  • Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu,lebih daripada emas, bahkan daripada emas tua.Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu,
    segala jalan dusta aku benci.
  • Peringatan-peringatan-Mu ajaib,itulah sebabnya jiwaku memegangnya.Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang,memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Bacaan II:Rom 8:28-30

Mereka ditentukan Allah dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Saudara-saudara,kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih Allah dari semula, mereka itu juga ditentukan-Nya sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan Allah dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Bait Pengantar Injil:Mat 11:25

Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,sebab misteri Kerajaan Engkau nyatakan kepada orang kecil.

Bacaan Injil:Mat 13:44-52

Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.

Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya,lalu membeli mutiara itu.

Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar. Yang jahat lalu dicampakkan ke dalam dapur api. Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Maka bersabdalah Yesus kepada mereka, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Surga seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

ATAU BACAAN SINGKAT:Mat 13:44-46

Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.

Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya,lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga,ia pun pergi menjual seluruh miliknya,lalu membeli mutiara itu.”

Renungan

Kitab Suci mencatat bahwa Salomo mengasihi TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hal itu dibuktikannya dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya. Ia mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, sebagai wujud kasihnya itu. Korban-korban bakaran itu adalah pernyataan ibadah, ucapan syukur, dan persekutuan Salomo kepada TUHAN. Ini adalah bukti pertama Salomo mengasihi TUHAN sungguh-sungguh.

Bukti kedua Salomo mengasihi TUHAN, dapat kita lihat dari permohonannya dalam doa. TUHAN mengaruniakan Salomo satu permintaan, dan Salomo memanfaatkannya. Satu permintaan Salomo adalah memohonkan hikmat supaya bisa memerintah dengan baik dan demi kebaikan rakyatnya. Salomo tidak meminta kekayaan, kekuasaan, umur panjang, dll. Ini menunjukkan bahwa Salomo tidak mementingkan diri sendiri, tetapi peduli kepada rakyatnya yang begitu banyak. Dengan hikmat dari TUHAN, Salomo mensejahterakan umat Tuhan. Salomo mengasihi umat TUHAN karena Salomo mengasihi TUHAN! Bukti kedua ini diteguhkan dengan konfirmasi dari TUHAN sendiri.

Salomo mengasihi Tuhan bukan sekadar melalui kata-kata tetapi dengan tindakan konkret. Apakah kita mengasihi Tuhan? Apa bukti nyata kita mengasihi Tuhan? Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita menaati firman-Nya, dan setia beribadah kepada-Nya. Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita juga mengasihi sesama kita, dan kita akan meminta hal-hal yang terbaik bukan untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain.

Bacaan II, Paulus memberikan penghiburan kepada orang Kristen saat mengalami kesesakan. Hiburan apakah yang dapat menguatkan orang Kristen yang sedang menderita berat karena imannya? Ketika Paulus menulis surat ini, sebagian besar orang percaya di kota Roma, sedang atau akan mengalami penderitaan dahsyat. Paulus sendiri berulangkali mengalami penderitaan. Maka nasihat yang ia berikan ini bukan omong kosong, tetapi prinsip teologis penting yang teruji.

Paulus tidak menghadapi penderitaan dengan menyangkali faktanya atau mengelakkannya. Orang Kristen yang setia kepada Kristus dan kehendak-Nya pasti harus menanggung berbagai bentuk penderitaan. Penderitaan tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan kebenaran firman. Dengan cara itu orang Kristen beroleh kekuatan yang membuat mereka dapat bertahan secara kreatif. Kebenaran apa yang Paulus bukakan? Kreatif seperti apa yang dimungkinkan Allah bagi orang Kristen yang sedang menderita?

Fakta penderitaan kini harus dihadapi dengan fakta kemuliaan kelak yang akan Tuhan nyatakan bagi anak-Nya. Sedahsyat segelap apa pun penderitaan yang kita alami dan kekelaman perasaan yang diakibatkannya, tidak dapat dibandingkan dengan perjumpaan kita dengan Tuhan kelak dan fakta kita akan bersama-Nya kekal. Penderitaan dapat menjadi alat Tuhan mengobarkan pengharapan iman yang kreatif. Tema ini sudah Paulus uraikan sebelumnya (Rm. 5:3-5), dalam kasih karunia kita jalani penderitaan agar tumbuh ketekunan, tahan uji, pengharapan. Harapan itu lebih penuh lagi sebab seluruh alam semesta yang telah dirusak dosa ini pun kelak akan dimurnikan dari dosa (Rm. 8:21-23). Paulus juga mengingatkan kekuatan itu datang bukan hanya dari berpegang pada konsep kebenaran, tapi dari Roh Kudus. Roh kekudusan dan kekuatan dari Allah menjadi Penghibur, Penopang, Penasihat. Ia pendamping dan rekan doa tepercaya sepanjang kita menjalani dunia nestapa ini.

Paulus memberikan penghiburan bagi kita semua anak-anak Tuhan ketika kita semua harus menderita dalam hidup ini. Pertama Allah akan mendatangkan kebaikan dari semua kesesakan, pencobaan, penganiayaan, dan penderitaan. Hal yang baik yang dikerjakan Tuhan menjadikan kita serupa dengan gambaran Kristus dan akhirnya menghasilkan kemuliaan bagi kita. Kedua, janji ini terbatas bagi mereka yang mengasihi Allah dan telah menyerahkan diri kepada-Nya melalui iman kepada Kristus. Ketiga, “dalam segala sesuatu” tidak termasuk dosa atau kelalaian kita, sebab tidak seorang pun yang dapat membenarkan dosa dengan mengatakan bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan daripadanya.

Firman dan Roh sumber penghiburan dan kekuatan kekal dalam penderitaan sementara kita.

Injil Matius 13:44-52 memuat tiga perumpamaan : harta terpendam, mutiara yang berharga (ayat 44-46), dan tentang pukat yang dilabuhkan di laut(ayat 47-52). Kehadiran Tuhan Yesus di dunia adalah untuk menghadirkan Kerajaan Surga supaya Allah meraja dalam kehidupan manusia. Kerajaan Surga seumpama harta yang terpendam dan ditemukan orang, dan karena harta itu sangat berharga maka orang yang menemukannya mempertaruhkan segala miliknya untuk mendapatkannya. “Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (ayat 44a, 46). Karena Kerajaan Surga adalah “harta yang paling berharga” dalam kehidupan manusia maka mempertaruhkan seluruh hidup demi mendapatkan Kerajaan Sorga menjadi prioritas, nilai yang tertinggi, dalam kehidupan kita. Komitmen yang total sangat dibutuhkan untuk “mendapatkan” Kerajaan Surga dan bila kita telah mendapatkannya maka sukacita akan dianugerahkan kepada kita.

Tuhan Yesus mengakhiri wejangan-Nya dengan memaparkan perumpamaan tentang pukat. “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang” (ayat 47-48). Perumpamaan tentang pukat ini menyampaikan gagasan bahwa untuk “memiliki” Kerajaan Surga dibutuhkan kemampuan untuk melihat tindakan baru Allah dalam Kristus, suatu hati dan tindakan yang bijaksana. Seperti Salomo meminta kebijaksanaan kepada Allah, “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1 Raj 3:9). Semoga Kerajaan Surga menjadi PRIORITAS UTAMA dalam hidup saudara-saudari sehingga “mengalami dan memiliki” Allah yang meraja.

Mengutip dari katolisitas.org, dalam konteks yang lebih luas dari ayat Matius 13:44-52, maka dalam Matius 13, kita menemukan adanya tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang terdiri dari:

(a) perumpamaan tentang seorang penabur,

(b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum,

(c) perumpamaan tentang biji sesawi,

(d) perumpamaan tentang ragi,

(e) perumpamaan tentang harta terpendam,

(f) perumpamaan tentang mutiara yang indah,

(g) perumpamaan tentang pukat.

Dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih ke pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri dan tanah yang subur, Kristus ingin menunjukkan kondisi. Kondisi yang memungkinkan seseorang menerima Kerajaan Sorga adalah dengan menjadikan diri kita untuk menjadi tanah yang gembur, sehingga Sabda Allah dapat bertumbuh dan berbuah seratus kali, enam puluh kali atau tiga puluh kali lipat. Dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Kristus ingin menekankan bahwa kondisi yang baik agar Sabda Allah bertumbuh tidaklah cukup, namun diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi menunjukkan kekuatan dan keefektifan Kerajaan Allah, yaitu dapat bertumbuh sangat pesat dan luar biasa mulai dari hal yang sangat kecil. Perumpamaan tentang harta dan mutiara menunjukkan harga yang harus dibayar untuk memperoleh Kerajaan Sorga. Dan akhirnya perumpamaan tentang pukat mengulangi perumpamaan tentang lalang di antara gandum, yang menceritakan akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan yang jahat dari yang  baik/benar, serta memberikan hukuman bagi orang yang jahat di neraka dan memberikan anugerah keselamatan bagi umat Allah yang setia sampai akhir. Dengan demikian, maka kita melihat bagaimana tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga memberikan gambaran akan kondisi, syarat, kekuatan dan keefektifan, harga yang harus dibayar, dan kebahagiaan yang didapat atau penderitaan kalau tidak mendapatkannya. Ke-tujuh perumpamaan ini sungguh luar biasa dan melengkapi satu sama lain, sehingga umat Allah semakin disadarkan bahwa Allah sungguh-sungguh menginginkan agar semua manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati di Sorga dan memperoleh pengetahuan sejati akan kebenaran. (1Tim 2:4)

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan (Kyrios) segala ciptaan. Engkau kekal, namun selalu baru. Aku memuji Dikau, ya Tuhan dan Allahku, untuk hikmat-kebijaksanaan-Mu dan meluhurkan Dikau untuk kasih-Mu yang selalu hadir dalam diriku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu. Jagalah aku agar tetap menjadi murid-Mu yang setia, ya Tuhan. Amin.

26 Juli 2020
Mat 13:44-52 Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.

Bacaan dan Renungan Minggu 12 Juli 2020| Pekan Biasa XV

Kalender Liturgi Minggu, 12 Juli 2020, Pekan Biasa XV

Bacaan I:Yes 55:10-11

Hujan menyuburkan bumi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Beginilah firman Tuhan,”Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”

Mazmur Tanggapan:Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13.14

Ref:Luk 8:8

Benih jatuh di tanah yang baik, dan menghasilkan buah.

  • Engkau mengindahkan tanah, lalu mengaruniainya kelimpahan,Engkau membuatnya sangat kaya.Sungai-sungai Allah penuh air;Engkau menyediakan gandum bagi mereka.
  • Ya, beginilah Engkau menyediakannya:Engkau mengairi alur bajaknya,dan membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya,dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya,dan memberkati tumbuh-tumbuhannya.
  • Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,jejak-Mu mengeluarkan lemak;tanah-tanah padang gurun mengalirkan air,bukit-bukit berikat pinggangkan sorak-sorai.
  • Padang-padang rumput berbusanakan kawanan kambing domba,lembah-lembah berselimutkan gandum,semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi.

Bacaan II:Rom 8:18-23

Dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah menyatakan.

Saudara-saudara,aku yakin,penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan,bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan karena kehendak Dia yang telah menaklukkannya, tetapi penaklukan ini dalam pengharapan,sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan,dan masuk ke dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah.

Kita tahu, sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin; dan bukan hanya makhluk-makhluk itu saja! Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai anugerah sulung dari Allah, kita pun mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Bacaan Injil:Mat 13:1-23

Ada seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada suatu hari Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Yesus naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka dengan memakai perumpamaan-perumpamaan. Ia berkata, “Ada seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung-burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tumbuhan itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus ganda, ada yang enam puluh ganda, ada yang tiga puluh ganda. Barangsiapa bertelinga untuk mendengar,hendaklah ia mendengarkan!”

Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya,”Mengapa Engkau mengajar mereka dalam perumpamaan?” Jawab Yesus, “Kamu diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi orang-orang lain tidak. Karena barangsiapa mempunyai, akan diberi lagi sampai ia berkelimpahan; tetapi barangsiapa tidak mempunyai, maka apa pun yang ada padanya akan diambil juga. Itulah sebabnya Aku mengajar mereka dengan perumpamaan, karena sekalipun melihat, mereka tidak tahu, dan sekalipun mendengar,mereka tidak menangkap dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar lagi, namun tidak mengerti; kamu akan melihat dan melihat lagi, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, telinganya berat untuk mendengar, dan matanya melekat tertutup; agar jangan mereka melihat dengan matanya, dan mendengar dengan telinganya, dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Kusembuhkan.

Akan tetapi berbahagialah kamu karena melihat,dan berbahagialah telingamu karena mendengar.Sebab Aku berkata kepadamu:Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar
ingin melihat apa yang kamu lihat,tetapi tidak melihatnya,dan ingin mendengar apa yang kamu dengar,tetapi tidak mendengarnya.Karena itu, dengarlah arti perumpamaan tentang penabur itu.Setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga,tetapi tidak mengerti,akan didatangi si jahat,yang akan merampas apa yang ditaburkan dalam hatinya.Itulah benih yang jatuh di pinggir jalan.Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.Tetapi ia tidak berakar dan hanya tahan sebentar saja.Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu,lalu firman itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan,sehingga tidak berbuah.Sedangkan yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan firman itu dan mengerti,dan karena itu ia berbuah,ada yang seratus, ada yang enam puluh,dan ada yang tiga puluh kali lipat.”

Demikianlah Injil Tuhan.

ATAU BACAAN SINGKAT:Mat 13:1-9

“Ada seorang penabur keluar untuk menabur.”

Pada suatu hari Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau.Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Yesus naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka dengan memakai perumpamaan-perumpamaan. Ia berkata, “Ada seorang penabur keluar untuk menabur.Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,lalu datanglah burung-burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,yang tidak banyak tanahnya,lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit,layulah tumbuhan itu dan menjadi kering karena tidak berakar.Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah,ada yang seratus ganda,ada yang enam puluh ganda, ada yang tiga puluh ganda.Barangsiapa bertelinga untuk mendengar,hendaklah ia mendengarkan!”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan:

Ketika Allah berfirman, Ia juga menyatakan diri-Nya, Ia hadir di antara kita. Kita tidak dapat memisahkan firman-Nya dengan diri-Nya sendiri. Itu sebabnya, mencari Tuhan adalah mencari firman-Nya. Firman-Nya, jauh melampaui pemahaman kita. Dia adalah Allah yang tidak terbatas, firmanNya juga tidak terbatas. Namun segala kehendak-Nya dan apa yang Dia firmankan adalah untuk kebaikan kita. Firman-Nya sungguh berkuasa. Apapun yang Ia kehendaki pasti berhasil. Keadaan yang rusak, suasana yang mengerikan dan kehidupan yang sulit, secara ajaib akan berubah dengan baik ketika firman-Nya datang. Kelima, ada hormat dan pujian bagi orang yang memberitakan firman Tuhan karena melalui dia, nama Tuhan dimahsyurkan.

Firman-Nya Ya dan Amin. Kita yang sudah menerima keselamatan dan yang diberdayakan oleh firman-Nya demi misi-Nya, mari giat mengabarkan Injil agar lebih banyak lagi orang yang menanggapi undangan anugerah ini.

Bacaan kedua tentang arti “Penderitaan orang Kristen”.

Boleh dikata tiap hari kita mendengar berbagai berita tentang penderitaan yang dialami orang di dunia ini. Orang Kristen sendiri menderitakah? Ya. Seperti halnya Kristus sudah menderita, kita pun ikut menderita bersama-Nya dan karena Dia. Karena kita masih hidup dalam dua zaman, antara zaman lama dan zaman baru, kita sedang berjalan dari penderitaan menuju kemuliaan. Penderitaan itu dialami baik oleh anak-anak Allah maupun segenap isi ciptaan. Namun penderitaan yang sedang kita alami ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima kelak.

Bagaimanakah sikap orang Kristen dalam penderitaan? Orang Kristen tidak perlu hancur di dalam penderitaan. Ada beberapa prinsip yang memungkinkan kita menang. Pertama, kita telah menerima karunia sulung Roh yang tidak saja menguatkan kita tetapi juga menjamin bahwa kita akan tiba dalam kemuliaan kelak. Kedua, kita dapat berkeluh kesah kepada Allah tentang tubuh fana kita dan sifat daging dosa kita . Ketiga, dalam iman dan harap kita menatap ke Hari Tuhan. Keempat, pengharapan itu memberi kita ketekunan, kemenangan dan keselamatan di dalam penderitaan kita.
Kristus yang telah menderita hadir dalam penderitaan kita melalui Roh-Nya untuk mengubah keluh kesah kita menjadi nyanyian syukur.

Bacaan Injil mengajak kita semua Mengerti akan kebenaran-Nya sebab ini adalah anugerah. Banyak orang Kristen datang beribadah ke Gereja, namun ketika mereka meninggalkan ruang ibadah, apakah mereka pengertian yang sama? Ada yang hanya mendengar namun sibuk dengan pikirannya sendiri; ada yang mendengar tetapi tidak mengerti; ada yang mendengar tetapi kemudian menafsirkannya sendiri; ada juga yang sungguh- sungguh mendengar dan mengerti kebenarannya. Tempat yang sama, nas Kitab Suci yang sama, dan pengkhotbah yang sama, tidak menentukan jemaat yang hadir mendapatkan pengertian yang sama pula. Mengapa demikian? Mengerti kebenaran firman-Nya adalah anugerah, yang dinyatakan bagi mereka yang mau terbuka kepada kebenaran-Nya.

Inilah yang dijelaskan Yesus ketika murid-murid-Nya menanyakan mengapa Ia memakai metode perumpamaan. Banyak orang berbondong-bondong datang, tetapi seperti nubuat nabi Yesaya bahwa mereka mendengar dan melihat namun tidak mengerti. Bukan karena Ia tidak mau menyatakan kebenaran kepada mereka, tetapi karena mereka yang mengeraskan hati, sehingga mereka tidak bertemu dengan kebenaran itu, yakni Yesus sendiri. Zaman kini banyak orang berbondong-bondong mencari Gereja, tetapi berapa banyak yang sungguh-sungguh mau terbuka kepada kebenaran firman-Nya, sehingga ia mengerti, percaya, dan menyimpan kebenaran itu dalam hatinya? Bukan orang-orang yang secara fisik hadir di gereja yang dapat mengerti kebenaran-Nya, tetapi anugerah pengertian dinyatakan bagi orang Kristen yang haus akan kebenaran.

Arti perumpamaan seorang penabur adalah bahwa tidak semua orang yang menerima kebenaran kemudian akan berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Firman kebenaran itu harus dimengerti (diterima); diresapi (berakar); dihayati sehingga mempengaruhi pola pikir, perilaku, gaya hidup (bertumbuh); dan dipertahankan sampai menghasilkan berlipatganda (berbuah). Pergumulan, masalah, kesulitan, kekuatiran, dan segala bentuk tantangan akan merupakan ujian bagi orang Kristen, apakah orang Kristen sanggup berakar, bertumbuh, dan kemudian berbuah di tengah dunia yang menentang kebenaran.

Renungkan: Mengerti kebenaran-Nya adalah anugerah. Milikilah sikap terbuka untuk mengerti dan kemudian mengizinkan kebenaran itu mengubah hidup Saudara, maka hidup Saudara akan berbuah berlipatganda.

12 Juli 2020